The Greatest God

The Greatest God
Panggil Aku Khun



Tak berselang lama Zayin pun tertidur di dekat api sambil memeluk kendi putih ditangannya.


Shin mendekati Khun yang tengah menambah kayu pada api unggun. Dia tersenyum menatap Zayin yang tertidur pulas sambil mendengkur halus. Kemudian ikut duduk disebelah Khun untuk menghangatkan diri.


"Sejak kapan kau mengenaliku?" tanya Khun membuka pembicaraan.


Shin tampak berpikir sejenak sebelum kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum. "Aku tidak begitu yakin. Mungkin sejak pertama kita bertemu?" ucap Shin tak yakin.


Khun tersenyum. Dia merasa sudah melakukan yang terbaik agar Shin tak mudah mengenalinya. Tapi anehnya dia tak menyesal, bahkan dia merasa senang Shin mengetahui mengenali dirinya begitu mudah.


Bukankah itu menunjukkan bahwa Shin begitu mengenal dirinya. Hanya saja seharusnya tidak secepat ini.


"Kau tidak takut padaku?"


Shin terkekeh kecil. "Sudah 700 tahun lamanya dan pertanyaan itu selalu saja tak berubah?"


Khun kembali tersenyum. Benar juga. Dia sudah pernah menanyakan hal yang sama saat 700 tahun lalu.


Bahkan Shin masih mengingat hal itu juga.


"Kau masih mengingat kejadian beratus tahun lamanya? sungguh mengesankan."


"Tentu saja. Bagiku hal itu seperti baru terjadi kemarin."


Benar. Hukuman 700 tahun yang Shin terima mungkin salah satu faktor ingatannya yang masih jelas.


"Apakah itu menyakitkan?"


Shin melihat rasa bersalah pada raut wajah Khun.


Shin menggeleng. "Tidak."


Bohong. Walaupun hukuman itu hanya membuatnya tertidur. Nyatanya ruang penjara itu menyerap semua energi mananya. Tidak mungkin jika orang yang dihukum tidak merasakan sakit.


"Maaf, semua ini salahku."


Shin tersenyum sambil menatap Khun tak percaya. Ternyata orang keras kepala seperti Khun juga bisa mengatakan kata maaf.


"Apa yang kamu katakan. Semua ini tidak ada hubungannya denganmu sama sekali."


"Tentu saja ada. Karena menolongku kau harus dihukum oleh para dewa bodoh itu."


"Semua itu tidak benar. Semua ini murni karena perbuatanku sendiri. Lagipula aku yang ingin menolongmu. Kamu tidak pernah memaksaku dan aku juga tidak pernah merasa dipaksa."


"Bahkan jika ada yang mengulang waktu, aku akan tetap melakukan hal yang sama," tambah Shin sambil tersenyum.


"Terimakasih."


Lagi-lagi Shin menatap Khun takjub.


"Apa?" tanya Khun saat Shin menatapnya aneh.


"Aku tak percaya kamu bisa mengucapkan dua kata tadi."


"Kata apa?"


"Maaf dan terimakasih."


"Tentu saja aku bisa. Aku juga punya hati," ucap Khun sambil menggerutu kesal.


"Benar juga. Apa seharusnya aku memanggil nama aslimu?"


"Kau sudah memanggil nama asliku."


"Nama aslimu bukan Aresh?"


Khun menggeleng. "Nama asliku adalah Khun. Aresh hanya julukan yang mereka berikan padaku."


"Lagipula kau akan membuat semua orang ketakutan jika kau memanggilku Aresh."


Shin mengangguk mengerti. Benar juga. Nama itu sudah terlanjur ditakuti seluruh tiga alam. Semua orang bisa gempar jika melihat Aresh berada di depan mereka.


Karena berbincang cukup lama. Tanpa mereka sadari sudah hampir tengah malam. Kayu dari api unggun juga mulai padam termakan oleh api. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyusul Zayin beristirahat.


"Aku akan mengembalikan mana yang telah dicuri darimu," ucap Khun lirih.


"Apa? Apa kamu mengucapkan sesuatu?" tanya Shin pada Khun yang masih mengubur bekas api unggun dengan tanah.


"Tidak. Cepatlah tidur."


"Kau salah dengar. Cepatlah tidur."


