The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 20



Sudah sampai kah? Sungguh dimensi yang sangat luas. Mungkin dimensi ini yang disebut manusia sebagai Alam Ghaib. Harus melewati dimensi mimpi terlebih dahulu untuk sampai kesini.


Aku tengah berada di sebuah daerah di alam gaib. Sungguh menawan dan eksotis pemandangan di tempat ini. Bangunan kuno diantara tebing curam yang terpahat pada dinding batuan terlihat alami. Membentuk lanskap yang menyatu dengan alam.


Pepohonan mengakar pada tebing dinding batuan. Menjulang ke langit.


Kutapaki sebuah jalan yang mirip jalan pada umumnya, sangatlah rapi dengan pepohonan di samping kanan kirinya. Nampaknya kuberada di salah satu tempat. seluruh bangunan di sini teramat megah, mulai nampak pula penduduknya yang tengah beraktivitas normal layaknya manusia.


Apa yang membuat saya tidak percaya? Kecanggihan kendaraan di tempat itu, tak seperti kendaraan di dunia nyata. Kendaraan mereka melayang layaknya karpet terbang, tanpa roda dan bahan bakar. Kudekati tempat itu, keramaian aktifitas penduduk.


(Seperti biasa, percakapan mereka menggunakan bahasa entah bahasa apa, tapi sekejap saya mampu memahami dan berkomunikasi dengan mereka.)


"Permisi," Aku menyapa salah satu jin yang tengah berjalan, ia sangat rapi berpakaian ala kerajaan.


"Hai anak manusia, sedang apakah kamu, apakah kamu sedang dalam perjalanan?" jawabnya ketika mengetahui asal-usulku.


"Iya benar paman, saya sedang dalam perjalanan, " ucapku sembari tersenyum.


"Nampaknya kamu bukan manusia biasa, " seketika ia membungkuk memberi tanda penghormatan padaku.


"Apakah kamu umat Muhammad?" tanyanya lagi.


"Iya wahai paman, bolehkah saya bertanya beberapa hal?"


"Silakan wahai manusia, " jawabnya dengan nada sopan.


"Apakah paman mengetahui Letak..," sebelum saya melanjutkan perkataan, paman menyahut.


"Ternyata kamu jelmaan Anoman patih, mari ikut saya, " ia pun berjalan, lantas ku ikuti tanpa berkata-kata lagi.


Kendaraan yang teramat canggih untuk dideskripsikan, beliau mempersilahkan saya untuk naik. Dan melesat sangat cepat, hingga sepersekian detik sudah tiba disebuah istana megah.


Dua kastil menjulang tinggi hingga menembus awan, terdapat banyak kendaraan serupa yang terpakir pada landasan di pertengahan kastil tersebut.


"Selamat datang di Al-Ghazaliah, kami adalah keturunan djin para pendahulu. Dahulu Nenek moyang kami di islamkan oleh Rasulmu Muhammad SAW," ujarnya, ia berjalan sambil beberapa dayang istana memberikan penghormatan pada kami.


Dan ia telah berubah wujud menjadi sosok berjubah putih, memegang sebuah tongkat.


"Ini wilayah kekuasaan djin muslim wahai paman? " tanyaku pada paman sambil memandangi kemegahan istana berhias kaligrafi yang sangat indah.


"Ketahuilah, jumlah djin berpendirian Islam di wilayah ini, bila dijumlahkan dengan jumlah manusia yang berpendirian muslim, maka keseluruhan manusia dibumi dikalikan 17.000. Wallahu Alam," jelas paman, lalu mempersilahkanku duduk pada sebuah tempat semacam singgasana.


"Kamu menjadi salah satu tamu spesial saya setelah ratusan tahun lamanya kami tak didatangi tamu manusia, " lanjutnya lagi sembari mempersilakanku menyeduh minuman.


"Populasi djin Islam? " tanyaku lagi pada paman.


