The Guardian Of Archipelago

The Guardian Of Archipelago
BAB 1



Namaku Iyhan Samudera. Aku hanyalah manusia biasa. Tidak ada yang spesial pada diriku dan kehidupanku. Sampai peristiwa itu terjadi yang akan mengubah seluruh takdir hidup dan pandanganku terhadap dunia ini.


Aku berusia dua puluh tahunan, tinggiku sekitar 170cm, rambutku hitam, ikal, pendek. badanku tegap sedikit berotot. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adik ku seorang perempuan, cantik. masih berada di bangku sekolah menegah atas. Risma namanya. Ibuku adalah bidadariku, pahlawanku. Wanita hebat yang telah membesarkanku dan adikku seorang diri! Ya, ayahku sudah meninggal dunia saat aku masih di bangku sekolah dasar.


Keluargaku bukanlah keluarga kaya raya, terpandang ataupun keluarga ningrat. Hanyalah keluarga sederhana yang saling menyayangi dan mensyukuri setiap nikmat yang telah Tuhan anugerahkan.


Pekerjaanku sebagai seorang awak kapal. memiliki pengalaman bertahun-tahun di laut, meski usiaku terbilang muda namun aku telah mengarungi berbagai lautan di dunia.


Orang sering bilang bahwa di lautan itu merupakan tempat tinggal makhluk yang disebut “Djin”. Entitas makhluk gaib tak kasat mata yang senang sekali di dengar ceritanya oleh manusia, terlebih di Negara ini, kental dengan nuansa magis dan supranaturalnya. Entahlah apakah itu hanya mitos belaka atau memang benar adanya, akupun tak pernah menjumpainya.


Tetapi semua itu terjawab di saat aku berlabuh dari pelayaranku dalam perjalanan pulang menuju rumah. Meski setiap hari aku selalu melalui jalan pulang yang sama setiap kali aku pulang selama bertahun tahun tetap saja ketika takdir sudah dituliskan maka tentu pasti terjadi.


Semua hal yang berkaitan dengan makhluk halus, jin, dunia ghaib, dan semua rahasianya akan di temui dalam waktu yang tidak lama lagi.


. ....


Di malam yang cerah setelah pulang dari pelayaran, langit dihiasi oleh gemerlap bintang-bintang yang bersinar begitu terang, seperti berlian yang tersebar di atas kanvas hitam yang dalam.


Bulan, bulat dan penuh, mengambang dengan anggun di tengah langit, menerangi tanah di bawahnya dengan cahaya lembutnya. Suara angin sepoi-sepoi menyusup perlahan, memberikan rasa sejuk yang menyegarkan.


Di saat seperti ini, ketenangan alam semesta meresapi jiwa, mengingatkan kita akan keindahan yang tersembunyi di antara rutinitas sehari-hari, dan menawarkan momen-momen damai yang begitu berharga.


Dalam perjalanan pulang malam itu, aku mengendarai sepeda motor kesayanganku, meski sudah tua dan usang, sudah seperti sahabat saja, selalu setia menemani hari-hari ku dalam suka dan duka.


Cukup jauh perjalanan menuju rumahku, memakan waktu sekitar satu jam setengah. Setelah berkendara selama satu jam, jalanan yang ku lalui memasuki daerah padang rumput yang terhampar luas di kiri-kanan jalan. Ku pandang keindahan yang disajikan alam ini dalam damai.


Terlihat beberapa ekor sapi sedang makan rerumputan dengan lahapnya. “hufft… dasar sapi, malam-malam begini masih saja makan dengan lahapnya. Kena penyakit diabetes baru tahu rasa.” Gerutuku.


“eh memangnya sapi punya penyakit diabetes?” akupun tertawa memikirkannya. Aku tak sadar seharusnya sapi tidak makan malam hari apalagi di padang rumput yang luas begini. Memangnya siapa yang menggembala sapi malam-malam begini. Terlebih jam sebelas malam!


Kembali pandangan ku fokuskan ke jalan di depan. Perlahan turun kabut tipis mulai meyelimuti.


“semakin lama kok menjadi semakin tebal ya?” gumamku dalam hati.


Akupun tak berfikir macam-macam. Mungkin asap dari pembakaran rumput warga, pikirku. Lagi. Akupun tak sadar siapa warga yang membakar rumput tengah malam begini.


Motor terus ku pacu, tak ku gubris asap yang menghalangi pandanganku. Penglihatan dalam kabut tebal seperti ini hanya berjarak tiga meter.


Tiba-tiba di depanku terdapat sebuah gapura besar dengan corak aneh yan sama sekali tak ku mengerti.


“Loh… sejak kapan di jalan ini dibangun gapura?” Kecepatan motor kulajukan perlahan. Kuperhatikan, terdapat aksara pada gapura besar di depan. Seperti aksara Jawa. Kuberhentikan motor sejenak. Memandang penuh heran pada gapura di depan. “apa aku salah jalan ya?”


