
"Shin kembali. Dia sudah kembali."
Sebenarnya tanpa Zayin berteriak pun Khun bisa melihat Shin turun bersama kedua iblis di belakangnya.
Khun ikut senang Shin berhasil bernegosiasi dengan mereka, tapi kenapa Shin belum masukkan mereka ke dalam kendi.
"Ternyata kau pemiliknya.Kau memiliki teman yang luar biasa" ucap Genta pada Shin saat melihat betapa besarnya energi mana yang Khun miliki dengan mata kepalanya sendiri.
Khun hanya tersenyum sedikit kepada keduanya.
"Apa kau pemilik api abadi?" tanya Genta penasaran.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Khun hanya menjentikkan jarinya dan muncul api kecil berwarna biru dari ujung jarinya.
Genta dan Gema menatap api itu takjub. Mereka ingin mendekat tapi ada rasa sedikit takut.
Takut api kecil itu akan membakar mereka tanpa sisa. Sungguh kekuatan yang menakjubkan.
Beruntung mereka tidak melawan Khun tadi. Tapi sepertinya seru juga jika memang harus melawannya. Pasti lebih seru dari apa yang selalu mereka lakukan bersama.
"Padamkan, cepat padamkan.." ucap Zayin panik.
Jantungnya masih belum terbiasa harus melihat wujud api itu sebanyak 2 kali dalam sehari.
Prasangka buruk jika api itu lompat ke tubuhnya benar-benar mimpi buruk yang tak ingin dia bayangkan.
Ingatkan Zayin untuk tidak membuat Khun marah lagi. Dia tidak ingin jadi iblis panggang.
"Kau adalah Zayin, dewa penjaga langit ketujuh?" ucap Gema saat baru menyadari keberadaan Zayin.
"Sudah tidak lagi. Aku hanyalah iblis penghuni alam bawah sama seperti kalian."
Gema dan Genta mengangguk mengerti. Ternyata Zayin juga ikut bersama mereka. Sungguh formasi yang aneh untuk dilihat.
"Jadi, tunjukan pada kami metode bertarung yang kau bilang lebih efisien itu."
"Oh benar, sebentar."
Shin berjalan ke sana dan kemari entah mencari apa. Ternyata dia memungngut bebatuan kecil yang kemudian dia bawa kepada Gema dan Genta.
Shin membagikan masing-masing 3 biji batu pada mereka. Dia menggambar 9 kotak ditanah menggunakan ranting pohon dan kemudian menyuruh yang lain untuk duduk.
"Ini adalah pertandingan tanpa harus mengeluarkan energi dan tentu saja pasti akan ada satu pemenang."
"Caranya kalian akan bergantian menaruh batu pada setiap kotak. Pemain yang pertama membuat formasi garis lurus menggunakan batunya akan menjadi pemenangnya."
Mata keduanya berbinar cerah. Mereka sangat antusias memainkan batu di tangan mereka dengan khidmat tanpa perkelahian.
Pemandangan ini membuat Shin jauh lebih nyaman. Dia mengeluarkan kendi di tangan kiri. Dan dua jari kanan di depan mulut. Sambil mengucap mantra dan kedua iblis itu berhasil masuk ke dalam kendi dalam keadaan bermain.
oOo
Langit sudah begitu gelap. Zayin sudah tertidur sambil memeluk kendi putih yang sekarang sudah seperti rutinitas baginya.
Khun menambah kayu pada api unggun karena malam ini entah kenapa terasa lebih dingin.
Shin duduk di sebelah Khun. Dia masih belum mengantuk padahal dia cukup lelah setelah melewati dua hal besar sekaligus dalam sehari.
Shin manatap Khun sambil tersenyum. Bukankah dengan keberadaan Khun di sisinya seperti hadiah yang Dewa berikan untuknya?
"Hmm? Apa?" tanya Khun saat Shin terus menatap ke arahnya.
"Terimakasih. Aku bisa melewati hari berat ini terasa seperti sebuah keajaiban. Dan semua ini berkat bantuan kalian."
"Hmm," dehem Khun sambil tersenyum.
Khun tak tahu apa yang harus dikatakan jika mendengar Shin mengatakan terimakasih kepadanya seperti tadi.
