The Greatest God

The Greatest God
Palsu



Shin mengobati para penduduk yang terluka oleh serangan mayat hidup.


Dengan terbatasnya energi mana yang dia miliki, Shin berusaha menghentikan luka secepat yang dia bisa.


Jika luka akibat serangan mayat hidup itu dibiarkan terlalu lama, maka bisa berakibat fatal.


Parasit dari mayat hidup itu akan berpindah pada luka manusia, bergerak menyerang otak hingga orang yang terluka akan berakhir menjadi mayat hidup.


Sedangkan Kai melawan para mayat hidup yang mendekat ke arah Khun. Agar Khun bisa lebih fokus bertarung dengan Khema.


Walaupun sepertinya Khun dapat mengalahkan mereka semua sendirian. Setidaknya Kai ingin sedikit membantu.


Melihat bagaimana level mereka bertarung, Kai tak berani masuk menengahi. Dia memilih membantu dari jauh.


Satu kali Khun menggerakan tangannya tak hanya membuat para mayat hidup itu mundur. Bahkan Khema juga dibuat terpojok dan harus menghindarinya dengan terbang ke udara.


Khema terus menerus membangkitkan ratusan mayat hidup dan Khun juga terus menerus berhasil mengalahkan mereka dengan mudah.


Khun bahkan membuat mayat hidup itu tak dapat bangkit lagi setelah mengalahkannya. Kini desa sudah seperti bukit mayat hidup dibuatnya.


Khema menggeram marah melihat Khun tersenyum meremehkannya.


"Hanya itu kemampuanmu?"


"Aggggggkkkkkkk!!!!"


Khema merentangkan kedua tangannya membuat langit semakin gelap. Angin juga bertiup kencang saat dari arah utara sekumpulan mayat hidup terbang menuju desa.


Khun melebarkan telapak tangannya. Mengeluarkan mana dan membuat para mayat hidup itu terpental dengan mudah bahkan sebelum mendekat ke arahnya.


Banyaknya dari mereka tak dapat menyentuh Khun sama sekali. Manusia ini seperti memiliki energi mana yang tak terbatas. Padahal Khema yang setara dewa sudah mulai kehabisan banyak mana.


Semua serangannya tak mempan. Mananya banyak terbuang sia-sia.


Merasa jengah karena Khema hanya menjadi pengecut di atas sana, Khun mengeluarkan busur dari balik lengan bajunya.


Kai terpaku bahkan Khun mahir menggunakan panah. Tanpa menunggu lama dia mengunci bidikannya dan anak panah yang dia lepaskan berhasil mengenai lengan Khema.


Khema menatap remeh anak panah yang meleset mengenai lengannya.


Tidak, Khun bukannya meleset. Kai melihat Khun tersenyum saat behasil membidik. Dia memang sengaja membidik lengan, bukan daerah lainnya.


Khema mencabut paksa panah itu. Mematahkan anak panah menjadi dua bagian dan melemparnya di depan Khun sebagai penghinaan.


Kesenangan Khema berakhir di sini. Senyumnya hilang saat merasakan ada yang aneh terjadi bada tubuhnya.


Sialnya ternyata anak panah itu bukan anak panah biasa. Entah apa yang Khun berikan pada ujung anak panahnya, apapun itu berhasil membuat Khema menjerit kesakitan.


Rasanya seperti terkena racun mematikan yang terus menggerogoti tubuhnya. Sekujur lengan Khema terlihat membiru kehitaman. Otot-otot lengannya menghitam seperti akar yang menjalar.


Semakin dia bergerak maka lebam itu semakin menyebar ke seluruh tubuhnya. Khema jatuh ke tanah dan dia terus merintih kesakitan.


Khema tak dapat mengimbangi Khun di darat, dan bahkan sekarang dia berhasil dikalahkan saat di udara.


Terlebih lagi Khun tak terlihat berusaha saat melawannya. Membuatnya mundur selangkah saja dia tak mampu. Benar-benar penghinaan terbesar baginya.


"Sialan! Kau menambahkan racun pada anak panahmu, eh?!"


Khun tersenyum licik. Selain lemah, ternyata iblis yang satu ini juga bodoh.


"Racun? Kenapa harus racun? Racun tidak akan mempan terhadap iblis. Aku hanya mengalirkan sedikit manaku di ujungnya."


Khun tahu bahwa mana miliknya akan menolak jika digabungkan dengan mana siapapun.


