The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 19



Malam hari, kami sedang berkemas sebab esok kami sudah harus di tanah Maluku (Mollucas).


Di tengah kami berkemas, Abah datang dengan memberikan sebuah kabar.


"Kalian sudah siap? Ingatlah sejatinya kekuatan hanya milik Allah. Abah menjangkau beberapa energi kuat dari timur, sepertinya salah satu pangeran dari neraka Amoer mulai membuka celah dipuncak Jayawijaya," jelas Abah pada kami.


"Kami siap abah, apa pun konsekuensinya, leluhur kami yang melakukan kesalahan. Maka kami pula akan menanggungnya," jawab Jim


"Kita harus tetap optimis, jangan sia-siakan apa yang telah kita pelajari. Dan kamu Yan, gunakan sebisamu apa yang telah teranugerahkan. Sebab kita berada pada satu pucuk takdir yang saling berkaitan," ucap Sam dengan nada datar .


"Shang Ellah adalah salah satu iblis terkutuk yang berhasil meloloskan diri dan dibangkitkan oleh Kakek buyutmu, dan Legenda menyebutnya Arajz, ia membuat kerajaan terkuat di timur, koordinat maya dari pangkalan perang kerajaan tersebut. Ia sangat berkuasa, peran mereka adalah mengatur dan menyiapkan kekacauan dunia dan telah menyebarkan berbagai fitnah, menanamkan kebencian," jelas saya pada mereka.


"Yang pastinya, Arajz membutuhkan darah terakhir dari generasinya, yaitu kalian," sahut Abah kemudian.


"Lalu dengan adanya saya dalam skenario ini maka membuat mereka semakin tertantanglah mereka. Seperti yang nyai Ratu sampaikan, Ba'al iblis yang cukup tua dalam mitologi akan ambil peran dalam situasi nanti. Bahkan para Orgs, leluhur djin terdahulu tak akan ketinggalan. Mungkin ini langkah yang sulit, dunia tak akan tahu apa yang kita mainkan, apa yang kita perankan, dunia hanya wajib sadar, bahwa segala bentuk murka di dunia ini tak sebanding dengan murka di dunia yang lainnya," jelas saya,


Tak terasa air mata menetes. Saya merasakan getaran yang sangat hebat, hati kecil saya berkata "jangan menyerah"


Malam itu kami melakukan dzikir panjang bersama puluhan djin, dan beberapa Rijalul milik kami. Sangat damai kami menganggungkan nama Allah, tak lupa kami bersholawat kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW.


****


Kami menikmati suasana, beralas tanah berumput menghadap belantara, beratapkan langit pertama berhias serpihan cahaya sisa penciptaan malaikat. Bulan pun masih memancarkan cahaya dinginnya menggantikan peran matahari yang berenergi panas. Maha suci Engkau Dzat yang telah menciptakan dua unsur berlainan namun merupakan pasangan.


Mungkin saja malam ini akan menjadi kenangan jika saja nyawa kami tak terselamatkan, dan setidaknya kami telah memperjuangkan dengan sepenuh hati.


Di tengah kami sedang berdzikir dan bersholawat, saya merasakan energi, dan pastinya juga dirasakan oleh yang lainnya.


Saya membuka mata, dan.. Allahu Akbar..


Tepat di depan, dan bukan lagi belantara melainkan kuda putih, entah berapa jumlah kuda putih yang hadir, keseluruhannya berpostur setengah manusia.


Ada segerombolan makhluk berwujud gemuk dan bertaring, banyak sekali jumlahnya, ada pula makhluk yang sangat rapi berpakaian ala kerajaan, dan banyak lagi. Yang jelas, mungkin inilah pasukan sekutu milik nyai Ratu, dan malam ini mereka hadir di sini, memproyeksikan wujud maya menjadi nyata. Maha besar Allah atas segala ciptaan-Nya.


"Selamat datang di dunia kami," itulah perkataanku pada mereka.


"Terima kasih telah hadir, ini adalah suatu keajaiban seumur hidup saya, energi kalian yang besar dapat masuk ke dalam alam kami secara bersamaan. Maha besar Allah atas kekuatan-Nya," sahut abah


Lalu mendekat salah satu Lelaki setengah kuda. Dan dia adalah paman Artana.