Khun mendekat ke arah Shin. Memaksa dewa malang itu untuk segera tidur. Shin akhirnya menurut untuk segera beristirahat.


oOo


Mereka kembali melanjutkan perjalanan setelah langit mulai terang. Menyusuri hutan ke arah yang ditunjukkan Daleth sebelum terkurung ke dalam kendi.


Mereka berjalan ke arah tenggara yang diduga tempat iblis tingkat 5 berada.


Masalahnya adalah Zayin yakin sangat mengenal setiap sisi hutan ini, tapi nyatanya mereka tersesat dan terus-menerus kembali ke tempat yang sama.


"Mengaku saja. Kau membuat kita tersesat kan? Sudah hampir 10 kali aku melihat pohon ini," ucap Khun menunjuk pohon di sebelahnya.


"Tidak mungkin. Kita tidak mungkin tersesat. Jelas pasti ada yang salah."


"Masih keras kepala juga?"


Sedari tadi mereka berdua juga terus mengulang kalimat yang sama. Mereka terus saja bertengkar tanpa ada yang mau mengalah.


"Kalau begitu bawa ini," Khun melempar kerikil kepada Zayin. Dengan sigap Zayin menangkap kerikil yang diberikan kepadanya.


"Aku sudah lelah. Aku dan Shin akan beristirahat disini. Karena kau begitu mengerti hutan ini dengan baik, maka silahkan cari jalan keluarnya. Jika kau sudah menemukan jalan yang benar lempar kerikil itu ke tanah."


"Kenapa aku harus mengikuti ucapanmu, uh?!"


"Jadi kau mengaku tak kompeten dan mau menarik ucapanmu mengetahui semua hal tentang hutan ini?"


Zayin kemudian menggerutu kesal dan terbang pergi meninggalkan keduanya.


"Apa akan baik-baik saja membiarkan dia pergi sendiri?" tanya Shin khawatir.


"Tenang saja. Anak keras kepala sepertinya tidak akan mudah mati," ucap Khun santai sambil berbaring di akar pohon yang cukup rindang.


"Kemarilah, kau juga perlu istirahat."


Shin menurut dan ikut duduk di sebelah Khun. Tak berselang lama Khun mendengar dengkuran halus milik Shin.


Dia tahu Shin sudah cukup kelelahan. Apalagi siang ini begitu terik. Pasti tenaganya terkuras habis untuk mengitari hutan yang tak ada habisnya.


Sebenarnya Khun memang ingin membiarkan Shin untuk beristirahat, tapi Zayin begitu menyebalkan dan dia ingin sedikit memberinya pelajaran.


"Baik! Aku menyerah!" teriakan Zayin berhasil membuat Shin terbangun dari tidur siangnya.


"Aku mengaku kalah. Aku tidak cukup tahu tentang hutan ini. Aku memang tidak berguna. PUAS KAU!"


Khun tersenyum senang mendengar luapan amarah dari Zayin.


"Kau yakin?"


"Demi dewa agung, apa yang aku ucapkan tadi belum membuatmu puas?"


"Baiklah kalau begitu."


Khun sedikit menjauhkan Shin dari bawah pohon yang mereka jadikan tempat berteduh.


"Bisa kau berdiri di sebelah Zayin sebentar?"


Shin mengangguk. Kemudian berjalan ke arah Zayin.


Khun mengeluarkan bilah pedangnya dan memotong pohon besar itu menjadi dua bagian.


Tanpa disangka seseorang terbang keluar dari balik pohon dan melompat ke dahan pohon di sebelahnya.


"Ternyata aku sudah ketahuan ya?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


Senyum menyebalkan terlihat jelas diwajahnya. Sepertinya dia cukup menikmati hiburan dari ketiga orang yang sudah terjebak dalam tipu muslihatnya.


Zayin menatap tak percaya. Ternyata semua ini ulah Hera, iblis tingkat 5. Dia memang ahlinya membuat taman sesat. Pantas saja mereka tak pernah mendapat jalan yang benar.


Bagaimana bisa dia tidak kepikiran sama sekali bahwa hal aneh ini adalah perbuatan Hera. Padahal dia yang paling tahu keahlian dari iblis ini.


Tunggu dulu, jadi sedari tadi Khun sudah tahu bahwa Hera tengah mempermainkan mereka? Dan dia diam begitu saja? Pantas saja dia disebut iblis paling bengis. Nyatanya memang seperti itu.


oOo