The Greatest God

The Greatest God
Kakak Laki-laki



Pria gagah itu menundukkan kepalanya sedikit memberi hormat ke arah Shin.


"Nama saya Daleth. Hamba memberi salam kepada yang mulia. "


Semakin Daleth mendekat semakin Zayin menyembunyikan dirinya di belakang Shin. Entah kenapa Zayin sangat ketakutan melihat Daleth di depannya.


"Apa maumu?" tanya Khun meninggikan suara pada Daleth.


Shin mendekati Khun untuk menurunkan pedangnya. "Dia hanya ingin bicara. Kenapa kamu membesar-besarkannya?"


"Maaf yang mulia, keberadaan saya di sini hanya untuk menyerahkan diri."


"Kau pikir kami percaya!"


"Khun... "


Khun mundur selangkah saat Shin mulai menegurnya. Jelas Shin tak suka jika segala sesuatunya dilakukan dengan kekerasan.


"Saya tidak bermaksud untuk berniat jahat. Jika yang mulia masih belum percaya, yang mulia bisa bertanya pada Zayin."


Zayin mengumpat dalam diam di belakang Shin saat Daleth menyebutkan namanya. Zayin tersenyum kikuk melihat Shin berbalik meminta penjelasan padanya.


Ingin rasanya Zayin mengumpati Daleth detik itu juga, tapi bagaimana dia melakukannya. Dia tidak bisa berkata jujur sekarang, tapi di sisi lain dia tak ingin berbohong pada Shin.


Shin tahu Zayin sedang ketakutan sekarang. Apapun itu, Shin ingin mendengarnya sendiri dari Zayin.


"Aku tidak akan marah."


Zayin hampir menangis saat mendengarnya. Benar juga. Apa yang dia takutkan? Zayin sama sekali tak pernah melihat Shin marah. Bahkan Shin selalu menjadi orang yang pemaaf.


Pasti kali ini dia akan termaafkan juga, kan?


"Maafkan aku telah berbohong selama ini. Sebenarnya aku adalah salah satu iblis,"


"Dan dia adalah peliharaan yang selalu mengikutiku kemanapun," tunjuk Zayin pada Daleth.


Daleth tersenyum melihat bagaimana Zayin mengatainya, karena pada kenyataannya memang seperti itu. Entah itu di langit, bumi atau di manapun, Daleth memang selalu mengikuti jejak Zayin.


Daleth hanya takut Zayin bisa cepat mati jika tanpa dirinya. Sahabatnya ini terlalu lugu dalam hal apapun. Dia tak ingin kehilangan sosok sahabat terlalu cepat.


Zayin hampir menangis saat mengatakan kebenarannya. Dia bahkan tak berani menatap Shin sekarang.


Zayin memilih memalingkan wajah. Zayin melototi Daleth saat melihatnya tersenyum ramah tanpa merasa berdosa.


Sebenarnya apa yang dipikirkan Daleth sampai dia mau menyerahkan diri. Jika semuanya demi melindungi Zayin, jelas ini hanya sia-sia.


Sekarang bahkan semua kebohongan Zayin telah terbongkar. Bukannya dia akan dimasukkan ke kendi juga?


"Bukan hanya aku dia juga seorang iblis. Iblis tingkat satu yang sangat jahat," tunjuk Zayin pada Khun. Sedang yang ditunjuk tak merasa keberatan sama sekali.


Jika memang harus masuk ke dalam kendi, Zayin ingin membawa Khun juga.


"Maaf, tapi sebenarnya aku sudah tahu."


Shin tersenyum ke arah Khun, sedang yang ditatap membuang wajahnya canggung.


Zayin hanya bisa melongo kaget. Jadi selama ini Shin sudah tahu dan berpura-pura tidak tahu apapun. Jadi sebenarnya dirinyalah yang dibohongi.


"Kau sudah tahu tapi tidak mengatakan apapun?"


"Aku sangat berterimakasih kalian telah menolongku selama ini dan juga aku mencoba menghormati keputusan kalian jika ingin merahasiakan kebenarannya."


"Kau... kau tak keberatan kita para iblis mengikutimu? apalagi dia?" tunjuk Zayin pada Khun yang kini hanya diam di sana.


"Dia iblis tingkat satu, dia yang paling jahat," lanjut Zayin.


"Sejak kapan tingkatan iblis berubah menjadi seperti itu? Lagi pula siapa bilang aku iblis tingkat satu, eh?"


"Kau... tingkat dua?" Zayin bertanya tak yakin.


"Bukankah sudah jelas? dilihat dari manapun beliau ini Aresh, " jawab Daleth yang membuat Zayin terkejut. Dia membentuk mulutnya menjadi O besar.


