The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 7



Aku mendapati diriku sedang bersama seorang kakek, di sebuah rumah kayu yang asri. duduk di atas sebuah dipan yang terbuat dari kayu. Di tengah hutan diatas bukit. Di depan mataku terhampar pepohonan hijau. Kesadaranku mulai kembali namun dimana ini?


“Sudah Siuman nak?” sapa kakek berjengot putih.


“Saya dimana kek?” tanyaku.


“kamu di tempat kakek, Mayang Asri yang mengirimmu. Kamu jelmaan patih itu ya? dan ini penting demi keselamatan bumi timur Jawa ini” Tukas kakek itu.


Aku berada di alam gaib!. Aku sudah terbiasa sekarang dengan situasi yang tiba-tiba seperti ini. Ini adalah petunjuk yang akan mengarahkanku pada misi yang sedang ku jalani. Seolah jalan yang tertutup sedang terbuka.


“Tugas apa yang bisa saya lakukan itu kek?” aku menatap lurus kearah kakek bersorban putih itu dan siap mendengar.


“Segara getih mulai cumiat, durjana meraja lela” ungkap kakek dengan wajah putih bersih dan imamah di kepala.


"Kekhawatiran jiwa tak berdosa sedang merintih, zaman tak mampu meredamkan sebab ia mulai menua" Lanjutnya dengan penuh kemisteriusan.


“Apakah akan ada bencana kek? Lantas apa yang bisa saya perbuat dan peran apa yang harus saya jalankan?” raut wajah kakek menjadi sedih.


Kurasakan ketakutan yang luar biasa, dan sekujur tubuhku seketika gemetar.


“Dalam beberapa hari, Arya Kusuma akan meluapkan kemarahannya. Gunung kelud akan memuntahkan segara getihnya dan dilanjutkan dalam seribu lima ratus hari kedepan segara rupek akan bergoyang, tanah Celebes akan merintih, dan beberapa duka lain di Bumi Pertiwi” jelas kakek dengan air mata menetes.


Seketika…


Gambaran-gambaran menerikan itu sekejap melintas di benaku. Sungguh tak dapat kubayangkan, peristiwa besar akan menimpa bumi pertiwi. Hanya penderitaan dan kesedihan yang kurasakan. Apakah ini kehendak Ilahi? Jika benar, bukankah ini scenario yang telah tertulis di Lauh Mahfudz sana?


Saat tersadar. Aku menatap serius pada kakek. Banyak pertanyaan yang ingin kuajukan.


“Sunguh mengerikan bencana yang akan terjadi pada Bumi Pertiwi ini kek?” tak terasa akupun menteskan air mata.


“apa tugas yang harus ku lakukan kek?” apakah bencana itu dapat dicegah? Lalu apa peran Arya Kusuma sebenarnya? Tak dapat ku tahan lagi pertanyaan demi pertanyaan yang mengganggu jiwa ini.


“Dia adalah penguasa tanah Jawa, dan ia terabaikan oleh sejarah kelam kebudayaan kuno. Tanah Jawa dipenuhi noda, para tetuah leluhur tak lagi digubris, perintah suci para rasul dan sunan pun diabaikannya. Maka seperti itulah konsekuensinya" aku terkulai lemas mendengarnya.


Aku sadar. Ini akibat kelalaian manusia itu sendiri. Ini adalah akibat dari dosa yang manusia itu sendiri perbuat dan… lihatlah akibatnya bahkan mungkin jiwa-jiwa tak berdosa pun akan ikut terkena imbasnya.


"Kabarkan ini pada seluruh tetua di bumi Jawa. Redupkan energimu, lintasilah jangkauan batinmu" Lanjut kakek tersenyum kearahku.


Lalu sekejap saya tersadar..


Kudapati aku berada disebuah ruang UGD. Disebuah rumah sakit. Lagi, dan lagi. Apakah kedepannya aku akan sering mengalami peristiwa seperti ini. Saat terbangun sudah berada di rumah sakit!


Disaat aku hendak terbangun, kembali kurasakan nyeri disekujur tubuh, jangkauan sukma yang melampaui batas inikah penyebabnya.


Disaat peristiwa mendadak saat aku tak sadarkan diri biasanya orang sering menyebutnya Raga Sukma atau saat sukma keluar dari tubuh. Bila dalam keadaan normal maka tak akan menjadi masalah bagiku, namun peristiwa yang sedang kualami ini, saat sukma di tarik tanpa kemauan diri untuk suatu kepentingan. Seperti saat aku di undang bu Asri di bawah laut kala itu.


“Mas, jangan mencoba bangun dulu. Mas sudah koma tiga hari dan baru tersadar.” Ucap seorang perawat segera menghampiriku dengan kaget. Seketika ia keluar dan memanggil dokter.


“Tiga hari…” aku kembali berbaring di tempat tidur. Mataku terpejam, masih terbayang kejadian yang baru saja kualami.


“Syukurlah mas sudah sadar” sapa seorang berpakain jas berwarna putih mengalungkan stetoskop di lehernya.


“Apa yang terjadi dok, kenapa saya berada disini”? tanyaku meminta penjelasan.


“Mas, sudah koma selama tiga hari. Saat itu pesawat mengalami turbulensi yang parah dan mengakibatkan beberapa orang berteriak histeris di dalam pesawat. Sebagian ada yang terkejut pingsan bahkan koma seperti mas ini.” Ungkap dokter sambil memeriksa kondisi tubuhku.


