THE LIFE STORY OF DAVINO

THE LIFE STORY OF DAVINO
6. RUMAH SAKIT



RIDWAN POV


Aku sedang membereskan barang barang ku, hari ini lagi lagi aku harus pulang sore karna ada beberapa tugas murid murid yang harus di cek.


Saat aku ingin ke parkiran aku melihat Niko, Geri dan Marion mengganggu Davino, mereka menyeret Davino entah kemana. Aku mencoba mengikuti mereka tapi aku kehilangan jejak.


Aku yang sangat khawatir dengan salah satu murid ku yaitu Davino segera kembali masuk ke sekolah dan mencari mereka kesemua tempat mulai dari kelas, toilet laki laki, gudang dan tempat lainnya.


Sampai kakiku membawaku ke toilet belakang sekolah, aku tidak mengerti tapi aku merasa kalau mereka membawa Vino kesana.


Dan benar saja saat aku sudah sampai di sana aku melihat Davino yang di guyur oleh Niko dengan air yang ada di ember kecil dan aku bertambah terkejut saat ada es batu di dalamnya.


Lalu setelah itu aku juga melihat Geri yang berjalan ke arah Vino lalu mencengkram kuat dagu Vino. Aku yang tidak tahan dengan aksi mereka pun langsung menghampiri mereka.


" BERHENTI!!! apa yang kalian lakukan? datang ke ruang BK besok, tidak ada bantahan " Ucapku dengan tegas.


" I-iya pak " Jawab mereka bertiga sebelum pergi


Aku berbalik dan melihat Vino yang sudah menutup matanya, aku sangat khawatir saat melihat wajahnya yang begitu pucat dan dengan segera aku langsung menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit


" Bertahanlah aku akan membawa mu ke rumah sakit "


RIDWAN POV END


Putih, hening dan sunyi.


Seperti itulah yang di rasakan oleh seorang pemuda yang baru saja membuka matanya.


Vino mengerjab, netranya berusaha untuk terbuka lebar.


Setelah bisa, vino tertegun melihat dirinya berada di rumah sakit.


Vino mencoba mengingat kejadian yang di alaminya tadi. Seingatnya, vino sedang di di bully oleh Niko dan kedua temannya. Lalu, kenapa dia berada di rumah sakit?.


Vino menerka nerka siapa yang membawanya ke tempat ini?


Bukankah tadi di sekolah sudah tidak ada siapapun selain mereka berempat?


Tapi, tunggu!! bukankah saat kesadaran mengambil alih dirinya dia sempat mendengar orang berteriak ?


Siapa? apa memang gurunya?


Ntar lah, vino bersyukur setidaknya ada orang yang mau menolongnya.


Vino mendudukkan dirinya, dia meringis pelan tubuhnya sakit semua membuatnya sedikit kesulitan. Setelah berhasil mendapatkan posisi nyaman, Vino mengedarkan pandangannya ke segala arah. kosong.


Vino mengambil tasnya yang berada di atas nakas, dia mengeluarkan handphone dan segera mengeceknya.


25 panggilan dari bi Nia


50 panggilan dari davka


BI NIA


Tuan muda kamu di mana? ini sudah larut kenapa belum pulang .


Tuan muda balas pesan bibi.


Tuan muda.


Tuan.


22.56*


DAVKA


Vino lo dimana sekarang?.


Vino tadi bi nia telpon gue nanyain lo.


Lo dimana?


Gue jemput.


Vin bales dong.


VINO


VINO KALAU LO GAK BALES GUE MARAH


VINO


Vino tersenyum melihat pesan dari keduanya dengan segera vino membalas pesan mereka dengan mengatakan bahwa dia baik baik saja dan menyimpan kembali handphone nya ke dalam tas


Setelahnya vino melirik ke sebuah jam yang ada di dinding ruangan itu 01.30. dia menghela napas pelan


" uhk...aku pingsan terlalu lama " Gumamnya sambil ingin menidurkan dirinya kembali namun urung saat seseorang tiba tiba masuk ke ruang rawatnya.


