The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 4



Suara mesin electro cardio grap berbunyi senada dengan jarum jam, kubuka mata. Silau cahaya dari lampu ruangan. Tubuhku lemas berbaring di ranjang rumah sakit.


Ku kumpulkan sedikit demi sedikit energi dalam tubuh. Perlahan kesadaranku mulai pulih.


“hufftt.. badan ini rasanya terasa sakit dan nyeri di setiap persendian” beginikah efek perjalanan lintas dunia? batinku mengingat setiap kepigan memori yang baru saja aku jalani. Semua ini sangat mendadak bagiku. Aku masih merasa tidak percaya ini semua terjadi padaku.


Kusapu pandangan ke seluruh ruangan. Terlihat beberapa bingkisan buah di meja sampingku. kulihat keluar jendela. Aku terkejut. Rupanya hari sudah menjelang malam. Ternyata waktu berjalan cepat di dunia ini, padahal seingatku, tak sampai dua menit aku berada di alam gaib.


Ditengah lamunanku, aku dikejutkan oleh suara pintu.


“Kaaakak … Alhamdulillah kamu udah sadar” masuk seorang wanita setengah berlari menghampiriku dengan wajah bahagia. Rupanya risma adikku.


“Alhamdulillah Ris.” Balasku lemas.


“kamu tahu gak, kamu koma berapa lama?” tanyanya lagi, ia sudah duduk tepat di samping kiriku.


“Enggak, emang berapa lama?” tanyaku penasaran.


“Andai hari ini sampai besok kamu masih blum sadar juga, berarti genap 3 mingu.” Celotehnya. “Aneh loh, padahal dokter menanalisa kamu gak menidap penyakit apa pun” tutupnya sambil menatap seksama kearahku.


“Haaah …” akupun kaget bukan kepalang.


“Coba ceritakan gimana awal aku bisa koma?” aku memperhatikan dengan serius. Aku tak tahu sama sekali bagaimana kondisi ragaku saat aku masuk ke alam gaib, yang ku ingat hanya saat masih berkendara.


“kamu ditemukan terkapar oleh warga di pingir jalan raya, awalnya kamu dikira warga sudah mati, korban pembealan. Rupanya setelah di cek nadi kamu masih hidup dan langsun dilarikan kerumah sakit terdekat.” Ceritanya antusias


“Ris dan Ibu sangat shock ketika mendengar kamu masuk ke rumah sakit. Padahal saat itu ibu gelisah tidak tidur mengungu kamu pulang sampai larut malam. Eh pas pagi-pagi ada seorang tetangga yang mengabarkan kamu ada di rumah sakit. Hampir saja ibu pingsan loh kak” wajah risma nampak sedih.


“Dimana Ibu sekarang dik?” aku merasa sangat bersalah kepada ibu. Hatiku sedih mendengar cerita risma. Betapa berdosanya aku pada ibuku.


Secara tiba-tiba, ada semacam gambaran maya melintas dalam fikiranku, tergambar dengan jelas sosok wanita paruh baya sedang berjalan kemari membawa rantang makanan. Kuamati dengan seksama, terlihat raut wajah lelah tergambar dalam penglihatan maya. Betapa pilu hati melihatnya, mataku tak sanggup lagi melihatnya. Akupun menutup mata. Dan gambaran maya itupun hilang.


“Dik, coba kamu bukakan pintu sana, mungkin saja ibu sudah di depan ruangan sedang kemari membawa makanan kesukaan kakak, kakak lapar.” pintaku sambil melihat kearah pintu.


“ah kakak, nih. Ris lagi masih pengen duduk disini juga.” Gerutunya sambil berjalan kearah pintu ruangan masuk.


Sebelum ia memegang gagang pintu kamar, seketika pintu itu telah terbuka. Dan benar saja. Terlihat seorang wanita paruh baya yang kulihat dalam gambaran maya itu melihat kearahku. Terpatung. Sejurus kemudian berlari kecil kearahku dengan wajah sangat bahagia.


“Nak, Alhamdulillah. Kamu sudah siuman.” Sambil memeluk tubuh ku dengan mata berurai air mata.


“iya bu. Alhamdulillah. Maafkan iyhan bu sudah membuat ibu khawatir.” Tangis ku pun pecah tak kuasa menahan gejolak di dada.


“Apa yang kamu bicarakan nak, selama kamu baik-baik saja, ibu sudah sangat bersyukur.” Menatapku dengan kasih sayang seorang ibu.


“kamu pasti lapar kan, ibu sudah memasak masakan special kesukaan kamu” tangan ibu dengan sigap mengeluarkan senjata andalan yang bisa membuatku siuman itu.