"Nak, otak kamu sungguh cerdas. Saya memahami keraguanmu. Yah, saya adalah raja ke tujuh puluh sembilan dalam era ini. Saya memegang takhta dua ribu tahun lamanya, dan salah satu pendampingmu Artana Nyoman adalah putra sulungku,"


Ku coba memahami apa yang terjadi, sembari menyeduh teh.


"Saya visualisasikan seluruhnya persis seperti apa yang ada di duniamu nak, waktumu di sini pun akan sama dengan waktu di duniamu saat ragamu terbaring, " jelas paman.


Waktu bisa sejajar, sungguh mustahil namun sedang ku alami.


"Saya sedang mengemban sebuah misi paman raja," ungkapku.


"Jauh sebelum misi itu ada. Saya sudah mendapat gambaran bahwa akan ada satu Anoman patih, manusia tangguh yang akan menjalaninya. Dari berbagai penjuru negeri, pemberontakan akan terjadi dalam waktu dekat. Timur dan barat akan bergejolak, lihatlah serdadu kami, sudah menyiapkan ini dari jauh hari, " jelasnya.


"Apa peran saya dalam pertempuran ini paman, saya hanyalah manusia. Sesungguhnya tak harus saya ambil peran dalam situasi ini."


"Nak, kamu harus menerima ketetapan Allah,"


Lalu datang, sosok djin yang kukenal.


"Paman Artana, " kuhampiri beliau sembari memeluknya.


"Sungguh luar biasa kamu bisa tiba di tempat ini, udah berkenalan dengan ayahku, " ia bercanda diantara ketegangan saat itu.


"Nak, jika peperangan itu mengekalkan sukmamu, dan mematikan ragamu. Saya akan menjadikan itu sebagai dendam abadi pada apa yang menimpamu. Saya akan selalu ada di belakangmu," ujar paman Artana


"Saya hanya berserah diri pada Allah, wahai paman. Sesungguhnya Dialah yang Maha Kuasa atas apa yang ia tetapkan,"


Situasi ini mengingatkanku dengan Sam dan Jim, Ku belum menemukannya. dua darah Mitsuki yang tengah diincar oleh Arajz. Terkait luasnya alam ini, Paman pun mengarahkan pasukan untuk menelusuri berbagai pelosok negeri.


Kucoba merenung sejenak, dan terbesit dihati untuk menjenguk raga di alam nyata.


Dengan memohon pada Allah, tak perlu waktu lama kutersadar.


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Terlihat di sudut sana terbaring dua raga, yaitu raga Sam dan jim.


"Mas," ucap seorang pria dan mendekat.


"Saya baik-baik saja, saya hanya kembali memastikan kondisi saya. Hmm… berapa lama saya tak sadarkan diri," tanyaku.


"Sehari yang lalu masnya ditemukan warga tak sadarkan diri di pintu hutan utara,"


Baiklah, ternyata benar perkataan paman. Saya tak akan memboros waktu, dan akan ku gunakan waktu itu dengan sebaik baiknya. Aku kembali menutup mata dan kembali ke alam gaib.


Saat aku membuka mata, aku berada diatas balkon istana, mencoba menatap cakrawala yang begitu luas, cahayanya terkesan redup, hampir seluruhnya berkabut tak berawan, matahari pun sepertinya tidak ada ditempat ini. Entah cahaya itu bersumber dari mana. Serta konsep waktu tak ada di dunia gaib ini.


Ku sapu seluruh pandangan, nampaknya istana ini berada pada daratan tinggi di sebuah bukit berbatu. Istananya pun seakan menyatu dengan bukit atau bisa dikatakan ini adalah sebuah bukit yang di ukir menjadi sebuah istana. Aku takjub.


Dari kejauhan, ku melihat dua kuda putih hendak memasuki lingkup istana, dan beberapa penjaga membukakan gerbang untuk kedua kuda tersebut. Setelah memasuki lingkup istana, wujud mereka berubah menjadi dua sosok lelaki berbadan tegap dengan rambut dikuncir.


