The Greatest God

The Greatest God
Penyelamatan



Khun masuk ke dalam gua. Api sudah menjalar kesetiap sudut gua. Semua hantu di dalam gua menjerit kesakitan terbakar oleh api.


Warna biru menyala berkobar membakar semua yang ada dihadapannya. Untuk berjaga-jaga Khun melindungi dirinya dengan api abadi miliknya sendiri.


"Tolong... Tolong aku..."


Seorang hantu meraih kaki Khun berusaha meminta tolong. Khun menendang kakinya agar hantu itu menjauh.


"Katakan di mana kendi itu?" tanya Khun pada hantu yang terus mencoba meraih kakinya, tapi hantu itu tak menjawab dan hanya merintih kesakitan.


Hantu itu kembali memegang kaki Khun, menahannya saat Khun ingin berjalan.


"Kumohon tolong aku... Aku benar-benar tidak tahu di mana kendi itu. Saat kubuka botol api, api ini langsung membesar dan menjalar begitu cepat, uhuk... Uhuk..."


Khun berpikir sejenak. Jadi pemilik api itu tidak ada di sini.


"Aku tahu siapa yang ingin mencuri kendi itu, tolong aku... aku akan berguna,"


Mendengarnya Khun semakin tertarik untuk membawa hantu ini.


Khun merapalkan beberapa mantra dan hantu itupun berubah menjadi kerikil berwarna hijau.


Khun menangkap kerikil itu dan memasukkannya ke dalam saku lengan jubahnya.


Berisik suara benturan keramik terdengar di telinga. Ternyata suara itu berasal dari kendi yang terus bergerak membentur bebatuan gua.


Kendi itu masih terlihat utuh dengan api yang menyelimuti permukaannya. Hanya saja segel dari kendi sepertinya hampir rusak.


Alasan kenapa kendi itu tak bisa diam kemungkinan karena Hera ingin memanfaatkan rusaknya segel untuk keluar dari kendi.


Khun menyentuh permukaan kendi membuat api yang menyelimutinya berhasil dipadamkan.


Masalahnya adalah segel dari kendi ini. Khun tak bisa memperbaikinya. Benda pusaka langit takkan mempan dengan mana iblisnya.


"Sial!"


"Biar aku bantu," ucap Shin muncul dari mulut gua. Menerobos kobaran api yang masih menyala.


"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Khun terkejut.


"Aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya menerobos masuk."


Tanpa pikir panjang Shin bergegas merapalkan mantra untuk kembali memperbaiki segel kendi yang rusak.


oOo


"Kau gila!" teriak Zayin saat melihat Shin menerobos api di depan matanya.


Zayin ingin menarik Shin untuk kembali, tapi nyalinya tidak cukup besar untuk terbakar menjadi abu. Dia masih ingin hidup.


Dia hanya bisa menunggu sampai kedua orang itu keluar dari gua dengan perasaan was-was. Takut jika keduanya tidak akan pernah muncul.


Tapi tak berselang lama api itupun memadam, bahkan sampai ditahap lenyap.


Baru setelah itu Zayin berani mendekat ke arah gua. Matanya mulai berlinang air mata saat melihat keduanya keluar dengan selamat.


Matahari terbit membuat area gua terlihat lebih terang. Memperlihatkan pakaian keduanya yang lusuh terkena api.


"Huaaaaaa...."


Zayin berlari memeluk keduanya tampak lusuh dengan wajah cemong.


"Benar, bagaimana kendinya?" tanya Zayin kemudian.


Shin menunjukkan kendi itu pada Zayin yang tengah menghapus air mata pada wajahnya.


"Syukurlahhhhh... Hiks..."


"Sudah jangan menangis."


"Lalu pencurinya?"


"Aku sudah menangkap pesuruhnya," jawab Khun.


Zayin mengangguk mengerti. "Apa para iblis di dalam kendi baik-baik saja?"


"Tenang. Selama kendi itu baik-baik saja, maka mereka juga tidak akan terluka," jelas Shin.


"Syukurlah. Maaf aku tidak bisa membantu."


"Jangan begitu. Bahkan aku juga tidak membantu banyak."


Mendengar perkataan Shin membuat Zayin kembali memeluk Shin.


oOo