
..." Apa salahku? katakan!! "...
...DAVINO...
Bugh
Bugh
Bugh
Tiga pukulan sudah tiga orang itu layangkan pada wajah pemuda yang berada di bawah kaki mereka dengan kondisi yang mengenaskan.
Bagaimana tidak di katakan seperti itu, lihat saja. Darah yang mengalir dari kening dan hidungnya, wajah yang penuh dengan lebam dan kesadaran yang hampir menghilang.
Namun, hal itu tak membuat tiga orang yang berada di hadapannya ini merasa iba. Mereka malah tertawa melihat bagaimana kondisi adik kelasnya ini.
Bahkan tanpa berprikemanusiaan mereka malah semakin gencar menyiksa pemuda tersebut. Memukul wajahnya, memukul perutnya, menendang kakinya, menginjak tangannya dan menarik rambutnya tanpa memperdulikan teriakan dan ringisan pemuda itu. Miris bukan?.
" Ud-dah, ka-kak hah, ssa-kit ahk " Ucapnya pemuda itu terbata bata. Ia sudah meringkuk menahan semua rasa sakit pada badannya.
" Uhhh..sakit ya? " Tanya orang pertama dengan bibir yang menyeringai, menyeramkan itulah predikatnya. Panggil saja namanya Niko.
NIKO MAHENDRA adalah ketua dari geng berandal di sekolahnya. Dia terkenal dengan kekejamannya dalam membully. Targetnya tidak pernah lolos dan selalu berakhir dengan keadaan yang tidak baik baik saja, tak terkecuali DAVINO.
Yap, pemuda yang sedang mereka bully adalah DAVINO SAPUTRA. Saat di kantin tadi niko dan kedua temannya menghampirinya dan langsung menyeret vino secara paksa ke gudang sekolah.
" Gimana masih mau kagak? " Tanyanya lagi membuat vino dengan cepat menggelengkan kepalanya.
" Makanya kalau kagak mau di bully, kagak usah sekolah " Ujar salah satu teman niko yang bernama geri. Ia sudah berjongkok dan mencengkram erat dagu vino.
Sedangkan vino, dia hanya memejamkan matanya. merasakan sensasi menyakitkan saat lagi lagi merasakan lukanya di tekan.
" PAHAM " Ucapnya penuh penekanan. Melepaskan cengkramannya dengan sekali hentakan.
Sifatnya yang ceplas ceplos dan sedikit pemarah membuat seorang GERINDRA ALKESYA tidak jauh menakutkannya dengan niko.
Sedangkan temannya yang satu lagi, MARION ALEXANDER hanya diam dan melirik sekilas vino dengan tatapan tajamnya. Sifat dingin layaknya es memang mengalir dalam tubuhnya jadi jangan aneh jika dia tidak banyak berbicara. Seperti halnya sekarang daritadi dia hanya bertindak tanpa berbicara, berbeda dengan teman temannya.
" Ayo balik " Ajak marion kepada kedua temannya itu. Temannya hanya menurut dan mulai melangkah pergi mengikuti marion yang sudah lebih dulu keluar dari gudang.
Meninggalkan davino dengan luka terdalamnya, bukan hanya luka fisik yang dia terima tetapi luka pada hatinya juga.
" Apa salah vino sama kalian hiks " Monolognya sambil berusaha untuk berdiri.
...****************...
Ini bukan pertama kalinya vino berada dalam posisi seperti ini, mendapatkan hukuman karna terlambat ke kelas. Oh ketahuilah, karna masalah tersebut vino jadi merasakan berbagai hukuman dari guru yang berbeda. Tetapi tetap saja itu tidak pernah menciptakan rasa biasa dalam dirinnya.
Setelah kejadian di gudang tadi vino langsung pergi ke toilet untuk membersihkan darah yang ada di kening dan hidungnya serta mengganti pakaian yang sudah kotor dan kusut itu. Untung saja dia tidak pernah lupa untuk membawa seragam cadangan kesekolah, wanti wanti untuk hal yang seperti ini.
Tapi sayang, saat ia ingin ke kelas ternyata pelajaran sudah di mulai setengah jam yang lalu. Jadi di sinilah vino sekarang berada. Di sebuah tempat yang sepi dan sunyi, rooftop.
