
Tak disangka 12 jam sukmanya pergi. padahal dialam ghaib hanya beberapa menit saja. Abah bangkit dari persemadian melepas jubah ibadahnya. Dan merogoh ponsel miliknya.
“Asslamu allaikum nak.” Abah menelpon
“Waallaikum salam abah, dewi lagi di Surabaya sekarang, kalau gak besok malam atau lusa pagi dewi berangkat ke padepokan. Teman dewi Ada keperluan.” Jawab Dewi menjelaskan
“Iya tidak apa-apa, Abah tahu semuanya kok. Yang Abah lupa bahwa pagar ghaibmu mulai melemah. Abah takut terjadi apa-apa padamu nak.” Abah mengingatkan
“Dewi baik-baik saja kok.”
“Yaudah, sampaikan salam Abah pada temanmu.”
Sesampainya di Surabaya mereka memutuskan untuk beristirahat di rumah teman Dewi.
“Kita langsung ke tempat Samuel malam ini.” Ujar Shijima
”Lebih baik kita hubungi dahulu kontaknya.” Melissa berinisiatif
“Ide bagus.” Shijima menekan tombol nomor di layar
*****
“Halo selama sore.” Shijima menyapa
”Iya selamat sore, dengan siapa saya berbicara.” Samuel menjawab
”Mitsuki.” Shijima terdiam
”Saya tidak sedang bercanda.” Samuel tidak percaya
“Kita terpisah 17 tahun, saya adikmu. Shijima Hiragawa Mitsuki.” Shijima menegaskan
Samuel Terdiam
“apa benar ini kamu? Aku tidak tahu harus mengatakan apa.”
“Aku lagi di Surabaya sekarang, bisa kita bertemu?”
“Iya bisa, jam 8 malam aku tunggu di Halaman Tugu Pahlawan. Kamu tahu kan?” Samuel menatap keluar jendela dari ruangan. Mengepalkan tangannya. Tersirat raut wajah kerinduan
”Iya aku tau. Oke sampai ketemu nanti Brother.” Shijima mengakhiri panggilan
“Gimana responnya jim?” Dewi penasaran
”Jam 8 kita ke Tugu Pahlawan. Antar kita kesana.” Shijima hanya mengatakan poin utama
“Lebih baik kita cari makan dulu deh.” Kim mengsulkan
Tak berselang lama teman dewi pun datang.
“Dewii, hey apa kabar? Kok mendadak gini sih. Ih baru lost kontak beberapa bulan udah gandeng cowok Korea, kenalin dong? Canda Sukma
“Kenalan aja sendiri, mereka bisa bahasa kita kok” dewi bercipika-cipiki dengan cukma
“Ih jadi malu.” wajah Sukma memerah
Kim menyodorkan tangan sambil tersenyum
“Kim Won, Nama kamu siapa?”
“Panggil aja sukma, eh iya saya sukma temannya Dewi.” Sukma memperkenalkan
“Panggil aja Jim” Shijima Sedikit tersenyum dengan mata sipitnya
“Kalo kamu amel, aku tahu kok hehe kita pernah jumpa kan di Jakarta dulu.” Sukma tersenyum melihat kearah mellisa
“Eh iya sampai lupa. Apa kabar?” Melissa lupa-lupa ingat
“Oke gak apa-apa, maaf baru pulang, habis ngelatih tadi.” Sukma menjelaskan
“Kamu melatih apa?” Tanya Melissa
“Kungfu, di Salah satu organisasi beladiri di kota ini. Sebenarnya hanya pemantapan.” Jawab Sukma
“Kapan ajarin kita kungfu” canda kim)
“Tuh mulai kan ngerayunya.” Ucap Melissa
“Gak apa-apa mah kalau yang rayu cowok cakep hihihi” Tawa kecil sukma
“Awas aja yang di Korea ngambek kim” Tegas jim
“hahaha tuh dengar ada yang punya ternyata.”
Dewi tertawa senang
Canda mereka petang itu seakan mencairkan suasana pertama mereka di Surabaya.
Malam itu mereka telah tiba di Halaman Tugu Pahlawan.
Dewi, dan Melissa menaiki mobil milik Sukma. Sedangkan Kim dan Shijima menaiki kuda mereka masing-masing. Dengan mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Membuat mereka berhasil menjadi sorotan kaum wanita di tempat itu. Entah yang nongkrong ataupun yang sedang berduaan dengan pasangan masing-masing.
Setelah menunggu beberapa menit, datang sebuah mobil Fortuner warna gelap. Dari dalam mobil itu turun sosok Lelaki, berpostur tegap, memaki kaos berwarna hitam celana Jeans Loreng dan dengan kacamata hitam terpasang rapi diantara kedua matanya.
“Selamat Malam.” Samuel Melepas kacamata
3 wanita itu, Sukma, Dewi, Melissa sukses dibuat terpana dengan Lelaki itu, tampang yang amat asing, blasteran Jepang Maluku begitu pula dengan Shijima, ia terpaku Sosok gagah inilah yang ia cari selama ini.
Ya dia adalah Kakak kandungnya, generasi terakhir Mitsuki. Setelah kematian ibunya beberapa tahun lalu akibat kecelakaan.
“Samuel Hiragawa Mitsuki.” Shijima memeluk erat sosok gagah itu
“Hehe, ternyata Mitsuki kecilku masih saja cengeng. Hey sudahlah, ternyata takdir itu nyata dan mempertemukan kita.” Samuel menegaskan
“Dan ternyata pula Mitsukiku masih aja tegar seperti dahulu.” Shijima melepas pelukannya
”Bagaimana kabar ibu?” Tanya Samuel
“Ibu telah tiada, 2 tahun lalu, bagaimana kabar ayah kita?” terang Shijima
“Beliau juga sudah meninggal 5 Tahun yang lalu.”
