
Pada dasarnya, vino memang memang tak tau jalan hidupnya, apa yang akan terjadi setelahnya, bagimana masa depannya dan bagaimana alur ceritanya. Vino hanya menjalani dan menerima setiap luka bahkan di di sela ia baru saja merasakan kebahagiaan.
Vino terlalu paham akan rasa sakit, membuatnya takut bila ia terus mengalaminya. Namun sayangnya rasa sakit juga tak henti hentinya menghampiri vino.
Vino terlalu rakus dalam merasakan luka, hingga ia merasa semesta tak pernah memihaknya. Tapi, lagi lagi luka selalu datang padanya.
Vino terlalu takut untuk di hadapkan dengan rasa benci membuatnya selalu terlihat lemah dan tak berdaya.
Seperti saat ini, vino perlahan membuka kedua matanya di sertai dengan rasa pening membuatnya menggelengkan kepala beberapa kali untuk menetralkan penglihatannya.
Setelah berhasil memfokuskan kembali penglihatannya, vino mengedarkan pandangannya ke ruangan yang tampak tak asing itu, seperti gudang sekolah. Yap vino yakin kalau ini adalah gudang sekolah, sampai pandangannya terhenti pada sosok yang tergelatak tak jauh dari posisinya dengan ikatan di tangannya.
Vino hendak menghampiri sosok itu. Tapi tangan, kaki dan betisnya di ikat membuatnya sulit untuk memberontak. Mau tak mau vino pun menyeret tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan sosok itu. Setelah berada di sampingnya vino dengan segera memanggil davka.
" Davka " Panggil vino sedikit berbisik karna ia tau dia sedang berada tempat yang bahaya.
" Davka bangun " Panggil vino lagi namun davka tetap tak merespon
" Davka please bangun, davka "
" Eungghh " Akhirnya terdengar lenguhan dari bibir davka membuat vino menghela napas lega.
Vino dapat melihat davka yang perlahan membuka matanya lalu setelahnya ekspresi kaget di tunjukkan oleh davka apalagi saat dia baru menyadari tangannya yang di ikat. Dia hendak berteriak namun, urung saat vino memberikan isyarat padanya.
" Sstttt " Peringat vino dengan bibir yang di moyongkan
" Vin kita ada dimana? " Tanya davka kepada vino dengan suara pelan.
" Gudang sekolah "
" Kok bisa? " Vino mengedikkan bahunya pertanda ia tidak tau. Seingat vino tadi ia dan davka sedang berjalan menuju kelas mereka. Tapi, saat di jalan ada salah satu kakak kelasnya yang menghampirinya dan memberitahukan kalau pak Ridwan menunggunya di belakang sekolah.
Vino dan davka tidak tau siapa nama murid itu karna vino yang memang tak pernah bersosialisasi serta selalu di kucilkan membuat tak mengenal setiap murid di sekolahnya. Sedangkan davka ia masih penyandang status murid baru di sekolah, wajar jika davka tak mengenal murid murid di sekolah ini.
Vino dan davka yang tidak menyimpan curiga pada murid tadipun langsung saja bergegas ke belakang sekolah tanpa bertanya alasan pak Ridwan menyuruhnya ke belakang sekolah. Tapi, saat keduanya sudah sampai di belakang sekolah. Mereka tak melihat pak Ridwan di sana sampai detik selanjutnya keduanya merasakan
pukulan tepat pada tengkuk mereka membuat keduanya meluluh begitu saja dan berakhir di tempat
yang gelap dan kotor seperti ini.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu di buka menampakkan sesosok pria yang vino dan davka kenal.
" PAK HAMDAN " Teriak vino dan davka kaget.
Hamdan terlihat menyeringai membuat suasana di ruangan itu semakin tegang.
" Jadi bapak yang kita kesini ? " tanya davka sedikit berteriak, ia tidak menyangka kalau gurunya lah yang menyekapnya. Sedangkan vino ia hanya diam sambil menatap Hamdan dengan tatapan takut, entah kenapa sekarang menurut vino Hamdan lebih jauh menakutkan.
" Kalo iya kenapa? " Ucap Hamdan dengan lelehannya.
" Kenapa bapak lakuin ini? " Tanya vino memberanikan diri, ia bahkan tidak memalingkan pandangannya dari sang guru.
