The Greatest God

The Greatest God
Penyerangan



"Kakak... kakak... tolong..."


Mereka bertiga menoleh pada arah suara. Terlihat Kane berlari terengah ke arah mereka.


Shin menghampiri Kane yang terengah. Dia merasa cemas, tapi melihat Jane memucat dia masih berusaha menenangkannya dan tidak ikut panik.


"Tenangkan dirimu dan jelaskan apa yang terjadi."


"Kakak, desa kita, ratusan mayat hidup menyerang desa kita."


...oOo...


Mereka sampai di desa lebih cepat dari yang diperkirakan. Karena memang tak ada satu pun mayat hidup yang menahan mereka.


Kai menatap mayat hidup yang ditangkap Khun masih meraung terikat di pohon.


"Tuan... tolong... tolong istri saya.. "


"Jangan khawatir, kami akan menolongnya. Tuan silahkan berlindung ke tempat yang aman."


"Di mana Zayin?"


Shin menatap Kane yang kini sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


"Zayin membantu yang lain untuk berlindung di tempat yang aman."


"Bagus, antarkan tuan ini ke tempat Zayin dan yang lain."


"Tapi... "


"Tidak apa-apa, kami akan baik-baik saja. Kamu harus membantu Zayin."


Akhirnya Kane mengangguk menerima perintah kakaknya. Dia meninggalkan ketiganya dan mengantar petani tadi ke tempat Zayin dan yang lain berlindung.


Mereka bertiga berjalan ke tengah desa. Seorang wanita berteriak ketakutan saat para mayat hidup itu berusaha meraihnya dari atas pohon. Sedangkan seseorang di atas pohon lain tengah tertawa lepas menyaksikan wanita itu meraung meminta tolong pada seluruh dewa.


Tak sedikit penduduk desa yang telah tergeletak penuh luka di tanah dan dikerumuni para mayat hidup.


Sebuah tebasan pedang membuat para mayat hidup itu menjauh mundur. Shin melompat meraih wanita itu dan membawanya bersama mereka.


"Jadi kalian yang membuat pembatas menyebalkan di luar desa."


"Siapa kamu dan kenapa menyerang para penduduk yang tak bersalah?"


"Tak bersalah? Mereka berkhianat pada dewanya. Jelas mereka sangat bersalah."


"Khema... "


Iblis itu tersenyum simpul. Merasa dirinya begitu kuat saat mereka menyebutkan namanya.


Siapa manusia yang tak ketakutan mendengar namanya.


Kai berjalan ke arah penduduk dan membantu mereka berdiri. Tapi beberapa mayat hidup bergerak akan menyerangnya.


Sigap. Shin membuat lingkaran dengan mana disekeliling mereka. Membuat pelindung untuk mereka. Shin juga menuntun wanita tadi untuk masuk ke dalam lingkaran.


Kai membantu beberapa warga lain untuk memasuki lingkaran yang dibuat Shin.


Melihat mayat hidup tak dapat menembus pelindung yang dibuat Shin, Khema menjadi murka.


"Siapa kalian? beraninya mengusik kesenanganku."


Akhirnya dia turun dari atas pohon dan menantang mereka bertarung.


...oOo...


Zayin berusaha menenangkan penduduk untuk tetap tenang tapi semua tidak semudah yang dia pikir.


Ketukan pelan membuat beberapa dari warga terpekik ngeri dan menangis.


Astaga, jika terus seperti ini mereka bisa mengundang mayat hidup mendekat. Zayin tidak akan bisa meredam hawa ketakutan mereka terus menerus.


Masa bodoh. Dia memeriksa siapa yang bersuara di depan pintu. Berharap bukan mayat hidup yang berada di sana.


Bersyukur. Kane yang berada di luar dengan seorang bapak yang berada di pertanian. Dengan senang hati Zayin segera menyuruh keduanya untuk masuk.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Zayin.


"Mereka sedang bertarung dengan iblis di luar."


Zayin bernafas lega. "Lihat kan, mereka sudah datang. Kalian pasti akan selamat."


"Siapa yang coba kamu tenangkan anak muda. Kita yang paling tahu rasanya kemurkaan Dewa Khema."


