
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "
Shin menatap Khema lekat. Dari awal Shin memang sudah curiga bahwa Kai bukanlah manusia seperti yang lain.
Kecurigaan Shin semakin kuat saat Kai menangis di kuil.
Khema menundukkan kepalanya sedikit dan merendahkan tubuhnya. Memberikan hormat pada Shin.
Seketika wajah Kai berubah menjadi dirinya sendiri. Wajahnya mirip seperti Khema palsu, hanya saja Khema asli memiliki wajah yang lebih tegas.
"Maaf yang mulia, saya tidak berniat untuk membohongi siapapun. Saya hanya ingin melindungi hamba saya."
"Desa ini meninggalkan saya karena terjadinya wabah penyakit. Entah apa yang terjadi. Saya juga masih mencari tahu kenapa semua warga menyalahkan saya atas terjadinya wabah."
"Wabah itu bukan atas kehendakmu?" tanya Shin penasaran. Karena selama ini kabar itulah yang sudah seperti kebenaran untuk di dengar.
"Bukan yang mulia."
"Dan kutukan ini?" tanya Khun kemudian.
"Saya juga tidak tahu menahu tentang kutukan ini. Saya hanya memeriksa ke alam fana apa yang terjadi dan berita tentang kutukan itu menyebar begitu saja."
"Setelah berhasil meninggalkan alam bawah, saya baru bisa memiliki celah untuk mencari tahu. Begitu juga melindungi semua penduduk yang tidak bersalah."
"Jadi selama ratusan tahun kamu telah menyamar menjadi Kai untuk menjaga penduduk."
"Karena manusia memiliki usia yang begitu singkat. Saya berpindah menjadi satu dan yang lain. Pergi dan datang menjadi orang baru."
"Kamu melakukan perbuatan yang begitu mulai, pasti semua hambamu sangat mencintaimu."
"Saya hanya mengabulkan doa dan permintaan untuk menjaga anak cucu mereka. "
"Jadi apakah dalang dari wabah sudah ditemukan?" Khun bertanya lagi.
Khema menggeleng pilu. "Setelah beratus tahun lamanya, bahkan baru hari ini saya bertemu dengan hantu yang menyamar menjadi saya. "
"Apa sebenarnya yang para hantu itu inginkan?" Shin tidak mengerti dengan jalan pikir orang yang melakukan semua ini. Kenapa juga para hantu begitu penurut pada orang yang menyuruhnya.
"Kekuatan, " jawab Khun kemudian.
"Benar."
"Para hantu jelas haus dengan kekuatan. Dan dalang dari semua ini pastinya dapat menawarkan kekuatan yang melimpah, " jelas Khun.
"Hantu biasa tidak akan bisa memanggil mayat hidup sebanyak apa yang dilakukan oleh Khema palsu."
"Tolong bantu saya yang mulia. Tolong bantu tangkap pendosa ini."
"Jangan khawatir. Kami akan membantumu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagipula Khema palsu telah ditangkap. Kita sudah mendapatkan saksi utamanya."
"Maka apa kamu bersedia untuk ikut dengan kami?"
"Dengan senang hati saya bersedia untuk ikut jika keberadaan saya bisa membantu."
"Percaya pada kami. Kita akan menyelidikinya bersama-sama."
Shin mengeluarkan kendi putih miliknya.
"Mohon maaf, bolehkan saya memiliki satu permintaan lagi?"
"Tentu saja."
"Bisakah Tuan mengatakan pada Kane bahwa saya telah kalah dalam pertarungan. Saya menyayangi dia seperti adik saya sendiri. Saya hanya ingin menjadi kakaknya sampai akhir."
"Kenapa tidak kau katakan sendiri?"
Zayin serta yang lainnya muncul berjalan ke arah mereka.
Para penduduk sangat terkejut mendengar kebenaran dari kutukan ini. Apalagi selama ini Kai adalah dewa yang telah mereka tingalkan.
Para penduduk bersimpuh ke arah Khema. Mereka merasa begitu malu karena kebodohan mereka sendiri.
Khema menghampiri Kane yang ikut bersimpuh padanya.
"Apa yang kau lakukan? Berdirilah,"
Dengan derai air mata Kane memeluk Khema sambil menangis.
"Kau adikku dan tetap akan selalu menjadi adikku. Ingat itu."
"Aku sekarang bukanlah dewa. Kalian tidak perlu melakukannya. Jangan sampai kalian membuat langit murka karena menyembah iblis."
"Banyak nama dewa yang lebih baik dariku, kan?"
