
“Jadi, saya berada di alam gaib bu? Di alam jin? Bagaimana bisa, bukanya tadi saya …”
“Buktinya, kamu telah berada di sini” potongnya, dengan nada yang begitu ramah.
“Tapi, mana mungkin? Pasti saya sedang bermimpi atau berhalusinasi, jelas-jelas tadi saya sedang berkendara” protesku belum menerima semua kenyataan ini.
Sepanjang hidup belum pernah aku mengalami hal gaib yang katanya di luar nalar itu, dan warga-warga sipil usil nan jahil legenda di Negara kepulauan ini sebut saja pocong, kuntilanak, tuyul genderuwo dan segala identitas lain dari alam gaib ini. Yang ku yakini bahwa Tuhan itu maha gaib dari segala yang gaib. Dan dipaksa untuk menerima kenyataan yang sangat tiba-tiba seperti ini. Otakku nge-hang.
“Jadi, apa kamu berminat untuk kembali? Bukankah banyak diantara kaum manusia yang ingin bisa datang kemari, bahkan menggunakan berbagai cara yang sesat.” Ungkapnya sambil menuangkan minuman, dan herannya, sedari tadi di meja itu taka da benda apapun. Tapi tiba-tiba ada sebuah kendil dan dua buah gelas.
“yang jelas, tinggallah disini beberapa menit saja” tuturnya sambil mnyuuhkan segelas minuman semacam teh.
Aku ragu, apakah aku harus meminumnya atau tidak. Dan kudengar di cerita internet jika seseorang masuk ke dunia jin maka ia tidak akan bisa kembali pulang, Ah sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Ku teguk minuman itu. Nikmat!. Minuman apa ini. Rasanya tak seperti minuman yang pernah kurasakan di dunia. Akupun sedikit lebih tenang, menerima kenyataan dan mampu untuk mengendaikan diri. Aku butuh penjelasan. Ya. Penjelasan!
“Coba jelaskan bu, tentang alam gaib ini, dunia jin, dan semua kehidupannya” tanyaku penasaran.
“Baiklah nak, sebagai pelarajan buatmu agar mengetahui bahwa alam Jin itu ada!” tegasnya.
“apakah kamu tahu nak, sudah berapa lama kamu berada disini?”
“mungkin sekitar 30 menit-an saya berada disini” jawabku.
“kamu baru menggunakan waktu dua detik di dunia mu nak.” Jawabnya lalu tersenyum.
“loh, kok bisa seperti itu, ini… tidak mungkin” aku sangat terkejut.
“1 detik di sini sama dengan 1000 detik di duniamu nak” mari ikutlah denganku” ajaknya. Aku berdiri patuh dan mengikutinya.
Satu detik di dunia jin berarti sekitar 16 menit di dunia manusia. Satu jam di dunia manusia berarti waktu beralu disini baru sekitar 3 detik! Ini pengetahuan baruku tentang dunia jin!
Aku diajak menapaki anak tangga di dalam rumah yang entah kemana hendak membawaku. Apakah benar aku dicuik jin? apakah aku akan mati disini. Apakah aku tidak bisa kembali. Seketika aku teringat ibu dan adikku di rumah yang mungkin sedang menunggu kepulanganku. Ah, aku hanya bisa pasrah.
Tak lama kemudian nampak wanita itu berhenti di sebuah ruangan.
“Tempat apa ini bu?”
“Ini tempat ibu bertapa dan beribadah pada yang Maha Kuasa” Tuturnya.
“Ibu Muslim? Melaksanakan sholat juga” tanyaku kaget.
Ibu itu tertawa kecil. Menertawakan kepolosanku tentang dunia jin.
“jauh sebelum leluhurmu Adam di ciptakan oleh yang Maha Kuasa, leluhur kami telah lama bersujud dan beribadah nak. Bagi manusia, sholat merupakan tiang agama, tapi bagi kami, keyakinan akan sang Maha Kuasa merupakan suatu anugerah ang tiada tara. Dengan meng-Agung-kan nama-Nya, mngikuti perintahnya serta menjauhi larangan-Nya” jelas bu Asri panjang lebar dan sukses membuatku terpana.
