The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 16



Setelah melakukan usaha yang sungguh-sungguh dalam berlatih, beberapa Ritual, dan Shalat Ghaib. Kini saatnya kami untuk melakukan Meditasi. Sukma kami akan pergi ke Alam di mana tidak semua orang bisa menjangkau. Fenomena perjalanan kami itu kini disebut-sebut sebagai mati suri.


Perjalanan pertama, kami melintasi tempat dimana banyak sekali kabut hitam pekat, tempat itu teramat sangat menyeramkan, sesekali kami menemui pohon yang tanpa ditumbuhi daun, tanah di tempat itu amatlah gersang, kami menatap ke atas, yang kami lihat hanyalah kegelapan dan terlihat hanya satu sumber cahaya di atas.


Disitu ada danau yang memiliki air yang bukan layaknya air dibumi. Berwarna hitam pekat. Diujung sebuah danau hitam itu, kami menemui sesosok berjubah hitam dengan tanpa kami lihat wajahnya.


Sosok itu terlihat tak bergerak sedikit pun. Dan saat kami mendekati, sosok itu pun menoleh kepada kami. Wajahnya hitam dengan mata yang merah


“Hendak kemana kalian wahai cucu Adam.” Sosok berjubah menatap kami


“Kami hendak menemui Nabi Musa AS.” Jawab Samuel


“Yaa, bersedia kah bila aku mengantar kalian?” Sosok berjubah menawarkan


“Iya, Terima kasih.” Jawabku


Kami pun menaiki sampan milik sosok tersebut.


Dia adalah Malaikat penunggu Danau kesedihan. Setiap kesedihan yang dialami oleh seluruh manusia, semua terkumpul di danau tersebut dan membuat airnya menjadi hitam pekat.


Kami menyusuri danau tersebut, anehnya alur danau itu makin jauh makin memuncak.


Hingga kami berada di tempat dimana kami bisa melihat keseluruhannya. Saat ini kami berada di alam ke-tiga.


Oh rupanya tadi kami melintasi Alam bawah sadar, ya alam bawah sadar kami sendiri.


Kini kami berada di alam yang disebut alam Barzakh. Disana kami melihat banyaknya roh yang kadang melesat secepat kilat, ada yang secepat pesawat, dan Lebih banyak yang berjalan tergesa-gesa walau kadang terjatuh.


Kami dapat memahami itu.


Kami terus berjalan, hingga kami menemui ujung jalan, disitu kami memandangi hamparan cahaya merah, apakah itu? ternyata itu uap api yang membara. Amat bising sekali disitu.


Dari bukit itu kami memandang ke bawah, banyak sekali deretan roh yang sedang berbaris.Kami melihat sepertinya para roh itu berjalan melayang melintasi jurang dengan uap api yang membara. Banyak pula yang berjatuhan. Dan kami pun memahami itu.


Yang jelas pasti bara api yang kami lihat itu adalah Neraka.


Perjalanan pun berlanjut, kami berjalan menaiki bukit itu, Lalu tiba-tiba kami kembali menemui sosok yang sama, bedanya terletak di jubah yang dipakai, sosok itu berwarna putih, wajahnya terlalu terang hingga menyilaukan pandangan.


“Hendak kemana kalian wahai Manusia? Sepertinya kalian sedang dalam perjalanan.” Tanya Sosok Berjubah putih


“Kita hendak menemui Nabi Musa AS.” Jawab Samuel


“Musa dan para Rasul yang senantiasa berzikir di bawah Arsy Allah.” Ujar Sosok Berjubah putih


“Iya benar Wahai Malaikat.” Jawab Samuel


“Biarkan aku mengantar kalian.” Sosok Berjubah putih menawarkan.


“Baru saja Bisikan Musa memerintahkanku. Dia telah tahu perihal kedatangan kalian.” lanjutnya


Kami menaiki kendaraan seperti delman, kendaraan itu tanpa kuda, melesat dengan sendirinya dengan kecepatan yang luar biasa. Banyak pemandangan menarik yang kami lihat saat itu. Dan semuanya tidak bisa dijelaskan secara terperinci oleh akal. Hanya kata "SubhanAllah" yang mampu kami ucapkan.


Alam itu merupakan alam terpadat dan terluas yang kami lihat.


Bumi hanyalah sehelai daun yang tak bermakna bila dibandingkan dengan alam barzakh.


Bertemu Qarin Nabi Musa AS


Akhir perjalanan, Tibalah kami di tempat tujuan. Saat ini kami berada di tempat hari berkumpul saat hari akhir kelak, Padang itu dipenuhi rerumputan, konon padang tersebut akan kering kerontang saat hari akhir. Seluruh makhluk yang bernyawa akan berkumpul di tempat itu.


