The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 11



Kim dan Shijima dua Lelaki Asia, dengan tampilan yang sangat ideal bagi Lelaki dewasa, mereka berhasil memikat setiap mata wanita yang memandang.


Hari ini adalah hari terakhir mereka belajar Bahasa Indonesia, Semua berkat kegigihan dan kesabaran Melisa dalam mengajar, apa lagi ditambah dengan kedatangan Dewi, menambah satu karakter wanita dalam kisah ini. Dewi berasal dari Surabaya, ayahnya adalah seorang Guru Spiritual dan sekaligus pendiri Padepokan.


2 minggu sudah kim dan Shijima bernaung di Jakarta, mengenal dan memahami budaya serta adat istiadat Indonesia, hingga saat ini, mereka mulai sedikit demi sedikit mulai fasih berbahasa Indonesia.


Malam hari. Di sebuah restoran.


“Jim, kami sudah mengetahui tekad dan tujuan kamu ke Indonesia. Terus apa rencana kamu selanjutnya. Kamu tidak bisa terus berdiam diri di sini sedangkan saudara kandung kamu yang tidak kamu ketahui sekarang dimana dia.” Ungkap Mellisa.


“Kita Harus ke Surabaya mel, berapa jauh jaraknya.” Tanya Shijima


“18 jam bila memakai bis ekspres,10 jam bila memakai kereta Express.” Sahut dewi sambil asyik memakan nuggetnya.


“Nanti aku akan jadwalkan jika kamu mau, beri aku kepastian untuk kamu ke Surabaya.” Tutur Mellisa.


Telepon Dewi berdering.


“Halo. Assallamu allaikum Abi.” Sapa Dewi


“Halo Nak? Abi harap kamu pulang ke desa sebelum malam Selasa, Firasat Abi tentangmu tidak baik.” Terdengar cemas


“Ada apa Abi? Dewi masih ada kerjaan di Jakarta.” Sambil mengerutkan kening


“Kamu sedang dipantau oleh bala tentara pasukan Iblis kerajaan Morotai nak. Nanti ayah cari tahu apa penyebabnya.” Jawab abah


“Hah, MOROTAI?” bergumam dalam hati


“Abi harap kamu pulang. Abi tunggu.” Menutup telepon.


“Kepastian kapan Jim kita ke Surabaya?” Tanya Kim


“Aku mendadak harus segera pulang ke desa.” Ucap dewi cemas


“loh ada apa wi? Mendadak banget?” Tanya Mellisa


“Gimana kalau kita bareng aja? Kamu mel juga harus ikut. Kamu tahu kan aku orang baru di Pulau Jawa.” Usul Shijima


“Aku setuju. Kalian berdua harus temani kita.” Kim terlihat semangat


”Ta...tapi, ayahku mendapat firasat buruk tentangku dan dia menyebut kata MOROTAI.” Dewi mencegah


“kalau gitu tujuan kita yang pertama adalah ayah kamu.” Shijima memutuskan


“Nah, aku ikut aja komandomu jim.” Kim setuju


“Atur saja deh, nanti aku cek jadwal kereta api.” Tutur Mellisa


Obrolan malam itu ditutup dengan percakapan tentang rencana mereka ke Jawa timur. Disana mereka mengenal dan mulai belajar mendalami ilmu Dua dunia.


Bisa dikatakan takdir leluhur Shijima begitu kelam, dan getahnya adalah pada generasi ketujuh


Siang hari di Stasiun kereta api pasar Senen.


“Ada apa itu? Kok.. Rame banget” sahut Kim


“Coba kita kesana.” Shijima setengah berlari


Siang itu di Stasiun pasar Senen sedang terjadi insiden penyergapan bandar sabu yang hendak menyeludupkan barang untuk di kirim ke pulau dewata bali.


Dengan sigap Shijima mendekati kerumunan orang yang saat itu sedang panik histeris, dikarenakan suasana mencekam dan beberapa kali suara Letusan pistol polisi.


Diduga 3 orang bos besar dan beberapa anak buah pengedar sabu tersebut menyandera beberapa gerbong kereta ekonomi yang berisi penumpang.


”Sepertinya kita tidak bisa ditinggal diam” Shijima bersiap


“Kamu mau ngapain jim, jangan aneh-aneh deh. Itu udah ada polisi.” Kata Melissa


“Tapi kamu lihat, mereka importir dari China, mereka jago banget. lihat juga darah sudah bertumpahan disana.” Kim menganalisis


Shijima Berlari menuju kopernya dan mengeluarkan sebilah samurai


“Mencoba mempraktikkan apa yang sudah aku pelajari.” Shijima Berlari menuju gerbong membelakangi kerumunan


“Sepertinya seru, aku padamu Jim” Kim pun tak ingin kalah berlari mengikuti Shijima dari belakang


Melissa dan Dewi tak bisa berbuat banyak untuk mencegah emosi kim dan Shijima. Mereka khawatir, dan tanpa mereka ketahui. Mereka tidak seharusnya mengkhawatirkan ini karena kemampuan kim dan Shijima jauh di atas rata-rata.