Vino sempat tersentak saat melihat siapa orang itu, dalam hatinya ia berkata ' Oh jadi benar kalau suara tadi itu suara pak Ridwan '


" Sejak kapan kau bangun ? " Tanyanya sedikit kaget mendapati Vino yang sudah sadar


" Barusan pak " Jawabnya sedikit canggung


" Ada yang sakit? " Dan Vino hanya menggeleng


" Bapak yang bawa saya kerumah sakit? " Tanya Vino pada ridwan


" Hmm "


" Kenapa bisa? "


" Bisa karna saya adalah gurumu sekaligus kakakmu "


Vino tersenyum " Makasih pak "


" Sudah ku bilang berapa kali panggil aku kakak saat berada di luar sekolah " Ucap Ridwan kesal yang malah membuat Vino tertawa lepas


" Baiklah kakak Ridwan " godanya dan tertawa kembali


" Sudah sudah hentikan tawamu dan sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya Ridwan meminta penjelasan


Deg


Vino langsung menghentikan tawanya.


Dia menundukan kepalanya ia bingung harus menjawab apa?


Tangannya saling bertautan bahkan bahunya mulai bergetar.


" Aku tau di sekolah semua murid selalu membullymu kan?" Lanjutnya membuat Vino semakin menundukan kepalanya.


Ridwan menghela napas saat tak mendapatkan jawaban apapun dari anak di hadapannya ini, ia langsung duduk di samping Vino dan mengelus puncak kepala anak itu. Entah kenapa dia begitu prihatin pada remaja ini. Tunggu! bukan, bukan Prihatin ia sepertinya menyayangi anak ini.


" K-kak " Panggil Vino


" Hmm? " Gumam Ridwan masih dengan aktivitasnya


" Apa menurutmu aku memang tak pantas untuk hidup? " Tanya Vino masih dengan menundukkan kepalanya. Sontak usapan kepala pada vino berhenti seketika dan entah kenapa itu membuat tubuh vino bergetar kecil ' Apa pak Ridwan juga akan berpikir sama seperti mereka '


" Apa maksudmu berbicara seperti itu? " Ucap Ridwan datar dan itu membuat vino memejamkan matanya.


" JAWAB AKU, DAVINO "


" Hiks.." Satu isakan lolos dari bibir pucat milik Vino.


" Hey, kenapa menangis? " Ucap Ridwan melembut. Kedua tangannya menangkap pipi Vino yang basah, awalnya Vino tetap menunduk tapi dengan usapan di pipinya ia pun mendongak dan matanya langsung bertatapan dengan mata teduh milik Ridwan.


" Hiks aku, aku takut kak. mereka selalu mengatakan kalau aku anak telantar hiks, mereka selalu menyuruhku untuk pergi, mereka hiks mereka tak menginginkan kehadiranku, mereka membenciku, mereka hiks membenciku hiks mereka, mereka...." Ucapan Vino langsung terpotong saat Ridwan dengan cepat membawa tubuh Vino dalam dekapannya.


Hangat!! itulah yang di rasakan Vino saat ini, ia menumpahkan semua perasaannya dengan menangis di dekapan sang guru.


Ridwan melepaskan dekapannya dan memandang Vino dengan tatapan yang...lembut. Vino pun membalas tatapan Ridwan dia menyukai tatapan Ridwan yang seperti ini.


" Dengar, dengarkan aku..." Ucapnya sambil menagkup pipi Vino. "........kau pantas untuk hidup dan soal mereka, kalau mereka memang membencimu. Kau harus bisa mengubahnya, buat mereka tak membencimu lagi dan melihatmu. Kau mau? Kau tenang saja aku akan berada di sisimu. Kau tak sendiri, karna sekarang aku adalah kakakmu. Kau mengerti? " Vino pun mengangguk pelan dan tangisannya mereda meskipun terdengar isakan kecil.


Ridwan langsung membawanya kembali dalam pelukannya. Dia sepertinya benar benar menyayangi anak ini sekarang.


" Aku menyayangimu kak " Ridwan tersenyum mendengar perkataan vino. Namun, itu hanya beberapa saat sebelum ia merasakan tubuh vino yang sepenuhnya bertumpu padanya bahkan tangan anak itu melemas begitu saja.


Dengan cepat Ridwan langsung melepaskan pelukannya dan dia di buat kalut karna vino yang sudah menutup matanya.


" DAVINO "


SEE YOU NEXT PART


SORRY KALAU GAK JELAS