The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 3



Kami kembali ke gubuk bu asri. Ketika beberapa langkah lagi akan sampai secara tiba-tiba pula, disana ada sebuah kursi dengan meja yang terbuat dari batang pohon. Berbentuk bulat dengan meja datar dibagian atasnya. Aku sudah tak terkejut lagi. Bahkan aku tak akan bertanya tentang bagaimana bisa atau caranya.


Kami pun duduk disana.


“Namamu siapa nak?” bu asri memulai percakapan.


“Iyhan bu” jawabku


“Berapa usiamu sekarang nak?”


“22 tahun bu” sambil ku melihat lihat pemandangan sekitar.


“Masih terlampau muda, dulu saya pernah membantu manusia, lebih tepatnya mendampingi. Kalau tidak keliru tahun 1870. Beliau ber-ilmu tinggi dan memiliki padepokan. Sampai sekarang keturunan ke-lima-nya masih sering menjumpai saya di waktu senggang.


Dari pembicaraan sederhana dan terbuka seperti ini aku seperti sudah mengenal lama sosok bu asri.


“Apa ibu tidak kesepian hidup sendiri seperti ini?” selidiku.


“saya masih memiliki Allah Tuhan Semesta Alam yang senantiasa ada nak” kebali dengan senyum ramahnya. Ketika tengah asyik mengobrol.


Tiba-tiba …


Terdengar suara derap langkah kaki dari arah semak belukar yang tak jauh dari lokasiku duduk. Perlahan semakin terdengar mendekat. Dan tanpa persetujuan, bu asri memegang kepala bagian belakangku, aku merasakan ada semacam sensasi yang masuk kedalam tubuh melalui kepala belakang. Terasa hangat. Menjalar ke seluruh tubuh. Entah apa maksud dari perbuatan bu asri ini namun aku tak berbicara. Dan terus Mengamati apa yang terjadi.


Beberapa saat kemudian, terlihat sebuah siluet. Aku melihat kearah semak belukar dengan seksama. Cahaya temaram membuat aku harus lebih menyipitkan mataku untuk bisa lebih jelas melihat. Ternyata hanya segerombolan kuda.


Tapi… Apaaaa? Mereka bukan kuda setuhnya, melainakan berbadan manusia sampai pusar dan dari pinggang sampai kaki, ber-kaki kuda. Aku kaget bukan kepalang. Hamper saja aku berteriak. Dengan sigap bu asri menutup mulutku. Mereka seperti makhluk dalam mitologi yunani yang pernah kulihat di film. Centaury.


“Siapa mereka bu?” tanyaku berbisik.


“sshhhh…” hanya suara bisikan dari bu asri. Lalu kulihat bu asri melangkah maju dan berbincang dengan salah satu diantara mereka. Mungkin pemimpinnya. Kuhitung jumlahnya ada 8.


“Mayang Asri, apa kau melihat seorang manusia bebrapa saat lalu” Tanya seorang lelaki berjanggut.


“Aku tak melihat manusia yang kau maksud paman” jawab bu asri. Terlihat kecemasan Nampak diwajahnya.


“Loh, bukannya saya berada di depan kalian” batinku. Apakah mereka tidak melihatku? lantas ini maksud bu asri tadi memegang kepala bagian belakangku dan sensasi hangat yang masuk ke dalam tubuh? Ah, dipikir pun tak dapat ku mengerti. Aku lanjut menyimak kembali percakapan mereka.


“Pulangkanlah ia, sebelum purnama. Bila tidak, ia akan terperangkap di masa lalu” sahut salah seorang lainnya.


“Baik paman” sepertinya bu asri keceplosan.


“Benar kan, kamu menyembunyikannya!” Gertak lelaki itu dengan matanya yang merah pekat.


“Ampuni saya paman, dia tersesat” jawab bu asri sambil meneteskan air mata.


“Alangka baiknya bila kamu jujur sejak awal agar tak mengundang kemarahan kami wahai mayang asri”


“Sekali lagi maafkan dustaku paman” sesal bu asri


“Baiklah, tunjukan manusia itu” perintahnya


Lalu....


Seketika saya wujud dihadapan mereka... 


Mereka terpana melihat sosok saya. Bahkan diantara mereka ada yang terhentak. Entah apa yang menyebabkan mereka seperti itu.


“Dari mana asalmu wahai anak muda?” Tanya lelaki itu sembari menghampiriku. ku cermati seperinya dia pemimpin dari mereka.


“saya keturunan jawa paman” jawabku gugup.


“Mengalir darah Anoman Patih di tubuhmu nak, tak kusangka! Akhirnya aku dapat bertemu dengan Pati Anoman!” serunya bersemangat.


Entah apa yang dibicarakan makhluk dihadapanku ini aku sama sekali idak mengerti.


“Maksud paman apa?” aku mengerutkan alis.


“Maaf aku tidak mengerti paman” ucapku pada lelaki berjenggot itu.


“Pejamkan matamu nak!” pintanya.


Aku tak mengerti. Namun tetap ku ikuti perintahnya. memejamkan mata. Sebuah tangan memegang kepalaku.


Tiba-tiba, seperti sebuah aliran lorong waktu. Aku tersedot masuk kedalamnya. Melewati beberapa frame demi frame sebuah peristiwa, layaknya dalam adegan-adegan televisi. Sampai aliran lorong itu berhenti. Butuh beerapa saat untuk mengendalikan diri.


“Mungkinkah aku kembali ke masa lalu?”