Shijima berjalan mengendap-endap di atap gerbong kereta, dengan kemampuan mendengar yang amat tajam dia dapat mengetahui bahwa tepat di bawahnya ada beberapa buronan polisi.


Dengan sigap ia melompat ke bawah dan memasuki gerbong tersebut. Ia tangkis beberapa peluru yang mengarah padanya dengan samurai yang ia pegang, ia merogoh saku belakangnya, benar saja ilmu ninja yang ia pelajari dulu tidak sia-sia, tepat di leher ia tebaskan goresan, tidak sempat dari belakang seorang menendangnya ia tersungkur, tanpa disadari dari depan kim hadir dan mencabut senjata yang menancap di leher korban tadi dan melemparnya tepat di leher buronan tersebut.


Shijima bangkit, datang dari luar Lebih banyak buronan. Saat itu juga kim keluar di atas rel, bertarung dengan puluhan buronan.


Memang sungguh aksi yang mendebarkan,


Polisi saat itu hanya dapat terpana, darah tertumpah dimana-mana, Layaknya Ninja disiang bolong, aksi kedua pemuda tersebut menjadi sorotan banyak mata termasuk Melissa dan Dewi.


Dengan kemampuan yang mereka miliki, tak sampai menebas kejam seperti yang layaknya Ninja lakukan. Hanya goresan dan sayatan yang hanya melukai.


Setelah puluhan cecunguk telah tumbang ditangan mereka berdua datang tiga orang berjas coklat berbadan tegap dan berkacamata membabi buta menembaki mereka dari jarak yang lumayan jauh.


Tanpa basa basi, kemampuan menghindari peluru yang mereka pelajari cukup membuat puluhan peluru itu dapat menembus ataupun menyentuh tubuh mereka.


(Percakapan Bahasa Korea)


“Bajingan, rupanya kita kedatangan Ninja kesiangan.” Kata Boss pertama marah.


“Aku kira kalian bajingan dari China, rupanya dari Korea.” Kim mengumpat.


“Apa mau kalian? Sok jagoan.” Boss kedua membuang senjatanya


“Apa laga kalian di Korea sudah tidak laku hingga kalian lari kesini.” Kim memprovokasi


“Shutt up, anak kemarin sore kalian berani menantang kita.” Ungkap Boss ketiga mematikan puntung rokok


“Jika harus, kenapa tidak.” Ungkap Shijima


Terjadi lagi pertarungan sengit antara tiga Boss bandar sabu dan Shijima serta jim.


Dengan beberapa jurus dan gerakan yang terlihat gesit dari kedua pahlawan itu, benar saja, tiga Big Boss tersebut pun ikut tumbang layaknya anak buahnya.


Beberapa polisi pun menodongkan pistol ke arah Shijima dan Kim.


“Dont Move!! Turn your hand.” Polisi satu menodongkan pistol


”kita bisa berbahasa Indonesia, tolong Letakkan senjata. kami dipihak kalian.” Kim melepaskan samurai


“Apa maksud kalian?” Polisi dua menyelidiki


“Hanya membantu, tidak Lebih.” Shijima menatap datar


“Lebih baik kalian ikut kami ke kantor.” Ungkap Polisi satu


“Waktu kami hanya tersisa tiga jam, apa perlu kalian pada kami. Maaf bila kami mengganggu tugas kalian. Tapi semoga apa yang kami lakukan tidak sia-sia.” Shijima berseru.


Setelah interogasi di TKP, akhirnya polisi-polisi itu membebaskan kim dan Shijima. Cukup diacungi jempol.


*****


(Sudut Pandang Samuel)


Sore hari yang Lengah di Surabaya. Saat itu Samuel hanya duduk ditemani segelas kopi tak lupa sebatang rokok terpasang rapi di sela-sela jarinya. Tak jauh terdengar suara reporter berita.


"Siang tadi tepat pukul 13.45 bertempat di stasiun kereta pasar Senen Jakarta timur. Terjadi insiden penyergapan segerombolan bandar sabu-sabu asal negara ginseng Korea, beruntungnya aparat polisi tidak sendirian dalam melumpuhkan beberapa oknum tersebut, diduga dua orang bernama Kim Won dan Shijima Hiragawa Mitsuki telah membantu mereka menumpas oknum pengedar beserta tiga bandar sekaligus. Mengenai informasi Lebih jelas tentang identitas pahlawan polisi saat itu masih simpang siur, tapi media serta kalangan penegak hukum lainya menyimpulkan bahwa mereka bukan orang sembarangan.


Terbukti dengan beberapa video amatir yang sudah mulai tersebar luas tentang aksi laga mereka dengan lincahnya memainkan samurai menebas dan menghindar . Ya kita biasa sebut ilmu Ninja yang mereka miliki cukup terlatih. Itulah topik pertama pada sore hari ini, dan kita telah menghadirkan salah satu polisi yang saat itu ada di TKP untuk kita tumpas tuntas informasi secara detail. Kami akan hadir setelah jeda berikut ini. "


Samuel sejenak melepaskan remot yang ia pegang, meneguk sedikit kopinya yang mulai mendingin. Mematikan rokok yang mulai mendekati puntung, lalu menghembuskan nafas panjang. Dan bergumam. "Hiragawa Mitsuki"