
..." Rasa sakit yang sesungguhnya adalah saat kamu tak bisa menerima dan mengikhlaskan setiap kejadian dan keadaan yang kamu alami "...
Davka tak mengerti maksud dari yang di katakan gurunya itu. Anaknya di sakiti? Lalu apa hubungannya dengan mereka?.
Davka sangat terkejut kala sang guru mulai melukai tangan vino, ia ingin memberontak tapi sakit di perutnya dan juga ikatan di tangannya membuat davka sedikit kewalahan.
Davka menyeret tubuhnya mendekati sebuah meja yang berada lumayan jauh dari posisi ia sekarang. Davka tidak akan membuang waktu selagi pak Hamdan sibuk dengan aksinya kepada vino, davka akan berusaha membebaskan ikatan di tangannya.
Setelah terlepas davka langsung menoleh ke arah vino dan semakin terkejut kala netranya melihat Hamdan yang ingin melayangkan benda mengkilat itu pada vino.
" TIDAK " Davka berusaha untuk bangun tanpa mempedulikan sakit di perutnya. Tapi sungguh itu sangat sulit, sedangkan vino di sana masih terdiam dengan tatapan kosong.
" VINO "
Srughhh
Jjleb
ARGHHH
Darah segar mengalir dari tubuhnya, pisau kecil itu tepat menusuk dada kiri davka. Sedangkan vino yang sudah tersungkur di lantai karna dorongan dari davka hanya membeku, tatapannya semakin kosong dengan suara bisikkan bising di kedua telinganya. Hingga setelahnya suara dobrakan pintu terdengar, vino masih tidak menoleh. ia terus memandang tubuh yang sudah tergeletak bersimbah darah tengah tersenyum ke arahnya.
Detik selanjutnya vino bisa melihat davka yang mulai menutup matanya, vino juga bisa melihat guru matematikanya tengah berhadapan dengan Hamdan. Walau dengan tatapan kosong dan pikiran negatifnya vino bisa mendengar dengan jelas percakapan kedua gurunya itu.
" HAMDAN APA YANG KAU LAKUKAN HAH? " Tanya Ridwan sambil menarik kerah baju Hamdan. tapi, Hamdan malah tertawa keras.
" Apa yang aku lakukan? " tanyanya balik dengan tatapan tajamnya dan seringaian di bibirnya " Aku hanya menunjukkan bagaimana dulu anak ku di siksa "
" TAPI TIDAK KEPADA MEREKA "
" Lalu pada siapa? "
" MEREKA TIDAK TAU APA APA "
" Aku tau "
" JIKA KAU TAU KENAPA KAU MELAKUKANNYA PADA MEREKA "
" AKU HANYA INGIN MEREKA MERASAKAN APA YANG ANAKKU RASAKAN "
" BRENGSEK "
Bugh
Bugh
Dua pukulan Ridwan layangkan pada wajah hamdan membuat Hamdan langsung tersungkur. Hamdan merasakan sensasi perih dan rasa asin kala darah yang ada di bibirnya tak sengaja ia kecap. Hamdan menatap Ridwan dengan tatapan penuh luka namun terkesan menyeramkan, ia lalu bangkit dan berdiri tepat di hadapan Ridwan tidak lupa dengan seringaian yang terlihat sangat menakutkan.
" Aku bukan membela mereka tapi yang kau lakukan ini salah hamdan, kau melampiaskan kesalahan orang lain pada mereka yang tidak tau apa apa. Kau harus mengerti Hamdan, ku mohon cobalah untuk ikhlas "
Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang vino dengar sebelum kegelapan merenggutnya, yang vino tau setelahnya adalah tubuh davka yang di angkat dan di bawa keluar lalu di susul dengan dirinya.
" Davka, davka, davka "
" Vino sekarang buka matamu " Vino membuka matanya kala mendengar intrupsi dari seseorang. Ia bisa melihat seorang pria berumur 35 tahun dengan balutan jas putih yang menempel di tubuhnya kini tengah memandangnya.
pria itu tersenyum lalu menyodorkan segelas air putih yang langsung di terima oleh vino kemudian meneguknya hingga tandas. dengan tangan gemetar vino memberikan gelas yang sudah kosong itu pada dokter psikologinya.