Shin mengeluarkan kendi putihnya. Saat tutup kendi itu terbuka Khema ikut masuk ke dalamnya.
Sebelum menghilang, Khema tersenyum dengan mengucapkan terimakasih ke arah Zayin lirih.
Pada awalnya Khema memang sudah mengenali Zayin, tapi dia tak tahu dengan Shin dan Khun.
Keadaan membuat Khema tidak memiliki kesempatan untuk bertanya langsung pada Zayin tentang keduanya.
Lagipula dengan wajah Kai, Zayin tidak akan mungkin bisa mengenalinya.
Khema baru sadar dengan sosok Shin saat mengeluarkan kendi putih miliknya.
Sama seperti Zayin, Khema pun sangat menghormatinya. Keberadaan Shin di langit yang begitu singkat membuat Khema lupa sejenak dengan sosok yang dia kagumi.
Walaupun dalang dari masalah ini belum berhasil ditemukan. Khema percaya bahwa ketiga orang ini mampu untuk menemukannya.
Penduduk kembali bersedih dan menangis. Beberapa dari mereka mencoba membujuk Shin untuk melepaskan Khema. Untungnya Kane menjelaskan tidak ada yang menangkap Khema di sini. Khema sendiri yang memutuskan untuk ikut dengan mereka.
Sebelum pergi Khun juga mensterilkan daerah hutan dan juga desa. Tak lupa mereka mengubur banyaknya mayat hidup yang dibangkitkan Khema palsu.
Shin merasa lega. Kane sudah cukup mampu mengajar yang lain untuk membantunya melindungi dan membangun kembali desanya.
Desa yang sangat dijaga oleh Khema. Shin berjanji desa ini kelak akan selalu terlindung dan menjadi hamba yang tidak akan pernah berkhianat lagi padanya.
oOo
Shin menatap perapian di depannya. Seperti biasa Khun dan Zayin berdebat tentang hal sepele.
"Aku yang paling disukai para pemuda di desa. Bahkan semua orang menyebutmu wajah baja. Lihat saja wajahmu, tidak pernah tersenyum. Benar-benar menakutkan."
"Bicara omong kosong lagi, huh? Mereka begitu karena terlalu terpukai dengan karismaku."
Zayin memasang wajah ingin muntah.
"Selain sombong ternyata kau tidak punya malu."
"Menyerah saja. Aku memang berada diluar jangkauanmu."
"Jangan harap. Lihat saja setelah semua ini aku akan menyalipmu."
"Dalam mimpimu. Kau bahkan sadar apa yang bisa aku lakukan dan masih berani berkata ingin menyalipku? Siapa yang sebenarnya sombong di sini?"
Zayin sudah berdiri mengambil kuda-kuda. Menyisingkan lengannya siap untuk bertarung.
Dengan senang hati Khun juga berdiri tidak ingin melewatkan hiburan kecil ini.
Shin tersenyum ramah menatap keduanya. Walaupun sudah begitu, dia tahu bahwa keduanya tidak akan benar-benar ingin bertarung.
"Teman-teman, bukankah lebih baik jika saat ini kita bertanya kepada tuan hantu yang ditangkap Khun tadi?"
"Benar juga, " ucap mereka bersamaan.
Detik itu juga bahkan keduanya sudah lupa kalau mereka akan bertarung dan memilih mengikuti perintah Shin.
Khun merogoh saku di lengan bajunya untuk mengambil si tuan kerikil. Tapi bukannya batu yang dia keluarkan melainkan bilah pedangnya.
Khun merasakan energi mana yang begitu kuat dari balik kegelapan. Entah siapapun itu, dia bukan orang sembarangan.
Shin dipaksa mundur oleh Khun. Khun siaga di depannya. Melindungi Shin jika orang itu akan berniat jahat.
Sedangkan Zayin juga bersembunyi di belakang Shin. Biasanya anak itu sangat bersemangat tapi kenapa dia jadi ketakutan.
"Siapa di sana? keluar, tunjukkan dirimu!"
Keluarlah sesosok pria gagah yang berjalan perlahan keluar dari kegelapan.
Pria gagah itu menundukkan kepalanya sedikit memberi hormat ke arah Shin.
"Nama saya Daleth. Hamba memberi salam kepada yang mulia. "
Khun semakin mempererat genggaman pedangnya saat iblis tingkat empat itu kembali berjalan mendekat ke arah Shin.
Semakin Daleth mendekat semakin Zayin menyembunyikan dirinya dibelakang Shin. Entah kenapa Zayin sangat ketakutan melihat Daleth di depannya.