The Greatest God

The Greatest God
Terbukanya Kendi



Suara dentingan dari liukan pedang menjadi suara paling dominan diluar pelindung. Bahkan satu mayat hidup pun tak diberi kesempatan untuk meraung.


Kedua orang dengan tangkas membasmi seluruh mayat hidup. Keduanya terlihat sama kuatnya dengan hanya melihat banyaknya mayat hidup yang tumbang akibat tebasan pedang masing-masing.


Sesekali keduanya saling melirik satu sama lain. Seperti tak perduli dengan mayat hidup yang mereka tangani. Mereka hanya merasa takjub satu sama lain.


Khun sudah menduga bahwa Alta memang memiliki skil, tapi dia cukup terkejut bahwa skil yang Alta miliki hampir setara dengannya.


Setelah keduanya merasa cukup dalam beradu kekuatan. Khun membiarkan Alta mengurus mayat hidup yang tersisa dan dia mulai merapalkan mantra pengunci.


Alta sempat terkejut saat mayat hidup di depannya tiba-tiba meraung lengap ditelan bumi dan tak bisa bangkit kembali.


Khun hanya tersenyum kepada Alta saat pria itu menatapnya tak percaya.


"Bahkan Tuan juga menguasai mantra pengunci? Tuan benar-benar kuat," puji Alta pada Khun yang baru saja melakukan hal luar biasa.


"Tidak perlu berlebihan. Sepertinya ilmu Tuan kepala desa juga tak bisa diremehkan."


"Saya tidak melebihkan. Ilmu saya jelas tidak bisa dibandingkan dengan Tuan."


"Benarkah? Saya tidak berpikir seperti itu."


"Karena bagian luar sudah di selesaikan, sepertinya kita..."


Kalimat Alta terhenti saat melihat ribuan mayat hidup menyerbu datang menghampiri mereka.


Alta sedikit merinding. Jelas ada yang tidak beres. Tidak mungkin desanya tiba-tiba di serang mayat hidup seperti ini.


Padahal kesatria dari desa tak pernah absen dalam perburuan malam. Setiap malam mereka selalu menyapu setidaknya jarak 5 -10 km dari luar area desa.


Kemungkinan besar hal ini ada sangkut pautnya dengan kebakaran di gua waktu itu.


Alta tersadar saat Khun bergerak cepat mengayunkan pedang ke arah mereka. Membuat Alta tak tinggal diam dan ikut membantu.


Berbeda dengan mayat hidup yang sebelumnya mereka basmi, kali ini mereka lebih kuat dan tidak langsung tumbang dalam sekali tebasan.


Belum lagi mereka tak berhenti terus berdatangan. Jumlah mereka terus bertambah bersamaan banyaknya dari mereka yang tumbang.


Walaupun mereka berdua cukup tangguh. Tapi jika lawannya tak ada habisnya seperti sekarang, jelas sangat merepotkan.


"Tapi bagaimana kita bisa menemukan pengendali para mayat hidup ini?"


"Tahan mereka sebentar. Ada yang ingin kucoba," ucap Khun sambil terbang ke arah salah satu dahan paling tinggi di sana.


Khun memfokuskan diri menatap sekeliling. Tidak mungkin pengendaliannya berada di dekat sini.


Pasti mereka memilih menyerang dari jauh dan bersembunyi untuk menghindari pertarungan secara langsung.


Masalahnya, Khun sama sekali tak merasakan keberadaan energi mana di area mereka bertarung.


Sepertinya pengendali mereka bukanlah orang sembarangan. Jelas jika hantu kelas teri tidak akan bisa mengendalikan mayat hidup dari jarak yang bahkan tak bisa Khun rasakan keberadaannya.


Bukannya menemukan si pengendali. Mata Khun beralih ke arah desa yang keadaannya terlihat jauh lebih buruk.


Para mayat hidup ini telah berhasil masuk ke dalam desa. Bahkan tak sedikit dari warga yang sudah terbaring berlumuran darah.


"Butuh bantuan?" tanya Gema dan Genta menghampiri Khun dan Alta.


Sialan. Bagaimana mereka bisa keluar dari kendi? Pasti penyebab kekacauan ini ada di dalam desa. Sepertinya Shin sedang dalam bahaya.


"Aku akan kembali ke desa. Kalian urus sisanya," ucap Khun pergi meninggalkan mereka begitu saja.


"Sialan! Kita disini untuk membantumu. Bukan menggantikan tugasmu," maki Gema saat Khun pergi.


"Maaf, sepertinya saya juga harus pergi," Alta kemudian bergegas menuju desa. Mengikuti Khun yang lebih dulu pergi.


"Kau juga?!" tambah Gema menjadi lebih kesal.


"Persetan! Akan aku ratakan semua disini," ucap Gema kesal.


"Biarkan saja mereka. Ini waktunya kita untuk bersenang-senang. Kita lihat siapa yang lebih banyak membasmi mayat hidup menjengkelkan ini."


"Siapa takut. Aku tidak akan kalah karena sekarang aku benar-benar kesal. Mereka salah mencari musuh."


...oOo...