Hamdan berjalan mendekati vino saat sudah sampai di depan anak itu. Hamdan membungkukkan badannya, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh vino.
Sedangkan vino, tubuhnya sudah bergetar. vino benar benar takut pada sosok Hamdan semenjak masuk ke sekolah. Dann sekarang Hamdan jauh lebih menakutkan dari sebelumnya membuat detak jantung vino berdetak dua kali lipat.
" KAMU INGIN TAU VINO, KENAPA SAYA SEPERTI INI? "
" IYA, SAJA INGIN TAU, SAYA INGIN TAU KENAPA BAPAK MELAKUKAN INI? SAYA INGIN TAU KENAPA BAPAK MEMBENCI SAYA SELAMA INI? "
plak
" VINO " Teriak davka saat melihat vino yang di tampar oleh Hamdan. Tangannya terkepal kuat menandakan davka yang benar emosi
Sedangkan vino, ia masih meringis karna tamparan tadi bahkan sekarang ia yakin pipinya pasti sudah merah.
Selanjutnya vino dan davka bisa melihat Hamdan yang kembali ke posisi awal tadi dan tertawa keras di sana, kemudian Hamdan berjalan ke arah davka lalu menendang perut davka sampai tersungkur
" BEGINI, BEGINI YANG ANAK SAYA RASAKAN DULU " Ucapnya sambil terus menendang davka.
" PAK BERHENTI SAKITIN SAHABAT SAYA " Teriak vino kepada Hamdan dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya
Hamdan langsung menoleh pada vino, dia pun berjalan kembali kehadapan vino, mensejajarkan tubuhnya lagi dengan tubuh vino.
" Eoh kau menangis Davino, dulu anak saya juga menangis" Ujar Hamdan sambil mengusapair mata vino lembut dengan tangannya.
" Apa maksud bapak " Tanya vino. Ia tak mengerti maksud dari ucapan guru olahraganya ini. anak? memangnya ada apa dengan anaknya pak Hamdan?.
Hamdan tersenyum mendengar pertanyaan vino. Tangannya yang tadi mengusap lembut pipi vino kini berganti menjadi cengraman kuat di dagu vino. Senyumnya juga berubah menjadi seringaian.
" Kau tau Davino? dulu anak saya juga bernasib seperti mu. di benci dan kucilkan oleh semua orang orang, di bully oleh teman temannya, anak saya dulu juga di sekap di sini, dia di siksa di sini dan dia juga mati dia sini. kau ingin tau bagimana anak saya di siksa. KAU INGIN TAU DAVINO? "
Vino sudah terisak sekarang bahkan ia memejamkan matanya, sungguh vino benar benar takut. Selanjutnya yang vino rasakan adalah ikatan tangannya yang di lepaskan.
" BUKA MATAMU DAVINO, LIHAT SAYA " Vino membuka matanya dan langsung terkejut saat melihat apa yang di pegang gurunya itu. Sebuah pisau kecil.
" Lihatlah, dulu tangan anak saya juga di lukai seperti ini " Ucapnya sambil mulai menggoreskan pisau kecil itu di tangan vino. Seketika cairan kental berwarna merah keluar dari tangan putih vino.
Hamdan tersenyum senang saat melihat darah itu menguar, dirinya semakin bersemangat untuk melukis di tangan vino. Hamdan membuat banyak sayatan horizontal di sepanjang tangan vino, dirinya merasa bahagia saat melihat tangan vino yang di penuhi darah segar sampai menetes ke bawah.
Setelah selesai dengan tangan kanan, Hamdan melanjutkannya dengan kanan kiri. Vino mulai merasakan pusing yang teramat sangat saat ini, namun, yang bisa vino lakukan hanyalah menggigit bibir bawahnya.
Vino terus menundukkan kepalanya menatap tangannya yang sudah di penuhi sayatan dan darah segar yang terus mengalir. Tatapannya kosong tapi tak anyal vino merekam semua adegan ini.
" Dulu anak saya juga mati seperti ini " Setelah mendengar kalimat tersebut. Vino bisa melihat Hamdan mengangkat pisau kecilnya itu dan mengarahkannya tepat di dada vino
Dan
" VINO "
jleebb
BRAK
SEE YOU NEXT PART