
Khun menatap sekitar rumah Alta. Rumah yang cukup luas tapi terasa sangat sepi.
Entah kenapa suasana rumah ini mengingatkan Khun pada suatu tempat.
Silahkan duduk. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri.
Khun menatap beberapa lukisan wanita yang terpasang di dinding.
"Oh itu gambar mendiang istriku. Dia sudah lama pergi."
"Istrimu sangat cantik," puji Shin saat melihat lukisan yang dimaksud.
"Terimakasih. Dia pasti sangat senang mendapat pujian."
"Silahkan duduk, maaf jika tempat ini sangat sederhana."
"Tidak. Bahkan rumahmu samgat besar," bapas Zayin kagum.
Alta mengambil beberapa minuman dan camilan di dapur untuk di suguhkan kepada tamu-tamunya.
"Jadi kalau boleh tahu tuan-tuan ini berasal dari mana?"
"Kami berasal dari utara," jawab Zayin mantap.
"Dari utara? Bukankah bagian utara sudah banyak desa yang ditinggalkan akibat serangan mayat hidup."
"Benar. Desa kami salah satunya. Maka dari itu kami berkelana untuk mencari tempat menetap yang lain."
"Sepertinya desa ini sangat tenang. Apakah desa ini selalu aman dari serangan mayat hidup?"
"Benar. Desa kami memiliki kesatria yang cukup banyak dan mumpuni. Kita juga membuat giliran untuk berburu malam agar desa selalu aman."
"Pantas saja desa ini sangat damai."
"Sebelah sini adalah kamar tamu. Beruntung aku selalu membersihkannya setiap hari. Jadi jika kalian sangat lelah, kamarnya sudah bisa digunakan untuk beristirahat."
"Ayah?" keluar seorang remaja laki-laki dari kamar sebelahnya.
Dia keluar sambil menundukkan wajahnya.
"Maaf, ayah membawa tamu tanpa berbicara denganmu terlebih dahulu."
"Tidak masalah."
"Kemari sebentar."
"Tuan-tuan perkenalkan ini anak laki-laki saya, namanya Sylon. Sylon mereka adalah tuan Shin, tuan Khun dan tuan Zayin. Mereka akan tinggal beberapa hari di sini."
"Halo."
"Iya, salam kenal."
"Woah, kita terlihat seumuran tapi aku tidak menyangka kau memiliki anak sebesar ini," Zayin sangat antusias dan datang mendekat ke arah Sylon.
Sebelum Zayin mendekat Sylon sudah bergerak bersembunyi di belakang ayahnya.
"Maaf, dia begitu pemalu."
Shin dan yang lainnya mengangguk mengerti.
"Saya akan permisi pergi sebentar ke balai desa. Tuan-tuan jangan sungkan. Saya permisi dulu."
Sylon mencengkeram tangan ayahnya dan masih bersembunyi dibalik sang ayah.
"Mau ikut?"
Sylon mengangguk semangat. Alta tersenyum ramah sambil mengusap kepala anaknya.
"Baik, ayo ikut."
Setelah pemilik rumah pergi, tanpa rasa sungkan Zayin langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring untuk beristirahat.
Shin hanya menggeleng maklum. Sedangkan Khun memilih duduk di teras mengamati para penduduk dan suasana desa yang begitu damai.
"Kamu masih memikirkan pemilik api abadi di gua?"
"Api itu milikku."
"Milikmu? Tapi bagaimana bisa?"
"Aku juga ingin tahu, bagaimana bisa ada orang yang mengambil api milikku dan menyimpannya."
"Bagaimana bisa api itu tidak membakar botolnya dan berapa banyak orang itu menyimpannya?"
"Aku ingin bertanya pada hantu yang aku tangkap kemarin."
"Masuklah, aku akan berjaga. Aku akan memberikan kode jika Alta kembali nanti."
Khun mengangguk, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.
Setelah berada di dalam kamar Shin mengeluarkan batu kerikil pada kantongnya.
Melempar batu itu ke lantai, kemudian batu itu berubah menjadi hantu.
"Tuan," ucap si hantu sambil duduk bersimpuh memberi hormat.
"Aku takkan berbasa-basi, jadi siapa dalang dibalik pencurian kendi ini."
oOo
Alta menyapa warga setempat dengan ramah seperti hari-hari biasa. Semuanya orang juga menyapa Alta dengan baik.
Tak perduli anak kecil sekalipun, pasti akan menyapanya dengan sopan.
Tak lupa mereka juga menyapa Sylon. Semua warga cukup terkejut Sylon ikut pergi menemani ayahnya.
Karena para warga sudah paham bagaimana pemalunya anak semata wayang dari kepala desa tersebut.
"Halo Sylon, tumben ikut ke balai desa?" tanya salah seorang pengurus balai desa bernama Yodh.
Sylon tak menjawab dan hanya semakin mengerut di belakang ayahnya sambil menundukkan kepala.
"Ada beberapa orang pendatang di rumah, mereka berencana untuk menginap. Jadi mungkin Sylon merasa malu dengan mereka."
"Oh begitu. Apakah mereka orang yang baru sampai tadi pagi?"
"Benar. Karena di desa kita tidak ada penginapan, jadi sementara aku akan menjamu mereka."
Yodh mengangguk mengerti.
"Bagaimana dengan kebakaran di gua?"
"Dari informasi kesatria yang kesana, gua itu sudah sangat hancur. Mereka mengatakan seperti ada seseorang yang sengaja membakar dan memadamkan gua."
"Karena jika tidak sengaja terbakar, seharusnya kemungkinan api akan menjalar cepat ke hutan. Apalagi pasti api itu sangat besar karena bisa membuat gua begitu hancur hanya dalam hitungan jam."
"Baik. Perintahkan para kesatria untuk menyelidiki lagi. Periksa setiap isi gua. Barang-barang yang masih tersisa di dalamnya."
"Baik."
"Emmm, sebenarnya aku sedikit curiga dengan para tamu yang sedang berada di rumahmu."
"Untuk itu aku akan bertanya ke mereka secara perlahan. Kita fokuskan ke penyelidikan di lokasi dulu."
"Baik."
Kemudian Yodh pergi menuju tempat para kesatria berlatih.
"Ayah... Apa orang yang berada di rumah kita adalah orang jahat?"
"Kamu tenang saja, ayah akan selalu menjagamu."
Sylon mengangguk mengerti tanpa melepaskan pegangannya pada sang ayah.
oOo