
..." Bolehkan aku berkata bahwa dia sangat berharga "...
...DAVINO...
Vino tak tahu kenapa orang orang membencinya,
Vino tak mengerti kenapa orang orang mengucilkannya,
Vino juga tidak paham apa yang salah dari dirinya?
Anak telantar
Itulah yang orang orang katakan pada dirinya. Tapi, vino bukan anak telantar, orang tuanya masih memenuhi kebutuhannya. Rumah, falisitas dan uang jajan yang bisa di katakan lebih dari cukup.
Lalu di mana letak telantarnya?
Karna orang tuanya tak ada di rumah?
Bukankah itu masalah pribadi.
Di luar sana juga banyak yang sepertinya,
di tinggal kerja oleh orang tuanya
tapi orang orang di sekitarnya tidak pernah mengucilkan apalagi membencinya.
Ahk sepertinya vino hidup di lingkungan yang salah.
...****************...
Pagi ini jam pelajaran kedua adalah jadwalnya kelas vino olahraga. Setelah dragedi demam yang mengharuskan vino libur selama tiga hari. Sekarang vino kembali masuk masih dengan posisi yang sama, di benci.
" SEMUANYA KUMPUL DULU " Teriak seorang laki laki berumur 30 tahunan.
" Hari ini kita akan praktek lari jarak dekat satu orang punya waktu 15 menit, kalian cari pasangan untuk bagian menghitung setelah selesai lakukan juga sebaliknya " Lanjutnya lagi.
Semua murid yang mendengar penjelasan dari sang guru langsung berpencar mencari orang yang bisa di jadikan mereka pasangan. Sedangkan vino dia masih diam di posisi semula pandangannya mengendar ke segala arah, siapa tau ada seseorang yang bisa dia ajak untuk menjadi pasangannya.
Kakinya melangkah menghampiri seorang gadis dengan rambut panjang di ikat. Gadis itu menoleh saat merasa ada seseorang yang memanggilnya.
" Nara " Panggil vino dengan nada yang pelan.
" GAK " Jawabnya sarkas dengan tatapan sinis, padahal vino belum berucap apapun.
" Loh, vinokan belum nanya sama nara kok udah di jawab "
" Emangnya lo mau nanya apa? pasangan untuk praktek kan. Gue udah sama nisa, lagian juga gue lebih baik sendiri daripada harus pasangan sama lo. Udah sana pergi "
Vinopun pergi dengan mata yang memanas, dia mati matian menahan air matanya agak tidak jatuh, dia tidak boleh menangis di sini atau dia akan mendapat ejekan yang lebih parah lagi.
Kaki jenjangnya berhenti melangkah tepat di hadapan sang guru. Sedangkan sang guru hanya menatap datar kedatangan vino.
" Mau ngapain? " tanyanya datar dan penuh penekanan.
" Ma- maaf pak, saya mau bi-bilang saya belum mendapatkan pasangan " Jawabnya dengan penuh keraguan bahkan nadanya terdengar jelas kalau vino sedang ketakutan.
" Lalu, apa peduli saya? lagian siapa juga yang mau berpasangan dengan anak telantar seperti kamu " Ucapnya sambil terkekeh, vino hanya menunduk dengan telapak tangan yang mengepal, dia tidak boleh terlihat lemah karna ketahuan menangis di sini.
Pak Hamdan adalah guru olahraganya dan satu fakta yang harus di ketahui oleh kalian bahwa pak Hamdan juga membencinya. Vino tidak tahu apa alasan guru olahraganya itu membencinya yang ia tahu hanya dia yang tak pernah di perlakukan layaknya murid olehnya.
" Ehekm " Keduanya menoleh saat mendengar suara deheman seseorang.
" Dia biar sama saya aja pak " Ucap orang itu.
" Terserah " Balas Hamdan tak acuh setelahnya pergi meninggalkan mereka.
Orang itu menoleh pada vino lalu mengulurkan tangannya.
" Kenalin gue davka " Vino dengan ragu membalas uluran tangan itu.
" Da-davino " Ucapnya terbata.
" Gak usah takut kali gue gak bakal ngapain ngapain lo "
" Hmmm "
...****************...
" Kamu murid baru? " tanya vino pada davka.