“Lihatlah nak, dari sini kamu bisa melihat semuanya” lanjutnya sambil menunjuk ke arah luar jendela.
Subhanallah, saya baru memahami, bahwa saat ini aku benar-benar berada di alam yang bukan alam manusia. Segala sesuatu yang terlihat tak dapat dicerna dengan akal pikiran. Sebuah daratan yang sangat luas dengan kabut tipis menyelimuti seluruh area. Tidak ada cahaya hanya langit redup seperti mendung akan hujan di sore hari. Kulihat kearah lain beberapa bayangan terbang bebas jauh di bawah sana,sungguh kehidupan alam gaib memang ada. Ku saksikan langsung dengan kepalaku sendiri. Ku cubit lenganku sendiri. Sakit. Ini bukan mimpi!
Saat ini ditempat ku berdiri, aku berada di sebuah tempat tinggi yang dapat menyaksikan keseluruhan tempat dan makhluk yang sedang ber-aktivitas. Seperti berada di sebuah tebing tinggi yang dapat menyaksikan pemandangan hamparan luas dibawahnya namun meskipun jauh, jika ku fokuskan pandangan seolah bisa men-zoom sendiri penglihatan ini. Ah, ini sungguh aneh.
“lihatlah di bawah sana, itu adalah kehidupan bangsa jin. apa kamu melihat diantara mereka ada yang memiliki pancaran merah di dahi mereka?” Tanya bu Asri.
“iya bu saya melihatnya, dan mengapa setiap fisik dari jin sangatlah aneh?”
“pancaran merah itu, berarti mereka adalah jin peliharaan manusia, atau pesuruh manusia yang memiliki ilmu hitam. Kami tak memiliki fisik nak, hanya kami dapat berubah bentuk sesuai keinginan. Dan sosok inilah yang aku inginkan untuk kamu lihat secara batin.” Jelas bu asri.
“benar nak, banyak diantara golongan jin dan syaitan yang ikut campur dalam urusan manusia” terangnya.
Mendengar penjelasan dari bu asri, otak ku langsung mengingat cerita di kampung ku dulu ketika aku masih kanak-kanak, saat itu para wargaa desa ramai membicarakan soal pesugihan. Tentang orang yang mendadak kaya. Namun semua kekayaan itu harus dibayar dengan nyawa. Bahkan ada yang sampai mengorbankan nyawa anak sendiri hanya demi setumpuk kertas tak bernilai. Sungguh biadab dan keji.
Setelah puas melihat keanehan dari jendela tersebut, bu asri mengajakku menuju tangga menuju sebuah pekarangan. Tidak jauh dari pekarangan itu ada sebuah danau… atau bisa dibilang rawa. Danau itu mengeluarkan aroma yang sangat bau dan menyengat. Warna air di rawa itu berwarna merah pekat. Di pinggirannya ada segerombolan anak kecil berlarian. Kuamati leih seksama. Serasa tidak asing lagi dengan sosoknya. Ah, benar. Itu adalah tuyul. Rumornya mereka suka menjadi pesuruh manusia dan mencuri uang dengan bayaran mereka mendapat “air susu dari si istri” yang mempunyai pesugihan.
“kamu pasti tahu siapa mereka” Tanya bu asri memecah lamunanku.
“hehe … sangat familier bu. Mereka yang suka mencuri uang. Apakah benar seperti itu bu? Selidiku.
“Benar nak, biasanya mereka sengaja di cari oleh sebagaian golongan manusia dan dijadikan budak untuk mencari harta kekayaan dengan balasan bisa memberi makan berupa air susu dari istri su tuan tuyul” jelasnya.
“Dan kamu pasti akan terkejut lagi bahwa mereka adalah darah daging manusia yang dilahirkan oleh jin wanita sepertiku” lanjutnya.
“Hah … bagaimana bisa seperti itu bu, apa jin dan manusia bisa …” aku melanjutkan dengan mengunakan isyarat tangan. Bu asri hanya tersenyum melihatku bertingkah konyol.
“Bukan seperti itu nak, mereka adalah janin aborsi para wanita biadab yang melakukan hubungan diluar pernikahan dan juga ****** hasil onani para lelaki yang tak mampu menahan nafsu sahwat mereka” jelasnya.
