
Khun masih penasaran dengan pemilik api abadi yang membakar gua. Anehnya lagi Shin tidak terpengaruh sama sekali dengan api tersebut.
Hal itu hanya bisa terjadi karena dua kemungkinan. Pertama Shin memang kebal dengan api abadi. Yang kedua, api itu milik Khun.
Karena Khun sudah membuat api abadi miliknya agar tidak melukai Shin. Jadi jika api itu diambil dari miliknya, maka sudah jelas bahwa api itu tidak akan melukai Shin.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Shin menghampiri Khun. Dia ikut duduk di tepi tempat makan sambil meminum arak.
Jangan tanyakan keberadaan Zayin. Iblis itu masih tak perduli dengan sekitar. Dia masih fokus mengisi perutnya agar melembung.
"Ada yang ingin aku coba. Ikutlah denganku sebentar."
Khun manarik pergi Shin. Meninggalkan Zayin yang masih sibuk dengan kaki sapi miliknya.
Khun membawa Shin ke samping area rumah makan. Dia melihat sekitar jika ada orang. Pasalnya ini masih pagi dan seharusnya jam sibuk para penduduk desa dalam melakukan aktivitas.
Khun menjentikkan jarinya hingga keluar api biru miliknya. Dia merapalkan mantra pemisah dan mengulurkan api itu pada Shin.
"Coba kau sentuh api ini sebentar saja."
Shin menurut. Dia memajukan jarinya dan api itu kini menjalar kejarinya dan membuatnya terbakar.
"Akhh..."
Khun buru-buru melenyapkan api itu dan menyembuhkan jari Shin yang terkena api.
"Apa sakit sekali?" tanya Khun khawatir.
Bohong jika Shin mengatakan tidak karena rasanya sangat sakit sekali.
"Jariku terasa perih dan sedikit mati rasa pada beberapa bagian."
"Maafkan aku."
Shin menggeleng pertanda bukan masalah.
Khun menelungkupkan kedua telapak tangannya pada jari Shin. Menyalurkan lebih banyak mana agar Shin tak menderita kesakitan lebih lama lagi.
"Shin! Khun! Kalian di mana? Kenapa pergi meninggalkanku?"
Khun dan Shin saling melirik dan tersenyum. Keduanya melupakan anak kecil itu. Pasti dia akan merengek sekarang.
"Kami di sini," balas Shin melambai ke arah Zayin.
"Di mana?" Zayin masih mencoba mencari-cari.
Seharusnya mereka mudah ditemukan. Mengingat energi mana milik Khun yang berlimpah ruah seperti monster.
Masalahnya adalah Khun juga bisa menekan energi mananya agar tak terlihat dan para iblis maupun dewa tidak akan bisa merasakan keberadaannya.
"Di sini!" teriak Shin lebih keras.
Zayin berlari menghampiri keduanya. Sampai dia tak sadar ada orang yang lewat di depannya.
"Aduh." Keduanya jatuh saling menimpa karena bertubrukan sangat keras.
Badan Zayin tepat berada di atas orang malang yang telah dia tubruk.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Shin khawatir yang akhirnya membuat Zayin tersadar bahwa dia telah menimpa seseorang.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak sengaja dan terlalu ceroboh."
Zayin membantu pria itu bangun dan mengecek kalau-kalau ada luka pada tubuh pria yang dia tabrak.
"Tidak, saya tidak apa-apa. Tuan tak perlu khawatir."
Zayin bernafas lega mendengar jawaban dari pria di depannya.
"Kalau boleh tahu apakah kalian pendatang baru? Karena sepertinya saya baru pertama kali melihat tuan-tuan."
"Jangan terlalu sungkan pada kami, sepertinya kita seumuran. Namaku Zayin," ucap Zayin sambil menjabat tangan pria itu.
"Benar kami memang pendatang. Kami baru sampai pagi tadi untuk mampir dan beristirahat. Nama saya Shin dan ini teman saya Khun."
"Nama saya Alta, saya adalah kepala desa di sini."
"Benarkah? Kau terlihat sangat muda bagi seorang kepala desa," nilai Zayin tak percaya.
"Terimakasih. Saya anggap itu sebagai pujian."
"Benar juga, bisakah saya bertanya. Apakah ada tempat menginap di desa ini. Kami sudah mencari dan bertanya ke beberapa warga, tapi mereka mengatakan tidak ada penginapan di sini. Kami berencana akan menginap beberapa hari," jelas Shin.
Mengingat Alta seorang kepala desa, tentu dia lebih hafal tempat dan orang-orang dari desanya.
"Di desa ini memang tidak ada penginapan, karena di sini pun tidak ada tempat rekreasi atau tempat umum lain yang membuat orang dari desa lain akan menginap. Tapi jika tuan-tuan berkenan, tuan-tuan bisa tinggal sementara di tempat saya."
"Benarkah? Apa kami nantinya tidak akan merepotkan?" tanya Khun kemudian.
Alta menatap Khun sebentar. Khun yang sedari tadi diam akhirnya bersuara juga.
Alta tersenyum ramah. "Tentu saja tidak. Saya sangat senang bisa membantu. Mari ikut saya."
"Terimakasih, maaf harus merepotkan."
"Tidak, tidak. Saya sama sekali tidak merasa di repotkan."
Mereka bertiga akhirnya mengikuti Alta pergi menuju tempat tinggalnya.
oOo