THE LIFE STORY OF DAVINO

THE LIFE STORY OF DAVINO
14. DAVINO



...HAPPY READING...


" Gue bakal cerita Vin " Ucap Davka tiba tiba. Vino langsung terdiam mencoba fokus dengan apa yang akan Davka sampaikan. Sebenarnya, ia tidak tega memaksa Davka untuk bercerita. tapi, ia juga tidak ingin Davka terus terusan memendam masalahnya sendiri. Vino hanya ingin menjadi sahabat yang berguna. Apa vino salah?.


" Iya lo bener Vin, gue emang punya masalah sama keluarga gue. Ini terjadi udah lama semenjak gue kelas 2 SD, gue gak tau kenapa tapi mereka jadi berubah. Mereka jadi sering jatuhin gue, mereka gak perhatiin gue, mereka jadi lebih sibuk sama pekerjaan mereka "


" Hiks, mereka gak pernah nganggep gue anaknya Vin " Vino sempat tersentak dengan ucapan davka ' Tidak pernah menganggapnya sebagai anaknya? apa maksudnya?.


Vino berusaha untuk tidak bersuara dan tetap fokus dengan apa yang akan Davka sampaikan selanjutnya.


" Mereka selalu maksa gue buat jadi sempurna, mereka selalu nyuruh gue untuk ikut banyak les agar nilai gue bagus dan mereka juga gak akan segan segan buat mukul gue kalau gue bolos les Vin "


Davka mengangkat kaos polos putih yang di pakainya sampai sebatas dada sehingga menampilkan kulit putih Davka yang sudah di penuhi dengan memar yang sudah membiru. Vino, jelas saja ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia memandang wajah Davka dengan tatapan tidak percaya. Sesekali ia juga ikut meringis kala tangan mungilnya ingin menyentuh memar yang ada di tubuh Davka. Sungguh Vino tak menyangka kalau kehidupan lebih buruk darinya.


Dulu Vino berpikir kalau dirinya adalah orang yang paling menderita dengan ujaran kebencian dimana mana. Bahkan ia sempat berpikir untuk menyerah dan mengakhiri hidupnya kala lagi lagi Niko dan kedua temannya kembali membullynya. Tapi, sekarang Vino sadar kalau ia sudah salah besar dalam berpikir jika masalah yang sedang ia hadapi saat ini adalah masalah terbesar. Tenyata di balik kehidupan Vino yang suram ada orang yang jauh lebih suram kehidupannya, ada orang yang jauh lebih menderita darinya, ada orang yang jauh lebih putus asa darinya dan ada orang yang lebih besar masalahnya dari pada masalah yang sedang di hadapi ia hadapi saat ini. Dan Vino sadar sekarang, tak seharusnya ia menyerah begitu saja karna ia yakin kalau Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya.


Vino masih memandang Davka dengan tatapan yang tidak berubah, tidak percaya. Sedangkan orang yang di tatap, mendongakkan kepalanya berusaha menghalau air mata yang akan jatuh. Namun, hal itu tak berhasil. Air matanya tetap jatuh dengan di iringi isakan kecil. Sesekali Davka juga memukul dadanya pelan karna sesak yang ia rasakan.


Davka menghela napas panjang lalu menatap Vino dengan tatapan sayu nya


" Gue capek Vin, Gue pengen nyerah. Tapi, gue gak bisa, gue gak bisa ninggalin semuanya gitu aja. Gue gak bisa ninggalin masalah gue begitu aja, gue juga gak bisa ninggalin orang tua gue, gue belum siap. Sekeras dan seburuk apapun mereka perlakuin gue, gue tetap sayang sama mereka. Gue gak bisa ngebenci mereka Vin tapi, tapi gue juga capek terus terusan kayak gini. Gue harus gimana Vin? gue..."


Ucapan Davka langsung terhenti saat vino dengan cepat membawa Davka dalam dekapannya. Bahkan Vino tak menghiraukan darah yang menetes dari tangannya karna ia yang menarik infusnya terlalu keras mengakibatkan infus terlepas.


