
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan yang dipimpin oleh Khun.
Zayin terpaksa menerima pilihan Shin itu. Padahal dia berharap Shin yang memimpin dalam kelompok kecil mereka.
Beruntung Khun tak sering berlagak layaknya pemimpin sombong. Meskipun begitu, tak sekali dua kali Khun meninggalkan Zayin seperti dia tak pernah ada dan ikut dengan mereka.
Menyebalkan memang, tapi setidaknya itu lebih baik daripada jadi pesuruh Khun.
Puluhan kali Shin hanya bisa menghela nafas melihat keduanya berdebat. Setidaknya mereka masih menuruti apa katanya.
Shin tersenyum melihat kedua temannya yang lagi-lagi berdebat hanya karena masalah ranting pohon. Menyumpahi satu sama lain. Tak ada yang mau mengalah.
"Apa ada yang lucu? kenapa kau tertawa?" tanya Khun heran mendengar kekehan kecil dari Shin yang berjalan di belakangnya.
"Tidak. Hanya kupikir sebagai teman, kalian terlihat sangat akrab satu sama lain."
"Omong kosong! Siapa yang sudi berteman dengannya," bantah Zayin tak terima.
"Aku yang seharusnya bicara seperti itu."
"Demi dewa agung, kau benar-benar ya. Sebenarnya darimana sifat sombongmu itu berasal."
"Apa? Sombong? aku hanya berbicara fakta."
Zayin menyingsingkan lengan bajunya kesal, "tidak bisa dibiarkan. Ayo lawan aku."
Khun tersenyum mengejek melihat tingkah konyol Zayin. Heran, apa dewa agung lupa menambahkan otak saat menciptakannya?
Seorang Khun yang mampu membuat para hantu lenyap hanya dengan melihat energi mana miliknya, tidak akan mau berkelahi dengan iblis tingkat rendah seperti Zayin.
Dia berjalan melewati Zayin begitu saja, padahal pemuda itu sudah sangat siyap untuk menerima serangannya.
"Kau! Kau benar-benar meremehkanku!"
"Diam!" gertak Khun.
Zayin semakin mendidih dibuatnya. Iblis sombong ini tak bisa dibiarkan, pikirnya.
Sampai kapan dia harus terus mengalah dan diam dengan kesombongannya?
"Zayin, coba diam sebentar."
Mulut Zayin refleks menutup saat Shin yang menyuruhnya diam. Amarahnya mereda, lenyap begitu saja saat tiba-tiba suasana menjadi hening dan serius.
"Apa kau mendengarnya?" tanya Khun pada Shin.
Shin mengangguk. Baru detik itu Zayin sadar dan merasakan kehadiran mayat hidup yang mungkin tak jauh dari tempat mereka berada.
Iblis gila mana yang membuat mayat hidup berkeliaran disiang hari seperti sekarang.
Apa para iblis itu senang mempermainkan manusia seperti lelucon? Dasar kekanakan.
Setelah berjalan beberapa meter jauh ke depan, mereka melihat dua pendekar tengah membasmi beberapa mayat hidup.
Mereka tampak kesulitan dengan banyaknya mayat hidup yang mengepung mereka.
"Mari kita bantu."
Ucapan Shin disetujui oleh keduanya. Awalnya kedua pendekar itu cukup terkejut dengan kedatangan mereka, tapi setelah sadar bahwa mereka merupakan bala bantuan, keduanya pun merasa bersyukur.
Puluhan mayat hidup akhirnya berhasil dibasmi lebih cepat. Tak hanya membasmi, bahkan Khun menggunakan beberapa energi mana untuk mengunci para mayat hidup ke dalam bumi sehingga mereka tak dapat bangkit lagi.
Teknik yang sulit dan menguras banyak energi mana. Tentu kedua pendekar itu tahu bahwa bantuan yang mereka terima bukan dari orang sembarangan.
"Kami sangat berterima kasih kepada tuan-tuan yang telah membantu. Terima kasih banyak."
"Tidak perlu sungkan, kami hanya kebetulan lewat, " balas Shin tersenyum ramah kepada kedua pendekar yang terlihat masih muda, tapi entah kenapa wajah mereka begitu lelah.
"Perkenalkan saya Shen dan kedua teman saya Khun, juga Zayin."
"Saya Kai dan ini adik saya Kane."
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa para mayat hidup itu menyerang disiang hari seperti ini."
"Ceritanya panjang, mari ikut kami ke desa. Tempat ini masih belum aman untuk kita mengobrol."
"Benar. Takutnya para mayat hidup itu berdatangan lagi, " tambah Kane.
Shin menatap kedua temannya meminta izin. Jelas keduanya tak akan menolak jika itu permintaan Shin. Toh mereka bersama untuk mengikutinya.
Kedua pendekar itupun menuntun ketiganya keluar dari hutan sebelum mayat hidup lain menemukan keberadaan mereka.
...oOo...
Shin terdiam sejenak menatap desa dari luar. Sungguh miris untuk dilihat. Suasananya sangat suram dan tertutup kabut.
Saat memasuki desa Shin melihat para orang tua terlihat tengah berladang menanam umbi-umbian di pekarangan rumah.
Shin tersenyum mencoba menyapa mereka. Mereka hanya menatap Shin dan yang lain dengan wajah sayu.
"Percayalah, mereka tidak setua seperti kelihatannya. Umur mereka tak jauh berbeda dari kami," jelas Kai pada Shin yang berjalan di sebelahnya.
"Lewat sini."
Belum sempat Shin bertanya, tapi Kai sudah membawa mereka ke rumah yang merupakan bangunan paling besar di desa ini.