Yah, davino sekarang berada di rooftop dia sedang merapikan kursi kursi yang ada di sana sebagai hukumannya karna dia telah terlambat.
Setelah menyelesaikan tugasnya, davino berjalan menuju pembatas rooftop. Ia melirik kebawah sebentar 'uhk..mengerikan' gumamnya.
Ia sempat termenung beberapa detik dan melirik kebawah sekali lagi
" Kalau aku terjun ke bawah terus mati, dosa enggak ya? " Tanyanya entah pada siapa
" Aish davino, davino. Kamu tuh mikir apaan sih, ya jelas dosalah orang itu namanya bunuh diri " Gerutuknya sambil memukul pelan kepalanya.
Vino segera berbalik dan duduk bersandar di samping tumpukan kursi kursi yang tadi dia rapikan.
Tangannya mengeluarkan sebuah buku kecil dan pulpen yang ada di saku celananya. Entah apa yang dia tulis hanya dia dan tuhan yang tau.
...****************...
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.27, sekolah sudah di bubarkan sejak empat jam yang lalu. Tapi davino, dirinya masih terlihat betah berada di alam mimpinya.
Saat bel pulang sekolah berbunyi tadi vino tidak langsung pulang, kepalanya terasa sakit mungkin karna benturan di gudang tadi. Jadi, ia memilih untuk tidur sebentar. Niatnya sebentar ( apa sih Thor )
" Hey bangunlah " Ucap seseorang sambil menepuk bahu vino.
Vino menggeliat pelan saat merasakan tepukan di bahunya. Ia mengernyitkan dahinya saat merasakan pusing ketika dia membuka mata
" Eh pak ridwan " Kaget vino saat mendapati gurunya ada di depannya
" Kenapa belum pulang? " Tanya laki laki yang berprofesi sebagai gurunya dengan nada yang lembut.
" Ketiduran pak " Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Yaudah cepat bereskan barang barangmu, saya akan mengantarkanmu pulang "
" Ahk..tidak usah pak, saya bisa pulang sendiri " Balas vino canggung. Ia tidak enak dengan gurunya, selain itu ia juga takut kalau gurunya sama seperti salah satu guru yang ada guru yang ada di sekolah ini, membencinya.
Laki laki itu menghela napas pelan " Tidak usah membantah kau masih di wilayah sekolah jadi kau masih seorang murid dan saya, saya adalah gurumu menurutlah pada gurumu lagian hari juga sudah malam "
Vino hanya bisa mengangguk dan mulai membereskan barang barangnya. Toh dia juga takut bagaimana kalau di jalan ia bertemu dengan Miss k atau mister ponci atau si anak botak pemakai daleman doang atau bahkan lebih parahnya bertemu dengan wanita si penculik anak anak wewe gombel. Uhk.. membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.
...****************...
Di perjalanan keduanya terlihat sibuk dengan dunianya masing masing. Vino yang sedang telponan dengan bi nia dan gurunya pak ridwan yang fokus menyetir.
" Iya bi, ini vino lagi di jalan kok "
" Vino gak sendiri bi "
" Yaudah vino matiin ya bi "
" Assalamualaikum "
Setelah panggilan terputus vino langsung memasukkan handphonenya kedalam saku. dia pun menoleh pada gurunya.
" Bapak kenapa belum pulang jam segini?" Tanyanya mengawali pembicaraan
Ridwan sang guru melirik sebentar muridnya " Lalu kamu sendiri kenapa jam segini belum pulang? "
" Ihk bapak mah gak asik, saya tanya malah balik nanya " Ucapnya sedikit kesal
Ridwan tersenyum melihat tingkah muridnya. Ia mengangkat tangannya dan mengusak pelan surai Anak itu " Saya lembur dan ya satu lagi, jangan panggil saya bapak saat di luar sekolah umur saya masih 25 tahun panggil kakak aja "
Vino menoleh pada sang guru " Emang boleh panggil kakak? "
Dan lagi lagi ridwan tersenyum, gemas dengan tingkah anak di sampingnya ini
" Hmmm "
" Yeyyy, berarti sekarang vino punya kakak dong "
SEE YOU IN THE NEXT PART