" Iya " jawabnya sambil meminum minumannya.
Sekarang mereka sedang berada di kantin karna bel istirahat sudah berbunyi 2 menit yang lalu.
" Pindahan dari mana? "
" Bandung "
" Ohh, kenapa pindah? "
" Papah pindah kerjanya, jadi ikut pindah deh "
" Kenapa lo lih.."
Belum sempat davka menyelesaikan pertanyaannya. vino sudah lebih dulu memotongnya.
" Kenapa kamu mau temenan sama aku? "
...****************...
" ASSALAMUALAIKUM "
" WALAIKUMSALAM, eh tuan muda sudah pulang. Ini siapa? " Tunjuk nia pada davka yang ada di belakang vino.
" Ini teman vino bi, namanya davka. Davka ini bi nia "
Davka menghampiri nia dan langsung mencium punggung tangan nia.
" Yaudah kita makan dulu yuk, bibi tadi udah masak "
Ucap nia yang membuat vino maupun davka langsung mengangguk semangat.
Sekarang di sinilah mereka berdua, setelah makan tadi vino mengajak davka untuk bermain PS dan davka dengan senang hati menerima ajakan vino.
" AKU MEMIMPIN HOREEE!!! " Teriak vino.
" Liat aja gue bakal salip lo " Sahut davka.
" DAVKA JANGAN NYENGGOL NYENGGOL "
" KAGAK NYENGGOL GUE, LO NYA AJA YANG GAK BISA MAIN "
" BISA KOK LIAT AJA AKU BAKAL MENANG "
" COBA AJA, KALAU LO MENANG BESOK GUE TRAKTIR "
" OKAY "
" Tapi kalau lo kalah lo yang traktir "
" Sip lah "
" DAVKAAAAA "
" APASIH "
" JANGAN NYEREMPET "
" KAGAK GUE KAGAK NYEREMPET "
" AHK.. KALAH KAN, DAVKA SIH "
" Ada apa sih kok mainnya sambil teriak teriak kayak gitu " Tanya nia ynag baru masuk kekamar vino dengan tangan membawa nampan yang berisi minuman dan beberapa makanan.
Sedangkan davka dia sudah tertawa lepas melihat bagaimana ekspresi wajah vino yang kesal namun kesannya menjadi sangat menggemaskan.
Davka sempat berpikir ' bagaimana bisa anak semenggemaskan ini di benci orang orang ' tapi setelahnya dia langsung menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pemikiran seperti itu. Karna yang harus sekarang dia lakukan adalah berteman dan mencari tahu tentang kehidupannya.
" Davka tuh bi masak mainnya curang, aku jadi kalah"
Adu vino pada nia
" Gak kok bi davka gak curang, fitnah itu "
" Gak davka curang tau, vino jadi kalah "
" Itu mah resiko namanya "
" Gak pokoknya davka curang, vino kan jadinya harus traktir davka besok "
" Yaiyalah harus itu, sesuai perjanjian yang udah di sepakati kita tadi. Lagian itu tuh bukti kalau gue lebih hebat dari lo "
" DAVKA NYEBELIN " Teriak vino dengan tangan di lipat di dada dan bibir yang mengerucut, membuat tawa dapat kembali terdengar.
Nia hanya terkekeh melihat interaksi keduanya dalam hatinya dia mengucapkan beribu kalimat syukur. Ini pertama kalinya vino mengajak temannya kerumah dan pertama kali juga nia melihat vino yang begitu bahagia dengan temannya.
...****************...
Waktu menunjukkan pukul 23.25, yang artinya hari sudah sangat malam. Tapi vino dia masih enggan untuk pergi dari meja belajar nya.
Salah besar jika kalian mengira vino sedang belajar karna nyatanya vino sedang menuliskan deretan deretan kalimat di buku diary kecilnya, buku yang selalu ia bawa kemana mana.
Vino menguap saat merasa kantuk menyerangnya. dia pun berdiri dan berjalan melangkah menuju kasur king sizenya.
Vino membaringkan badannya yang meronta untuk di istirahatkan. Namun, sebelum matanya terpejam dia sempat bergumam.
" Hari yang indah, semoga besok juga begitu "
SEE YOU IN THE NEXT PART