The Greatest God

The Greatest God
Labirin Ilusi



Tunggu dulu, jadi sedari tadi Khun sudah tahu bahwa Hera tengah mempermainkan mereka? Dan dia diam begitu saja? Pantas saja dia disebut iblis paling bengis. Nyatanya memang seperti itu.


oOo


Hera tersenyum mengejek ke arah mereka bertiga. Memang diantara 7 iblis, Hera merupakan iblis dengan nyali terbesar.


Walaupun keahliannya dan energi mananya tidak begitu besar, tapi dia salah satu dewa yang terus berulah di langit.


Bahkan alasannya diturunkan pun karena ulahnya sendiri. Dia mengaku sangat bosan berada di langit dan lebih memilih alam bawah yang lebih bebas.


"Jangan harap kalian bisa menangkapku. Aku tidak akan pernah kembali ke tempat membosankan itu," ucap Hera sebelum menghilang pergi.


Khun melemparkan bilah pedangnya tapi tak berhasil menangkap Hera.


Khun mengarahkan pedangnya ke langit. Benar saja. Belum sampai pedang itu terbang tinggi, tapi benda itu sudah terpental lagi ke bawah seperti membentur sesuatu.


Sepertinya tempat ini masih berada dalam belenggu labirin milik Hera.


"Apa kita terkurung disini? Apa yang harus kita lakukan? Kemana perginya iblis kurang ajar itu? Hera! Cepat keluar. Jangan beraninya kau bersembunyi!" Zayin berteriak lantang ke sembarang arah.


"Hahahaha... Jadilah mainanku sebentar saja. Aku akan melepaskan kalian jika sudah bosan," ucap Hera menggema di dalam hutan.


"Sialan kau!" maki Zayin.


Zayin beberapa kali menerbangkan pedangnya ke sembarang arah. Tapi berulang kali gagal dan terpantul kembali ke arahnya.


Khun hanya menggeleng kepala melihat kebodohan Zayin. Padahal Zayin sudah melihat Khun gagal menghancurkannya tadi. Kalaupun Khun tak bisa, bagaimana bisa Zayin berpikir untuk menghancurkan dengan energi mana miliknya.


Khun mendekati sebuah batang pohon. Menyentuh pohon itu sambil mengalirkan energi mananya. Menyerap kandungan air pada pohon untuk dijadikan air minum.


Setidaknya pohon-pohon ini asli, bukan hanya ilusi. Jadi mereka masih bisa bertahan dan mencari jalan keluar.


"Kau haus?" tanya Khun pada Shin sambil memberikan air yang dia ambil dari menyerap pohon.


"Terimakasih." Shin menerima sekantong air dari Khun, tak lupa membagikannya juga pada Zayin.


Khun manarik bilah pedangnya lagi. Memotong pohon yang sudah kering itu menjadi beberapa bagian.


Mereka tak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Setidaknya cadangan air dan api unggun sudah bisa diatasi.


Siang ini begitu terik. Entah karena ilusi labirin Hera atau memang cuaca memang sangat panas. Diluar itu tak ada yang ganjil. Tak ada mayat hidup yang berkeliaran disini.


Zayin masih belum menyerah untuk mengikis lapisan atas. Walaupun sudah tak terhitung banyaknya kegagalan, dia masih belum lelah juga.


"Apa tidak apa-apa kita membiarkannya seperti itu?" tanya Shin akhirnya.


"Kau saja yang menegurnya. Aku sedang malas menanggapi kebodohannya," balas Khun sambil berbaring memejamkan mata di bawah pohon rindang.


Shin hanya menggeleng kepala kemudian menghampiri Zayin yang masih sibuk di bawah terik matahari.


Khun melirik sekilas keduanya. Entah apa yang Shin katakan kepada iblis bodoh itu. Tapi kini Zayin berjalan ke arahnya dengan wajah marah.


"Kau iblis sialan! Apa kau ingin terus duduk bersantai disini tanpa melakukan apapun? Kau ingin kita selamanya terperangkap dalam ilusi Hera," kesal Zayin.


"Tutup mulutmu jika kau tak ingin kehabisan energi," jawab Khun masih dengan posisi berbaringnya.


