The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 8



Sore selepas melaksanakan shalat ashar bersama dengan pak kismo. Aku di ajak oleh pak kismo berjalan-jalan di sekitar kampung. Pak kismo bilangnya biar tidak tegang menghadapi nanti malam.


“ohya mas yan, kebetulan hari ini anak saya yang sulung sedang berada di rumah. Sedang ada pekerjaan deket sini katanya” ucap pak kismo memecang keheningan.


“Begitu ya pak, tapi saya tadi tidak melihat nya di rumah pak” tanyaku heran.


“Iya, tadi dia sedang mengantar ibu nya belanja ke pasar, maklum daerah sini kalo belanja keperluan harus ke kota dan lumayan jauh, mungkin sebentar lagi pulang” jelasnya.


Suasana alam disini terasa sejuk, perkebunan daerah kaki gunung di dominasi oleh tanaman sayuran. Terlebih senyum ramah khas orang desa terlihat sepanjang perjalanan kami berkeliling. Saling tegur sapa dan saling membantu. Dari yang kulihat nampaknya pak kismo adalah orang yang di hormati di kampung ini. Setiap bertemu atau berpapasan dengan warga di jalan nampak segan terlihat raut wajah warga desa.


....


Matahari sudah akan ke peraduannya, dan kami pun berjalan kembali pulang. Terlihat sebuah sepeda motor terparkir di halaman depan ruma pak kismo. Mungkin anaknya pak kismo sudah pulang mengantar dari berbelanja.


“Assalamualaikum. Bu. Sudah selesai belanja keperluannya” Pak kismo berjalan masuk kedalam rumah.


“Waalaikumsalam. Alhamdulillah sudah Pak.” Nampak seorang lelaki berjalan mencium tangan pak kismo. Namun … aku terkejut bukankan ia..


“Pak, masih ingat dengan saya” aku berjalan menghampiri.


“Loh ini mas yang di pesawat itu kan?” wajahnya menunjukan sama terkejutnya dengan ku.


“Benar. Berkat mas-nya saya dapat segera tertolong waktu itu”


“kalian saling kenal?” Raut wajah pak kismo kebingungan.


“Kebetulan sewaktu dalam pesawat saya duduk bersebalahan dengan beliau, dan karena suatu kendala sewaktu di pesawat saya dinyatakan koma. Beruntung saya segera di tolong oleh anak bapak untuk segra mendapat perawatan” jawab ku menjelaskan.


"Namun tak di sangka takdir mempertemukan saya kembali” lanjutku


“Sudah sewajarnya mas sesama manusia harus saling tolong-menolong” tuturnya .


“Oalah…. Begitu rupanya. memang sudah takdir” pak kismo mengerti.


“Saya belum sempat mengucapkan terima kasih mas atas pertolongan mas waktu itu.” ucapku.


“sama-sama mas. Nampaknya mas juga sudah pulih” balasnya.


“Saya Iyhan” aku mengulurkan tangan.


“Panggil saja saya Bimo mas” menjabat tanganku.


“Le, bantu angkat barang yang belum di bawa masuk di luar” terdengar suara perempuan di belakang, yang ku tebak itu istri nya pak kismo.


“Oalah, tamu nya sudah datang pak” sapa ibu sambil tersenyum ramah.


“Sudah bu, sejak tadi siang” jawab pak kismo.


“Saya iyhan bu” mengulurkan tangan dan mencium tangannya.


“Iya nak, panggil saja bu darmi. saya diberitahu bapak akan ada tamu katanya, makanya ibu disuruh belanja” terangnya “ayo pak ajak mas nya makan dulu, pasti sudah lapar kan?”


“Ya lapar bu, kan nunggu ibu pulang belanja dari pasar.” Jawab pak kismo. “mari nak kita makan dulu”


Keluarga yang penuh kehangatan dan kasih sayang. Aku jadi teringat ibu dan adik ku di rumah. Rasanya ingin segera berjumpa.


Sore berlalu dengan cepat. Gerimis turun membungkus kota saat lampu mulai dinyalakan satu per satu. Awan hitam ber-gelung memenuhi setiap jengkal langit. Kilau tajam petir dan gelegar Guntur menghiasi awal malam.


Pukul delapan, selepas solat isya. Pak kismo, aku dan mas bimo yang ikut menyaksikan detik detik menegangkan yang akan terjadi sebelum bencana besar itu datang.


“Nak, apa kamu sudah siap!” Tanya pak kismo.


“InsyaAllah Siap!” jawabku mantap.


“ketahuilah nak, nanti kita akan menemui jin Rijalul Gaib. Mereka adalah jin yang mendampingi para Wali Allah. Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan akan terukir dalam pena sejarah kehidupan bangsa ini”


“Baik pak” aku mengangguk mengerti.


Aku memejamkan mata. Berdzikir melantunkan ayat-aat suci dan menetapkan niat. Aku merasakan suasana damai. Tenang dan hening. Seketika aku membuka mata. Kulihat aku sedang berada di sebuah masjid bercorak keraton. Memiliki sebuah halaman yang di tumbuhi beberapa pohon. Atap bangunan yang bertingkat khas masjid masjid para Wali.


Di atas permadani, disana terlihat ada beberapa Lelaki tua dan memakai jubah putih serta memiliki janggut yang begitu panjang. Tapi, kok hanya sendirian, aku tak melihat dimana pak kismo?


Kucoba memberanikan diri untuk mendekati mereka yang sedang duduk bersila sambil bersendawa.


