
Di depan mereka sedang terjadi duel maut yang mungkin tak ingin didekati oleh siapapun.
Lagipula siapa yang mau hancur sia-sia. Karena keduanya pun tak akan sadar jika orang lain terluka akibat ulah mereka.
Zayin sudah pernah melihat hal ini walaupun dari kejauhan. Di langit maupun di alam bawah sekalipun. Pemandangan yang sudah tidak asing lagi.
Gema dan Genta, dua iblis kembar yang tak pernah akur satu sama lain. Padahal mereka diciptakan berdampingan, nyatanya hidup mereka selalu berujung pada perkelahian.
Bahkan setelah berada di alama yang berbeda sekalipun, mereka masih saja saling bermusuhan.
Mereka berdua selalu bersaing dalam hal apapun. Merasa diri masing-masing adalah yang terkuat. Walaupun pada dasarnya Dewa Agung memberikan kekuatan sama pada keduanya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Shin yang sudah beberapa kali terpukul mundur oleh dahsyatnya pertarungan keduanya.
"Tidak ada. Kita hanya perlu menunggu mereka bosan bertarung," balas Khun sambil berbaring di bawah pohon.
"Persetan! Mereka tidak akan pernah berhenti," balas Zayin yang sangat paham dengan akhir dari pertarungan ini. Karena pertarungan ini tak akan pernah berakhir.
"Lalu silahkan tengahi mereka," balas Khun santai.
Gila! Bahkan Dewa Agung saja tak sanggup menengahi keduanya, apalagi dirinya.
Beruntung tempat ini ribuan kilometer jauhnya dari tempat penduduk. Setidaknya walaupun mereka gila bertarung, tapi mereka masih memiliki kewarasan untuk tak memusnahkan makhluk hidup.
Khun membuka matanya dan terduduk saat melihat Shin akan menghampiri keduanya.
"Tunggu."
Khun menghampiri Shin. Meraih kedua tangannya dan menyalurkan energi mananya pada Shin.
Jika hanya dengan energi mana yang Shin miliki saat ini, tubuh Shin bisa tercabik-cabik bahkan sebelum mendekati keduanya.
"Terimakasih," ucap Shin sebelum akhirnya terbang ke arah dua iblis kembar itu.
"Kau akan membiarkan Shin pergi kesana sendirian?" tanya Zayin tak percaya.
"Kau ingin menyusulnya?" tanya Khun.
Zayin menggeleng. Mana berani dia menyusul Shin. Tapi jika dia memiliki kekuatan sebesar Khun maka Zayin akan berani untuk membantu Shin sekarang.
"Tapi Shin bisa terluka."
"Maka aku akan menyembuhkannya."
"Kau tak takut dia akan menderita?"
"Dengar. Ini sudah menjadi pilihannya dan jika kau takut membantunya lebih baik kau menghormati keputusannya dan duduk diam disini."
"Tapi dengan kekuatanmu kau bisa saja menengahi keduanya."
"Ya aku bisa dan kemudian alam ini akan rata tanpa ada satupun yang tersisa. Mereka tidak akan berhenti hanya dengan kekerasan."
"Apa kau tak bisa membelenggu mereka dengan petirmu?"
"Bisa. Tapi apa kau bisa menjamin mereka takkan berontak dan lebih mengamuk?"
"Percayalah pada Shin. Dia tidak selemah yang kau pikirkan. Kehilangan sedikit energi mana takkan membuatnya kehilangan kemampuan."
Dengan wajah kesal akhirnya Zayin menurut.
Saat ini Khun sangat percaya pada Shin. Dewa yang dapat membebaskannya dengan mudah dari belenggu ribuan tahun bukanlah dewa yang lemah. Kedua iblis seperti mereka bukan apa-apa bagi Shin.
oOo
Pertama Shin melindungi dirinya dulu dengan mana pelindung agar pebih mudah saat mendekati keduanya.
Susah payah dia menghindar dari serpihan dan puing amukan yang kedua iblis itu perbuat.
Mendekati keduanya benar-benar perjuangan yang cukup sulit.
"Siapa?!" tanya Gema, iblis tingkat dua yang pertama kali menyadari kehadiran orang lain di dekat mereka.
Baru sadar dengan adanya keberadaan orang lain Genta ikut menghentikan serangannya.
"Kau lihat? Aku lebih dulu bisa merasakan kehadiran orang lain dibanding dirimu," ucap Gema sombong saat menyadari Genta terlambat bereaksi.
"Jangan sombong! Karena dia lebih dekat denganmu saja, jadi kau lebih dulu merasakan keberadaannya."
"Huh? Akui saja kalau manamu tidak lebih kuat dari milikku!" balas Gema lagi.