Aku melihat adegan di depan ku ini sungguh membuatku sangat bahagia, cinta kasih seorang ibu memang seperti sang surya. Kutengok adik ku yang terlihat melamun saja menatapku. Aku pun tahu. Pasti penasaran kenapa tadi aku bisa tahu kalau ibu sudah di depan pintu ruangan masuk. Biarkan saja. Saat ini aku sedang dalam misi penting. Menghabiskan masakan buatan ibuku yang paling enak di dunia ini. Perkedel kentang. Dengan lahap dan menikmatinya. Tak kusisakan satu butir nasipun.


Keesokan paginya, aku sudah diizinkan untuk pulang. Diagnosa dokter tidak menemui kejanggalan pada kesehatanku. Akupun dengan senang hati bergegas menuju rumah. Aku sudah bosan berada di ranjang rumah sakit.


Berada di rumah memang sangat nyaman. Tak salah pribahasa mengatakan rumahku istanaku. Suasana yang tak dapat di tuliskan dengan kata-kata.


Hari itu aku lebih banyak beraktivitas di rumah. Meski tubuh ku sudah sehat dan prima, aku ingin sekali pergi keluar rumah untuk berjalan-jalan. Tapi ibu melarangku dengan alasan kesehatanku masih belum pulih. Jelas-jelas aku sudah sembuh begini.


Disaat aku sedang duduk-duduk di depan teras rumah karena bosan berada di dalam kamar. Menikmati sejuknya udara. Kulihat dari kejauhan beberapa orang berbaju busana muslim naik sepeda motor menuju ke arah rumahku. Ah, rupanya seorang tokoh agama dan praktisi supranatural.


Sepertinya aku sudah bisa menebak maksud dari kedatangan mereka.


setelah memarkirkan motor dan bersalaman. Aku mempersilahkan masuk. Kami duduk di ruang tamu. Beramah tamah dan berbasa-basi. Sampai pada poin utama.


“Bagaimana awal cerita adik sampai nyasar kealam itu? butuh waktu lama bagi kami untuk sampai kesana loh! Melalui berbagai meditasi dan dzikir yang amat lama” Tanya salah seorang berkopiah putih. Rupanya mereka ingin mencari tahu.


“Awalnya saya juga heran pak, dan sama sekali tak menyadari semua itu. dalam ingatan saya saat itu saya hanya sedang berkendara menuju pulang.” Jelasku tanpa ragu.


“sulit dijelaskan. Tapi memang adik sudah tiba disana. Di alam yang jarang sekali di datangi oleh manusia. Lebih hebatnya lagi, adik bisa kembali!” Jelas salah seorang buerbusana gamis.


Sekilas ada bisikan di telinga.


“Tak usah patih menjelaskan siapa diri patih pada mereka” sepertinya bisikan itu dari paman, dan saya hanya menangguk.


“Yah, semua atas Kuasa dari Allah SWT pak.” Jawabku singkat, lalu menyeruput kopi hangat dan menyalakan sebatang rokok. “sampai sekarang, saya hanya menangap itu hanyalah mimpi” lanjutku sekedarnya.


“Terpancar aura aneh dalam dirimu nak, tapi tak dapat kami jelaskan” lanjut salah seorang praktisi berjengot putih.


“Mungkin aura makhluk lain yang menempel pada diri saya.” Jawabku asal.


Namun, sempat batinku menangkap beberapa prasangka dari salah satu praktisi tersebut.


 “cepat atau lambat, saya akan segera ungkap siapa identitasmu!”


Aku hanya tersenyum melihatnya, dalam batin aku menangkap niat tidak baik dari orang tersebut. Dan benar saja. Tetiba kulihat auranya berubah. Sontak aku langsung mencoba menyingkap tabir si praktisi tersebut.


Ternyata dia seorang penganut ilmu supranatural yang berasal dari rijalul gaib melalui metode salah satu ilmu kejawen. Ia juga memiliki khadam, dan sedang menggeram takut melihat aura yang terpancar dari diriku, khadamnya cukup mengerikan. Seekor macan dengan taring purba dan berkulit loreng serta memiliki mata berwarna putih. Sepertinya khadam tersebut pernah kafir dan kini telah menjadi muslim.


“Ya sudah kalau begitu, kami pamit dik, nanti kalau terjadi sesuatu jangan sungkan menghubungi kami.” Ungkap pria berkopiah hitam atau akrab disapa Bahar.


“iya pak, terima kasih atas kunjungannya. Dalam dua jam kedepan akan turun hujan, sebaiknya pakai mantel pak” celotehku keceplosan.


“Iya dek, mantel sudah kami siapkan di jok motor” jawab pria berbusana gamis sembari tersenyum. Kembali batin saya menankap bahasa darinya. 


“ternyata kamu paham dan bisa.”