The Greatest God

The Greatest God
Hantu Pencuri



Zayin meraba tempat di mana dia tidur. Dia juga mencari ke semak dekat tempatnya berbaring. Takut jika kendi itu menggelinding dan jatuh ke semak-semak.


Tidak ada. Hasilnya nihil. Kendi itu tak ketemu di mana pun.


"Mereka bergerak cukup lambat. Sepertinya kita masih bisa mengejar mereka," ucap Khun tiba-tiba.


"Mereka siapa?" tanya Shin bingung.


"Siapa lagi kalau bukan si pencuri."


"Jadi kendi itu dicuri? Bagaimana ini? Maafkan aku. Aku tidak menjaganya dengan baik."


Zayin berhambur ke arah Shin, memeluknya sambil menangis.


"Hiks... Bagaimana ini hiks... Bagaimana jika Shin tidak bisa kembali ke langit karena kecerobohanku hiks..."


Shin mengelus punggung Zayin penuh perhatian. "Sudah, sudah. Semua akan baik-baik saja. Kamu tenang saja. Kita akan menemukan kendi itu."


"Khun apa kamu tahu siapa kira-kira yang mengambil kendinya?"


"Tidak. Tapi aku tahu di mana kendi itu dibawa. Kita pergi sekarang. Sepertinya mereka berencana untuk menghancurkan kendi itu."


oOo


"Ini tuan," seorang hantu dengan wajah tertutup kain menyerahkan sebuah kendi kecil putih kepada pimpinannya.


Belum sampai pemimpin hantu itu menerima kendi, tapi dia sudah bisa merasakan besarnya energi mana yang tersimpan di dalam kendi.


Dia jadi ragu apakah bisa menghancurkan kendi ini.


Pemimpin hantu itu mengeluarkan botol kecil berisi api biru yang diberikan oleh tuannya khusus untuk menghancurkan kendi ini.


Apakah mungkin api sekecil ini dapat menghancurkan pusaka yang memiliki energi mana begitu besar?


Pemimpin hantu menepis keraguannya. Tidak mungkin tuannya memberikan perintah asal. Apalagi disaat kondisi marah seperti kemarin.


Merasa yakin dengan apa yang tuannya perintahkan, pemimpin hantu membuka tutup botol itu dan melemparkannya pada kendi yang baru dia curi.


oOo


"Tempat apa ini?" tanya Zayin saat Khun berhenti di depan gua yang mirip seperti tempat persembahan ini.


Mereka belum masuk dan masih mengamati gua dari balik semak-semak.


"Aku juga tidak tahu, mereka membawa kendi itu kemari. Menunduk!"


Refleks mereka bertiga menunduk. Ternyata ada seseorang yang lewat dan masuk ke dalam gua sambil membawa obor sebagai penerangan.


Khun merasakan ada sesuatu yang mengganjal dari di pencuri. Dia merasakan ada hawa lain yang dia kenal ada di dalam gua.


Pastinya hawa lain itu bukan pertanda baik.


"Kita harus bergegas masuk ke dalam, bagaimana pun caranya," jelas Shin pada keduanya.


"Tapi kenapa kau yakin kendi itu berada di sini?" tanya Shin penasaran.


"Aku sudah menandai kendi itu. Jadi aku bisa melacak keberadaannya untuk berjaga-jaga jika hal seperti ini terjadi."


"Sejak kapan?" tanya Shin bingung. Dia selalu memegang kendi itu setiap hari dan tak pernah tahu kapan Khun memberikan tandanya.


"Sejak aku pertama kali meminjam kendi itu darimu."


Khun semakin cemas saat melihat api biru menyala membakar gua itu. Ternyata dugaannya benar. Pencuri itu membawa api abadi. Tapi bagaimana bisa?


Api abadi merupakan api purba yang sudah lama punah. Miliknya merupakan satu-satunya api abadi yang tersisa.


Dari awal Khun memang sudah menduga cepat atau lambat pencurian ini pasti akan terjadi. Hanya saja dia cukup terkejut saat si pencuri bisa memiliki api abadi sama seperti dirinya.


"Kalian tetap di sini. Jika api ini semakin besar maka lari menjauh. Bagaimanapun caranya jangan sampai api ini berhasil menyentuh kalian," ucap Khun sebelum masuk ke dalam kobaran api.


oOo