Lantas paman raja menghampiri, dan kucoba memekakan pendengaran, dan berhasil aku dapat mendengar jelas percakapan mereka.


"Rajaku, blokade timur mulai terdesak, " ujar salah seorang diantara Lelaki itu dengan nafas terengah-engah.


"Blokade barat masih stabil, namun serangan membabi buta kepada pasukan kita di tenggara, kawasan perairan cukup mengkhawatirkan wahai paduka, " ujar salah seorang lagi.


"Dari golongan mana mereka semua, " tanya paman raja pada mereka.


"Orgs, generasi jin kafir wahai paduka. Sedangkan penyerang dari timur merupakan serdadu Amoer, yang kabarnya didikan dari Ba'al," jelas seorang Lelaki.


"Kembalilah ke pos penjagaan, secepatnya saya akan ambil alih, " singkat paman raja lalu ia memasuki istana. Dan kedua kuda putih itu berlari melesat lalu menghilang.


Kucoba memahaminya, ternyata disini letak medan perangnya, mereka menyerbu koloni djin muslim kemudian berusaha menggantikan tahta.


"Wahai manusia, kedatanganmu dinanti paduka raja saat ini juga, " ujar salah seorang dayang sembari menyerahkan benda seperti tongkat kecil.


Kuterima, dan seketika aku berpindah di aula istana dengan wujud asli sebagai Anoman putih, Dan kulihat paman raja yang duduk di singgasananya.


Kuteringat saat bertemu paman Artana pertama kali, beliau menunjukan identitas asli saya, nampak sosok gagah disinggasana. Dan sekarang berada didekatku. SubhanAllah, Tak terbayangkan berapa usianya saat ini.


"Patih, suatu kehormatan untukmu dari kami kaum GHAZALLIAH, bertempurlah bersama kami," ujarnya lagi.


Kurasakan lonjakan energi yang begitu besar, hingga nampaklah satu persatu sosok yang teramat banyak, Aula sebesar ini pun penuh sesak, terlihat pula beberapa sosok yang kukenal


Disana ada nyai Ratu, Paman Artana, Dan.. Dia adalah Buk Mayang Asri, Entah rasa Rindu dan kekhawatiran yang kurasa padanya serasa terobati.


"Mayang Asri, temui anakmu," ujar paman raja, lantas ia tersenyum.


Buk Asri pun berjalan mendekati saya dan tanpa berkata-kata lagi kumemeluknya cukup lama.


"Apa kabar nak, seperti biasa. Kamu pasti baik-baik saja, " ucap buk Asri masih dalam pelukan.


"Kemana saja buk, saya kira ibuk...,"


"Shhhtttt, saya baik-baik saja. Saya hanya memulihkan energi nak agar pantas mendampingimu," jawabnya.


"Ikatan antara djin dan manusia yang sangat erat. Saya salut, " ucap paman raja.


"Wahai bangsaku, mungkin Allah telah menetapkan ini terjadi. Aku menyerukan beribu siaga perang. Perang antar dimensi. Kita akan menghadapi Amoer, Ba'al, Arajz, Shang Ellah, dan para serdadunya, mereka kekal di neraka, atas Izin Allah mereka dibangkitkan oleh para petinggi mereka. Ini bukan akhir zaman, kita wajib percaya akan ketentuan Allah. Kita ditentukan untuk melewati ini semua. Wahai kaumku, Anoman Patih telah kembali, sejarah telah terulang, mari kita kirim kembali mereka ke tempat dimana seharusnya mereka kekal di dalamnya. Jangan takut wahai kaumku, kita telah memenangkan puluhan pertempuran. Bila ini akhirnya, maka cukuplah sejarah mencatat, bahwa pernah ada peradaban djin yang selalu tunduk di hadapan ALLAH SWT,"


Sontak pidato paman raja tersebut membuat bulu kuduk ini merinding. Terdengar sorak riang seluruh yang hadir di aula ini.