“Dan kita…” Shijima tak meneruskan
“Yang terakhir.” Samuel melengkapi dengan wajah datar
“Terakhir bukan berarti berakhir, tetapi akan menjadi awal yang baru bila kita bisa menghapus sesuatu yang salah dimasa lalu.” Shijima memegang pundak Sam
”hmm, kita pasti bisa.” Samuel tersenyum
Malam itu mereka banyak mengobrol, bertukar cerita sesekali berbagi kisah perjalanan hidup selama 28 tahun terakhir ini.
Shijima semenjak ibunya mengasingkan diri dia diasuh oleh salah satu Clan Ninja ternama di jepang, dan yang pastinya Clan yang dimana ia belajar merupakan Clan ninja resmi bukan Clan untuk melatih menjadi pembunuh bayaran. Setelah memasuki usia 18 tahun, ia mendapat beasiswa sekolah militer angkatan bersenjata jepang.
Saat itu usianya memasuki 19 tahun, Seluruh aset keluarganya, resmi jatuh ke tangannya semenjak kematian Neneknya, Mitsuki merupakan salah satu keluarga saudagar kaya di jepang. Pendahulu keluarga ini merupakan Pelaut dan pedagang yang mengarungi lintas negara. Tak heran jika harta mereka menumpuk dan akhirnya generasi terakhirlah yang mewarisi. 7 tahun Shijima menjalankan pendidikan keras untuk menjadi seorang prajurit handal, tetapi jauh di lubuk hatinya bukan itu yang ia mau. Setelah kelulusannya, ia beralih ke Korea, disana ia mencoba menjalani karier sebagai seorang pedagang internasional, tapi nasibnya pula bukan disitu, dia bertemu dengan Kim secara tak sengaja. Kim adalah teman seperjuangannya dulu, tapi kim berbeda Clan, Clan milik Kim adalah Clan untuk anggota penyergapan, sedangkan ia Clan Pemusnahan. Dimana di Clan miliknya diajarkan semua jurus untuk melumpuhkan tanpa membantai.
“Hah, Jadi kamu seorang Ninja.” Samuel tertawa kecil
“Bukankah aksiku telah kamu tonton haha” Shijima tertawa lepas
“Aku suka Ninja, Jadi teringat Sebuah Film Ninja”
“Judulnya?” Tanya Shijima
“Ninja Assasins, bukankan itu film yang menghebohkan di tahun 2010” jawab Samuel
“Bahkan aku tahu sebagian jurus dalam film itu, tapi hanya sebagian. Sebagian lagi hanya para Master yang mengetahui. Dan butuh 5
tahun lagi. Hehe” Shijima tertawa konyol
“Tapi kamu hebat!” Samuel menepuk pundak jim
“Terus bagaimana dengan kisahmu?” Shijima ingin tahu
Semenjak pesan ayahnya untuk meninggalkan tanah Maluku, Samuel dikirim ke Tanah Jawa tepatnya di Surabaya. Di Surabaya ia diasuh oleh paman jauhnya, bernama Pak Wito, beliau pensiunan Jendral AL.
Sam saat itu menjalani beberapa kegiatan rutin, atas kemauan pamannya tersebut, Ia di sekolahkan di salah satu sekolah didik militer Akmil selama kurang Lebih 4 tahun pendidikan dasar, 2 tahun Pendidikan kopassus, dan 3 tahun pendidikan Kopaska. Di usia muda gelar Sebagai Danton. Komandan peleton. cukup terpandang untuk disebut sebagai Hebat.
“Wah, pasti ibu bangga bila melihatmu.” Shijima tersenyum ria
“Begitu juga ayah akan bangga bila melihatmu.” Kedua kakak-beradik itu saling memuji.
“oh iya, bagaimana rencana kita selanjutnya?” Tanya Shijima pada Melissa dan dewi.
”Apa kamu jadi ke padepokan abah?” Tanya Dewi
“Oh pasti, gimana kalau kita ajak kak sam.” Usul Shijima
“Jika yang bersangkutan minat, kenapa tidak?” Melissa berpendapat
“Apa sih rencana kalian? Kalian tahu sendiri kan aku sibuk.” Samuel mengerutkan kening
“Hey Sam, perang dunia 2 telah berakhir, ayolah, Lepas dinasmu.” Kim membujuk
Shijima melirik kim
“Sepertinya benar kata-katamu, dan akupun tahu maksudmu.” Samuel menyetujui
“Aku bukan bagian dari keluarga kalian, tetapi karena Shijima sahabatku. Aku rela tinggalkan duniaku, aktivitas ku, dan segala ku. Mohon pengertiannya tuan Mitsuki.” Kim merunduk penghormatan ala Jepang
”Sebenarnya aku belum terlalu memahami masalah kalian, tapi keinginanku untuk mengetahui amatlah dalam. Aku selalu mendukung kalian. Di padepokanku, nanti kalian bisa konsultasi pada Abah guru. Aku sedikit paham, lawan kalian bukanlah Makhluk seperti kita, mereka amat jahat.” Dewi panjang lebar menjelaskan
“Hmm, saranku kalian ke Padepokan abahnya dewi, beliau orang terpandang disana.” Sukma menyarankan
“Kami pun siap bila harus membantu kalian.” Melissa tak mau kalah
“Terima kasih, atas perhatian kalian . Oke besok kita bergegas menuju Padepokanmu wi, itu dimana?” Shijima membuatkan tekad
”Tulungagung.” Sahut Dewi
“Deal?” Shijima menatap kearah kerumunan
Serentak menjawabDeal!
Malam ini berjalan begitu cepatnya, tak disangka Shijima berhasil menemukan saudara kandungnya.