"Tunggu dulu. Kalian kan saudara. Kenapa kalian begitu ingin mengalahkan satu sama lain?" ucap Shin berusaha menengahi.
Entah kenapa dia merasakan energi mana yang cukup besar sebelumnya. Tapi rasanya bukan dari orang ini. Energi itu berasal dari tempat lain.
"Apa kau berpikir hal yang sama?" tanya Gema pada Genta dan dibalas anggukan kepala oleh Gema.
"Sepertinya kau membawa sesuatu yang menarik?" tanya Gema.
"Aku merasakan kumpulan energi mana dari benda yang kau bawa," lanjut Genta.
Shin berpikir sejenak, kemudian dia mengeluarkan kendi putih miliknya. Keduanya tampak terkejut melihat salah satu pusaka Dewa Agung berada ditangan orang biasa.
Melihat benda itu tidak pada tempat yang seharusnya, mereka berdua kembali geram dan marah.
"Dari mana kau mendapatkan benda itu?" tanya Gema dengan suara tinggi.
"Maaf, tapi Dewa Agung yang memberikannya padaku," jawab Shin yakin.
Melihat tak ada tanda kebohongan dari Shin, amarah keduanya sedikit memudar.
"Jadi siapa kau sampai bisa mendapatkan pusaka itu dari Dewa Agung?"
"Mohon maaf saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Shin, saya salah satu dewa yang diciptakan Dewa Agung 700 tahun yang lalu," jelas Shin.
"Shin? Kau dewa yang melepaskan Aresh dari belenggu?" tanya Genta penasaran.
Shin mengangguk sedikit malu. Walaupun dia tak pernah menyesal karena membebaskan Aresh, tapi mengingat banyak makhluk yang menderita akibat perbuatannya, Shin jadi merasa bersalah.
"Hahahaha... Akhirnya aku bisa tahu wajah dewa itu. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu," jujur Gema.
"Aku kira Dewa Shin memiliki tampang lebih maskulin dan badan tegap. Ternyata aku salah. Benar-benar diluar dugaan."
"Maaf jika saya tidak seperti yang kalian harapkan," sesal Shin pada keduanya.
"Tidak, tidak. Aku hanya tidak menyangka. Kejutan ini lebih dari menyenangkan," balas Genta yang disetujui oleh Gema.
"Jadi, apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Gema kemudian.
"Sebenarnya saya diperintahkan Dewa Agung untuk membawa kembali para iblis yang tersebar di alam fana."
"Apa saudara kami yang lain juga berada di dalam sana?" tanya Genta menunjuk kendi putih yang berada di tangan Shin.
Shin mengangguk. "Sudah ada tiga iblis yang berada di dalam kendi," jelas Shin.
"Bagaimana rasanya berada di dalam sana?" tanya Gema pada Genta mengingat karena suatu kecerobohan Genta pernah tidak sengaja terkurung di dalam kendi selama beberapa hari.
"Sama seperti di langit. Tidak ada yang menarik," jawab Genta.
Gema mengelus dagunya sedikit berpikir. "Kalau begitu tidak ada alasan bagi kita untuk ikut dengannya," pikir Gema akhirnya.
Genta mengangguk setuju. Kemudian mereka hampir bertarung kembali.
"Tunggu dulu. Kalau boleh tahu sudah berapa lama kalian bertarung seperti ini?" tanya Shin berusaha menghentikan keduanya bertarung lagi.
"Ada apa? Apa kau penasaran?"
"Benar. Aku tak pernah menghitungnya."
"Kukira sudah lebih dari ribuan tahun."
"Benar."
"Apa kalian tidak lelah?" tanya Shin lagi.
"Tentu saja tidak. Kami tidak akan bosan sebelum mengalahkan satu sama lain."
"Tidakkah kalian berpikir, karena Dewa Agung menciptakan kalian secara bersamaan, maka kekuatan kalian juga akan dibuat setara. Maka tidak akan terkejut jika hasil dari pertarungan ini selalu imbang."
"Jadi apa maksudmu?"
"Jika kalian bersedia ikut denganku, maka aku akan menunjukkan pada kalian metode bertarung yang lebih efektif karena bisa menentukan siapa pemenangnya."
Gema dan Genta saling menatap. Entah bagaimana keduanya merasa sedikit tertarik. Sepertinya hal itu patut untuk dicoba.
Lagipula mereka juga merasa adanya keberadaan energi mana lain yang jauh lebih besar dibanding kendi di tangan Shin.
Kemungkinan pemilik energi itu datang bersama dengan orang yang sedang berdiri di depan mereka sekarang.
oOo