"Nak, pertempuran semakin dekat. Pintu-pintu ghaib akan segera terbuka," ujarnya kemudian mengelus kepala saya yang saat itu sedang posisi duduk bersila..


Lalu dengan waktu yang begitu cepat, pikiranku melesat.


Ku melihat, dari atas melesat ke bawah. Sebuah bukit yang amat tinggi dengan bongkahan situs kuno, sepertinya Situs gunung Padang. Di sebuah Lembah, celah itu perlahan terbuka, banyak jiwa kelam keluar. lalu pikiran ku kembali melesat, begitu cepatnya hingga ku kembali tiba di sebuah celah samudera, sebuah tangan besar mencoba meraih celah tersebut, sempat membuat gemuruh air, akibat terkena panas dari uap celah tersebut.


Ku melesat lagi, sebuah tebing yang amat curam, dengan suasana yang amat kelam, terlihat berlarian segerombolan, entah makhluk apa dan tidak bisa ku deskripsikan dengan jelas, lalu berpindah lagi, sebuah Lereng gunung, ku mendapati sesosok makhluk dengan bara api di kepalanya, teramat besar hingga ia mampu berjalan diantara pepohonan di Lembah gunung tersebut.


Seketika ku tersadar, lalu membuka mata. Namun ku sudah di atas tempat tidur. Berapa lama ku tak sadarkan diri, yang jelas ku tak mengingatnya.


Keesokan harinya.


Kami sudah berada di bandara, disana ada abah, dewi, dan beberapa rombongan dari padepokan.


"Kalian harus kembali, Abah akan selalu memantau dari tanah ini, dan Abah tak ingin tinggal diam apabila terjadi sesuatu dengan kalian. Ingatlah, kami mengandalkan kalian nak!" bisik Abah pada kami.


"Baik abah, Semoga Allah menyertai kami, sebab kuasa-Nya lah yang nyata," sahut jim.


"Setidaknya saya bangga pernah menjadi bagian dari takdir ini," singkatku sembari sedikit tersenyum.


Beberapa saat kemudian. Kami mendarat di Morotai. Sebuah pulau di bagian utara maluku


Ku pijakkan kaki ini didaratan Mollucas, tanah yang masih perawan, serta energi yang kurasakan sangatlah kuat, entah sejarah leluhur atau sebab lainnya. Sungguh keharmonisan alam yang sulit ditemui ditempat lain.


Kami menyewa rumah sederhana milik warga desa setempat. Desa terpencil yang terletak di pesisir utara pulau Murotai


Malam ini sungguh berbeda, tak biasa bagi kami berada tepat dipingiran hutan lebat. Hutan yang sangat ditakuti pribumi setempat dan konon tak pernah dimasuki sejak dua ratus tahun terakhir.


“Energi apa ini? Begitu besarnya, tak pernah kurasakan energi sebesar ini sebelumnya”. Gumam kami


“Hmmmm, ternyata berasal dari puncak ditengah hutan tersebut”. Ucap saya tenang.


Kulihat jam dinding yang menenpel di tembok ruang tamu tepat menunjukan pukul Sembilan malam, perbekalan yng memadai pun sudah selesai disiapkan oleh Sam dan Jim.


Kami bertiga bergegas menuju hutan tersebut bersama.


“Yan, dalam radius dua Kilometer kita akan mendapati anak sungai. Tak terlalu Lebar sih. Dan cukup dangkal untuk kita seberangi,” jelas Jim sambil melihat gps miliknya.


“Jangan lupa tingkatkan kepekaan batin. Saya khawatir ada sebuah energi tersembunyi tak jauh dari titik kita,” jelasku pada mereka, ku berjalan memimpin di depan mereka berdua dengan tali yang masih terikat diantara kami.


Tiba-tiba kurasakan ada yang berbeda. “Sam, Jim. Apa kalian dengar? ,” ucap ku memastikan. Tak ada jawaban, kucoba menoleh kebelakang.


Dan benar, mereka berdua sudah tak ada. Ikatan tali pun sudah terlepas.