Teramat luas rumput itu, hingga kami tak tahu harus mengarah kemana. Kulihat ke atas, semenjak tadi banyak sekali cahaya putih, biru, ungu, kuning, kadang merah berlalu lalang. Ya, itulah kesibukan Malaikat Allah. Mereka sedang menjalankan tugas tanpa mengenal waktu.


Diujung pelupuk mata, aku tertarik oleh cahaya putih agak redup. Tapi anehnya cahaya itu sedang berdiam di bawah pohon yang luar biasa Lebatnya. Sebuah pohon yang amat rindang di tengah padang rumput.


Perlahan kami mendekati sumber cahaya itu.


Semakin dekat semakin jelas pula Jubah yang tadinya bagai cahaya dari kejauhan. Jubah itu putih bersih, mungkin putih di dunia tak akan bisa mengalahkan putih jubah itu.


“Asslamu allaikum, bolehkah saya bertanya?” sapaku sopan


“Waalaikum Salam, jawaban dari pertanyaanmu adalah "Ya benar Aku" jawab Qorin Nabi Musa. Aku terkejut, malu, segan tak percaya berada di depan salah satu utusan Allah. Nabi Ulul Azmi.


“Wahai Nabi, maafkan kami lancang hendak menemuimu.” Aku tertunduk sangat segan.


“Apa kabar dengan Bumi? Kalian Manusia yang beruntung bisa sampai ke tempat ini. Itu ditandanya keimanan kalian amatlah kuat. Hingga Allah mengizinkan, karena sesungguhnya tiada yang mustahil bagi-Nya.” Qorin Nabi Musa berkata


“Bumi kita dan bumi dahulu, kini sedang mengalami perkembangan zaman, teknologi makin mengalahkan segalanya.” Ujar Shijima yang sama sepertiku. Menundukan kepala.


“Seakan manusia sedang bersaing dengan sang pencipta untuk ikut menciptakan sesuatu.” lanjutnya


“Beberapa kali peradaban? SubhanAllah, aku teringat peristiwa bahtera Nuh” Jawabku sambil menangis dan tersungkur.


“Ya begitulah cucuku, kehancuran perlahan sedang berlangsung, peran iblis mulai terlihat, semua bukan karena ulah siapa, sebab ulah manusia itu sendiri.” Qorin Nabi Musa mengingatkan


“Semoga kami termasuk yang selalu berpasrah akan kehendak-Nya wahai NabiAllah.” Samuel bersenandung harap


“Kami kesini datang menemuimu, bermaksud menanyakan satu hal wahai NabiAllah.” Aku mengungkapkan maksud kedatangan


“Pedang Zulfikar?” Jawab Qorin Nabi Musa


“Iya, benar wahai NabiAllah.” Jawabku


“Inilah Zulfikar.” Qorin Nabi Musa menunjuk batang pohon itu.


“SubhanAllah.” Aku terpana


“Apa benar ini wahai Nabi.” Shijima tak menyangka


“Sesungguhnya tiada mustahil bagi Allah.” Jawab Qorin Nabi Musa.


“Mungkin kisahku telah kalian ketahui, Ramses dan para pengikut kafirnya abadi di neraka, akibat Zulfikar. Sesungguhnya bukanlah pedang untuk menebas atau membunuh. Pakailah Zulfikarku, Lawanlah tangan kanan (Al-Dajjal). Telah banyak Jin, dan Roh Jahat manusia yang menjadi Prajuritnya. Di belahan bumi bagian Timur, Bagian Barat Bagian Selatan, dan Utara, telah berdiri kokoh kerajaan Ghaib. Karena sesungguhnya Akhir jaman di depan mata.”


“Lihatlah padang ini, dahulu amatlah subur, kini mulai melayu. Itulah sesungguhnya pertanda yang nyata, dan Pula Pohon takdir di Lauhul Mahfudz makin lama makin habis daun yang berguguran, dan tak pernah tumbuh lagi. Ingatlah Wahai Pengikut Muhammad, Allah Senantiasa menyayangi hambanya yang taat.” Qorin Nabi Musa bersabda.


“Bagaimana caranya untuk kami bisa memiliki Zulfikar ini?” tanyaku


“Satu di antara kalian telah aku ilhami kekuatan dari Zulfikar. Siapapun dia harus bisa menanggung serta melaksanakan tanggung jawabnya. Peganglah batang Zulfikar itu.” Seru Qorin Nabi Musa


Kami mulai berjalan mendekati Pohon itu, ya pohon yang amat rindang itu ternyata Tongkat milik Nabi Musa AS. Dan aku ingat di dalam hadis banyak disebutkan sebagai Pedang Zulfikar. Senjata para Nabi dan Rasul. Dan itulah Zulfikar Nabi Musa AS.