Kulihat wajah bu asri memerah seolah menunjukan ekspresi murka pada perbuatan keji seperti itu. Aku pun dapat memahaminya bahkan ketika melihat konsekuensi yang dilakukan dari perbuatan keji itu secara nyata. Aku mersakan hal yang sama. Ternyata perbuatan dosa itu dapat membuat efek memperbanyak penduduk dunia jin!
“Astagfirullah, jadi seperti itu bu asal-usul mereka” gumamku. Ini benar-benar sesuatu yang tidak akan ku temui pada cerita cerita di warga kampungku bahkan mungkin di internet.
“oh iya bu, mumpung lagi disini boleh tidak kalau bertanya sesuatu” pintaku.
“silahkan nak, semoga akan jadi pengetahuanmu” jawabnya sambil tersenyum.
“jadi begini bu, saya penasaran apa benar manusia yang tela meninggal duia secara tidak wajar akibat suatu kejadian terentu seperti kecelakan atau pembunuhan, apakah roh mereka akan gentayangan?” tanyaku antusias.
Mungkin aku penasaran karena sering melihat film horror di televisi menunjukan adegan seperti itu.
“Ruh manusia hanya ke alam ini saat mereka bermeditasi atau memeiliki kepentingan tertentu. Ruh dan nyawa memiliki arti yang berbeda.” Terangnya.
Lalu kamu melanjutkan pebicaraan sambil duduk di suatu tempat menjauh dari lokasi tadi kami melihat tuyul.
Dibawah sebuah pohon lebat. Ku taksir sudah berusia ratusan tahun mugkin di dunia manusia, akar nya menyemul keluar dari dalam tanah dan membentuk sebuah bentuk seperti kursi dan meja, sugguh aneh. Ah tapi aku sekarang sudah tak peduli lagi, sudah menjadi hal biasa sekarang bagiku.
“Pada saat kematian, nyawa manusia langsung menuju alam barzakh, jauh di atas alam ini. Dan mereka hanya bisa melihat dunia sewaktu mereka masih hidup selama seribu hari. Setelah itu, mereka tak akan pernah bisa kemana-mana selain di alam barzakh. Hanya manusia yang memiliki perjanjian dengan iblis atau lebih tepatnya yang menjual jiwanya pada iblis. Maka mereka akan menjadi bala tentara iblis dan termasuk dalam golongan Al-maraddah.
Jadi perihal penampakan hantu yang menyerupai manusia meninggal merupakan ulah jin seperti kami nak.” Jelas bu asri panjang lebar kepadaku.
“lalu apa bu asri memiliki keluarga? Apa dilahirkan serta dibesarkan layaknya kami? Tanyaku lagi.
“Nak, tak semua jin dilahirkan. Ada beberapa yang tiba-tiba ada seperti saya salah satunya nak. Semua atas kehendak Tuhan semesta Alam. Saya dulu, sebelum seperti sekarang, tempat tinggalku di kerajaan di tengah samudera, sebuah tempat yang kalian sebut samudera pasifik. Disana saya diasuh oleh keluarga jin muslim dari timur tengah. Sampai akhirnya mereka musnah akibat terkena azab dari Tuhan Yang Maha Esa.
Semakin aku bertanya semakin luas wawasan tentang seluk beluk kehidupan alam jin ini. Dan semakin haus rasa ingin ahu akan dunia jin ini.
“Berati kaum jin juga bisa meninggal bu?” tanganku bersidekap depan dada memusatkan fokus.
“kita sama nak, kamu manusia adalah keturunan adam, sedangkan kami kaum jin, beberapa diantara kami adalah keturunan Azazil atau yang kalian sebut sebagai iblis. Kami semua dapat binasa atas kehendak Yang Maha Kuasa.” Jawabnya dengan tersenyum mengakhiri pembicaraan kami.
“baik bu, sekarang saya memahaminya dan semakin ingin mempelajari lebih jauh tentang dunia jin ini.” Untuk sekarang aku rasa haus ku sudah terpenuhi, aku menarik nafas dalam-dalam menengadahkan pandangan ke atas mengagumi keindahan dan kebesaran ciptaan Sang Pencipta, tanpa sadar aku bergumam "Tuhan betapa Agung nya Engkau".