The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 12



Flasback Masa SMP Samuel


“Ayah : Nak, pergilah kau ke Tanah Jawa, kembalilah ke tanah Maluku jikalau Saudara Mitsukimu telah menemuimu. Dan saat itu kamu harus sudah siap. Takdir generasi leluhurmu, dan juga takdirmu.


Dulu ayah menjalin hubungan dengan ibumu Sirita Mitsuki. Ayah yang merawatmu, dan pada akhirnya ibumu kembali ke negeri asalnya bersama saudara kembarmu. Karena ia tahu takdir yang akan mempertemukan kalian. Ingat Sam, Kutukan itu bukan dongeng, kutukan itu nyata. Pergilah Nak, ayah akan menemuimu bila ayah sempat. Di Surabaya ada kerabat ayah, tinggallah disana. Dia yang akan mendidikmu menjadi Lelaki dewasa yang tangguh."


****


Samuel Bergegas mengambil sebuah kalung peninggalan ibunya yang diwariskan secara turun temurun oleh keluarga Mitsuki. Kalung yang bila disatukan akan menjadi inisial M tersebut ia genggam erat, kerinduan akan sosok adik kembarnya membuat air mata secara spontan mengalir halus di pelupuk matanya.


Sosok tegar dan tegas Samuel luluh dan seketika sirna mengingat perihal kutukan keluarganya. Bisa disimpulkan, “ini adalah takdir yang dulu ayah pernah ucapkan.” gumam Samuel.


*****


Kereta malam itu melaju dengan kecepatan normal melewati dan menembus rel di pematang sawah. Malam ini baru memasuki kawasan Bandung. Perkiraan esok siang mereka tiba di stasiun pasar turi Surabaya. Dewi membuka percakapan diantara tiga orang yang diam membisu dengan tangan asyik dengan smartphone masing-masing.


“Ehem.” Dewi memecah suasana


“Hem, kamu pilek?” gurau Melissa


“hehe… “ Dewi tersenyum canggung


“Ngomong-ngomong jim, apa aman identitas kita diketahui publik perihal tadi? Kim khawatir


“Tak masalah, dan semoga saudara Mitsukiku mengetahui bahwa aku sudah perjalanan untuk menemukannya.” Terang Shijima


“Yang aku khawatirkan hanya jika kawan-kawan buronan yang kita habisi tadi mengincar kita.” Ungkap Kim


"Takut tak akan menyelesaikan masalah, tapi akan menimbulkan masalah baru" Jawab Shijima datar


“Peribahasamu keren. Tapi betul juga.” Kim tersenyum


“Kalian berdua tidak ikut ngobrol?” Shijima


menoleh


”Aku menyimak aja deh, lagian kalian pake bahasa alien sih hehe.” Seru Melissa


”Apa itu menyimak?” Kim mengerutkan dahi


"Mendengar kim. Itu sejenis kata lain dari mendengarkan atau menyaksikan.” Jawab Dewi


“Oh, oke aku save.” Balas Kim


”Dewi” sahut Shijima


“iya jim?” balas Dewi


”Apa bisa kami belajar di padepokan ayahmu. Karena aku rasa jika hanya ketrampilan fisik tak cukup tanpa pengetahuan ghaib.” Shijima menatap serius


“Bisa, tapi ada satu hal yang tak mungkin Jim.” Seru Dewi


“Tidak ada yang tidak mungkin di dalam kamus hidupku.” Jawab Shijima mantap


“Kamu harus meyakini keyakinan kami. Muslim atau Islam. Karena ilmu kita keseluruhan bersumber dari Inti sari Kitab Suci, yaitu Al-Quran.” Ungkap Dewi


“Seperti biasa kim? Bila harus kenapa tidak.” Shijima memantapkan hati


“Tapi apa mungkin jim? Kita kan tidak mempunyai kepercayaan sekarang. Bahkan ilmu yang kita miliki dari perguruan dahulu. Harus melawan Takdir Tuhan. Dan itu yang mengharuskan kita untuk tidak percaya akan adanya Tuhan.” Kim ragu sejenak


“Simpel saja Kim, Selama kita percaya, Tuhan akan selalu ada di hati kita. Cukup meyakini dan menjauh dari larangannya serta melakukan perintahnya. Pasti Kita akan semakin terasa bahwa Tuhan itu Ada.” Dewi tersenum menjelaskan


“Kok malah debat? Kita akan menjadi Muslim setibanya di padepokanmu wi. Kalian berdua sangat berjasa dalam perjuanganku. Arigato Gozaimazta” Shijima menundukkan kepala


“Rencana untuk menemukan Saudaramu bagaimana jim? Kita akan singgah di Surabaya ini nantinya” Tanya Melissa


“Feelingku, dia juga sedang mencari cara untuk menemukanku mel. Jadi tidak usah gegabah dulu untuk saat ini.” Terang Shijima


“Kalau boleh tahu nama saudara kembarmu siapa jim?” Dewi penasaran


“Samuel Hiragawa Mitsuki” balas Shijima


“Kenapa tidak coba cari di Facebook aja.” Usul Melissa


“Kita tidak punya akun jejaring sosial mel.” Jawab Shijima datar


“Helow, kalian hidup di era modern kan” Dewi Mengejek


Sementara itu Melisa sedang sibuk mengotak-atik pencarian orang di akun Facebook miliknya.


