THE LIFE STORY OF DAVINO

THE LIFE STORY OF DAVINO
7. MAMAH SAMA PAPAH



..." Aku bahagia akhirnya kalian kembali "...


...DAVINO...


Kedua mata itu perlahan membuka di sertai dengan ringisan sakit. Ia mulai mengedarkan matanya ke sekelilingnya, bau obat obatan langsung menyeruak memasuki hidungnya. Dan ia langsung mengerti jika dia masih berada di rumah sakit.


Ya! dia Davino Saputra yang sudah tersadar.


Saat vino ingin bangun, sebuah beban langsung terasa di tangannya yang bebas dari infus. Membuat vino menoleh dan terkaget setelahnya.


" Mamah? "


Dia ada disini? Apa aku sedang bermimpi?


" Mamah? " ucapnya sekali lagi. Tangannya terangkat mencoba menyentuh tubuh ibunya yang sedang tertidur di samping ranjangnya. dia tidak menyangka jika itu nyata.


Air matanya menetes. Dia menangis, tidak menyangka ibunya berada di sini. Mira yang merasa terusikpun langsung bangun dari tidurnya. Dan kaget saat melihat apa yang ada di hadapannya. Vino sadar.


" Vino? Sayang kamu udah sadar hiks.."


" Ini beneran, mamah? " Tanya Vino lirih


" Iya, nak!. ini mamah sayang " Jawab Mira air matanya semakin mengalir


" Jadi benar yah? aku harus sakit dulu baru mamah mau melihatku huh?"


Deg


Tidak... itu tidak benar..!!!!


Mira segera menggelengkan kepalanya ribut dan mendekatkan tangannya, ingin menyentuh Vino. Tetapi Vino langsung menepisnya kasar.


" Kenapa?? KENAPA MAH??!! KENAPA HIKSS " Teriak vino sambil terisak. Sehingga membuat sang ayah, Hendra terbangun. Dia kaget melihat sang istri dan Vino sudah bangun sedang menangis.


Tunggu..!!


Vino sudah bangun? putraku sudah bangun?


Hati Hendra jadi lega. Tapi, kenapa mereka malah menangis. Hendra pun berjalan menghampiri keduanya.


" Ada apa ini? " Tanya Hendra bingung. Dan hal itu membuat Vino menoleh ke arah hendra. Kedua orang tuanya ada di sini.


bukannya itu keinginanya kan?


bukannya dia ingin orang tuanya memperhatikannya lagi?


tapi kenapa ia menangis?


kenapa dia malah merasakan sakit?


" Sayang " Panggil Hendra mencoba mendekati Vino.


Vino tetap menatap sang ayah dengan tatapan sayu dan air matanya yang terus mengalir " Kenapa pah? kenapa? "


" Apa maksudmu? "


" Kenapa kalian kembali? "


" Karna kami menyayangimu "


" BOHONG "


" Tidak kami tidak berbohong "


" Kalian bohong, pasti setelah aku sembuh kalian pergi lagi kan? "


" Tidak kami tidak akan pergi lagi "


" Benarkah? "


" Ya kami tidak akan pergi, kami akan tinggal di sini bersama mu, menemani mu "


" Kalian janji "


Hendra dan Mira tersenyum melihat reaksi Vino yang mulai luluh lalu mengangguk " Kami janji " Ucapnya bersamaan.


Vino tersenyum dan tanpa mengulur waktu mereka bertiga langsung berpelukan melepas rindu yang selama ini tak bisa tersampaikan.


" Maafkan mamah sama papah ya? mulai sekarang kita akan memulai semuanya lagi. Papah sama mamah udah mutusin buat pindah kerja di Indonesia. Kamu mau kan maafin mamah sama papah? " Vino segera mengangguk dalam dekapnya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Ceklek


Bunyi pintu ruang rawat terbuka. Membuat mereka bertiga melepas pelukannya dan menoleh ke arah pintu. Disana sudah ada remaja seumuran Vino tengah memandang mereka dengan mata yang membulat dan mulut yang terbuka.


" Ahk maaf maaf aku mengganggu kalian, maafkan aku juga karna tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Kalian lanjutkanlah " Ucapnya masih dengan ekspresi terkejutnya. Membuat Vino Mira dan Hendra tersenyum melihat tingkah anak itu.


" Tak apa, masuklah. " Ujar Hendra sambil terkekeh. Remaja itu langsung masuk dan menghampiri mereka bertiga.


