The Greatest God

The Greatest God
Kuil Dewa Khema



Tercium bau lezat saat mereka bertiga kembali ke desa. Perut Shin sampai dibuat bersuara karenanya.


Siapa sangka penduduk desa telah membuat hidangan sebagai rasa terimakasih dan perayaan sembuhnya mereka dari kutukan.


Bahkan Zayin dan Kane sudah mengumpulkan beberapa pemuda untuk dilatih sebagai pendekar.


Selama beberapa tahun terakhir kakak beradik itu sudah mencoba melatih beberapa pemuda untuk berlatih tapi tak pernah berhasil membangkitkan energi mana mereka.


Semoga dengan hilangnya kutukan. Energi mereka dapat dibangkitkan dengan maksimal.


"Sepertinya kita perlu menangkap beberapa mayat hidup untuk latihan mereka, " usul Khun.


"Apa itu tidak terlalu cepat?"


Kai merasa sedikit keberatan. Para pemuda itu baru saja merasakan sedikit kebebasan. Dia tak ingin buru-buru membuat mereka menanggung beban yang berat.


"Berhenti memanjakan mereka. Jika kalian ingin selamat, harusnya kalian memanfaatkan hal ini dengan baik. Aku bisa membantu menekan mayat hidup itu jika mereka diluar kendali."


"Apa yang dikatakan Tuan Khun ada benarnya, Kak. Kita juga harus segera mencari cara untuk melindungi diri kita."


Kai akhirnya setuju setelah mendengar penjelasan Kane. Kai melupakan hal penting bahwa mereka bertiga merupakan tamu desa. Mereka takkan selamanya tinggal dan menjaga yang lain.


...oOo...


Kai melihat Khun dan Zayin yang tengah membantu Kane melatih para pemuda. Di luar dugaan para pemuda itu dapat belajar dengan sangat cepat.


Kai mempersilahkan Shin untuk duduk di sebelahnya. Ikut mengamati proses latihan.


"Maaf kami harus merepotkanmu untuk menginap beberapa hari lagi di sini. "


"Bukan masalah. Kami tidak merasa direpotkan sama sekali. Bahkan kami yang seharusnya berterimakasih karena kalian telah banyak membantu kami dan warga desa yang lain."


"Kami berencana akan menangkap beberapa mayat hidup saat ke kuil Dewa Khema besok. "


"Ke kuil Dewa Khema?"


"Benar. Apakah menurutmu kita bisa bertemu Dewa Khema di sana?"


"Kenapa Tuan Shen ingin bertemu dengan Dewa Khema?"


"Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya."


"Bukankah Dewa Khema sudah diturunkan menjadi iblis, apakah anda yakin ini tidak akan berbahaya?"


"Bahaya atau tidak ini sudah menjadi tugasku."


"Tugas? Tugas seperti apa yang terdengar sangat berbahaya?"


"Tugas yang memang terdengar mustahil. Aku hanya ingin para iblis kembali ke tempat mereka seharusnya."


"Anda ingin menangkap iblis? Kenapa Tuan harus menangkap mereka?"


"Penebusan dosa. Lagi pula bukannya bagus jika semua iblis dan hantu kembali ke alam bawah? Manusia tidak akan dihantui lagi dengan keberadaan mereka."


Kai terdiam sejenak. Dia berpikir mungkin apa yang dikatakan Shin ada benarnya.


Jika para iblis dan hantu kembali ke alam bawah maka takkan ada manusia yang terusik. Tapi apakah menangkap para iblis dapat dilakukan oleh manusia biasa?


Ada kemungkinan mereka bisa melakukannya. Apalagi Khun. Dia terlalu sempurna sebagai manusia. Kai yakin Khun bisa diangkat ke langit jika berhasil dalam tugas mereka.


"Benar juga, saya baru ingat belum menanyakan darimana Tuan-tuan berasal."


Shin kebingungan. Jelas dia tidak mungkin mengatakan dirinya berasal dari langit. Masalahnya dia juga tidak pandai berbohong.


"Kami berasal dari utara."


Kai beralih pada Khun yang sudah berada di sebelahnya dengan tubuh bermandikan keringat.


Ternyata latihan sudah berakhir. Kai senang melihat para pemuda terlihat gembira dan tak mengeluh sedikitpun saat berlatih. Padahal Khun sangat keras saat melatih mereka.


"Jadi Kai, apa kamu bisa mengantar kami ke kuil?"


"Dengan senang hati. Saya senang bisa membantu."


...oOo...


Zayin dan Kane tinggal di desa untuk melatih pemuda yang lain. Hanya Shin, Khun dan Kai yang memutuskan untuk masuk ke hutan, ke tempat kuil Dewa Khema berada.


Mereka memutuskan berangkat saat matahari terbit.


Seperti dugaan sudah banyak mayat hidup di luar pelindung yang mencoba untuk masuk desa.


Dengan senang hati Khun menarik pedangnya. Hanya sekali tebasan Khun berhasil membuat puluhan mayat hidup mundur ke belakang dan tumbang.


