
Jauh di seberang lintas alam. Terjadi perdebatan hebat antara beberapa panglima Iblis pulau Morotai.
Iblis 1 : Bukankah sudah kubilang, kita bukan mencari masalah dengan penghuni pulau itu.
Iblis 2 : Maafkan anak buahku yang ceroboh, tapi bukankah jika peperangan yang mereka mau mengapa kita menolak.
Iblis 1 : Kalian semua tahu tidak? Mereka semua Umat Putra Abdullah.
Iblis 3 : Muhammad.
Iblis 2 : Ya, yang setiap saat selalu bertasbih di bawah langit ke 7
Iblis 4 : Bahkan Raja kita, tak mampu mengalahkannya.
Iblis 2 : Hahaha, kita tidak akan melawan Muhammad, tetapi para pengikutnya.
Iblis 3 : Bukankah banyak laporan dari pasukan iblis tanah seberang, korban mereka banyak yang ke Neraka adalah umat Muhammad? Itu tandanya banyak diantara mereka yang tidak taat.
Iblis 1 : Al-Dajjal sudah pernah berkata, peperangan terbesar belum saatnya. Jangan kalian bertindak tanpa perintah.
Iblis 4 : Shang Ellah akan murka bila kita ingkar. Bila Seharusnya terjadi, kenapa tidak kita haruskan untuk terjadi.
Iblis 2 : Lawan kita hanyalah makhluk yang terbuat dari tanah. Nanti akan aku serukan semua jin di negeri ini untuk menjadi sekutu.
Terdengar bunyi Halilintar yang cukup menggelegar..
Malaikat kegelapan : Apa yang kalian rencana kan?
Iblis 3 : Bukan urusanmu. Pergilah ke neraka
Malaikat kegelapan : Bukankah Neraka sesungguhnya tempatmu kembali, dan kekal di dalamnya.
Iblis 1 : Siapakah kamu, Sepertinya kau bangsa Malaikat.
Iblis 2 : Apa keperluanmu menemui kami?
Malaikat Kegelapan : 77 Malaikat pengintai sedang mendengarkan percakapan kalian. Sebaiknya hentikan rencana kalian. Jika pemberontakan terjadi, yang aku khawatirkan, seluruh Roh para Rijalul ghaib akan ikut menghadapi.
Iblis 1 : dengan kamu berkata seperti itu apa kau bisa membuat kami takut? Hahaha takut bukanlah watak kami wahai malaikat.
Malaikat kegelapan : Tahukah kalian wahai Iblis laknatullah, Allah senantiasa ada di dekat hambanya yang taat.
Seketika Lenyap bersama sambaran halilintar..
Iblis 3 : Kita butuh bala tentara yang besar bila perkataannya tadi adalah benar.
Iblis 1 : dan mungkin seluruh prajurit Jin di laut mati akan aku serukan untuk membantu. Disana ada beberapa kerajaan jin yang tersohor.
Iblis 4 : Apa kalian lupa dengan Anubis?
Iblis 1 : Raja iblis Mesir.?
Iblis 3 : dialah Iblis terkuat disana?
Iblis 2 : Bagaimana dengan Dark Monteina ?
Iblis 1 : Raja Iblis Persia. Manusia yang dikutuk menjadi iblis. tapi sayangnya. Dia dirantai jauh di dalam perut Himalaya.
Iblis 4 : Ya, dengan kekuatan yang ia miliki. Ia
bisa membangkitkan Orgs, nenek moyang Para Jin dari utara.
Iblis 1 : Aku akan ke Neraka, dan akan kembali membawa beberapa tetuah Manusia Kafir. Kita butuh mereka untuk menjadi umpan. Dan akan ku tiupkan ribuan roh jin jahat ke jasad mereka.
Iblis 3 : Jika kita masih butuh personil tentara, kita bisa meminta bantuan pada pasukan jin di padang pasir Mesir. Disana mereka di pimpin oleh Salah satu Iblis dari Neraka Jahanam. Amoer pembunuh terlatih dari Neraka.
*******
Kendaraan mereka melaju dengan kecepatan maksimal. Hingga waktu menjelang tengah malam mereka telah tiba di depan Gapura "Selamat Datang Di Kabupaten Tulungagung". itu menjadi penyambutan pertama kedatangan mereka malam ini.
Malam itu terasa dingin, hembusan angin malam sepoi, ditambah nyiur bau khas pedesaan membuat kental suasana kuno.
Desa dewi terbilang masih jauh belum terlalu mengenal modernisasi.
Setelah memasuki jalan setapak yang hanya bisa dilewati 1 kendaraan roda 4, mereka menemui gapura kecil bertuliskan "Padepokan Aji Langit" di dalamnya terdapat 1 buah Aula berukuran sedang, 2 Rumah asli adat Jawa timur, lapangan yang tak begitu luas yang di pagari Hutan belantara, dan sebuah Musholla.
