
Tiga hari kemudian,
Setelah tiga hari berlalu tidak lagi terlihat penghuni penjara lain yang mengisi sel, hanya ada alessa seorang diri di penjara bawah tanah mengisi sel nomor 10.
Dehidrasi membuat Kondisi alessa semakin melemah, tidak ada satupun makanan tersentuh olehnya.
Alessa tidak memperdulikan tubuh yang sebenarnya sangat membutuhkan asupan, sikap keras kepala alessa dia lakukan sebagai bentuk protesnya terhadap leonardo yang masih mengurungnya di sana.
"Mom, dad" gumam alessa lirih memanggil kedua orangtuanya masih berbaring di lantai yang hanya beralaskan karpet tipis.
Perlahan alessa mencoba untuk duduk dan mendekati makanan, tangannya meraih sebuah roti dan mencoba untuk melahap.
Saat roti mengenai bibirnya dengan keras alessa kembali melepar asal roti itu karena marah, kembali menolak untuk memakan apapun.
"Kau pikir aku akan mengeluarkanmu hanya karena kau bersikap seperti itu?"
"Jangan bermimpi alessa!" suara yang sangat tidak ingin alessa dengar berucap dengan sinis membuatnya menoleh melihat ke arah pria yang sangat di bencinya sekarang.
"Dengan bersikap seperti itu, kau hanya mempersulit dirimu sendiri!" ucap leonardo kembali lalu pergi meninggalkan alessa terdiam dengan tangan yang terkepal menahan amarah.
Alessa menatap punggung lenonardo yang menjauh dan bertanya-tanya mengapa leonardo seperti sangat membenci dirinya, bahkan alessa sangat yakin tidak pernah membuat masalah dengannya sejak di hari mereka bertemu.
Alessa berpindah menuju pojok sel untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan lemas.
Saat menurunkan tangan ke lantai untuk penopang memperbaiki posisi duduk, alessa merasakan tangannya yang menyentuh sesuatu di balik alas tidur. Alessa menarik karpet tipis itu dan mendapati sebuah kunci kecil yang ternyata setelah perhatikan lebih teliti merupakan sebuah pisau lipat berukuran sebesar kunci.
"Pisau?" ucap alessa tersenyum senang.
Seperti angin segar pisau kecil itu menjadi semangat baru untuk alessa, tanpa ingin membuang waktu alessa mendekati pintu dan bergerak membuka gembok menggunakan pisau lipat kecil yang baru saja dia temukan.
Seperti sebuah keberuntungan gembok dapat terbuka hanya dengan menggunakan pisau lipat kecil itu, semakin menambah semangat alessa untuk keluar dari tempat ini.
Alessa melepar asal gembok yang terbuka lalu membuka pintu sel dan berjalan keluar meninggalkan sel yang sudah mengurungnya selama tiga hari.
Alessa berjalan masih menggenggam pisau lipat kecil di tangannya untuk berjaga-jaga dia membutuhkan nanti. Perlahan alessa berjalan ke arah pintu keluar yang berada di ujung ruangan.
Beberapa bodyguard yang berjaga di depan pintu terlihat membuat alessa berhenti dan mengurungkan niatnya untuk langsung keluar.
Alessa semakin kesal ketika kedua bodyguard yang berjaga tak kunjung meninggalkan pintu hingga membuatnya kesulitan untuk keluar dari sana. Saat memikirkan cara untuk mengelabui penjaga alessa justru melihat keberadaan pintu lain.
Pintu berukuran kecil berada di bagian lain sel, tanpa banyak berpikir alessa berjalan mendekat menghapiri pintu itu, saat berada tepat di depan pintu tangan alessa bergerak menarik pintu dan memperlihatkan lorong panjang yang berada di baliknya.
"Lorong?" gumam alessa ragu.
Dengan ragu alessa melangkahkan kaki melewati pintu dengan sesekali menoleh melihat ke arah pintu keluar yang terdapat penjaga di depan sana.
"Aku harus mencoba, jika memang ini jalan yang salah aku akan kembali nanti" ucap alessa kepada dirinya sendiri dengan tetap berjalan di lorong panjang sempit yang tidak diketahui akan menuju kemana.
Alessa masih berjalan melewati lorong sempit dengan penerangan api yang terpasang di sepanjang lorong itu, setelah cukup jauh alessa dihadapkan pada dua pilihan dia merasa bingung harus terus berjalan lurus atau memilih berbelok ke kanan atau ke kiri pada lorong.
"Kemana aku harus pergi?" alessa bimbang memilih jalannya.
"Semoga saja ini jalan yang benar" alessa memilih berbelok di lorong kanan.
Entah mengapa alessa memilih berbelok dan tidak memilih jalan lurus dia hanya mencoba mengikuti feelingnya saja. Setelah cukup lama berjalan alessa menemukan sebuah tangga yang menuju ke atas.
Tanpa pikir panjang alessa langsung menaiki anak tangga dengan perasaan waspada, dia tiba di ruangan gelap yang hanya di terangi oleh siluet cahaya yang masuk melalui celah-celah ventilasi dan jendela.
"Tempat apa ini?" gumam alessa heran melihat tiang-tiang penyangga bangunan.
Alessa berjalan dan hanya berputar-putar pada tempat yang sama cukup menguras energi alessa yang memang sudah sangat kelelahan dan dehidrasi.
"Ku mohon" ucap alessa frustasi.