“Beruntung mas segera dilaporkan pingsan ke pihak penerbangan saat di bandara oleh seorang pria yang duduk di samping mas, karena melihat mas tak bangun juga saat mendarat.” Lanjutnya.


Aku ingat. Saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju pulau jawa. Menggunakan pesawat. Kuingat aku saat itu hanya sedang tertidur. Seorang pria yang duduk disampingku waktu itu. sempat berbincang sebentar. sunguh orang baik. Bila ada waktu aku ingin membalas kebaikannya.


“Oh … dia sudah pergi mas, katanya ada urusan yang harus diselesaikan di Kediri. Setelah mengantar mas kesini ia langsung pergi.”


“Kediri?” gumamku. Bukankah itu tempat selanjutnya yang akan ku datangi.


“Kondisi mas sudah stabil sekarang. Tidak mengalami masalah serius. Hanya mengalami guncangan hebat yang mendadak. Dengan istirahat bebrapa hari kondisi mas bisa pulih kembali.” Tutup dokter selesai memeriksa.


“Baik dok. Terima kasih” jawabku lemas.


Guncangan hebat yang menjadi diagnosa dokter padahal sebenarnya saat itu aku sedang meraga sukma.


“Baiklah, kalau ada apa-apa, silahkan hubungi perawat yang berjaga. Saya permisi” berjalan keluar ruangan.


Tiga hari lamanya aku koma, padahal yang kurasakan saat itu tidak sampai satu jam. Banyak isyarat yang ku terima, dan beberapa teka-teki serta amanah yang dibebankan padaku saat itu. Aku lelah. Untuk saat ini lebih baik aku istirahat.


Keesokan paginya tubuhku sudah pulih dan prima. Aku keluar rumah sakit melangkahkan kaki menuju terminal bus menuju lokasi yang akan kku tuju selanjutnya. Kediri.


***


Dalam perjalanan menuju Kediri, bus yang ku tumpangi melaju kencang membelah jalanan. Menyalip beberapa kendaraan dengan lincah. Aku duduk di depan dekat sopir. Perjalanan sampai di Kediri masih sekitar dua jam. Akupun tak tahu harus menemui siapa disana. Biarlah. Fikirkan nanti saja saat sudah sampai.


Tak ada gambaran atau penglihatan yang datang. Perjalanan ku habiskan dengan banyak tidur. Sampai aku turun di terminal bus.


Kulihat seseorang seperti sedang mengamatiku. Ia berjalan kearahku. Seorang pria yang sudah tua namun berperawakan tegap. Berkopiah hitam, dengan baju dan celana sederhana. terlihat sederhana namun bersahaja. Kutaksir umurnya sekitar enam puluhan.


“Assalamualaikum, apa kabar nak. Bagaimana perjalananmu?” sapa orang tua itu menyalamiku.


“Waalaikumsalam. Alhamdulillah pak. Sempat koma tiga hari” jawabku menjabat tangan dan menciumnya.


“Hehe.. itulah resiko memiliki karomah leluhur nak” ujarnya seperti sudah mengetahui seluk beluk diriku dan kedatangaku kesini.


“Ayo, jangan berbicara disini, mampir dulu ke gubuk bapak” lanjutnya mengajak aku menuju rumah nya.


Perjalanan dari terminal kami tempuh mengunakan sepeda motor. Entah akan dibawa kemana. Aku mengikuti saja. Perlahan jalan yang kulalui mulai memasuki daerah pegunungan. Hawa sejuk khas daerah pegunungan langsung terasa. Udara segar kuhirup dalam-dalam. Terasa berbeda dengan udara perkotaan yang penuh polusi. Sampai kami tiba di sebuah rumah pedesaan di bawah kaki gunung.


“Mari silahkan masuk nak?” ajaknya mempersilahkan masuk.


“Terima kasih pak. Assalamualaikum” aku melangkah memasuki ruang tamu.


“Wah nak, disini tak ada hidangan mewah seperti di kota, hanya ada singkong rebus dan teh manis hangat.” Menyajikan hidangan di meja.


“Terima kasih pak atas jamuannya. Justru ini yang tak akan di temui di kota” jawabku.


“Makanan yang sangat cocok dengan suasana alam seperti ini. Saya cicipi ya pak” aku menambil sepotong singkong rebus yang terasa nikmat sekali ditambah teh manis hangat menjadi pasangan yang serasi.


“Oh ya, perkenalkan saya Iyhan pak” ujarku memperkenalkan diri.


“Panggil saja pak Kismo” ujarnya ramah.


“Apa kamu sudah menyaksikan, rentetan bencana yang akan terjadi esok hari nak?” Tanya pak Kismo.


“Sudah pak” aku menyudahi makan dan berganti memasang posisi duduk dan wajah serius.


"Gunung Kelud telah tertidur 115 tahun, dan akan menunjukkan bahwa ia masih aktif dalam beberapa hari ke depan. Merupakan peringatan keras, bahwa kuasa Allah hadir melalui Letusannya. Dan diikuti oleh rentetan kejadian lain, Jawa, bali, Sumatera, Sulawesi"


"Nanti kita akan adakan pertemuan, Tepat malam ini, dimalam purnama. Kita akan bertemu para Rijalul ghaib yang ada di tanah Jawa.” Lanjutnya