The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 18



Kami bangun dari meditasi, hampir 6 jam ku duduk bersila, Tak biasanya ku kembali dari alam ghoib secepat ini, padahal 30 menitan kuhabiskan disana. Sungguh luar biasa, berkat Zulfikar waktu dapat sedikit direntangkan.


Namun di manakah buk Asri?


Hingga satu kedutan jantung yang sangat kuat, kuterpental. Sam dan Jim panik. kumuntahkan darah kental dari mulut, jantung masih berdegub tak beraturan.


Kurasakan energi kuat mendekat, mahluk apa ini, hingga berhasil menembuas pagar ghoib padepokan. Ku tetap pada posisi bersandar disaung, dan kulihat Sam dan Jim terdiam seperti patung, semua telihat diam, waktu terhenti. Aku tak percaya.


Mustahil, sangat mustahil. Dan mulai berwujud, Wujudnya menyeramkan. Perawakannya kekar, dengan bulunya yang lebat, kepalanya seperti kerbau namun tanduknya sangat lancip. Hembusan nafasnya menyayat telinga, terdengar seperti babi yang siap menyerang.


Matanya pekat menatapku tajam, dengan langkahnya yang berat, mahluk itu mendekat kearahku. Ku lihat makhluk itu bercakap, hendak mulai membuka obrolan. Tapi tak mengerti apa yang ia ucapkan.


Dan tiba-tiba, kedua telingaku berdengung, seperti bila sebuah sepiker mendapat reaksi Wireless.


Seketika ku mengerti ucapannya.


"Hai anak adam, bagaimana kabarmu," sambutnya.


Reflek kuperbaiki posisi duduk dengan Zulfikar yang berwujud tongkat cahaya ditangan kanan


"Siapakah engkau?" tanya ku terbata-bata.


"Lihatlah, Zulfikarmu meredup, pertanda saya tak pantas melukaimu. Mungkin kamu belum mengenalku, aku adalah utusan moyangmu, ratusan tahun lalu kami berteman, pertemanan antara jin dan manusia, aku bangsa jin generasi ke delapan setelah Adam, manusia pertama yang diturunkan dibumi (Disela-sela percakapannya, perlahan ia mulai menampakkan wujud aslinya. Saat ini ia berwujud Lebih baik dari sebelumnya) alasan mengapa saya memakai wujud itu hanya untuk menggoyahkan imanmu, mengendalikan rasa takutmu. Tahukah kamu, wujud tadi adalah wujud dari Ba'al. Dan keberanianmu sungguh luar biasa," lanjutnya lalu ia sudah tepat di depan saya. Dan seketika pula Zulfikarku memudar.


"Kakek menghentikan waktu? Mengapa semuanya, bahkan dedaunan tak bergoyang," tanyaku penasaran.


"Mungkin kalian menganggap ini menghentikan waktu, hanya saja bagiku waktu tak berjalan untukku. Kehadiranku di dimensimu hanya melalui celah yang sangat sempit, itulah alasan kau ikut merasakan energiku, bahkan tadi aku sampai kelelahan," jelasnya dengan duduk di sampingku.


"Lalu apa tujuan kakek menemuiku," tanyaku, dan beliau mengulurkan tangannya, seketika kucium punggung tangan beliau.


"Saya diutus langsung oleh moyangmu wahai cucuku, ia ingin aku mendampingimu, sebab tak mungkin Qorin manusia wujud ke masa depan setelah sekian lama nyawanya meninggalkan dunia ini," jelasnya dan entah mengapa hati merasa tenteram.


Lalu tiba-tiba semua berlalu sepersekian detik, layaknya perpindahan skene pada film. Sam dan Jim bergerak, semua normal.


"Hey, malah bengong," tegur Jim pada saya.


"Ayo, Adzan magrib sudah dikumandangkan," lanjutnya, lalu ia dan Sam beranjak pergi.


Aku terpaku diam beberapa lamanya. Tak menghiraukan ajakan Sam dan Jim. Memproses kejadian yang baru saja ku alami.


Sungguh luar biasa, segala rahasia alam, kekuatan tersembunyi yang hanya milik Allah mulai saya pahami satu persatu. Ternyata pertemuan dengan saya hanya berlangsung sekian detik dialam nyata, meski pertemuan itu berlangsung beberapa menit.


