
Beberapa hari berlalu setelah aku di undang paman untuk “ngopi” atau ngobrol perkara ilmu waktu itu.
Malam, selepas sholat isya, aku tengelam khusyuk dalam damainya dzikir.
Tiba-tiba… Gelap. Ketika aku tersadar, ku coba membuka mata. ku tengok kanan-kiri. Sepertinya ini...
Aku berada di dalam air. Kakiku menapak pada permukaan pasir. Gelembung-gelembung udara ini. Ku coba menghirup udara. Sepertinya aku bisa bernafas seperti biasa ketika berada di daratan. Aneh sekali. Aku sedang berada di dasar laut. Tapi entah di lautan mana dan bagaimana aku bisa berada disini.
Aku berjalan menyusuri dasar lautan. Melintasi terumbu karang, terus ke bawah dasar laut sampai ku jumpai sinar matahari tak dapat menembus. Ku perkirakan lebih dari dua ribu meter. ikan-ikan aneh penghuni laut dalam yang memiliki “lampu” di kepalanya dan berbagai penghuni aneh lainnya. Entah mengapa akupun bisa melihat dalam gelapnya lautan dalam ini. Sungguh tak dapat kumengerti. Ketika aku sedang melihat berbagai ekosistem lautan dalam. Aku melihat sebuah cahaya. Kuhampiri sumber cahaya tersebut. Dan kutemukan sebuah istana megah di dasar laut.
Aku terpana sejenak… Subhanallah… sungguh mustahil. Namun begitulah adanya yang kulihat saat ini.
“Masuk lah nak” sebuah bisikan yang terdengar familiar.
Aku berjalan mendekati istana. Ku tatap lamat-lamat bangunan megah nan aneh ini. Terdapat cahaya di atas istana yang menerangi sekeliling. Juga dari dalam memancar cahaya. Istana yang memiliki arsitektur gaya kuno dengan tiang-tiang tinggi bergaya yunani. Terdapat sebuah pelataran istana yang membulat. Dan banyak ikan berseliweran disini. Bahkan ini jenis ikan yang biasa menghuni ekosistem terumbu karang, seperti ikan ikan-hias penuh warna dan corak serta lumba-lumba!.
Aku berjalan memasuki istana. Tak berpenghuni. Serta banyak sekali lorong dan ruangan yang membuatku tersesat! Ruangan di dalam istana pun sangat luas dan megah. Aku terus berjalan sampai sebuah tepukan di pundak mengagetkanku. Refleks aku menoleh ke belakang dan rupanya.
“Bu, Apa kabar” aku tersenyum merindukan sosoknya lantas langsung memeluknya.
“Ibu baik-baik saja nak. Bagaimana keadaanmu di alam sana” dengan senyum ramahnya.
“Seperti yang ibu lihat saya sehat wal-afiat” jawabku.
“oh ya, bu bagaimana saya bisa berada disini? Padahal beberapa saat yang lalu saya sedang beribadah.” Lanjutku penasaran.
“Saya membutuhkanmu nak!” Raut wajah bu Asri berubah.
“Ada hal apa bu? Sepertinya hal yang penting” aku serius menyimak.
“Aryo Kusumo sedang meluapkan emosinya nak, maka itu saya kembali ke istana” jelas bu Asri.
“Siapa itu Arya Kusuma buk? Apa ada kaitannya denganku?” tanyaku.
“Dia adalah salah satu jin penguasa di pulau Jawa” tutur bu Asri.
“Lantas mengapa ia marah sampai meluapkan emosinya? Kening ku mengkerut.
“Bumi timur jawa penuh noda, beberapa saat lagi ia akan murka atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa” Nampak wajah cemas bu Asri.
“Kamu pergilah ke pulau Jawa dan temui salah seorang lelaki, ia tinggal di sebuah daerah di bawah kaki gunung. Dia akan menjelaskan segala yang tak kamu ketahui” tutup bu Asri mengakhiri percakapan.
“Baik bu, akan saya laksanakan. Kalau begitu saya pamit” kupejamkan mata.
Aku tersadar masih dalam posisi sujud, kucoba duduk sebentar sambil meregangkan punggung yang terasa ngilu dan kaku. Ku tengok jam dinding. “pantas saja sudah sepuluh jam aku dalam posisi seperti itu” gumamku.
Aku berjalan ke kamar mandi. Mengambil air wudhu. Mengingat pesan yang disampaikan bu Asri aku berpasrah diri mensucikan jasmani dan rohani, melanjutkan kembali kewajiban yang tertunda.
***
Sinar sang surya sudah nampak di atas langit yang gelap, membuat pemandangan yang menakjubkan, ku tengok ke arah langit timur, semburat cahaya putih menandakan awal dari matahari akan terbit. Ku tengok ke langit barat masih diselimuti kegelapan remang-remang, menandakan kegelapan malam akan hilang tersinari cahaya.
Suasana setelah subuh menjelang pagi seperti ini memang terasa nikmat dan menenangkan.
Kusyukuri setiap nikmat yang telah Tuhan Anugerahkan di dalam setiap ciptaannya. Aku menatap langit yang indah. Menghirup udara pagi yang sejuk. Sejenak aku terdiam dalam alunan melodi alam semesta. Sampai aku teringat membantu ibu mengemas barang.
“Lho.. memangnya ada urusan apa Yan?” Tanya ibu heran.
“Yan harus terbang ke Jawa bu. Ada hal penting yang harus Yan kerjakan” jelasku jujur.
Ibu menatapku sebentar dan memahami.