Keajaiban yang amat luar biasa, Saat giliran tangan saya yang menyentuh batang Zulfikar, yang terjadi adalah seluruh daun yang keseluruhannya adalah Cahaya, gugur dan beterbangan bagai kupu-kupu.


D


ahan-dahan itu bagai permata berwarna kuning, berjatuhan dan menjadi serpihan yang berkilauan di tanah.


Hingga Batang itu pun mengecil dan semakin kecil hingga kini berada di genggamanku. Ya, itulah Zulfikar Nabi Musa. Kini telah ku genggam secara utuh.


“Segala Puji bagi Allah.” Aku tersungkur bersujud dalam waktu yang lama.


Qorin Nabi Musa bekata “Bangkitlah wahai cucuku, Allah tersenyum padamu. Lanjutkanlah tugas kalian. Ketahuilah para Malaikat kini menyertai kalian atas perintah Allah Tuhan semesta alam. Milikilah Zulfikarku, dan seluruh kekuatan maha dahsyat ada di dalam tongkat itu. Sesuai kata hatimu, tongkat itu bisa menjadi segala jenis senjata yang sangat berguna bagimu.” Terang Qorin Nabi Musa


Kami serempak menjawab “Terima kasih Wahai NabiAllah” Memberikan penghormatan terakhir.


“Ini akan menjadi momen yang amat berkesan sepanjang hidupku. Ijin kan kami untuk pamit.”


“Silakan, pejamkan mata kalian. Hitungan ketiga lalu bukalah mata kalian.”


Dalam hitungan ketiga aku membuka mata.


Sungguh pengalaman yang luar biasa, yang tak akan pernah bisa kulupakan. Bertemu dengan salah satu rasul, meskipun seluruh wajahnya tak saya lihat sebab begitu berkilaunya wajah itu, tapi yang jelas, suaranya masih saya rekam dalam ingatan, dan akan selalu saya rindukan.


Dan yang terjadi, kini kami telah sadar, ruangan itu gelap, dan terasa tongkat itu telah berada di pangkuan saya. Seseorang menyalakan lampu di ruangan itu, ternyata itu Abah. Tersenyum bangga melihat ketiga murid terbaiknya.


“Kalian Luar biasa, tahukan berapa lama kalian terjaga dalam meditasi itu?” Abah berseru senang


Saya diikuti Sam melihat jam “12 jam 45 menit Abah.”


“Kalian terjaga selama 6 purnama 23 jam 34 menit. Aku mengira kalian akan gagal.” Jawab Abah bersemangat


“Sungguh, ruangan ini selalu bercahaya kadang terang, redup dan kemudian terang lagi. Dan yang terjadi, Pedang Zulfikar yang banyak disebutkan dalam hadis kini jatuh ketenganmu.” Lihatlah kekuatannya, bahkan seluruh jin setia dari khadam kalian dan seluruh jin setia Abah lari terbirit-birit.” Lanjut abah tersenyum bangga.


“Bahkan Abah tak mampu memegangnya, dahulu Nabi kita Musa AS yang kalian temui tadi, selama dalam menuntun pengikutnya ia selalu memegang Tongkat itu.” tutur Abah


“Banyak Pesan serta bimbingan yang beliau berikan kepada kami Abah.” Jawabku dengan tubuh lemah


“Ya, lalukanlah dengan segenap kemampuan kalian.” Jawab Abah “Aku yakin kalian bisa, tapi untuk kalian ketahui. Peperangan terbesar akan terjadi, ini merupakan tanda kiamat kecil.”


“Mengenai akhir dunia, Nabi Musa juga menyebutkan tak akan lama lagi, sebab dedaunan dari pohon takdir (Lauhul Mahfudz) telah banyak yang berjatuhan dan tak pernah tumbuh lagi.” Sahut Shijima


“Itu sebabnya, hampir setengah dari seluruh jin kafir di dunia ini akan mengikuti perang itu. Dengan pimpinan Shang Ellah si Malaikat kegelapan dan Nagata, Si tangan kanan (Al-Dajjal). Terang Abah


******


Setelah peristiwa itu kami harus mengistiratkan raga kami. Perjalanan lintas alam. Sunguh masih tak dapat ku nalar, namun begitula adanya. Aku bakan menyadari kemudian kami berbicara dengan Nabi Musa AS mengunakan bahasa yang kami biasa ucapkan sehari-hari. Bila menggunakan nalar maka tak akan mampu menjelaskan. Namun bila melihat kebesaran dan kekuasaan Allah. Maka tiada mustahil bagi-Nya