Ini seperti realitas kebalikan, dan yang pasti tadi saya tak berada di dimensi mana pun, seperti lipatan dimensi, dan saya diantaranya.


Ahh otak ini masih belum bisa mendeskripsikannya. Hanya hati ini yang terus mengucapkan syukur dan takjub akan kekuasaan Allah.


Aku sedikit mulai memahami kemana arah tujuan dari tugas dan peperangan yang akan terjadi nanti. Ya, perseteruan antara dua makhluk. Namun di satu dimensi. Dimana darah dua Mitsuki sedang dibutuhkan untuk disatukan pada satu cawan keabadian.


Diikuti oleh makhluk alam Gaib yang beranekaragam. Melibatkan sosok-sosok yang tak dapat dipahami manusia biasa. Djin, iblis, dan serdadunya.


Shang Ellah, Iblis yang melakukan tipu daya dan mengklaim dirinya malaikat penjaga dua dimensi. Arajz, Amoer, Ba’al, Orgs yang akan ikut peran dalam pertarungan epik nantinya.


Aku memahaminya. Beban besar atas tugas yang akan kuhadapi. Bahkan mempertaruhkan nyawa. Tuhan aku sangat mengharap PertolonganMu.


Dan Lagi....


Kurasa ini bukan mimpi.


Kubuka mata, dan dimana ini, bahkan ku tak merasa bernafas. Sangat hening tak ada suara. Sesaat ku tatap keatas, hanya putih bagai susu, tak ada apapun.


Ahh, tempat apa ini, Bahkan ku tak dapat mengeluarkan suara!!


Dimanakah ini?! Kutatap kedepan yang ada hanyalah bayangan maya.


Sayup-sayup ada suara terdengar, dan kukenal suara ini.


"Nak, tak usah panik," ucap suara itu seperti berbisik.


"Bu asri?" tanyaku sedikit memastikan.


"Apa kabarmu nak, pasti kamu baik-baik saja," ucapnya lagi.


"Ibu dimana, dimana saya sekarang, apa yang terjadi, apakah saya sudah meninggal buk!" tanyaku bertubi tubi.


"Kamu tak usah panik nak, saya masih di sini dan mengawasimu, berharap bisa bertemu denganmu meski untuk yang terakhir kalinya. Kamu, Lebih tepatnya hati dan pikiranmu saat ini sedang saya pindahkan ke Dimensi satu nak, sebab hanya di sini kita dapat berkomunikasi. Jaga dirimu nak, ibu selalu yakin kamu pasti bisa menerima dan menjalani takdirmu ini," terdengar suara lirih darinya.


"Bu, apa maksud ibu?!," lalu tiba-tiba.


Ku tersadar, Kuhembuskan nafas berat dan jantung memompa dengan sangat cepatnya.


"Yang terakhir kalinya...," Ucapanku yang lolos saat perpindahan dimensi. Dan sontak membuat Sam terheran.


Masih dalam posisi duduk diantara dua sujud.


"Yan, kamu baik-baik saja," tanya Sam memastikan.


"Aku pergi berapa lama Sam," ujarku menjawab pertanyaan Sam dengan pertanyaan lagi.


"Pergi, kamu tak kemana mana Yan, sedari tadi kita Shalat, baru saja mengakhiri dzikirmu dan lalu berucap seperti itu. Hey apa yang terjadi?" tanyanya, penasaran.


"Memang benar, dimensi satu tak merubah apa pun, ketiadaan. Disana aku cukup lama, dan hanya sepersekian detik. Sama dengan lipatan waktu saat kakek mengunjungiku,"


"Benar kamu mengunjungi dimensi itu Yan," tanya Sam lagi


"Bukan aku yang kesana, tapi buk Asri yang membawaku," singkatku sambil beranjak merapikan sajadah, membiarkan Sam dengan rasa penasarannya.


Dimensi satu adalah dimensi ketiadaan. Segala sesuatu tak berlaku disana, dan salah satu dimensi yang tak memiliki penghuni, yang sengaja diciptakan oleh sang pencipta untuk sekedar menyempurnakan realitas penciptaan. Dan dimensi tiga dimensi ruang. Alam materi. Dunia yang kita tempati.