Sejak peristiwa yang terjadi padaku waktu itu. aku lebih memilih berkata jujur pada keluargaku tentang kondisi ku saat ini. Agar mengurangi beban di hati daripada harus terus bersembunyi dan berbohong. Walau awalnya sulit bagi ibu dan adikku untuk menerimanya. Tapi akhirnya ibu memilih untuk percaya pada anaknya.
“Ya sudah kalau memang seperti itu. Ibu hanya berpesan kamu berhati-hatilah di perjalanan. Jangan lupa selalu ingat kepada Allah dan berpasrah diri padaNya.” Ibu menatapku seakan faham ada hal yang tidak aku jelaskan seraca detail. Aku tertunduk sesekali menoleh. Ibu memang sangat memahami anaknya!
Selepas dari toko, aku mengendarai sepeda motorku ke tempat kerja. Perjalanan cukup jauh sekitar setengah jam. Namun hal terpenting adalah selamat sampai tujuan.
Suasana kantor seperti biasa. Beberapa teman kerjaku sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing. Akupun tak ingin menggangu. hanya bertegur sapa dan kembali berjalan menuju ruangan yang ada di ujung. Ruangan Atasan!
“Baiklah, nanti saya sampaikan perihal pengajuan cuti beberapa pekan yang saudara ajukan, lagipula saudara belum pernah mengambil cuti” tutup atasan tempat kerjaku.
“Baik pak, terima kasih atas waktu dan perhatian bapak. Saya mohon pamit pak”
“Silahkan” Ucap atasan ku sembari tersenyum seadanya.
Aku berjalan keluar pintu dengan surat cuti di tangan. Menatap lurus kedepan. Mempersiapkan segala keperluan untuk tugas yang akan ku jalankan, salah satunya telah ku urus. Mungkin kedepannya aku akan sering menghadapi hal seperti ini.
Dalam perjalanan pulang, aku berkendara sambil berfikir. Terbesit pemikiran, lantas bagaimana dengan kehidupaku? Bila aku mengurusi hal gaib seperti ini maka otomatis kehidupanku akan terganggu! Dalam lamunanku aku teringat pesan ibu untuk memasrahkan segala urusan padaNya. Ku mantapkan niat ku bulatkan tekad. Biarlah yang telah terukir pasti terjadi.
Waktu berlalu cepat, seluruh persiapan telah aku rampungkan, misi pertama yang aku jalankan. Aku berpamitan kepada Ibu meminta restu dan ridhonya, kepada adik berpesan agar menjaga ibu dan membantu keperluan ibu. Tak terasa mataku berkaca-kaca saat ku cium tangan ibu.
“Ibu jaga diri baik-baik ya, dik jangan lupa pesan kakak. Yan pamit berangkat”
Akupun melangkahkan kaki menuju jalan takdir yang akan ku lalui.
Jalan takdir yang telah terukir untuk ku, tak ada jalan kembali. Aku Siap Tuhan. Melangkah di jalan ini.
Teringat pesan paman Ben kepada Peter Parker dalam film spider-man. “bersama kekuatan besar menyertai tanggung jawab besar”
***
Saat ini aku sudah dalam perjalanan menuju tanah Jawa, mengunakan pesawat terbang. Bu Asri mengatakan aku harus menemui seorang lelaki yang tinggal di daerah kaki gunung, tapi di jawa kan banyak sekali peunungan, lantas pegunungan mana? Ini bagaikan teka-teki yang harus ku temui jawabannya.
Saat aku memikirkan itu, tiba-tiba otakku menangkap sebuah gambaran, seperti saat aku berada di rumah sakit. Aku melihat sebuah awan yang membumbung tingi di angkasa berwarna coklat!. Tidak bukan. Itu adalah sebuah asap dari pegunungan yang sedang meletus.
Aku terkejut. Fokus ku tingkatkan untuk melihat kejadian lebih jauh. Suara dentuman yang sangat besar terjadi di kawah gunung yang sedang meletus. Aku menangkap peristiwa pilu di depanku, seorang ibu yang sedang mendekap anak perempuannya yang sudah tak bernyawa. Menjerit penuh tangis. Di tengah huru-hara warga berlari ketakutan menjauh dari titik lokasi letusan gunung.
Dadaku sesak melihat peristiwa pilu dan menyakitkan. Tak terasa aku meneteskan air mata. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah gambaran yang baru saja kulihat merupakan peristiwa yang akan terjadi di masa depan? Apakah ini misi yang sedang kujalani?
“Mas. Apa mas baik-baik saja?” Tanya seorang pria di sampingku.
“Ah, iya mas saya baik-baik saja. Saya hanya bermimpi buruk saja pak” jawabku sambil menyeka keringat dan air mata di pipi.
“oh begitu, ya sudah kalo mas ada perlu apa saja, jangan sungkan.” Senyum nya ramah.
“Baik Pak, terima kasih atas tawarannya.” Aku menenggak botol air mineral, menarik nafas dalam-dalam. Menenangkan diri.
Kulihat keluar jendela, hamparan awan begitu luas, berarak bagaikan lautan awan. Tertiup angin entah kemana. Tuhan apakah benar penglihatan yang baru saja ku saksikan. Betapa pilu dan mengerikannya kejadian itu. lantas, apa peran yang harus ku jalani dalam misi kali ini? Apakah aku harus menghentikan letusan gunung berapi? Mustahil! Aku pun hanya manusia biasa. Tak menemukan jawabannya aku mengistiratkan punggung, menutup mata dan terlelap.