The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 17



Sore ini, kami masih di pedesaan. Kondisi kami sudah membaik. Aku Sam dan Jim harus segera ke Maluku menjalankan peran yang telah di takdirkan. Walau tanpa bayaran dan iming-iming popularitas, Kami Ikhlas.


Terlihat dewi sedang melatih anak-anak padepokan, disudut lain Sam datang dengan langkah berat.


"Yan, nih tiket tercepat menuju destinasi," menyerahkan beberapa Lembar kertas boking.


"Aku yakin, ini bukan tugas biasa Sam, kita sudah bertekad, bila pun kita gagal kita akan mati di jalan yang Allah Ridhoi," jelasku, Sam pun mengambil posisi duduk di sampingku dan Jim.


"Semalam aku menangkap gambaran maya, ya setidaknya beberapa kerajaan jin di Morotai, dan Jayawijaya mulai bersekutu, apakah sebab energi dahsyat dari zulfikarmu yang membuat mereka merasa tertantang," ujar Jim setengah berfikir, sejenak ia teguk segelas teh di sampingnya.


"Akan kuperkenalkan kalian dengan beberapa tetua jin yang aku kenal, bersiaplah," ajakku pada dua saudara kembar Mitsuki.


Sam dan Jim pun mengambil posisi duduk bersila di depanku, Kami pun mulai berzikir, memagari badan dengan ayat-ayat suci, dan membuka gerbang ghaib menggunakan zulfikar yang sudah kuwujudkan ke wujud ghaib.


Hingga kami terjaga di sebuah tepi pantai yang amat tandus. kami tiba di tempati itu, kami memandangi setiap sudut, hanya rumput dan deburan ombak yang terlihat.


Pandangan saya tertuju pada sebuah deburan ombak, tidakk... itu bukan deburan ombak, melainkan kereta kencana dengan seorang wanita, ahh sepertinya saya mengenal sosok ini, ya bukan lain dia adalah Nyai pantai selatan Maka tak perlu waktu lama kami memberi penghormatan pada beliau.


Sosok anggun cantik jelita memancarkan pesona pada setiap mata yang memandang namun berwibawa.


"Assalamualaikum wahai anak muda," ucap wanita tersebut kemudian turun dari kereta kencananya.


"Ada perlu apakah kalian kemari, saya merasakan energi positif yang sangat besar, sepertinya kalian membawa sesuatu yang sangat sakral," lanjutnya sembari merekahkan senyuman pada kami.


"Waalaikum salam wahai Nyai, salam rahayu. Suatu kehormatan bisa berjumpa langsung dengan Nyai," ucapku memberi penghormatan.


"Maksud kedatangan kami memenuhi undangan bunda Mayang Asri," lanjutku, sambil menbalas senyumannnya.


sedangkan Sam dan Jim hanya diam, sebab mereka tidak bisa bahasa Jawa inggil


"Oh Mayang Asri, kami berteman cukup lama, dia salah satu jin wanita tertua yang sangat taat dengan ilmu putihnya. Sepertinya ia mengirim kalian, dan pastinya ia akan mengunjungi kerajaanku, cukup lama ia tak mengunjungiku," jelas Nyai, sambil sesekali tertawa kecil.


"Benar Nyai, beliau sudah saya anggap ibu saya sendiri di dimensi ini," sambil sesekali menatap kecantikan Nyai.


"Saya merasakan sesuatu, mari ikut dan bertamulah di kerajaan kami," Ujar nyai,


Kami pun naik ke kereta kencana, setelah Nyai memberi komando pada prajuritnya.


Kereta yang indah pikirku, sepertinya terbuat dari emas, namun emas yang sangat mengkilap.


Perlahan kereta berjalan menurun kebawah, menuju dasar samudera, hingga terlihat pemandangan yang menakjubkan. Dari jauh sudah terlihat megah istana nyai, dominan warna hijau tua lengkap dengan ornamen biru zambrud yang menghiasi. Terdapat dua pilar besar dan diatasnya terdapat penjaga dengan tatapannya yang mengerikan menatap kami.


Hingga terbukalah gerbang besar sangat berkilau, terlihat beberapa penjaga berbadan tegap dan masih dengan tatapan seram menyambut kedatangan kami. Ternyata kami masih dilingkungan halaman dan gerbang tadi menempel pada tembok yang mengelilingi istana.


Nampak Istana yang luar biasa megahnya. Kumerasa tak berada didasar laut, mungkin ini dimensi lain dari laut selatan. Aku tak memahaminya.


"Selamat datang di istana pantai selatan," ucap Nyai dengan sedikit menoleh dan melanjutkan langkahnya ke singgasana...


Kami terpana, melihat situasi di dalam istana tersebut. Sangat indah dan berkilau. Mata saya tertuju pada singgasana Nyai ratu, ia duduk dan masih menatap tajam ditambah raut senyuman yang terkesan sangat menawan, jika saya tafsirkan dalam usia manusia pada umumnya, sosok Nyai ratu saat seperti berusia 25 tahun.


Wajahnya yang oval, dagunya agak menonjol, hidung yang agak mancung, rambutnya disanggul dengan konde berwarna keemasan, dan memakai semacam pakaian adat berwarna hijau tua dengan pernak pernik lain yang saya tak tahu apa namanya. Saya simpelkan, beliau sangat rupawan.