Jadi jika seseorang berniat menyerap paksa mana miliknya maka semua akan sia-sia. Yang ada mana itu akan bereaksi seperti racun. Menolak untuk bergabung.


Tentu saja hal ini tidak berlaku pada Shin. Entah bagaimana bisa, bahkan Khun saja terkejut mananya dapat berdamai dengan mana milik Shin.


Shin keluar dari lingkaran pelindung setelah semua luka penduduk berhasil diobati. Semuanya terbaring pingsan karena proses penyembuhannya memang sedikit menyakitkan. Tergantung sebesar apa luka yang mereka miliki.


Khun menghampiri Shin. Sudah seperti hal biasa Khun mengulurkan tangannya, mentransfer energi mana pada Shin yang telah kehilangan begitu banyak mana untuk mengobati penduduk.


"Kau bisa menangkapnya sekarang. Kurung dia dalam kendi. "


Shin menghampiri Khema yang merintih kesakitan di tanah. Saat Khema akan meraih tangan Shin, tebasan pedang Khun lebih dulu membuat tangan itu lenyap.


"Tolong ampuni aku, aku bukan Dewa Khema. Aku palsu, tolong ampuni aku. Aku hanya seorang pesuruh."


"Apa yang kau tunggu? tidak ingin menangkapnya?" tanya Khun lagi saat Shin hanya menatap Khema lekat.


Shin mengeluarkan guci putih dari lengan bajunya. Menatapnya sebentar dan beralih menatap Khun.


"Dia bukan Dewa Khema."


Wajah polos Shin membuat Khun semakin tak habis pikir.


"Kau percaya padanya?"


"Ya, dia berkata jujur. Bukankah begitu Kai?"


Mendengar itu Kai segera memberi hormat kepada Shin dan Khun. Kai percaya kedua orang yang berdiri di depannya bukanlah manusia biasa.


Jelas Shin dan Khun adalah dewa. Dengan melihat ukiran yang terdapat pada permukaan guci, Kai bisa mengenali darimana asal guci itu.


"Apa maksudnya?"


Khun tak mengerti. Dia hanya mengikuti ke mana Shin pergi selama berada di desa. Dia tak berniat mendengar kisah segala versi yang diceritakan penduduk.


Yang Khun tahu, dia berada di sini hanya untuk menangkap iblis tingkat enam dan sepertinya sedikit bersenang-senang.


"Kai adalah Dewa Khema yang sebenarnya," jelas Shin.


Khun menatap Shin tak percaya. Jika dari awal dia tahu kalau Khema adalah Kai kenapa dia tak segera menangkapnya saja. Dia jadi merasa sedikit bodoh.


"Jadi dia palsu?"


Khun menggerakan ujung bilah pedangnya ke arah leher Khema palsu yang masih merintih kesakitan.


"Tolong ampuni saya tuan, saya hanya pesuruh. tolong ampuni saya, tolong."


"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?"


"Sakit tuan, tubuh saya sakit."


Tubuh Khema palsu semakin melenting karena mana Khun yang berada di tubuhnya sudah menyebar sempurna.


Seluruh kulitnya terlihat seperti dijalari akar hitam. Bahkan bola mata sekalipun ikut menghitam.


Jengah mendengar Khema palsu terus mengeluh kesakitan. Khun menarik keluar mananya dari Khema palsu.


"Akkkkkkkk!!!"


Khema palsu berteriak kesakitan saat mana Khun berhasil keluar dari tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya jatuh pingsan bahkan sebelum proses akhirnya selesai.


"Dasar tidak berguna!"


Khun mencoba menebas leher Khema palsu.


"Jangan bunuh Khun, jangan bunuh dia, " pinta Shin membuat Khun menghentikan gerakan pedangnya.


Khun menatap Shin sejenak, ragu. Menyerah, dia memasukan pedangnya lagi. Merapal beberapa mantra dan Khema palsu berubah menjadi sebuah batu kerikil berwarna hijau gelap.


Khun memungutnya, melemparnya pelan ke udara. Memainkan sebentar batu itu.


"Mungkin kau akan berguna." Khun menyimpan kerikil itu di lengan bajunya.


Khun menghampiri Kai dan Shin. Shin membantu Kai untuk berdiri.


"Jadi, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


Kai terdiam. Dia menundukkan kepala merasa bersalah.