Kenyataannya, dirinyalah yang selalu merasa bersyukur dengan kehadiran Shin dalam hidupnya. Bahkan Khun merasa Shin adalah penyelamatnya.
Sejak hari dimana Shin melepaskannya dari belenggu, Khun sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Shin selama sisa hidupnya.
Sayangnya Khun merasa gagal menepati janjinya saat Shin harus dihukum untuknya.
Berulang kali dia terus menerobos dan melakukan berbagai cara agar pintu itu dapat terbuka, tapi nyatanya tak ada kemajuan.
Bahkan raja iblis sampai harus bertarung dengannya hingga ratusan tahun lamanya, hanya untuk menahannya mengamuk di langit.
Mengingat kejadian ratusan tahun yang lalu, mengingat bagaimana dia terus mengamuk. Khun tak pernah membayangkan dirinya bisa duduk damai dengan Shin seperti sekarang.
Khun manatap Shin yang terlihat sangat tertarik dengan api unggun di depannya. Raut wajahnya seperti memikirkan sesuatu yang mengganggunya.
"Apa yang membuatmu gusar?" Tanya Khun akhirnya.
Shin hanya tersenyum pasrah. Apakah wajahnya begitu mudah ditebak sampai Khun selalu bisa memahami isi kepalanya.
"Aku hanya penasaran," ucap Shin dengan suara lirih.
"Hmm, tanyakan saja," balas Khun lembut.
"Apakah kau membuat api unggun ini dengan api milikmu juga?"
Khun tersenyum lembut. "Tentu saja tidak, mereka tidak akan suka digunakan untuk hal sepele."
"Mereka? Apa api itu hidup?"
Khun mengangguk. Dia menjentikkan jarinya hingga api biru kecil keluar dari ujung jarinya seperti tadi sore.
"Berikan telapak tanganmu padaku," pinta Khun.
Tanpa ragu Shin memberikan telapak tangan kanannya pada Khun. Khun meraih tangan Shin dan memindahkan api di ujung jarinya pada telapak tangan Shin.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Shin tak yakin saat menerima api itu. Bagaimana jika api ini hilang kendali saat berada di tangannya.
"Hmm.. aku tak akan membiarkan mereka melukaimu."
Mata Shin berbinar merasakan hangatnya api biru kecil itu di telapak tangannya. Dan benar apa kata Khun, api itu tak melukainya sama sekali.
Mereka meliuk-liuk sedikit menari karena diterpa angin malam.
"Mereka hangat dan lembut, seperti..."
"Seperti hewan peliharaan?"
Shin mengangguk. Matanya tak lepas dari api kecil yang kini dia jaga dengan kedua telapak tangannya. Seolah takut jika api kecil itu akan jatuh dan terluka.
"Mereka memang memiliki sifat seperti hewan buas. Mereka akan menurut dan patuh pada orang yang bisa mengalahkannya. Konsep yang mudah, tapi sulit untuk diterapkan."
"Apa mengalahkan mereka sesulit itu?"
"Mengingat bagaimana aku hampir kehilangan nyawa, kurasa iya."
"Kamu bahkan hampir kehilangan nyawa?" Shin menatap Khun tak percaya. Kenapa dia harus melakukan itu jika taruhannya saja nyawa.
"Bukankah hal itu sepadan? Apalagi api ini juga membuat pemiliknya abadi. Lagipula mereka sudah punah dan ini yang terakhir, jadi memiliki mereka benar-benar menguntungkan."
Shin semakin senang saat api biru kecil itu seperti bermain di atas telapak tangannya. Siapa sangka api kecil ini bisa menjadi sangat berbahaya.
Shin mengembalikan api kecil itu pada Khun. Ada rasa takut jika api itu akan hilang kendali jika tak lagi bersama tuannya.
Srek srek srek
Shin menatap Zayin yang terbangun dan terlihat gusar.
"Kamu terbangun? Apa kami membangunkanmu?"
Dengan wajah pucat Zayin menatap Shin tanpa berani melirik ke arah Khun.
"Ada apa?!" tegas Khun merasa ada yang tak beres.
"Kendi... Kendi-nya hilang."
oOo