
"Zayin kau urus mayat-mayat jelek ini. Aku ada urusan lain. Jangan bilang energimu sudah lenyap. Shin ikut denganku."
"Jangan sombong! Lihat saja siapa yang lebih lama bertahan."
Zayin satu per satu menumbangkan para mayat hidup. Menghalangi mereka untuk mengejar Khun dan Shin yang tengah mengejar Hera.
oOo
Jelas Hera sangat paham bahwa dia tidak akan bisa menang melawan Khun sendirian.
Dia berhenti dan berbalik. Mengucapkan mantra ilusi miliknya. Kini yang berdiri di depan Khun dan Shin tidak hanya ada satu Hera malainkan ilusi Hera yang berlipat ganda.
Khun tersenyum simpul. Kondisi ini jauh lebih baik daripada mereka harus terus mengejarnya entah sampai kapan.
"Siapkan kendimu. Kita akan menangkapnya disini," bisik Khun pada Shin dengan keyakinan besarnya.
oOo
"Bagaimana ini mungkin!!!"
Tampak seseorang tengah murka dan menyapu kasar semua benda di atas meja dengan tangannya.
"Maaf, Tuan."
Seorang hantu tengah bersujud memohon ampun. Tubuhnya gemetar ketakutan oleh tekanan kemarahan energi mana dari tuannya.
Hantu itu telah gagal menjalankan tugasnya untuk menghentikan Shin.
Kegagalan mutlak yang bahkan membuat bawahannya berhasil ditangkap oleh mereka.
Kabar Shin yang telah menangkap empat dari delapan iblis membuat semakin membuat tuannya marah dengan kemustahilan ini.
Bagaimanapun Shin tidak boleh berhasil diangkat lagi ke langit. Jika memang jalan satu-satunya untuk menghentikan diangkatnya Shin adalah memusnahkannya, maka dia harus dimusnahkannya di alam fana.
Tuan hantu menghampiri pesuruhnya. Menyekik leher bawahannya dengan energi mana miliknya.
"Aku telah memberikanmu kekuatan besar dan kau bahkan tak sanggup melakukan hal kecil?"
"Lakukan tugasmu sendiri! Jangan ulangi kesalahan bodoh lagi! Jika sampai kau dan bawahanmu membuka mulut tentangku, akan aku buat kalian rata menjadi debu!" Kemudian hantu itu dilempar membentur dinding.
Hantu itu buru-buru bangkit dan kembali lagi ke posisi semula.
"Rebut kendi itu!"
Tuan hantu melemparkan botol bening kecil yang di dalamnya terdapat api biru menyala pada bawahannya.
"Dan musnahkan sampai tak tersisa!"
"Baik, Tuan. Kali ini saya tidak akan mengecewakan."
"Pergi!"
"Baik."
Kemudian hantu itu menghilang dari hadapan tuannya.
Tuan hantu kembali menendang meja di depannya. Semuanya tidak ada yang beres. Kalau begini terus, dia harus membuat rencana baru.
oOo
Puluhan Hera tengah mengelilingi Shin dan Khun. Mereka yerus tertawa dan mengejek. Membuat suara mereka beradu seperti bergema.
Tawa Hera hilang saat melihat Khun bahkan tak bereaksi sedikitpun. Dia tidak panik ataupun marah dengan keadaan yang ada. Hera merasa sangat diremehkan.
Khun menutup kedua matanya. Merentangkan kedua tangannya. Dia berteriak memunculkan api berwarna biru menyala sampai menembus langit.
Seketika langit berubah menjadi redup. Warna terang langit terkalahkan oleh warna biru menyala api miliknya.
Mudah saja. Jika mencari Hera yang asli sangat merepotkan. Dia hanya tinggal menyerang mereka sekaligus.
Khun menyebarkan api miliknya kepada semua Hera yang tengah mengepung, sampai mereka musnah dan menyisakan Hera asli yang tengah tersungkur ke tanah.
Padahal Hera sudah berhati-hati untuk tak terkena jurus ini. Jurus api abadi. Api yang tak akan padam jika bukan dipadamkan oleh pemiliknya sendiri.
Dan tak ada makhluk lain yang memiliki kekuatan itu selain Aresh. Jurus yang pernah Aresh gunakan untuk mengobrak-abrik langit.