"Lihatlah wahai anak muda, bahkan sebab energi benda sakralmu membuat tahanan jin kami meronta ketakutan. Sungguh luar biasa kamu mendapatkan kepercayaan Lebih," Ujar nyai ratu padaku.


"Begitulah Mayang Asri, jangankan kamu, saya sebagai teman lama bahkan kesulitan untuk komunikasi dengannya. Tapi tenanglah, maksud dan tujuan kalian dikirim kesini saya telah paham," jelas nyai ratu sembari tersenyum kembali.


"Apakah wahai nyai," tanyaku penasaran.


"Lawan kalian cukup berat!! Memang mudah saja bila diimbangi dengan energi purba milik zulfikarmu, tapi tidak menutup kemungkinan kalian akan merenggut nyawa," jelas nyai lagi pada kami.


"Seperti apakah lawan kami nantinya nyai," sahut Sam tiba-tiba.


"dua kembar, darah pewaris terakhir," mengalihkan pandangan pada Sam dan Jim.


"Titisan Anoman patih," setelah menatapku.


"Kalian dihadapkan oleh Shang Ellah, Arajz, Amoer, dan ribuan bala tentara mereka yang saya takutkan, bila serdadu ba’al dan Anubis ikut campur. Negeri kita akan koyak," jelas Nyai dengan penuh hikmat.


Seketika, jantung memompa darah dengan cepatnya menjalar keseluruh tubuh, sekujur tubuh bergetar, keringat bercucuran, dan bulu kuduk berdiri tak beraturan.


Ku tak menyangka akan menghadapi iblis yang sangat kuat, salah satu iblis tertua yang kala itu masih setara dengan malaikat, sang bendaharawan surga sebelum penciptaan Adam. Dialah Shang Ellah.


" Nyai, berat rasanya tugas ini," tak terasa air mata ini menetes.


"Jika darah dua Mitsuki ini di satukan dalam satu ikrar yang bertitahkan satu keabadian, maka akan lahir satu manusia yang nantinya akan mendapat gelar iblis, dialah kakek moyangmu wahai Mitsuki. Kalian tau, dari manakah asal mula mitologi Negara matahari terbit yang berlambang matahari? sihir pertama di bumi Asia berasal pula dari negara itu, saat nusantara ini masih berpenghuni manusia berwatak jin sepenuhnya”.


Kutetap terdiam tak bergeming.


“Mereka telah merasakan energimu wahai anakku, maka mereka semakin tertantang, kabar terbaru dari panglima perangku, mereka mencoba membangkitkan Orgs keturunan kedua dari Azazil. Tapi tenanglah, saya sudah menyerukan pernyataan ke seluruh penjuru negeri, ke seluruh kerajaan sekutu yang ada, bahwa peringatan perang telah dimulai," jelas Nyai ratu.


Fokusku pada nasihat Nyai teralihkan, kurasakan suatu energi datang, sepertinya bukan dari sukma manusia. Dan seketika muncul wujud beberapa Lelaki tua bersorban putih dengan janggutnya yang panjang


"Selamat datang di istanaku," sapa Nyai ratu dengan ramahnya.


"Sudah saya duga patih akan ambil peran dalam laga ini," ucap salah satu lelaki besorban, dan beliau adalah wujud lain paman Artana.


"Sudah kamu temui Mayang Asri nak? " tanya beliau dengan tatapan redup.


"Belum paman, seketika saja saat saya mencoba menjangkau bu asri, lalu saya teralihkan ke energi Nyai ratu," jelasku jujur pada paman.


"Saya khawatir dengannya nak, tapi nanti kita bahas lagi," ujar paman.


Sepertinya paman menyembunyikan sesuatu, tapi apa itu aku tak tahu?


Apakah Bu Asri mengasingkan diri, semedi atau diculik? Bahkan nyai ratu yang terkenal memiliki ilmu kanuragan tinggi pun tak mampu menjangkau beliau, paman pun begitu, Ah tak mungkin rasanya, beliau bukan jin biasa, bahkan nyai ratu sempat berkata beliau adalah teman lamanya. Berarti bu Asri memiliki ilmu dan kesaktian yang hampir sama.


"Atas seruan Nyai, kami serdadu tenggara siap mengambil alih bersama patih," lanjut paman sembari memberi penghormatan pada nyai ratu.


"Berapa jumlah pasukanmu wahai Artana nyoman," tanya nyai ratu, ternyata itu nama paman, dan baru kali ini kutahu.


Paman Artana Nyoman. Makhluk penghuni dimensi jin yang pertama kutemui setalah bu Mayang Asri. Makhluk Hybrid manusia setengah kuda atau sering diknal dengan Centaur.


"dua belas ribu kuda putih pasukan bayangan siap jihad di jalan Allah," Tegas paman.


Dua belas ribu?, ku tak percaya, bahkan paman menyiapkan pasukan sebanyak itu, ku tak membayangkan peperangan yang akan kami hadapi, Kenapa harus terjadi, apa peran saya dalam peperangan ini. Tetap saja diluar nalar yang kurasakan sekarang.