"Apa labirin ini juga menyerap energi mana kita?"


"Kau baru menyadarinya? Dasar bodoh."


"Sssttt... Diam sebentar. Kau merusak konsentrasiku. Diam sebentar dan biarkan Hera bosan. Semua yang kau lakukan hanya membuatnya semakin bersemangat."


Dengan raut wajah kesal Zayin menghempaskan diri di bawah pohon tempat Khun berbaring. Shin juga ikut duduk di sebelahnya.


"Apa yang sebenarnya dia lakukan? Dia hanya bermalas-malasan sejak tadi," tanya Zayin berbisik ke telinga Shin.


Shin menggeleng pelan, menandakan dia tak tahu juga.


"Diam."


Zayin mencibilkan bibirnya kesal mendengar nada perintah dari Khun, walaupun setelah itu dia menurut untuk diam.


Sebenarnya Khun tidak hanya sekedar berbaring. Dia sedang merasakan getaran energi mana yang dicuri darinya.


Setelah mereka berkumpul, aliran energi mana itu lebih mudah dirasakan arahnya.


Karena dari awal Hera selalu bersembunyi di dalam pohon. Khun sempat mengira dia bersembunyi juga di dalam pohon.


Sayangnya Khun sudah memeriksa semua pohon dan tidak ada satupun pohon yang menyerap energi mana mereka.


Energi ini hanya terus mengalir jauh ke dalam tanah. Kemungkinan Hera tidak sedang berada dalam labirin ilusi ini, melainkan sedang berada diluar ilusi dan terus menyerap energi mana mereka.


Yang berarti bukan labirin, melainkan Hera yang menyerap energi mana mereka dari luar kubah.


Karena sejak tadi Zayin terus menyerang berbagai arah dan tak berhasil membuat celah sedikitpun, jelas labirin ilusi ini dibuat dengan mana yang melimpah.


Kemungkinan Hera mengambil energi mana mereka dan mentransfer energi itu untuk memperkuat pertahanan labirin. Dengan kata lain mereka sedang melawan energi mana mereka sendiri.


Dan kemungkinan tempat Hera berada merupakan lapisan paling rapuh dari kubah ini. Karena dia menggunakannya sebagai jalan keluarnya energi. Tentu dia tidak akan melapisinya terlalu banyak.


"Baik. Ketemu," lirih Khun kemudian bangkit dari tidurnya.


"Apa? Kau kehilangan sesuatu?" tanya Zayin heran.


Tidak banyak bicara, Zayin dan Shin ikut berdiri menatap Khun yang berjalan masuk ke balik pohon. Mengepalkan tinjunya dan tiba-tiba memukul dataran tanah dibalik semak-semak sekeras mungkin.


Benar saja. Retakan dari tanah menjalar pada balik semak dan kubah ilusi itupun hancur. Dibaliknya terlihat Hera yang terpukul mundur oleh besarnya hantaman energi dari Khun.


"Hebat! Hebat sekali! Akhirnya ada yang mengetahui kelemahan labirinku."


"Bukan kelemahan. Hanya kau saja yang bodoh dan serakah. Jika kau tak serakah mengambil energi mana kita, mungkin kita tak akan bisa keluar secepat ini."


"Atau bukan serakah? Hanya kau yang tak becus membuat labirin dan mengambil energi mana milik orang lain?" ejek Khun.


Hera tampak kesal dengan ucapan Khun pun geram. Awan yang tadinya terik berubah menjadi mendung dengan angin yang berputar marah.


Puluhan mayat hidup telah dihidupkan dan mulai menyerang mereka.


"Zayin kau urus mayat-mayat jelek ini. Aku ada urusan lain. Jangan bilang energimu sudah lenyap. Shin ikut denganku."


"Jangan sombong! Lihat saja siapa yang lebih lama bertahan."


Zayin satu per satu menumbangkan para mayat hidup. Menghalangi mereka untuk mengejar Khun dan Shin yang tengah mengejar Hera.


Walaupun benar apa yang dikatakan Khun. Energi mananya banyak yang sudah diserap. Tapi Zayin tak ingin kalah. Dia tidak akan membiarkan Khun kembali sambil mengejeknya lemah.


oOo