Suasana malam begitu hening, bahkan tak ku dengar satupun binantang malam, aneh. Kutengok ke kanan kiri, memang terasa berbeda dari jalan yang biasanya kulewati, kabut yang menghalangi jalan pun masih saja tak mau pergi, kegelapan malam yang tak biasa, Sungguh aneh.


Dari kejauhan, Nampak sebuah obor perlahan mendekat. Tibalah di depanku seorang wanita paruh baya memakai pakaian khas jawa dengan susuk sirih di mulutnya.


“Dari mana Le?” Tanya wanita itu dengan mulut masih mengnyah sirih.


“malam ini kok sepi sekali ya Mbah, tidak terlihat kendaraan sama sekali?” tanyaku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


“kamu tinggal di Gubuk Progo ya Le?” Tanya si mbah, dan aku tak mengenali daerah yang disebutkan tersebut.


“Gubug Progo?” tanyaku heran.


“Iya Le, memang kamu dari mana tadi, dan kendaraan apa yang kamu maksud?” Tanya si mbah sambil celingukan kanan kiri seperti mencari sesuatu.


“Loh mbah, bukannya ini daerah Aimas ya?


“Aimas?” ini perbatasan Le, desa Guug Progo arah selatan dan kamu dari arah Tanjung Gersang” si Mbah menerangkan sambil menunjuk kea rah selatan.


Keningku seketika mengkerut, sama sekali tak mengenali daerah yang disebut si mbah ini. Aku semakin bingung dan cemas. Lantas dimana sekarang aku berada? Yang kulihat hanya hamparan padang rumput yang diselimuti kabut dengan cahaya redup.


“Gebenarnya kamu dari golongan apa Le?” Tanya si mbah menyelidiki.


“Golongan?” tanyaku terkejut.


“Maksud mbah golongan partai atau ormas begitu?” akupun semakin tak tahu kemana arah pembicaraan ini.


“Bukan Le, nampaknya kamu bukan dari golongan jin. Pulanlah Le. Ini bukan alammu” terang si mbah dengan nada takut.


Mendengar penjelasan si mbah akupun seketika Linglung, tak dapat menerima kenyataan seperti ini. “Mana mungkin bisa terjadi seperti itu di dunia?” Batinku memprotes keras.


“Loh mbah, saya di alam jin? Ini… tidak mungkin. Tadi saya sedang berkendara mau pulang. Bagaimana ini bisa terjadi?” cecarku pada si mbah, ini benar-benar tidak masuk akal.


“Tenang le, ayo ikut mbah, jangan disini. Nanti serdadu Marad mengetahuimu dan menghakimi ketidaksengajaanmu ini” ajak si mbah menuntunku ke sebuah gubuk yang semenjak tadi tak kulihat keberadaannya.


Otakku pun masih mencoba untuk berfikis logis. “ah mungkin karena kabut tebal tadi yang menghalangi pandangan”


Mungkin ini rumah si mbah. Terlihat sangat sederhana dank has pedesaan. Terbuat dari kayu dan bamboo yang sudah tua dan keropos. Di kelilingi oleh pohon-pohon rindang. Entahlah pohon apa itu aku tak peduli. Yang penting sekarang aku harus segera pulang.


Ketika aku melangkah masuk kedalam rumah si mbah, sontak mataku membesar seperti akan terlepas. Mulutku menganga lebar, kalau dimasukan sebutir telur mungkin akan masuk. Bagaimana tidak. Ini sungguh aneh bin ajaib. Sangat tidak mungkin. Seperti masuk ke dunia lain. Di dalam rumah ini tak seperti apa yang dibayangkan diluar rumah, ruangannya sangat mewah, dan megah. Banyak sekali guci-guci mewah dengan hiasan kaligrafi yang sangat indah! Aku sama sekali tak dapat menemukan pemikiran logis tentang bagaimana caranya.


Aku pun duduk di salah satu kursi di ruangan itu. Sangat empuk dan nyaman. Entah dari bahan apa. Aku celingukan mencari si mbah.


Tak lama datang seorang wanita berselendang dengan rambut hitam di sanggul. Wanita itu mengenakan pakaian kebaya khas adat jawa. Ku taksir mungkin usianya sekitar tiga puluh tahunan.


“si mbah kemana bu?” Tanyaku penasaran. Ku panggil saja dengan sebutan ibu untuk menghormatinya dan lebih tua dari usiaku.


“Perkenalkan saya Mayang Asri” jelasnya sembari tersenyum ceria.


“dan sosok wanita tua yang kamu temui tadi adalah saya. Saya adalah kaum jin dari golongan Al-ghawwashun. Selamat datang di dunia kami nak” lanjutnya, dan ia duduk di depanku. Dengan senyum ramahnya.


Alamak! Seseorang tolong bangunkan aku dari mimpi ini.