Lagi-lagi Shin kembali dibuat iba. Di dalam sudah ada beberapa orang tua yang terbaring sakit.
Kai dan Kane mengeluarkan dedaunan dari dalam tas mereka. Menempatkan semuanya pada satu wadah dan menumbuk jadi satu.
"Desa kami dikutuk," jawab Kane sendu.
"Penduduk asli desa ini dikutuk menjadi tua renta dan jika mereka bekerja sedikit saja maka mereka akan mudah jatuh sakit," jelas Kai.
"Tapi jika kami tidak berkebun, maka kita semua tidak akan bisa bertahan hidup."
"Benar. Desa ini dikelilingi oleh para mayat hidup. Kami saja tidak bisa melawan mereka semua, apalagi penduduk desa yang lain."
"Kami hanya bisa membantu menjaga mereka dan masuk ke hutan mencari pasokan obat-obatan dan beberapa bahan makanan," jelas Kai dan Kane.
"Apa hanya kalian berdua pendekar di desa ini?" tanya Zayin.
"Hanya tersisa kami berdua."
"Maaf," sesal Zayin.
"Tidak masalah. Kami bahkan sudah tak lagi bisa bersedih. Kami hanya berusaha untuk tetap bertahan hidup dan melindungi keluarga kami."
"Jadi, bagaimana bisa kalian masih terlihat awet muda? Apa kalian bukan asli penduduk desa ini?" tanya Zayin penasaran.
"Karena kami memiliki energi mana."
"Beberapa pemuda di sini telah belajar mengembangkan energi mana dari seorang pendekar yang tengah berkelana hingga sampai ke desa kami. Jika mana kami tak lagi tersisa, maka kami juga tak akan jauh berbeda dari mereka," jelas Kane.
Shin menatap wanita paruh baya yang perlahan menyaring perasan air dari dedaunan yang sebelumnya ditumbuk tadi.
"Siapa dan bagaimana desa ini bisa dikutuk?" tanya Shin pada Kai yang berada disebelahnya.
"Sebenarnya ratusan tahun yang lalu, desa ini pernah memiliki kuil yang digunakan untuk menyembah Dewa Khema."
"Semuanya sangat tentram hingga ada wabah penyakit yang diderita warga desa. Entah bagaimana bisa, para warga menyalahkan dewa Khema atas terjadinya wabah. Hingga dewa pun murka dan mengutuk desa ini."
Shin menghampiri wanita paruh baya yang telah selesai membuat obat untuk yang lain.
"Bisakah aku meminjamnya sebentar?"
Wanita itu menatap Kai hingga pemuda itu mengangguk mengizinkan.
Shin mengusap permukaan mangkuk besar itu. Wanita yang masih berdiri di sebelah mangkuk menatap takjub saat ramuan itu menimbulkan riak pelan padahal Shin sama sekali tak mengentuhnya.
Tak hanya wanita pembuat ramuan, bahkan beberapa orang di sana juga sadar dengan apa yang Shin lakukan.
Mereka bisa melihat Shin mengalirkan beberapa energi mana pada ramuan itu.
"Silahkan berikan obat ini pada mereka."
Wanita itu mengangguk paham. Bergegas memberikan masing-masing gelas kecil pada beberapa orang yang tengah terbaring.
Seperti sihir. Para orang tua yang tengah terbaring kembali kepada umur mereka masing-masing. Bahkan mereka juga bisa bangkit dan merasa sehat.
Obat ini berhasil menggagalkan kutukannya. Kai menatap Shin tak percaya.
Awalnya Kai sangat takjub pada Khun. Karena besarnya energi mana yang dia miliki. Bahkan Kai merasa saat ini Khun masih menahan beberapa energi yang dia sembunyikan.
Kai bisa menebaknya saat melihat Khun mengeluarkan energi mana yang cukup besar tanpa merasa kesulitan sedikitpun.
Siapa sangka ternyata orang yang memiliki energi mana paling lemah di antara ketiganya bahkan bisa membuatnya lebih terkejut.
Kai bergegas meminta Kane untuk mengumpulkan warga desa lain agar bisa meminum ramuan obat yang tersisa.
"Khun, bisa aku meminta bantuanmu?" tanya Shin pada Khun yang berdiri diam dari tadi.
"Kenapa harus bertanya?" Khun mulai mendekat ke arah Shin.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Zayin yang juga ingin melakukan sesuatu.
Jelas dia tidak ingin kalah dari Khun.
"Kamu bisa disini membantu Kane dan yang lainnya. Pastikan semua warga meminum obatnya."
"Siap."
Zayin berlari mengejar Kane yang telah pergi terlebih dahulu.
"Kai, aku ingin pergi ke sungai yang kita lalui sebelum ke desa tadi, bisa kamu bawa kita ke sana?"
"Tentu."
...oOo...
Shin menyebrangi jembatan yang menghubungkan desa dan hutan.
Dia meminta Khun untuk menggenggam tangannya. Mengalirkan beberapa energi mana melalui tangannya.
Energi mana Shin tak banyak yang tersisa setelah memberikan beberapa pada ramuan obat tadi.
Shin membuat sebuah kubah dari energi mana yang diberikan Khun untuk menutupi sebagian sungai dan keseluruhan desa.
Membuat sebuah pelindung yang dapat dilalui oleh manusia tetapi dibuat khusus agar menahan para mayat hidup untuk masuk.
"Dengan begini para mayat hidup itu tidak akan bisa lagi masuk ke dalam desa."
"Terimakasih... terimakasih banyak. Terimakasih. "
Kai terus mengulang kata terimakasih hingga dia tersedu. Akhirnya desa ini memiliki harapan.
#