"Assalamualaikum" Sapa saya dan seketika mereka memalingkan pandangan padaku.


"Waalaikum salam wahai cucuku" Balas seorang kakek.


"Mari nak, gabunglah bersama kami" Lanjut salah seorang lagi.


"Berapa usiamu nak, tampaknya kau terlampau muda" Lanjutnya lagi.


"Duduklah, jadi kamu pewaris patih tsb?" Tanya kakek dengan tatapan tajamnya.


"I..iya kek" Jawab saya dengan nada takut.


"Cu, Mengapakah tanah leluhur ini menjadi sangat ternoda seperti ini cu? Apakah ajaran kami tak kalian gubris, apakah pinutur kami tak kalian amalkan, apakah agama yang kami sampaikan tak kalian peluk. Lantas berbagai kemurkaan melanda negeri ini, tanah ini, jiwa tak berdosa ikut merasakan."


"Adat tanah ini mulai menghitam, dimana ajaran syaitan mulai dianut, santet, pesugihan, dan berbagai amalan sesat. Mengapa cu, mengapa kalian amat mudah tertipu. Dunia ini fana, akhiratlah yang kekal." Lanjut salah seorang lagi.


"Kami para Wali sangat menyesalkan ini semua, para tuan tanah adat leluhur bumi pertiwi akan meluapkan kemarahan mereka. Terbesar pada abad ini." Ungkap mereka lagi.


Aku hanya diam mendundukan kepala. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Dalam hati. Akupun turut menyesali terhadap apa yang terjadi pada negeri ini. Namun di sisi lain aku pun hanya manusia biasa.


Tak banyak yang mampu aku lakukan. Perasaan ini sugguh menyesakkan dada.


Disaat aku merenungi perkataan para wali dari golongan jin rijalul gaib. Terasa dentuman kuat didada saya, saya terpental, dan... ketika aku tersadar. Aku telah berpindah ruang.


“Assalamualaikum nak” tersenyum ramah menyapaku.


“Waalaikkumsalam bu” aku menatap wajah nya. Terasa sedikit lega dada ini.


“Bagaimana pertemuanmu dengan para leluhur? Apakah ada pesan atau wejangan dari mereka?” Tanya bu asri.


Mendengar ucapan dari buk Asri, saya seketika meneteskan air mata, sungguh, entah air mata bahagia telah berjumpa dengan Wali Allah atau air mata kesedihan atas keluhan para wali Allah terhadap umat manusia di bumi pertiwi.


"Ujar mereka, Negeri ini akan meneteskan air mata. Dan terbesar di abad ini. Daratan akan bergoyang, lautan pun akan tumpah, langit, hutan, gunung, semua akan merintih kesakitan." Jelas saya pada buk asri.


"Diawali dengan meletusnya Gunung Kelud Dalam beberapa hari kedepan". Lanjutku.


“Tegar lah nak. Sesuatu yang telah di gariskan oleh Allah Swt tak satupun makhluk dapat menahannya. Bila kau tak dapat berbuat sesuatu tentang bencana yang akan menimpa negeri ini maka jadikalah pelajaran untukmu. Sampaikanlah kepada orang-orang terdekat mu.


Dan berbuatlah sesuai dengan kemampuan dan kapasitasmu.” Wejangan dari bu asri terasa menyentuh kedalam nurani. Bagaikan setetes embun dikala dahaga. Akupun tak dapat menahan lagi gejolak batin ini. Dan menangis tersedu-sedu.


***


Beberapa hari setelahnya. Aku masih menetap di rumah pak kismo. Dan sejak pertemuan itu kuceritakan semua wejangan dan keluhan para Wali Allah. Ketika ku tanya kenapa pak kismo tidak ada disana bersamaku. Rupanya yang bisa menemui mereka hanya yang mendapat izin para Wali Allah.


Setidaknya langkah pencegahan yang mampu kulakukan agar pak kismo segera memberitahu dan melakukan evakuasi warga disekitar lereng gunung kelud yang akan meletus.


Fajar menyingsing bersama dengan letusan gunung kelud, aku tak tidur semalamam. Mata ini merah dan berkantung. Entah karena tak tidur atau aku menangis semalam. Dari sebuah bukit dekat rumah pak kismo. Kulihat jelas asap membumbung tinggi disertai luapan lahar menyembur. Merah membara. Seakan meluapkan kemarahan atas kejahatan dan dosa-dosa perbuatan manusia yang selalu merusak.


Air mata ini terus meleleh bersama dengan mengalirnya lahar dari puncak gunung. Aku memaki kebodohan dan ketidakberdaayan diriku. Dalam lembah keterputusasaan dan jurang penyesalan aku bergumam


...“jangan kau lihat seberapa kecilnya dosa yang kamu lakukan, tapi lihatlah sberapa besar Dzat yang kau tantang”...


***


Spoiler.


Sementara itu, di belahan timur bumi. Di sebuah negeri tempat tumbuhnya bunga sakura terdapat dua pemuda yang sedang mencari kebenaran sejarah nenek moyang mereka. Konon leluhur mereka dikutuk oleh alam ini. Karena melakukan perbuatan yang di benci oleh bumi dan langit. Sampai pada generasi mereka. Mereka terusik oleh sejarang yang di ceritakan turun temurun. Dua pemuda yang penuh semangat ingin memutus noda sejarah pada nama mereka. Sampai akhirnya takdir telah merencanakan sesuatu pada mereka. Dan kisah tentang dua pemuda itu dimulai.