" Kau temannya vino? " Tanya Mira lembut


" I-iya saya temannya vino "


" Tidak usah gugup, siapa namamu? "


" Davka Tante "


" Oh davka, makasih ya udah mau jadi teman vino "


" Iya sama sama tante, saya juga senang bisa temenan sama vino, walau nyebelin "


Mira dan Hendra terkekeh mendengar ucapan davka barusan. anaknya itu memang nyebelin


" Yaudah kalian mau ngobrol kan? " Davka mengangguk


" Kalau gitu om sama tante keluar dulu, kalian anteng anteng ngobrolnya jangan berantem " Dan di balas anggukan oleh keduanya.


Davka mengela napas melihat ekspresi vino " Lo ya? gak ada niatan gitu buat minta maaf "


" Minta maaf? "


" Iya minta maaf "


" Kenapa aku harus minta maaf? emang salah aku apa? "


" Gak usah masang muka sok polos deh, lo kemarin bohongin gue "


" Bohong? bohong gimana? "


" Lo tuh **** atau pura pura **** sih? kemarin siapa yang bilang kalau aku baik baik aja tapi kenyataannya ada di rumah sakit "


Vino yang sudah mengerti permasalahannya pun hanya cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal .


" Hehehe soal itu aku minta maaf deh "


" Iki minti miif dih " ucapnya sambil memoyongkan bibirnya


" Maafin ya? " Mohon Vino dengan kedua tangan yang menangkup di depan dada.


" Lo tuh gak tau gimana panik nya gue pas Bi Nia telpon gue katanya lo belum pulang, gue ngerasa bersalah tau Karna udah ninggalin lo. Mana Lo gak bisa di telpon lagi, pesan gue juga gak di balas " Cerocosnya membuat vino menundukkan kepalanya merasa bersalah sudah membohongi davka. Tapi ia melakukan itu agar davka tidak khawatir padanya.


" Iya maaf deh maaf "


" Hmmm "


" Maafin kan? "


" untung gue baik, jadi gue maafin deh "


" Yes makasih davka, kamu memang yang terbaik " Ujarnya sambil mengacungkan kedua jempol nya


" Terus sekarang gimana keadaan lo? "


" Udah mendingan kok "


" Bagus deh "


" Oiya dav kok kamu bisa tau aku di sini? "


" dari pak Ridwan? "


FLASHBACK ON


DAVKA POV


Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku yang sudah siap dengan baju seragamku langsung pergi ke sekolah dengan supirku. Setibanya di sekolah aku segera berjalan menuju kelasku disana sudah banyak orang tapi aku agak aneh karna vino tidak ada di sana, tasnya juga tidak ada. aku berpikir positif dahulu ' Mungkin Vino telat hari ini '.


Tapi sampai jam istirahat tiba Vino belum muncul juga, aku yang khawatir segera menelponnya.


setelah panggilan tersambung aku langsung memanggil Vino.


" Vino lo dimana? kok gak sekolah? Lo gak papa kan? "


" Hallo davka " Aku kaget saat tahu kalau itu bukan suara Vino. Pemikiran negatif ku langsung bermunculan di otakku


" Heh, ini siapa *****? kenapa hape vino ada sama Lo? Lo pasti penculik ya? "


" Davka ini saya pak Ridwan "


" Pak Ridwan? "


" Iya guru matematika sekaligus wali kelas kamu " Aku langsung menepuk jidat ku ' aduh salah sasaran '


" Maaf pak saya gak tau kalau itu bapak? tapi ngomong ngomong kenapa hape vino ada di bapak? "


" Karena vino lagi sama saya sekarang "


" Emangnya bapak sama vino lagi dimana? "


" Rumah sakit "


" HAH, RUMAH SAKIT "


" Davka jangan teriak, kamu mau telinga bapak bonge ya? "


" Hehehe maaf pak, saya tuh kaget. tapi vino gak papa kan pak?"


" Vino sakit "


" HAH SAKIT, KOK BISA?


" DAVKA "


" Hehehe, maaf pak saya khilap, tapi vino kenapa bisa sakit? "


" Mana saya tau "


" Lah kenapa bapak gak tau? kan vino sama bapak "


" Udah deh, kamu jangan banyak ngomong, banyak cingcong. Kamu ke rumah sakit aja sekarang. Nanti saya kirim nama rumah sakit sama ruangannya lewat sms "


" Iya pak saya kesana segera "


" Jangan lupa izin dulu sama guru "


" Hmm "


DAVKA POV END


SEE YOU NEXT PART