The Greatest God

The Greatest God
Kembali Ke Langit



Khun membuka matanya perlahan. Warna putih beserta cahaya terang merupakan hal pertama yang dia lihat.


Khun melihat sekeliling dan berusaha untuk membiasakan diri dengan warna yang membuat matanya sakit ini.


"Khun kamu sudah sadar?" tanya Shin terlihat senang dan merasa lega. Dia baru masuk dari pintu sambil membawa sebaskom air hangat dan penyeka.


"Apa kita di langit?" tanya Khun sambil berusaha untuk mendudukkan badannya.


Shin mengangguk. Sambil membantu Khun untuk bersandar pada sandaran ranjangnya.


"Berapa lama aku pingsan? Dan kenapa kita bisa ada di sini?"


"Sudah tiga hari. Kita di sini karena ke delapan iblis sudah berkumpul."


"Alta?"


Shin mengangguk.


"Dia ikut begitu saja?"


"Tentu saja tidak. Alta bersikeras untuk tetap tinggal di desa, untungnya iblis yang lain berhasil meyakinkannya."


"Lalu, dimana mereka semua?"


"Mereka semua berada di Lembah Aresh." Balas seseorang dari balik pintu.


Khun sangat hafal siapa pemilik suara ini. Salah satu penghuni langit yang tak dia sukai, tapi tak bisa dia benci.


"Salam kepada Dewa Agung," ucap Shin sambil merendahkan tubuhnya memberi hormat.


Dewa Agung membalas sapaan Shin dengan senyuman ramah.


"Bagaimana keadaannya?" Dewa Agung memilih bertanya kepada Shin daripada bertanya langsung kepada orang yang sakit.


"Demamnya sudah mulai reda, kondisinya akan pulih sebentar lagi."


Dewa Agung mengangguk mengerti. "Bisa kamu tinggalkan kami sebentar..."


"Baik."


"Tidak!" Tolak Khun mentah-mentah.


"Ada yang harus kita bicarakan dan ini penting. Kamu akan menyesal jika tak mau mendengarkannya."


Mendengar penuturan dari Dewa Agung yang sepertinya sangat serius, akhirnya Shin memilih undur diri.


Keduanya sempat diam sesaat. Bahkan Khun terus membuang muka dihadapan penguasa langit itu.


Dewa Agung tersenyum ramah melihat tingkah Khun yang masih seperti anak-anak. Setidaknya Khun tidak memilih berkeras kepala dan terus menolaknya.


"Kamu masih marah kepaku?" tanya Dewa Agung memulai pembicaraan.


"Jangan harap aku akan menghormatimu seperti yang lain."


"Tidak. Aku sudah membuang jauh gambaran itu. Jelas hal itu tidak akan mungkin terjadi."


"Hahaha.. lucu sekali. Tempat ini masih berada di langit. Bagaimana bisa tempat lain di langit dinilai kumuh."


Khun memilih diam dan tak perduli dengan obrolan panjang ini. Dia tak ingin menjadi terlihat akrab dengan Pak Tua itu.


"Baiklah akan kupersingkat. Apa kamu tahu bagaimana bisa seorang pemilik mana tak terhingga sepertimu bisa pingsan hanya dengan memusnahkan beberapa mayat hidup?"


Khun hanya diam menyimak. Dia sebenarnya berusaha untuk tak tertarik, tapi nyatanya dia juga ingin tahu alasannya bisa pingsan selama 3 hari ini.


Jelas tubuhnya sangat mampu untuk melawan sekumpulan kroco lemah. Lagipula dia adalah iblis yang bisa memporak-porandakan tiga alam.


Dewa Agung mendekat ke arah Khun. Dia meletakkan telapak tangannya pada dada iblis itu.


"Aku menciptakanmu dari api, bukan berarti kamu juga kebal dengan api. Api abadi di dalam tubuhmu semakin lama akan melawan jika tubuhmu melemah sedikit saja."


"Dan juga, energi mana bukan hal yang bisa kamu bagi kepada siapapun sesuka hatimu. Tentu ada batasan yang harus kamu mengerti. Agar energi mana ditubuhmu masih bisa menekan api abadi milikmu."


"Aku tidak perduli dengan semua itu." Khun masih gigih untuk tak ingin menerima wejangan dari penciptanya.


"Kamu akan perduli jika hal itu juga bisa berbahaya bagi Shin. Jika kamu masih ingin menjaganya dengan baik, maka jangan siksa tubuhmu lebih dari ini."


"Kurasa semuanya sudah jelas. Aku tak bisa memaksamu bukan? Jadi, kamu bisa memilih sendiri pilihanmu. Kamu yang paling tahu bahwa bahwa tempat ini tidak bisa disebut rumah untuknya."


Setelah mengucapkan itupun Dewa Agung pergi meninggalkan Khun yang masih terdiam.


'Dasar lemah!' maki Khun dalam hati. Dia sangat kesal kepada dirinya sendiri karena merasa terlalu lemah untuk menjaga Shin.


Setelah Dewa Agung pergi, Shin akhirnya masuk ke dalam ruangan.


Sebenarnya dia tak pernah pergi kemanapun. Shin hanya diam berdiri di depan pintu ruangan itu. Sehingga dirinya juga mendengar semua pembicaraan Dewa Agung dan Khun tadi.


Shin mendekat ke arah Khun yang masih bersandar pada sandaran tempat tidur.


Duduk di ujung ranjang dan memandang wajah Khun dalam. Shin jadi ikut merasakan bagaimana kecewanya Khun saat ini.


Di matanya terlihat tak keberdayaan dan rasa takut saat melihat ke arahnya.


"Kamu tahu? Aku sangat bersyukur dengan segela apa yang telah kamu lakukan untukku selama ini. Jadi, walaupun itu banyak atau sedikit, tak perduli itu sulit atau mudah. Aku sangat bersyukur bisa melaluinya bersamamu dan juga Zayin."


"Jadi, untuk kedepannya tolong tetaplah terus bersamaku. Dan aku juga berharap kamu tak harus terluka karenanya. Karena jika itu terjadi, aku tak tahu harus melakukan apa di dunia ini."


Shin menunduk sedih. Dia tak berani menatap mata Khun lagi. Sepertinya dia akan segera menangis jika terus menatap matanya.


Khun tersenyum lega. Nyatanya bukan hanya dia yang takut akan kehilangan. Mereka berdua sama-sama takut kehilangan satu sama lain.


Benar. Sepertinya dia harus mendengarkan apa kata pak tua itu dan berhenti membuat Shin khawatir.


"Jangan khawatir. Aku akan menjaga diri dengan baik."


Shin menggeleng lemah. "Tidak hanya kamu, aku juga ingin menjadi orang yang berguna di sini. Jadi, kapanpun kamu merasa sakit jangan pernah menahannya. Katakan saja dan aku akan mencoba membantu sebisaku."


Khun mengangguk mengerti. Senang rasanya merasa ada orang yang khawatir kepadamu.


...oOo...