Apa yang akan terjadi telah ditakdirkan untuk terjadi.


Disebuah ruangan.


"Apakah kamu telah melihat segalanya, di sini kamu seperti berada didimensimu kan," ucap paman tiba-tiba menghampiri saya.


"Suatu saat kamu pasti menyangkal bahwa semua ini pernah kamu alami," lanjutnya lalu ia duduk di samping.


"Disini saya sadar wahai paman, begitu dangkal dan rendahnya pengetahuan saya tentang segala hal, " jawab saya lalu saya melangkah kecil menuju jendela ruangan.


"Mengapa di sini, malam dan siang tak memilik batas," tanya saya


"Hmm, ini dimensi empat nak, kamu berada dalam ruang tak terbatas, ruang yang dapat melihat ruang lain di atas dan di bawahnya. Satu hal yang kamu harus pelajari, waktu tidak berlaku di tempat ini, kami tak mengenal berapa usia kami, kami abadi hingga Allah menetapkan kami untuk kembali. Manusia, adalah makhluk spesial, sebab ia


mendapatkan kesempatan untuk melewati tiga Alam sekaligus, alam rahim, nyata, dan barzakh. Sebelum akhirnya kita dipertemukan seluruhnya di padang mahsyar saat hari kiamat, " jelas paman Artana.


"Di atas dimensi ini dimensi lima. Alam pertemuan. Dimana semua makhluk yang pernah hidup akan berkumpul," lanjutnya lagi.


"Sungguh banyak pembelajaran saat saya mengenalmu wahai paman, " ucap saya bangga pada beliau.


"Lantas semesta kami, angkasa, dan segala bintang dan planetnya, apakah memiliki penghuni layaknya manusia dan djin," tanya saya


"(Paman tertawa kecil), nak, begitu mudahnya kalian menerima pengetahuan tersebut. Bukankah sudah jelas, langit berlapis tujuh, alammu berada dilapis pertama, langit di alam ini adalah langit kedua, tiga langit di atas kita masih bisa dijangkau oleh makhluk seperti saya. Namun dua langit di atas tiga langit tersebut. Merupakan singgasana Allah, dan tempat para rasul dan malaikat berdzikir kepada-Nya. Jadi, dongeng Alien, adalah ulah djin kafir, dan juga ajaran palsunya tentang bintang dan planet. Bintang adalah cahaya, menurut Legenda, bintang adalah serpihan cahaya sisa penciptaan para malaikat. Maka bertebaran jatuh ke langit pertama. Planet, hanya bulan dan mataharimu yang bisa saya sebut sebagai planet. Sebab mereka adalah dua makhluk padat yang dititahkan Oleh Allah SWT untuk menyeimbangkan terang dan gelap, Siang dan malam, Panas dan dingin. Dan sebagainya," ku terpana mendengar


penjelasan beliau, ku tersadar bahwa teori sains modern yang diajarkan padaku sejak menginjak bangku pendidikan merupakan doktrin bohong dan menyesatkan.


"Apakah saya dapat menanyakan beberapa hal lagi sebagai bekal pengetahuan saya wahai paman,"


"Silakan nak, selagi saya memiliki jawabannya maka saya akan menjawabnya."


"Sudah berapa kali peradaban maju yang pernah paman ketahui, " tanya saya.


"Masa prasejarah," singkat paman.


"Bukankah itu peradaban manusia kuno,"


"Mungkin manusia menganggap peradaban tersebut sebagai peradaban kuno. Namun saya menganggap itu adalah salah satu peradaban maju."


"Alasan yang kuat apa sehingga paman menganggap peradaban tersebut sebagai peradaban yang maju."


