
"Jegal Taek siapa dia." Kata biksu berbadan kekar melihat Jin Hobin.
"Guru, dia adalah anggota sekte Demonic yang membunuh senior." Jawab Jegal Taek.
"Apa kamu datang seorang diri." Biksu berbadan kekar melihat Jin Hobin.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku datang seorang diri." Jin Hobin tersenyum.
"Hahaha, aku tidak menyangka kamu begitu bodoh untuk datang seorang diri. Sepertinya kamu sudah bosan hidup." Biksu berbadan kekar tertawa.
"Hahaha, aku tidak bosan hidup. Aku datang kesini untuk membunuhmu Evil Monk." Jin Hobin tertawa.
"Buussshh." Mendengar kata Jin Hobin biksu berbadan kekar mengeluarkan auranya.
"Apa kamu pikir aku akan terintimidasi oleh auramu." Kata Jin Hobin kemudian mengeluarkan auranya. "Buusshh."
"Aku tidak menyangka kamu juga mencapai tingkat Master." Biksu berbadan kekar melihat Jin Hobin.
"Apa! Dia sudah mencapai tingkat Master di usia yang sangat muda." Jegal Taek terkejut mendengar kata gurunya.
"Sekarang putuskan, kamu yang akan maju. Atau aku yang akan maju." Jin Hobin menunjuk biksu berbadan kekar.
"Hahaha, baru kali ini aku bertemu dengan pemuda yang sombong." Biksu berbadan kekar tertawa kemudian melesat ke arah Jin Hobin.
"Crasshh." Jin Hobin menyelimuti pedangnya dengan petir bewarna kuning. "Thunder slash." Jin Hobin mengayunkan pedangnya. "Wuusshh." Pisau petir sepanjang 1 meter melesat ke arah biksu berbadan kekar. "Booomm!!." Ledakan terjadi.
"Begitu mudah." Kata Jin Hobin melihat biksu berbadan kekar terkena serangannya. Saat asap ledakan menghilang Jin Hobin melihat biksu berbadan kekar hanya memiliki luka gores di tangannya.
"Apa kamu pikir serangan lemah seperti itu dapat membunuhku." Biksu berbadan kekar melihat Jin Hobin.
"Sepertinya aku terlalu meremehkanmu." Jin Hobin melihat pria berbadan kekar.
"Jika bisa coba tahanlah serangan ini." Kata Jin Hobin menyelimuti pedangnya dengan petir bewarna kuning.
"Thunder Tiger Sword Strike." Teriak Jin Hobin mengayunkan pedangnya. "Rooaarr." Harimau petir bewarna kuning sebesar 2 meter melesat ke arah biksu berbadan kekar.
"Evil palm." Teriak biksu berbadan kekar kemudian telapak tangan bewarna hitam sebesar 1 meter melesat ke arah harimau petir. "Booomm!!." Ledakan besar terjadi.
Setelah asap ledakan menghilang Jin Hobin melihat biksu berbadan kekar telah menghilang. "Aku tidak menyangka dia akan melarikan diri." Kata Jin Hobin kemudian melihat Jegal Taek.
"Kumohon ampuni aku." Jegal Taek berjalan mundur. Jegal tidak percaya bahwa gurunya melarikan diri saat pertarungan berlangsung.
"Biksu jahat sepertimu tidak pantas untuk hidup." Kata Jin Hobin kemudian menusuk jantung Jegal Taek. "Uuughhh." Jegal Taek batuk darah kemudian meninggal.
Melihat Jegal Taek telah mati, Jin Hobin kemudian belari ke arah biksu berbadan kekar melarikan diri.
Saat ini biksu berbadan kekar sedang berlari dengan tubuh penuh luka. "Sial, aku tidak menyangka dia begitu kuat." Kata biksu berbadan kekar teringat serangan Jin Hobin.
"Mengapa kamu melarikan diri." Jin Hobin mengejar biksu berbadan kekar.
"Berengsek." Biksu berbadan kekar mengutuk melihat Jin Hobin yang mengejarnya.
"Tidak bisakah kita berdamai." Kata biksu berbadan kekar.
"Tidak, karena aku mempunyai misi untuk membunuhmu." Balas Jin Hobin.
"Bajingan, jika begitu aku akan bertarung denganmu sampai mati." Biksu berbadan kekar mengutuk.
"Evil palm." Biksu berbadan kekar menyerang Jin Hobin. "Wuusshh." Telapak tangan bewarna hitam sebesar 1 meter melesat ke arah Jin Hobin.
"Thunder Tiger Sword Strike." Kata Jin Hobin mengayunkan pedangnya. "Rooaarr." Harimau petir bewarna kuning sebesar 2 meter melesat ke arah telapak tangan bewarna hitam. "Booomm!!." Ledakan besar terjadi.
Saat asap ledakan menghilang biksu berbadan kekar duduk di tanah dengan memegangi dadanya. "Uhuuukk." Biksu berbadan kekar batuk darah.