Kulihat sebuah bangunan megah, setiap dekorasi bangunan itu mirip dengan corak ala eropa. Entahlah, tak banyak yang dapat ku gambarkan dalam kata-kata, sebagian alasannya karena aku tak mengerti tentang arsitektur bangunan. “Zaman apa ini?” kucermati setiap bangunan dan kondisi sosial seperti sebuah zaman yang sangat kuno, apakah mungkin yang kulihat ini adalah peradaban awal manusia? Perkiraanku ini zaman sebelum masa banjir Nuh yang melegenda itu.


Aku kini sedang berdiri. Disamping makhluk setengah kuda berjenggot itu. tak bisa berbicara maupun bergerak. Hanya melihat.


Disebuah ruangan, duduk di atas singgasana seorang raja, memiliki wujud tak seperti manusia umumnya. Raja itu berbadan kekar bak gorilla, bertangan macan dan memiliki ekor serta rabut yang amat panjang. Ditambah jubbah berwarna merah serta tongkat yang bertahtakan batu mulia berwarna putih mengkilau.


Di sudut lain, sedang berdiri tegap lelaki berwajah kera dan seluruh badannya dipenuhi rambut berwarna putih. “Apakah lelaki itu yang dimaksudkan paman? Apakah dia patih Anoman yang dikatakan sebagai kakek moyangku?”


Beberapa saat jantugku berdebar dengan sangat kencangnya, satu kedipan mata aku sudah kembali pada situasi seperti semula. Bingung.


“Apa yang terjadi? apa yang kulihat tadi itu? apakah itu nyata? Apakah aku benar kembali ke masa lalu? Atau hanya berada dalam fikiranku saja?” berbagai pertanyaan seketika memenuhi kepalaku.


“Tenangkan dirimu Nak.” Aku menatapnya mengharap jawaban.


“Apa yang kau lihat tadi hanyalah kilasan peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Aku menyalurkan informasi itu langsung kedalam fikiranmu. Tepatnya di peradaban awal umat manusia. Bila menggunakan patokan waktu, itu terjadi di zaman Nabi Idris, sebelum banjir besar di zaman Nabi Nuh.” Jelas paman panjang lebar.


Aku tak dapat mempercayainya. Tetapi akupun tak mungkin mendustakan apa yang baru saja terjadi. Aku sangat terkejut dengan semua informasi ini. Bahkan ketika seseorang mendapat informasi yang dapat menguncang jiwa nya maka ia hanya bisa diam dengan tatapan kosong. Namun aku memilih untukk mempercayainya.


“Lantas siapa raja tadi yang kulihat dan seekor kera putih itu paman?”


“kera putih yang kau lihat tadi itulah leluhurmu, sedangkan raja yang kau maksud. Nanti pun kau akan mengetahuinya.” Jawab paman.


“lalu paman ini siapa?” aku pun terheran, dengan identitas paman ini.


“panggil saja saya Artana Nyoman. Aku dulu adalah sahabat dari leluhurmu” jawabnya tersenyum penuh arti. Sekarang pejamkan lagi matamu nak, akan kuserahkan wasiat serta warisan dari leluhurmu”


Satu kedipan mata, ku buka mataku dan betapa terkejut setinggi langit. Tangan ku berambut lebat dan berwarna putih. Ku bolak-balikan tanganku. Lantas ku raba wajahku. Alamak. Wajahku sepenuhnya seperti kera, berbulu putih lebat, berbadan tegap dan kekar. Seperti yang kulihat saat melihat leluhurku. Sekarang aku hanya dapat menerima takdir yang saat itu kulihat dengan mata kepalaku.


Rentetan perisiwa yang sangat mengejutkan ini, benar-benar mengguncang fikiran, jiwa dan raga. Tak dapat kupungkiri bahwa aku benar-benar keturunan Anoman patih.


Seketika, mereka semua berlutut. Memberikan penghormatan kepadaku. Terkecuali bu asri hanya tersenyum bangga melihatku.


“Maha patih Anoman telah kembali, setelah berabad-abad lamanya, akhirnya kami dapat kembali menjumpaimu wahai paduka” ucap paman Artana.


“A..aku hanya manusia biasa paman, dan tak tahu menahu perihal takdir ini.” Ujarku gagap.


“terimalah takdirmu paduka, dan kamu telah mewarisi segala macam ilmu yang tak dimiliki semua orang. Dahulu, kesaktian leluhur mu yang mampu membebaskan kami dari belengu Iblis Laknatullah. Maka pergunakanlah ilmu itu dengan sebagaimana mestinya”


“Jadi, apakah aku bisa kembali sekarang?” tanyaku, teringat ibuku di rumah.


“lebih cepat dari kecepatan cahaya, ucap dalam hati, pejamkan mata maka keinginanmu tersebut akan terwujud atas kehendak Allah SWT.”


Tak menunggu lama, langsung ku coba memejamkan mata.


Ketika ku buka mata, aku berada di atas kasur yang empuk. Terdengar suara semacam alat pendeteksi jantung, selang-selang infus tertancap di hidung.


“berapa lama aku tak sadarkan diri?” batinku.


Di ruangan itu kulihat ada seoran wanita. Dia sedang tertidur di sofa yang tak jauh dari tempatku berbaring. Jarum dinding menunjukan pukul empat subuh. Terasa badan saya sangatlah ringan. Kupejamkan mata kembali. Dan kembali ke alam gaib.


“bagaimana kondisi ragamu nak?” Tanya bu asri. Rupanya ketika aku tersesat ke alam gaib hanya jiwaku yang pergi sedangkan ragaku. Entah apa yang terjadi.


“Ragaku sehat bu, saya kesini hanya ingin berpamitan. Dikala waktu luang saya akan kembali berkunjung kesini. Terima kasih paman, saya pamit. Saya harus kembali untuk menstabilkan raga saya di alam nyata dan tangung jawab yang ditinggalkan.”


Assalamualaikum …