" Udah ya, gak usah di lanjut. Maaf karna gue udah maksa aku udah maksa kamu cerita " Mohon Vino pada Davka. sungguh Vino tidak tega melihat Davka menangis.


Vino bisa merasakan gelengan pelan Davka dalam pelukannya " Gue takut Vin, gue cuman mau mamah sama papah balik lagi kayak dulu. Balik lagi jadi mamah sama papah yang sayang lagi sama gue, mamah sama papah yang selalu perhatian lagi sama anaknya, mamah papah yang lebih mentingin anaknya daripada pekerjaan mereka. Gue cuman pengen itu "


" Iya, aku ngerti kok perasaan kamu. Aku bakal bantu kamu buat balikin mamah sama papah kamu kayak dulu lagi "


" Makasih Vin, gue bersyukur bisa sahabatan sama lo "


" Aku juga bersyukur bisa sahabatan sama kamu Dav "


Vino sekarang sedang berada di taman rumah sakit, duduk di salah satu kursi panjang yang ada disana. kepalanya terangkat untuk menatap indahnya langit di atas sana. Indah namun hampa sama seperti hidupnya, Vino memejamkan matanya saat kepingan memori masa lalunya kembali muncul di otaknya termasuk kejadian di gudang itu.


Vino berdecih, ia benci saat pikiran pikiran negatif kembali menghantuinya, ia juga benci saat bisikan bisikan itu kembali terdengar oleh kedua telinganya. namun, tekadnya sudah kuat, ia harus sembuh dari trauma nya.


Setelah menggelengkan kepalanya beberapa kali dan mengatur napasnya agar sedikit tenang. Vino bangkit dari duduknya dan kembali menuju ruangan dimana Davka di rawat, masih belum ada berkembangan tentang kondisi Davka membuat Vino semakin merasa bersalah.


Vino membuka ruang rawat Davka, dadanya selalu merasa sesak saat melihat Davka yang belum membuka matanya. Vino selalu merasa kalau dirinya adalah pembawa sial. Andai saja Davka tak bertemu dengan dirinya, andai saja Davka tak mengenalnya, andai saja Davka tak berteman dengannya dan andai saja Davka tak menolongnya, Davka tidak akan seperti ini, ia tidak akan terluka dan koma seperti sekarang.


Tapi kembali lagi, semuanya hanya kata andai. Karna pada nyatanya waktu bukanlah Oreo yang bisa di putar apalagi di jilat dan celupin. Kata andai hanya penuh dengan kalimat penyesalan tanpa bisa mengubah apapun dan vino tidak akan bisa melakukan apapun sekarang, ia hanya bisa berdoa dan menunggu keajaiban datang untuk kesembuhan Davka.


Vino kembali memejamkan kedua matanya, setelah menghabiskan waktu dua menit untuk menatap


wajah pucat Davka, ia juga baru sadar kalau sekarang tubuh Davka jauh lebih kurus dari 13 bulan yang lalu. Tanpa sadar tangan vino terkepal kuat dengan liquid bening mulai meluluh ke pipinya


" Dav, aku bakal bantu kamu buat ngembaliin orang tua kamu lagi kayak dulu, sesuai keinginan kamu Dav. Aku janji "


" Cepetan bangun Dav, aku kangen. aku kangen main bareng lagi sama kamu "


" Emangnya kamu gak kangen sama aku? kamu juga gak kangen sama kembaran kamu. Dia selalu nunggu kamu loh, Bangun dong Dav "


" Dav, aku mohon bangun "


" Yaudah deh kalau kamu belum mau bangun, gak papa. Aku tau kamu pasti capek kan? istriharat lagi deh kalau kamu masih capek, aku bakal tetap nunggu kamu. Tapi jangan pernah berpikir buat ninggalin aku ya, aku belum siap "


" Cepet bangun sahabatku "


SEMOGA SUKA YA


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DAN VOTENYA


SEE YOU NEXT PART