"Apa kamu punya kata-kata terakhir." Jin Hobin mengarahkan pedangnya ke leher biksu berbadan kekar.
"Jika kamu mengampuni hidupku. Aku akan memberikan semua uang yang aku miliki." Kata biksu berbadan kekar melihat Jin Hobin.
"Krukk." Jin Hobin mendengar perutnya berbunyi. "Aku akan mengisi perutku terlebih dulu. sebelum kembali ke sekte." Kata Jin Hobin melesat pergi.
Keesokan harinya. 2 laki-laki berpakaian lusuh berdiri di depan mayat Evil Monk yang di bunuh Jin Hobin. "Aku tidak menyangka Evil Monk yang seorang master beladiri mati dengan cara mengenaskan." Kata laki-laki berpakaian lusuh melihat kepala biksu yang terpotong.
"Luka di tubuhnya sangat familiar." Kata laki-laki berpakaian lusuh lain melihat luka di tubuh biksu.
"Apa kamu tahu siapa yang membunuhnya." Tanya laki-laki lain.
"Aku tahu. Pembunuh Evil Monk adalah orang yang sama dengan orang yang membunuh muridnya Crazy Monk." Jawab laki-laki berpakaian lusuh.
Ayo kita kembali ke markas untuk melaporkan kejadian hari ini." Kata laki-laki berpakaian lusuh.
"Baik." jawab laki-laki berpakaian lusuh lain.
6 Hari telah berlalu. Saat ini Jin Hobin telah kembali ke sekte Demonic. "Jin Hobin, ikuti aku. Pemimpin sekte ingin bertemu denganmu." Kata Jang Hyo melihat Jin Hobin.
"Baik." Jawab Jin Hobin kemudian mengikuti Jang Hyo.
Beberapa menit kemudian Jin Hobin berada di depan paviliun. "Masuklah." Kata Jang Hyo melihat Jin Hobin.
Jin Hobin mengangguk kemudian masuk ke dalam pavilion. Saat masuk ke dalam pavilion. Jin Hobin melihat Cheon Yeo Woon. Pemimpin sekte Demonic sedang duduk di kursi.
"Saya Jin Hobin hadir menjawab panggilan pemimpin sekte." Jin Hobin berlutut di depan Cheon Yeo Woon.
"Senang bertemu denganmu." Cheon Yeo Woon tersenyum.
"Duduk, aku butuh teman untuk minum." Kata Cheon Yeo Woon melihat Jin Hobin.
"Baik pemimpin." Jin Hobin mengangguk dan duduk di kursi. Jin Hobin tidak berani menolak perintah Cheon Yeo Woon. Cheon Yeo Woon menggerakan tangannya kemudian sebuah gelas terbang ke tangan Cheon Yeo Woon.
"Telekinesis." Jin Hobin terkejut melihat dua gelas yang terbang ke tangan Cheo Yeo Woon. Cheon Yeo Woon kemudian menuangkan teh ke dalam gelas.
"Minumlah." Kata Cheon Yeo Woon melihat Jin Hobin.
"Baik pemimpin." Jin Hobin mengangguk kemudian meminum teh.
"Enak." Jin Hobin terkejut saat meminum teh.
"Bagaimana rasa tehnya." Tanya Cheon Yeo Woon.
"Rasa tehnya sangat enak pemimpin." Jawab Jin Hobin.
"Teh yang kamu minum itu adalah teh putih Fujian. teh yang di anggap sebagai teh terenak di dunia. Harga untuk 1 cangkit teh adalah 10 coin emas." Kata Cheon Yeo Woon.
"Begitu mahal." Jin Hobin terkejut mendengar kata Cheon Yeo Woon.
"Jin Hobin apa kamu tahu berapa banyak tingkat kultivasi di dunia ini." Tanya Cheon Yeo Woon.
"Menurut pengetahuan saya. Tingkat kultivasi di dunia ini ada 7 tingkat. Beginner, Intermediate, Advance, Expert, Master, Grand Master, dan Profound." Jawab Jin Hobin.
"Apa kamu tahu tingkat apa kultivasiku sekarang." Cheon Yeo Woon meminum teh dan melihat Jin Hobin.
"Saya tidak tahu pemimpin." Jin Hobin menggeleng. "Buusshh." Cheon Yeo Woon mengeluarkan auranya.
"Uuuhhh." Jin Hobin kesulitan bernapas saat merasakan aura dari Cheon Yeo Woon.
"Saat ini aku ada di tingkat Profound. Puncak dari kultivasi." Kata Cheon Yeo Woon menghilangkan auranya.
"Berengsek, perbedaan kami berdua bagaikan langit dan bumi. Bukankah aku cari mati jika melakukan pemberontakan dengan tingkat kultivasiku saat ini." Gumam Jin Hobin di pikirannya.
"Tapi aku merasa bahwa tingkat Profound bukanlah akhir dari puncak kultivasi." Kata Cheon Yeo Woon meminum teh.
"Masih ada tingkat yang lebih tinggi dari Profound." Jin Hobin terkejut.