Membuat langit 7 hari 7 malam menjadi biru menyala tanpa ada habisnya. Membakar seluruh isi 7 tingkatan langit tanpa menyisakan apapun.
Bahkan dewa penjaga tujuh langit tak bisa melakukan apapun selain mengevakuasi para penghuni langit agar tak terkena api ini.
Malangnya saat ini Hera harus merasakan kuatnya keagungan dari api abadi. Merasakan panasnya api mencabik seluruh daging dan tulangnya.
Bahkan dia juga merasakan inti mananya juga terbakar oleh api ini. Rasanya panas, perih, dan ribuan rasa sakit terus menghujam tubuhnya.
"Tolong... Tolong aku..."
"Aku tak akan memadamkan api ini jika kau tak bersedia untuk ikut kami."
"Tidak! Tidak! Aku tidak akan kembali ke tempat membosankan itu. Lebih baik aku mati terbakar dari pada kembali ke sana."
"Dasar keras kepala!"
Khun membuat api yang membakar Hera semakin membesar. Membuat teriakan yang dibuatnya semakin lantang.
Khun akan memberikan pelajaran pada Hera. Dia akan menyadarkan iblis rendahan itu dengan siapa saat ini dia bertarung.
Hera tidak sedang dalam situasi yang bisa bersifat angkuh. Karena Khun tidak akan membuatnya hangus begitu cepat.
Karena kekuatan sesungguhnya dari api abadi bukanlah karena mereka tak bisa padam, melainkan memberikan rasa sakit yang luar biasa pada seluruh tubuh tanpa harus menghanguskan buruannya.
Pemiliknya dapat menetapkan kapan harus menyiksa dan kapan harus memusnahkan buruannya dengan api abadi.
Dan Khun tidak akan menghanguskan Hera semudah itu. Dia akan memberikan siksaan yang menyakitkan sampai iblis itu memohon ampun padanya.
"Akh... Sakit... Sakit..."
"Khun..."
Tangan lembut Shin yang berada di lengan Khun sedikit mengurangi kemurkaannya.
Khun melihat Shin menggeleng manandakan bahwa dia harus menghentikan semua ini.
Khun menurut menghembuskan nafas berat. Dia memadamkan api abadi itu, mengeluarkan kilatan petir dari tangan kirinya dan meringkus Hera dengan petir miliknya.
Petir itu tak akan melukai tubuh Hera, jika Hera tidak mencoba untuk melepaskan diri.
Zayin berlari menyusul keduanya karena puluhan mayat hidup itu sudah lenyap bersamaan dikalahkannya Hera.
Zayin menatap tak percaya Hera yang lemas tak berdaya dengan tubuh diselimuti kilatan petir.
Mungkin karena terlalu lama bersama Khun, Zayin sempat lupa bahwa iblis ini pernah menjungkir-balikkan langit seorang diri tanpa terluka sedikitpun.
Menakutkan. Bagaimana bisa dia selalu bersama iblis semenakutkan ini. Pantas saja raja iblis dapat Khun kalahkan dengan mudah saat itu.
Ini pertama kalinya Zayin melihat apa itu api abadi dengan mata kepalanya sendiri. Selama ini dia hanya bisa mendengar keagungan dari kekuatan api abadi dan bagaimana sulitnya api itu untuk ditaklukkan dari mulut ke mulut.
Shin mendekati Hera yang sudah lemas, tapi masih memiliki sedikit kesadaran.
"Maafkan kami yang harus melakukan kekerasan padamu. Permisi, aku akan menempatkanmu bersama yang lain."
Shin meletakkan kedua jari di depan mulunya. Merapalkan sebuah mantra dan Hera pun masuk ke dalam kendi.
Baru selesai mereka menangkap Hera. Dari kejauhan tampak kilatan petir dari langit. Anehnya dibawah langit itu terdapat gunung marah yang hampir meletus dan juga angin topan yang berdampingan.
Pemandangan yang tak biasa dan menakutkan, tapi disisi lain terlihat akrab.
"Kupikir akan sedikit sulit, tapi ternyata tugas ini jauh lebih mudah," ucap Khun berjalan menuju kilatan itu. Diikuti oleh Zayin dan Shin yang sudah paham siapa yang akan mereka hadapi selanjutnya.
oOo