Samuel hanya mengangguk, sepertinya dia sedang menahan kantuk, setelah memarkirkan mobilnya, diikuti dengan Kim dan Shijima.
Keluar seorang paruh baya memakai pakaian putih, dengan sorban di kepala.
“Asslamu allaikum Abah.” Dewi mencium tangan abahnya)
”Waalaikum salam nak. Sepertinya kalian Lelah, ayo silakan masuk.” Abah mempersilahkan
Beberapa saat ketika mereka sedang berjalan terdengar bunyi daun pepohonan bergoyang secara misterius. anehnya malam itu sedang tak ada angin.
“Itu suara apa?” Samuel terkejut
“Hehe biasa penghuni sini ingin melihat orang baru. Dan kalian bukan orang sembarangan. Ayoo masuk. (Mempersilahkan masuk) maaf tempat di desa ya seperti ini.” Ujar Abah
“Terima kasih paman, ini Lebih dari cukup.” Shijima mengangguk khas jepang.
“Kalian kalau ingin istirahat, silakan kamar sudah Abah siapin. Oh iya dewi, tadi umi ke kediri. Katanya ada acara disana selama 2 hari.” Abah menjelaskan
“Iya Abah. Hari ini libur dalam rangka apa abah?” Tanya Dewi
”Dalam rangka menyambut kedatangan kamu dan tamu kita” Abah tersenyum dengan mata sipitnya
“Kendaraan kita di luar aman kan paman?” Kim khawatir
Abah tertawa kecil
“hehe, tenang saja. Kalaupun hilang, sekelip mata bisa kembali lagi kok.”
“Iya paman.” Kim tersenyum malu
“Sepertinya ada yang mengetuk pintu.” Melissa menyelidik
“Tidak usah dibuka, sosok di sini agak usil terhadap orang baru. Jika 1 kali ketukan baru kalian bisa buka, kalaupun Lebih 1 kali. Sebaiknya jangan, kalian belum siap. Mereka tidak jahat, jin di tempat Abah semua jin putih, tapi untuk melihat mereka untuk saat ini kalian belum siap. tahu tidak tadi wujud apa yang sedang mengintai kalian di pepohonan itu.” Abah menjelaskan
“Apa bah?” Samuel penasaran
”Dia penjaga pagar ghaib padepokan ini. Sosok Genderuwo, tapi udah aku Islam kan. Dia jin paling taat di golongannya. Bahkan tingginya hampir menyamai pepohonan itu.” Abah tersenyum menjelaskan
”Aku tak mengerti yang paman maksud.” Terlihat raut lelah di wajah kim
"Besok baru kita bahas lagi ya. Sekarang semua istirahat." Ucap Abah
*******
Pagi itu udara terasa sejuk, untuk pertama kalinya Shijima dan Kim mendengarkan suara Adzan Subuh dengan begitu jelasnya. Ya karena Letak rumah yang mereka tempati tepat di samping sebuah Musholla milik Abah.
“Merdu sekali Suara itu” Gumam Kim
“Hey Kim, udah bangun. Itu kalau mau mandi, Airnya sudah penuh. di sini kalau pagi airnya Dingin dan segar. Buruan mandi.” Dewi berteriak dari ruang tengah
“Iya wi, eh kamu mau kemana. Kok pakaian kamu beda.” Kim beranjak keluar kamar
“Aku mau sembahyang Subuh dulu kim.” Dewi menjawab sambil berjalan
“Oh iya wi.” Kim mengerti
Segera kim merapikan tempat tidurnya, tak lupa pula ia bangunkan 2 Mitsuki yang masih bersembunyi dibalik selimut. Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi, suasana pagi di pedesaan amatlah berbeda, yang mereka alami selama ini bila pagi hari adalah aktivitas sibuk manusia yang berlomba mengumpulkan harta duniawi. Tetapi di desa ini berbeda. Suasana Lengah, seolah harta dunia tak begitu penting di sini. semua serba apa adanya.
”Dewi, Abah mana?” Tanya Samuel
“Mungkin masih di Saungnya.” Jawab Dewi
“Kim, tumben tadi kamu bangun Lebih awal.” Melissa mengangkat alis
“Karena suara merdu itu aku terbangun mel.”
“Oh, itu Suara Adzan. Dan selalu di serukan 5 kali dalam sehari. Itu merupakan seruan untuk melaksanakan ibadah sholat.” Dewi menjelaskan
“Hm ya…” Shijima mengangguk
“Kegiatan kita apa hari ini.” Tanya Samuel
“Kita tunggu Abah aja ya.” Dewi hanya menunggu intrusi dari abah