
Shin dihadang oleh pria bertopeng saat akan membantu beberapa warga berlindung.
Dengan gesitnya pria itu mengunci kedua tangan Shin dan merebut kendi kecil di dalam jubahnya.
Zayin yang berada tak jauh dari Shin langsung mengejar dan berusaha merebut kendi yang dicuri.
Zayin berusaha menarik baju si pencuri, tapi sayang pencuri itu terlalu gesit hingga dapat menepis tangannya.
Kesempatan itu Zayin gunakan untuk merebut kendi dengan sebelah tangannya yang lain. Dan berhasil.
Adegan tarik-menarik pun tak terelakkan. Keduanya terlihat memiliki kekuatan yang setara. Sehingga sulit untuk merebut dan mempertahankan.
Melihat Zayin kesulitan, Shin kemudian membaca mantra pembuka kendi. Membuat kendi itu terbuka dan keduanya terpental bersamaan keluarnya seluruh iblis di dalamnya.
Zayin yang melihat kejadian itu langsung mengambil kendi yang terlempar tak jauh darinya.
Dia berlari ke arah Shin untuk memberikan benda itu. Tapi sepertinya sudah terlambat. Para iblis sudah terlanjur menyebar ke sana dan ke sini..
"Apa masih bisa? Apa kita bisa menyegel mereka semua kembali?" tanya Zayin khawatir.
"Kamu tenang saja. Mereka semua akan kembali," ucap Daleth sambil mengunci Hera ditangannya.
"Apa yang terjadi di sini?" Khema sudah langsung beradaptasi dengan ikut membantu membasmi beberapa mayat.
"Woah, ini benar-benar kacau," ucap Gema turun berjalan mendekat setelah melihat keadaan desa dari atas bersama Genta.
"Dimana Aresh?" tanya Genta penasaran. Pasalnya Khun terlihat seperti iblis yang tak akan membiarkan Shin sendirian. Apalagi dalam situasi berbahaya seperti ini.
"Jangan bilang dia sudah mati?! Tapi jelas itu tidak mungkin."
"Khun ada diluar pelindung. Dia bersama kepala desa menghadapi para mayat hidup yang ada diluar desa," jelas Zayin.
"Hanya mereka berdua? Benar-benar sombong," ucap Gema kesal.
"Ingin mengganggu kesenangan mereka?" ucap Genta menawarkan.
"Siapa takut." Keduanya pun bergegas pergi keluar dari pelindung.
"Lepaskan! Lepaskan aku!!!" Hera terus meronta di tangan Daleth.
"Sepertinya yang ini harus di kunci. Dia terlalu sulit dijinakkan," ucap Daleth mengusulkan.
"Maaf merepotkan," ucap Shin.
Shin langsung merapalkan mantra dengan kendi ditangan kiri dan dua jari di depan mulutnya.
Setelah sebuah cahaya mulai keluar dari dalam kendi. Daleth melemparkan Hera ke dalamnya.
"Selesai. Begitu lebih baik. Tapi sepertinya kita kehilangan pencuri kecil itu," ucap Zayin merasa kecewa.
"Jangan pedulikan pencuri itu. Prioritaskan keselamatan para penduduk. Kita bantu evakuasi warga."
"Baik!" ucap Daleth dan Zayin bersamaan.
"Apa yang terjadi? Bagaimana mereka bisa keluar?" tanya Khun tiba-tiba saat Shin hendak membantu yang lain.
"Aku tidak punya pilihan lain. Ada hantu lain yang mencoba mencuri kendinya. Jadi aku memilih melepaskan mereka."
...oOo...
Alta juga sudah tiba. Dia cukup terkejut dengan keadaan di dalam desa yang ternyata lebih buruk dari dugaannya.
"Lalu di mana mereka selain dua iblis yang diluar desa? Apa kendi itu aman?"
Ucapan Khun membuat Alta tertarik. Dia sedikit mendekat untuk mendengarkan percakapan keduanya.
"Tenang saja, mereka semua dapat diatur. Hanya tersisa Hera yang sudah aku kunci lagi ke dalam kendi. Iblis yang lain membantu warga untuk mencari tempat yang aman."
"Lalu bagaimana dengan pencurinya?"
"Sayangnya dia berhasil kabur."
"Seharusnya dia tidak jauh melihat para mayat hidup ini masih berkeliaran di sini."
"Tapi sepertinya mereka sudah berhenti menambah jumlah. Beberapa mayat hidup yang tersisa merupakan warga yang sudah mayat hidup itu serang."
Khun mengangguk mengerti. Sepertinya pencuri itu memang sudah kabur karena ketakutan. Pencuri itu harusnya bersyukur bahwa bukan Khun memergokinya mencuri.
Setelah merasa Khun sedikit tenang, Shin bergegas mengajak Khun untuk membantu yang lain.
Khun melihat sekeliling. Para mayat hidup ini benar-benar menjengkelkan. Bahkan tak sedikit jumlah warga juga sudah ada yang berubah menjadi salah satu dari mereka.
Walaupun pencuri itu sudah kabur. Nyatanya dia masih juga merepotkan. Jurus yang dimilikinya benar-benar menyebalkan.
Merasa kesal dengan amukan para mayat hidup. Khun bersimpuh, meletakkan tangan kanannya ke dataran.
Dia menyebarkan seluruh energi mananya pada sela-sela tanah. Menarik para mayat hidup yang tersisa di daratan kembali ketempat mereka.
Bahkan energi mananya juga terjulur sampai keluar pelindung. Hal itu sangan efektif. Membuat para mayat hidup hancur dan beberapa warga yang mulai berubah juga tumbang.
Semua berhasil di selesaikan, tapi pada kenyataannya hal itu memerlukan energi mana yang sangat besar. Bahkan untuk pemilik mana yang berlimpah seperti Khun.
"Khun!!!"
Shin langsung menangkap tubuh Khun sebelum tubuh lemasnya menghantam tanah. Ya, kun kehabisan energi. Jurus yang baru saja dia pakai benar-benar membuat dirinya sendiri kerepotan.
"Sial.. aku tidak kuat lagi," ucap Khun sebelum kesadarannya menghilang.
...oOo...
Gema dan Genta sudah sangat bersenang-senang dengan mengumpulkan pundi-pundi mayat pada bagian kiri dan kanan.
Walaupun mayat hidup ini sangat banyak dan berhasil membuat keduanya kewalahan. Nyatanya mereka berdua menikmati pembantaian ini.
Hingga suara gemuruh dan sinar biru dari sela tanah harus membuat keduanya mundur dan berhenti di salah satu dahan.
Jelas keduanya sangat mengenal siapa pemilik mana ini.
"Kenapa dia selalu saja menyebalkan!!!" geram Gema kesal.
"Sampai kapan dia terus-terusan pamir kekuatan seperti ini," tambahnya.
"Semuanya sudah diselesaikan. Sepertinya kita harus kembali ke desa," usul Genta hampir beranjak pergi tanpa memperdulikan komentar Gema..
"Tidak boleh kembali sampai kita hitung siapa yang paling banyak melenyapkan mayat hidup."
"Baik. Cepat hitung milikmu dan siap-siap menangis setelah ini" jawab Genta setuju.
...oOo...