" Kau berhasil davino, kau sudah berhasil melewati masa sulitmu. Kau sudah melawan trauma mu. Sekarang istirahatlah saya akan berbicara dulu dengan orang tuamu" Ucap dokter itu sambil mengusap air mata yang ada di pipi vino dengan lembut.
...****************...
Di sisi lain seorang anak perempuan memasuki sebuah ruang rawat di rumah sakit. Hal pertama yang dia lihat saat memasuki ruangan itu adalah anak laki laki seumurannya tengah terbaring tak berdaya dengan banyak alat bantu yang tertempel di tubuhnya.
Perempuan itu tak bisa menahan tangisnya, hatinya sangat sakit melihat sosok itu terlelap dalam alam bawah sadarnya. Ini sudah memasuki bulan ke 13 sosok laki laki itu menutup mata membuatnya begitu takut bila mata itu tak mau terbuka lagi.
Tanpa terasa, air matanya mengalir bebas di pipi putihnya dan kemudian ia menyekanya sambil berusaha tersenyum
" Apakah di sana begitu indah hah? apakah di sana kau begitu bahagia? sehingga kau tak mau membuka matamu barang sebentar pun. Lihatlah, aku menjadi gila sekarang, aku berbicara dengan orang yang sedang tertidur pulas " Perempuan itu tertawa kecil, padahal tak ada yang membuatnya tertawa.
" Kau tau? mamah dan papah, mereka semakin sibuk dengan pekerjaannya. Mereka bahkan tak menengok mu, sekarang aku bukan prioritas mereka lagi. Kau harusnya senang, mereka tak mempedulikan aku lagi. Sekarang bukan kau saja yang sendiri aku juga sendiri, aku kesepian"
" Aku sudah beberapa kali mehubungi mereka, aku sudah bilang pada mereka kalau kau sedang berada di rumah sakit hiks aku sudah bilang pada mereka kalau kau koma hiks, aku sudah mengatakan semua pada mereka hiks. Tapi, hiks tapi mereka tak peduli hiks mereka tak peduli. Mereka, mereka malah mengatakan jika mereka akan membayar semua biaya nya hiks hiks hiks "
" Aku sudah mengatakan pada mereka hiks jika kita tidak membutuhkan uang mereka saja, kita juga membutuhkan kehadiran mereka tapi , tapi hiks hiks hiks mereka hiks mereka malah memarahiku. Mereka mengatakan jika aku anak yang tidak berguna. aku sendiri sekarang, aku tak punya siapa siapa lagi selain dirimu, jadi kumohon jangan tinggalkan aku hiks aku membutuhkanmu hiks ku mohon bangunlah, bukalah matamu. Buka matamu dan lihat aku, benci aku lagi jika itu mau mu tapi ku mohon buka matamu hiks hiks hiks "
" Kau tau? temanmu itu sudah terbebas dari trauma sekarang. Kau tak ingin melihatnya? hiks setidaknya jika bukan untukku bangunlah untuk temanmu itu, kau pernah berkata bukan jika temanmu itu lebih berharga dariku. jadi, sekarang bangunlah temui temanmu itu "
Perempuan itu terduduk di lantai ia tidak kuat menahan tubuhnya lagi. Ini terlalu berat baginya, sosok dia terlalu berharga bagi hidupnya. Walaupun dirinya tau bahwa laki laki yang tengah terbaring itu membencinya tapi hal itu tak bisa membuat dirinya kembali membenci sang kembaran.
Isakan demi isakan keluar dari mulut perempuan yang terduduk itu, isakan yang dapat menyayat hati siapapun yang mendengarnya. sungguh hatinya benar benar sakit ia tak menyangka jika kejadian ini akan terjadi pada dirinya. Dan yang lebih menyakitkan adalah orang tuanya yang terlihat sangat tak peduli pada anak kembarannya ini.
" bangun... aku mohon bangun...bangun "
" bangun dav... bangun.... benci aku lagi tapi aku mohon bangun.. "
" aku memang bukan kembaran yang baik buat kamu "
" bangun.. bangun... cepetan bangun dav "
" DAVKA "
SEE YOU NEXT PART