"Bahkan dia saja tahu. Otak dangkalmu benar-benar parah."


"Benar. Itu alasan saya selalu mengikutinya. Bisa-bisa anak ini diculik hantu hanya dengan iming-iming permen gula."


"Sudah kalian berdua. Sampai kapan kalian terus menggodanya?"


"Jadi apa kamu yakin ingin bersama kami?" Shin kembali ke topik pembicaraan mereka.


Melihat Daleth mengangguk mantap, Zayin memelas ke arah Shin. Dia tak rela temannya harus dikurung ke dalam kendi.


"Aku akan baik-baik saja," ucap Daleth menenangkan Zayin.


"Jangan besar kepala dulu. Aku tidak mengkhawatirkanmu, " Zayin mencoba mengelak.


"Saya tidak ingin menjadi penghambat. Lagi pula mereka berdua sudah cukup untuk menemani dalam perjalanan."


"Baik jika itu keinginanmu. "


Shin mengeluarkan kendinya tapi di tahan oleh Zayin. Zayin tersenyum dan menggenggam tangan Zayin yang menahannya.


"Dengarkan aku. Kendi ini bukanlah penjara. Benda ini dibuat nyaman seperti di rumah. Kamu tidak perlu khawatir. Dan juga Daleth bukannya terpenjara. Dia bisa keluar kapanpun yang dia inginkan."


"Apa kau yakin?" tanya Zayin pada Daleth. Daleth menjawabnya dengan anggukan kecil, yakin.


"Keberadaanmu dan Tuan Aresh sudah cukup untuk menjaga yang mulia."


Akhirnya Zayin mundur mempersilahkan Shin untuk melakukan apa yang diminta Daleth.


Daleth tersenyum ke arah Zayin, "jaga dirimu, " ucap Daleth sebelum dia masuk ke dapam kendi.


Zayin membalasnya dengan senyuman tipis. "Dasar bodoh, " balasnya lirih.


Zayin teringat bagaimana dulu Daleth selalu menjaganya. Daleth membuat Zayin merasa mimiliki kakak laki-laki yang selalu ada untuknya.


Bahkan saat Zayin diturunkan ke alam bawah karena dituduh membangkang, Daleth meminta pengampunan untuknya. Bahkan dia juga meminta Dewa Agung untuk menurunkan Daleth juga.


Seperti anak kecil, Zayin hampir saja menangis saat semua dewa memojokannya. Tapi dia bisa kembali percaya diri saat Daleth selalu berdiri selangkah di depannya.


Tidak hanya di langit, Daleth juga selalu melindungi Zayin dari iblis-iblis yang menggodanya di alam bawah.


Mungkin karena Zayin paling muda, jadi dia terlihat paling mudah untuk dijahili. Tapi Daleth selalu menghentikan lelucon mereka sebelum Zayin menangis.


Zayin selalu saja berusaha menghindar dari Daleth karena tak ingin menjadi beban. Tapi seberapa jauh dia menghindar, entah bagaimana Zayin selalu berhasil tertangkap olehnya.


Bahkan Zayin sempat berpikir kebaikan apa yang dimilikinya di masa lalu sampai dia memiliki orang yang sangat peduli padanya seperti Daleth.


Sayangnya dewa bukanlah reinkarnasi dari siapapun. Jadi, Zayin memang sangat beruntung memiliki Daleth dalam hidupnya.


Melihat Zayin yang murung, Shin memberikan kendinya ke arah Zayin.


"Kamu ingin menyimpannya?"


Zayin menggeleng kuat. Dia tak ingin Kendi itu kenapa-napa. Dia cukup tahu diri bahwa kekuatannya belum sanggup untuk menjaga kendi itu.


"Apa aku juga akan dimasukkan ke dalam kendi?" tanya Zayin pada Shin.


"Apa kamu menginginkannya?"


Zayin menggeleng lemah.


"Kalau begitu kamu tidak perlu masuk. Aku tidak akan memaksa siapapun untuk masuk jika mereka tak menginginkannya. "


"Dia benar akan baik-baik saja kan di dalam?"


"Tentu saja. Mungkin sekarang Daleth sudah bertemu dengan Khema dan mengobrol bersama."


Zayin tersenyum lebar saat mendengarnya.


"Jadi ingin mencoba menjaga kendi ini? Percayalah, kamu bisa menjaganya. Daleth selalu menjagamu jadi sekarang kamu bisa menjaganya juga, " ulangnya.


Zayin menggeleng lagi, "aku tidak berani. tapi bolehkah aku meminjamnya sebentar?"


Shin mengangguk sambil menyerahkan kendi putih itu pada Zayin.


Tak berselang lama Zayin pun tertidur di dekat api sambil memeluk kendi putih ditangannya.