"Benar, jika saja kita menerima kutukan ini pasti Dewa Khema tidak akan melakukan hal seperti sekarang."


"Aku sudah berfirasat bahwa hal buruk akan terjadi saat mereka datang ke desa," seorang wanita tua menambahi.


"Benar, semua ini karena kalian. Jika saja kalian tidak mematahkan kutukan dan mendatangi kuil. Pasti Dewa Khema tidak akan marah seperti sekarang."


Demi dewa agung, warga desa ini benar-benar pecundang. Mereka hanya bisa menyalahkan. Dilihat dari segi manapun Zayin dan yang lain hanya berusaha membantu.


Baru kemarin mereka sangat ramah sampai membuat perayaan. Mereka juga sangat senang saat kutukan itu hilang. Zayin heran bagaimana Kai dan Kane bisa tahan mengurusi mereka semua selama ini.


"Jangan begitu, mereka telah banyak membantu kita. Tidak seharusnya kita mengatakan hal buruk seperti sekarang," bela Kane.


"Membantu apa jika semuanya membuat Dewa Khema murka!"


Pantas saja Dewa Khema mengutuk mereka. Sifat mereka saja begitu buruk. Bukan hal yang mengejutkan jika mereka berbalik mengkhianati dewa mereka sendiri.


Jika Zayin punya hamba seperti mereka, jelas dia lebih memilih meninggalkan mereka saja.


Ribuan sumpah serapah ingin rasanya Zayin keluarkan. Sayangnya ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Lagipula Zayin tak ingin Shin terlihat buruk hanya karena perkataannya.


"Maaf jika sebelumnya kita terlalu ikut campur dengan masalah desa ini. Kita yang seharusnya pendatang memang tak berhak mengubah keadaan desa yang telah dijaga oleh Kai dan Kane sendirian."


"Kita hanya berniat membantu sesama pendekar tidak lebih. Kita sama sekali tak ada niatan untuk membuat Dewa Khema murka sedikitpun."


"Tapi mengingat siapa sebenarnya yang membuat Dewa Khema murka dan memberi kutukan, apakah ini masih salah kami?"


"Kami tidak pernah memaksa kalian untuk sembuh. Jika dari awal kalian tidak ingin sembuh dari kutukan, kalian tinggal mengatakannya saja. Maka Kakak Shen tidak harus repot membuat ramuannya."


"Kita tak harus repot untuk melatih yang lain. Kalian juga tidak repot membuat perayaan seperti kemarin. Kita juga akan pergi jika tidak diterima. Mudah, kan?"


Mereka terdiam mendengar celotehan panjang Zayin. Akhirnya segala kata sesat yang dia tahan keluar juga. Walaupun dia sedikit menyaringnya lebih halus.


Zayin menahan umpatan, semuanya demi Shin. Masa bodoh dengan warga tak tahu diri ini. Bahkan mereka tak ada yang meminta maaf setelah mendengar pekataannya.


"Maaf Tuan Zayin, mereka pasti merasa ketakutan sampai tak memikirkan perkataan mereka, " ucap Kane.


Zayin menghela nafas panjang. Apa yang dia harapkan. Orang yang waras di sini memang hanya ada Kai dan Kane.


Para pemuda mau berlatih saja karena ingin segera pergi dari desa. Tak ada yang ingin tinggal dan menjaga yang lain seperti Kai dan Kane.


Mereka penuh dengan orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.


Jika Shin tak memilih tinggal dia pasti labih memilih pergi dan tak sudi melatih mereka. Dia hanya tak ingin Khun melakukan semua hal keren sendirian di desa.


Lagipula dia juga tak ingin bertemu dengan Khema yang jelas pasti akan mengenalnya hanya dengan sekali lihat.


Dan sekarang di luar sana Khema sedang sok tangguh melawan Khun. Walaupun Zayin tidak ingin mengakuinya, tapi sudah dipastikan Khema akan kalah.


Zayin bersyukur Khun masih bersama Shin. Setidaknya Shin akan mengampuni Khema dan Khun tak harus memusnahkannya menjadi debu.