Dengan tatapan serius Shijima memperhatikan satu persatu akun bernama Samuel Hiragawa Mitsuki. Dan benar saja matanya tertuju pada salah satu akun. Dengan foto profil berdinas angkatan laut lengkap baret.


Ia melihat ada sedikit kemiripan wajah dengannya yang amat kental wajah japanese. Disalah satu foto ia terpana dan terpaku. Foto di sebuah tempat fitnes bertelanjang dada dengan postur ideal. Lelaki bernama Samuel itu mengenakan kalung belahan huruf M yang seperti ia miliki. Sontak ia mengeluarkan kalung tersebut dan mencocokkannya dengan pemilik akun tersebut.


Yah ternyata benar, Dialah sosok saudara kembarnya. Seketika air matanya menetes dari Lesung pipi. Wajah keras miliknya perlahan mulai memelas ibarat anak kecil yang tengah menemukan sesuatu yang telah lama hilang.


“Ada apa denganmu jim?” Tanya Dewi


”kamu baik-baik aja kan.” Melissa memastikan


“Sepertinya dialah Mitsukiku.” Balas Shijima


“Wahhhhh, Macho bener yah.” Dewi berkomentar


“Kalau Cool masih cool aku sih sepertinya.” Kim Senyum canda kim


”Serius kamu?” Melissa pensaran


“Kalung yang sama seperti yang kupunya. Cuma ini tanda pengenal kita.” Shijima menunjukkan kalungnya


“Bener Jim, apa rencanamu.” Kim setuju


”Bawa aku ke tempatnya mel. Kamu tahu kan markasnya, aku tahu dia angkatan bersenjata.” Seru Shijima


“Sepertinya dia mmiliki pangkat Komandan.” Melissa melihat informasi di akun samuel


“Hebat ya Mitsuki mu jim.” Kim memuji


“Kita harus menemuinya.” Shijima berseru


”Ini, ada kontak ponselnya. Sepertinya dia bukan orang biasa jim. Aku takut kita salah orang.” Melissa masih berkutat dengan ponselnya


“Kita pastikan aja dulu. Bagaimana kalau kita menginap dulu di Surabaya. nanti aku bisa ijin ke abahku.” Usul Dewi


“Boleh, ide bagus wi.”


Sepertinya tinggal selangkah lagi Shijima untuk menemukan Samuel saudaranya. Malam itu benaknya dipenuhi akan kerinduan sosok Mitsukinya. Ia mencoba mengingat masa kecilnya dahulu. Tapi seakan memorinya seakan menolak untuk mengingat kembali.


***


Sementara itu di Padepokan.


Di desa tempat Abah dewi bernaung, perdebatan hebat terjadi di alam ghaib. Ya benar saja, beberapa personil jin dengan sosok Naga dan Belut telah berhasil menyeberangi laut dan sampai ke tanah Jawa demi untuk menemui Abah di dalam persemadiannya, Abah terguncang oleh kekuatan yang maha dahsyat yang dimiliki oleh prajurit jin milik iblis Morotai tersebut.


Tak pernah ia temui sebelumnya ia berhadapan dengan aura sejahat ini.


Tepi pantai selatan. Suasana gelap mendung.


“Hai orang tua, kami datang membawa peringatan pertama untukmu. Jauhi dua Mitsuki yang akan menemuimu.” Seru Naga pertama


”Jika tidak, lihat akibatnya. Seluruh Penghuni tanahmu tidak sebanding dengan kami.” Lanjut Naga kedua


“Kami tidak takut, yang kami takut hanya Allah Semata. Pergilah, sebelum aku musnahkan dengan kalimat suci Allah.” Abah masih bertasbih membaca beberapa amalan sakti


”Hahaha, sepertinya itu akan seperti kau menggelitiki kami.” Si Belut meremehkan.


Mendengar ucapan itu, Abah menutup mata Sambil duduk bersila, sementara itu ketiga Jin tersebut hanya memperhatikan lucu sikap Abah. Abah terus mengeluarkan amalan-amalan miliknya hingga berbunyi lafal ayat dan akhirnya datang Lelaki muda bersorban putih menaiki seekor harimau putih dan ada beberapa sosok kera Anoman dengan wujud tinggi besar.


”Mohon ampun pangeran, tanah kita mendapat entah sambutan atau hinaan dari iblis tanah seberang.” Ucap Abah segan


Ternyata, Qarin Sunan kalijaga lah yang pertama kali hadir mendengar amalan milik Abah saat itu.


Kemudian diikuti oleh banyaknya makhluk berbagai jenis dari dalam air, dalam hutan, bangkit dari dalam tanah. Seakan mereka terusik oleh kata-kata jin suruhan iblis Morotai.


”Apa maksud kalian, tolong jangan bangkitkan leluhur tanah Jawa.” Sunan Kalijaga berseru


“Jika peperangan yang kalian inginkan, kami siap!!” Anoman mengingatkan


”Kami akan kembali dengan bala tentara yang lebih dari ini.” Si Belut mundur


Suara halilintar yang memecah langit seraya melenyapkan ketiga sosok jin tersebut.


“Jika terjadi apa-apa wahai cucuku. Jangan sungkan-sungkan serukan amalan suci milikmu. Kami akan hadir secepat mungkin hingga melebihi angin.” Tutup Sunan kalijaga


”Matur sembah nuwun pangeran kalijogo.” Abah menangkupkan tangan di dada.