Lagi-lagi Kai dibuat terkejut dengan kekuatan Khun. Tak hanya memukul mundur, Khun bahkan membasmi mereka sendirian. Melumpuhkan beberapa dan mengikat beberapa di batang pohon.


Saat melewati mayat hidup Kai memeriksa akar pohon yang digunakan Khun untuk mengikat mereka.


Kai menatap Khun tak percaya. Sebenarnya sebesar apa mana yang dia miliki? Apakah dia dewa atau sejenisnya?


Shin menatap Kai yang masih terpaku pada mana Khun yang mengalir pada akar pohon. Tersenyum melihat wajah Kai yang penuh kagum dengan teknik Khun.


Jujur, jangankan Kai. Dia yang dewa saja masih dibuat kagum dengan kekuatan temannya.


"Kai, kamu bisa tunjukkan jalannya?"


Seketika Kai tersadar dan kembali memandu mereka ke arah kuil.


Sepanjang jalan menuju tengah hutan, anehnya mereka tak dihadang mayat hidup sama sekali.


Walaupun bagus, tapi Shin merasa hal ini sedikit janggal. Dia melirik Khun yang berjalan di sebelahnya. Berharap hal ini adalah perbuatannya.


Khun hanya tersenyum membalas tatapan Shin. Ya, mungkin ini salah satu teknik Khun yang lain. Mungkin dia tak ingin membuat Kai semakin terkejut dengannya.


...oOo...


Di depan sudah terlihat beberapa patung besar yang menjadi gapura penjaga kuil.


Kuil yang terbilang cukup megah. Sangat disayangkan ditinggalkan begitu saja.


Akar-akar tumbuhan liar sudah menutup dinding. Pintu ruangan juga sudah banyak tertutup sarang laba-laba.


Shin manatap patung yang berada di tengah aula terbesar. Sepertinya itu patung Dewa Khema.


"Khun?"


"Hmm?"


"Sebelumnya semua iblis adalah dewa, kan?"


"Benar."


"Jadi semuanya telah berbuat dosa hingga dewa agung menurunkan mereka ke alam bawah."


"Ya."


Shin menatap patung megah itu. Tidakah penduduk menggambarkan begitu tangguhnya Dewa Khema lewat patung ini. Lalu kenapa mereka bisa berbalik dan meninggalkan dewa yang selama ini mereka puja.


"Lalu dosa apa yang diperbuat Dewa Khema, hingga harus menjadi iblis?"


"Mungkin dia hanya tak ingin lagi tinggal di langit. Siapa tahu apa yang dia pikirkan."


Mendengarnya, Kai tak paham dengan apa yang dipikirkan Khun. Tidakah semua pendekar tahu cerita diturunkannya 7 dewa.


Semua tertulis dibuku termasuk cerita Dewa Khema. Diceritakan dengan jelas bahwa Dewa Khema murka dan mengutuk hambanya sendiri.


Dewa Agung yang merasa perbuatan Dewa Khema tak mencerminkan sifat seorang dewa, memerintahkan untuk menurunkannya ke alam bawah.


"Tidakah Dewa Khema diturunkan menjadi iblis karena murka kepada desa kami?"


Kai mencoba menjelaskan kepada mereka. Shin tersenyum pada Kai dan kembali menjelaskan.


"Dewa Khema tetaplah dewa. Aku tak berpikir seorang dewa dapat marah semudah itu kepada hambanya sendiri. Pasti dia memiliki alasan lain."


Shin terkejut melihat Kai yang tiba-tiba berlinang air mata mendengar penjelasannya.


"Kenapa kamu menangis? Apa perkataanku ada yang salah?"


"Tidak, tidak ada. Air mataku hanya mengalir begitu saja."


Shin berpikir mungkin Kai merasa bersalah tentang kutukan yang diterima desanya.


Kai berusaha mengusap air matanya. Merasa malu karena sudah beberapa kali menangis di depan mereka.


"Kai, apa yang kamu pikirkan tentang Dewa Khema?"


Shin hanya penasaran bagaimana sosok Dewa Khema di mata para hambanya.


Kai menggeleng. "Aku tak bisa berkomentar banyak. Semuanya hanya cerita turun temurun yang aku dengar dari penetua terdahulu."


"Maaf jika aku menyinggungmu, tapi aku hanya tak bisa menghakimi orang yang belum aku lihat sendiri kesalahannya."


Shin berpikir mungkin kata-katanya terdengar seakan memihak pada Dewa Khema yang jelas sudah salah di mata para penduduk.


"Tidak, bukan masalah. Aku sendiri juga tak keberatan. Aku tidak berada pada kubu pembenci atau pembela Dewa Khema."


"Terima kasih sudah mengerti. "


"Kakak... kakak... tolong!!!"


Mereka bertiga menoleh pada arah suara. Terlihat Kane berlari terengah ke arah mereka.


Shin menjadi cemas. Jelas desa sedang tidak baik -baik saja.