"Peninggalan mereka dianggap sebagai keajaiban dunia. Bangunan, kebudayaan, bahkan tulisan yang kalian ketahui berasal dari mereka, mengenai abjad dan angka, tata bahasa dan lain lain. Namun para manusia modern menganggap fiktif itu semua, mereka menyangkal sejarah."


"Lalu mengapa peradaban tersebut sirna," tanya saya lagi.


"Masih ingat dengan Banjir Nuh, Allah memusnahkan segalanya, Semakin jauh manusia mengetahui dan memahami sesuatu pemikiran, berlomba menciptakan suatu perubahan, perkembangan teknologi, maka semakin jauh pula ia dari Tuhannya.


Lalu di tengah obrolan kami, datang buk Asri menghampiri sembari membawa beberapa buah berwarna merah mirip apel.


"Kamu harus mencicipi buah dari dunia kami, mungkin kalian menganggapnya apel." Ujar buk Asri ketika ia telah berada diantara kami.


"Pasti paman memberimu wejangan dan pengetahuan yang tidak kamu ketahui, " lanjut buk asri.


"Iya buk, saya mendapat banyak ilmu dari beliau," singkatku sembari melahap buah tersebut. Dan benar saja buah itu sangat manis.


"Wajar saja, beliau adalah lulusan terbaik akademi pengetahuan sejarah penciptaan,"


"Akademi" jawab saya kaget


"Kamu mengira hanya di dunia yang diperkenalkan pendidikan nak, kami juga belajar, membaca, menulis, menghitung dan lain-lain. Perlu kamu pahami bahwa kaum kami yang mulanya menduduki tanah dibumimu jauh sebelum Adam diturunkan dan menggantikan posisi para pendahulu kami. "


"Asri, Nampaknya ia layak disebut sebagai reinkarnasi dari putramu dahulu," sahut paman


"Putra, ibuk pernah memiliki anak?" Kembali saya bertanya secara membabi buta.


"Nak, meskipun saya tak dilahirkan, sebab tidak semua djin di kalangan kami dilahirkan. Namun dahulu saya pernah memiliki anak. Dan ia kembali ke pangkuan Rahmatullah sebab pertempuran hebat yang terjadi beberapa saat lalu akibat perselisihan di kerajaan tempat saya tinggal kala itu, " jelas buk Asri pada saya.


"Kami juga menikah nak, sebagai bukti halal untuk melakukan proses keturunan. Sebab sia-sia rasanya bila Allah telah menciptakan alam namun tak dengan makhluknya." Sahut paman.


"Lalu istri paman, dan suami buk Asri dimana? " tanya saya lagi.


Sesaat paman memejamkan mata, dan tak lama kemudian masuk sosok wanita amat rupawan dengan kulitnya yang amat putih dan bersih.


"Perkenalkan, Dik, dia adalah jelmaan panglima ayah dahulu. Dan nak, dialah istriku,"


"Perkenalkan, saya Ambarwati. Ternyata dia yang selama kanda ceritakan, " ujar istri paman.


Kulanjutkan beramah-tamah dengan seisi istana megah itu. Sam dan jim, dimana kah mereka? Apakah mereka tertangkap? Ahh saya harus berprasangka baik.


Lagi pula telah ada pasukan yang dikerahkan oleh kerajaan untuk mencari dimana keberadaannya.


Dan cahaya yang menyinari berganti, menjadi redup kemudian menjadi gelap. Entah apakah ini bisa disebut malam?


Kulihat gemerlap cahaya dari pemukiman penduduk perlahan satu demi satu menyala. terlihat indah. Di dunia ini tak ada sumber cahaya seperti matahari pada dunia manusia yang mengakibatkan terjadinya perbedaan terang dan gelap menjadi penanda akan waktu.


Namun disini pun dapat terjadi terang dan gelap tapi tak menjadi penanda waktu. Sehingga disani tak ada konsep waktu speerti detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Mereka menandai sesuatu dengan sebuah peristiwa yang terjadi.