Mereka bukanlah tipikal orang yang suka bercanda pada situasi seperti ini. Kupastikan kembali mencoba mencari sejenak, dan benar saja mereka tak ada. Kemanakah mereka?


Tanpa adanya jejak dan meninggalkan tanda, mereka lenyap begitu saja.


Ditengah kebingungan yang menghantui, kurasakan sesuatu. Sesuatu yang sangat kuat seperti energi yang mengalir begitu derasnya. Aku menoleh ke arah sumber energi itu dan itu dia di hadapan sana. Mataku tertuju kesana, seperti kerajaan pada umumnya, kerajaan sangat megah.


Tapi tunggu, sesuatu menggelitik pikiran, sebuah pertanyaan terbesit,


"apakah raga saya ataukah hanya sukma saya yang berada di sini?". kucoba memastikan kembali.


Dan hasilnya sangat mustahil, raga saya berada disebuah alam, dan ini bukan dialam nyata.


Aku berjalan mendekati tempat tersebut, di sini sangatlah dingin, entah udara atau aura alam ini. Ku tak tahu pasti. Semakin dekat semakin jelas pemandangan yang luar biasa. Layaknya saya kembali ke zaman dinasti kuno.


Dari sini terlihat aktifitas masyarakat, persis. Seperti tertarik ke dimensi waktu, kembali ratusan tahun sebelumnya. Ataukah ini hanya proyeksi imajinasi dari kaum astral?


“ANOMAN PATIH,” ucap sebuah suara yang sangat berat tak berwujud.


Sontak kumenoleh, mencari keberadaan pemilik suara tersebut.


“Ternyata kamu cukup berani untuk memenuhi takdirmu, selamat datang di dunia kami. Ini salam untuk ragamu,” lanjut suara tersebut


“Siapakah kamu,” tanyaku, namun nihil suara itu tak ingin wujud.


“Kamu tak perlu tahu siapa aku, aku tak berwujud seperti makhluk Allah yang lain, aku mengetahui silsilahmu, dan selamanya akan seperti itu,” lanjutnya


“Apakah kau Qorinku?” Tanyaku memastikan


“Anggap saja begitu, sebelumnya aku ada sebelum kau ada, dan hanya pada situasi ini kita dapat bercakap, bukan berjumpa.


Tahukah kamu, kita sekarang berada di dimensi mimpi. Semua yang terjadi hanyalah mimpi dari seluruh makhluk Allah, cukup hebat energiku mampu menarik ragamu ke tempat ini,”


“Lalu dimana kah kedua temanku,”


“Mereka juga sedang menemui Qorin mereka masing-masing, setidaknya antara Qorin dan ruh dapat bersatu, akan Lebih mudah kita Lewati perjalanan ini,” jelas suara tersebut.


Sungguh Luar biasa, Inikah dimensi mimpi. Dimensi yang harus kulewati dahulu. Nampak berbagai macam aktifitas mimpi semua manusia, namun waktu berjalan sangat cepat diatas normal, dan sangat mustahil. Kulihat juga jin usil yang menganggu dalam mimpi manusia, dan akhirnya lari terbiri-birit saat melihatku.


Jika kucoba jangkau aktifitas mereka, maka aku akan masuk dalam mimpi tersebut. Sebab itu saya dilarang, dan Kulanjutkan perjalanan mengikuti petunjuk qorin saya, sangat cepat dan teramat cepat hingga kusudah berada di sebuah ujung jalan gelap gulita.


“Inilah batas antara, jika kamu melewatinya, maka ragamu akan kembali ke alam nyata, hanya sukmamu yang akan kesana, disana adalah alam ghaib, alam astral dengan segala makhluknya,” jelasnya lagi


Maka tak menunggu lama, kucoba pejamkan mata dan tibalah…


Kutersadar, dan sedang bersandar pada batang pohon. Sebelumnya, kucoba memastikan raga ini aman di dunia nyata.


Ternyata aman, dan kusudah terbaring dirumah warga, beserta raga dua mitsuki bersaudara. Aku pun kembali ke alam tersebut dan menyaksikan segalanya yang tak terbatas