Bermodalkan keinginan besar untuk pergi dari tempat itu menjadi satu-satunya alasan alessa untuk tetap semangat mencari jalan keluar.
Diantara gelapnya ruangan mata alessa melihat sedikit pencahayaan yang terlihat dari arah lain. Alessa mendekat dan membawanya pada sebuah tangga yang menuju ke bawah.
"Tangga?"
"Lagi?" alessa menghentikan langkah merasa ragu.
"Tidak apa-apa alessa, ayo" ucapnya menyangati dirinya sendiri.
Selangkah demi selangkah kaki alessa bergerak menuruni anak tangga yang sangat curam dengan pijakan kaki yang tidak lebar. Tangga itu berbentuk lorong menurun, tangga melingkar mengikuti bentuk bangunan, di pertengahan tangga terdapat pencahayaan yang menembus melalui kaca jendela yang berada di samping tangga.
"Aku rasa ini adalah jalan yang benar" ucapnya kembali bersemangat.
Saat tiba di anak tangga terakhir alessa sampai pada sebuah lorong yang kali ini entah akan mengarah kemana.
Kaki alessa bergerak berjalan mengikuti lorong hingga tiba di sebuah aula besar dengan dinding tembok batu dan tiang-tiang penyangga yang begitu tinggi.
Aula besar itu terlihat tua dengan arsitekturnya yang sangat jauh dari kata modern, dapat alessa pastikan juga aula itu menjadi tempat yang sangat jarang di kunjungi di rumah besar ini.
"Di banding mansion, bangunan ini lebih cocok di sebut castle" ucap alessa mengadahkan kepala melihat setiap sisi bangunan di atasnya.
Alessa tidak menyadari bahwa ucapan yang baru saja di lontarkan adalah sebuah kebenaran yang secara tidak langsung belum di ketahui olehnya.
Ya itu adalah castle milik leonardo dan merupakan kekayaan turun temurun yang dimiliki keluarganya, sebagai pewaris leonardo berhak penuh atas kepemilikan castle tersebut.
...*****...
Alessa sudah bergerak jauh meninggalkan aula besar, sekarang dia sudah berada di luar bangunan setelah berhasil menemukan jalan dan sedang berusaha mencari pintu keluar dari rumah besar itu.
Langkah alessa membawanya menuju sebuah jalan yang memperlihatkan jalan disertai tanaman merambat yang menempel menjadi penghias alami pada dinding bangunan.
"Akhirnya" ucap alessa merasa senang ketika melihat pintu keluar.
Setelah berhasil melewati pintu, alessa berbalik melihat kembali kemegahan bangunan di belakangnya.
"Leonardo, kau akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah kau lakukan kepadaku" ucap alessa penuh keyakinan.
...*****...
Alessa meninggalkan area rumah besar berjalan mengikuti jalan, di sisi kanan dan kiri terdapat hutan dengan pepohon yang tumbuh tinggi hingga menutup sinar matahari.
Sebenarnya alessa sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan lebih lama, dia sudah merasa sangat leleh dan haus.
"Kumohon, siapapun" di sepajang jalan alessa terus berharap akan ada kendaraan yang melintas dengan begitu dia dapat meminta bantuan atupun sekedar meminta tumpangan.
Seperti sebuah jawaban atas harapannha sinar lampu kendaraan dari kejauhan membuat alessa kembali bersemangat. Dia sudah akan menghentikan mobil itu untuk meminta bantuan tetapi ternyata tanpa perlu berepot-repot mobil justru sudah lebih dulu berhenti membuat alessa semakin antusias.
Tetapi rasa senang dan senyumnya sirna saat melihat sosok yang keluar dari mobil, rasa terkejut seketika membuatnya tidak bisa lagi berkata-kata, bagaimana tidak leonardo berdiri dengan tatapan tajam yang mengarah pada alessa disana.
"Le-o" gumam alessa terbata, terlalu terkejut.
"Bagaimana bi-"
"Masuk ke dalam mobil!" ucap leonardo memotong ucapan alessa.
"Masuk alessa!" ucap leonardo sekali lagi setelah tidak ada pergerakan dari alessa yang mengikuti perintahnya.
"Tidak!" tolak alessa membuat leonardo semakin menatap dingin.
"Ku peringat-" belum selesai leonardo menyelesaikan ucapan, alessa sudah berlari masuk ke dalam hutan meninggalkan leonardo yang menatapnya tajam.
"BERHENTI ALESSA!" teriakan leonardo tidak di tanggapi oleh alessa yang terus berlari menjauh.
"ALESSA!" leonardo memanggil mengejar alessa.
Mendengar leonardo tidak membuat alessa gentar dan berhenti, justru hal itu semakin membuat alessa mempercepat langka untuk terus berlari menjauh.
"Aw ssstthh" alessa mengeluh karena kaki yang tersandung dahan ranting.
Hari yang mulai gelap membuat jarak pandangnya terbatas hingga tidak bisa memperhatikan langkah dengan benar.
"Sudah cukup alessa!" ucap leonardo yang berada di balik tubuh alessa.
Alessa yang tersungkur di tanah langsung berbalik dan menyeret tubuhnya mundur, posisi leonardo terlihat seperti predator yang akan memangsa alessa yang masih terus menyeret mundur tubuhnya mencoba menghindar dari leonardo.
"Ku mohon, lepaskan aku hiks-" ucap alessa pasrah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Alessa yang masih belum menyerah meraih kayu di dekatnya, dengan kecepatan dan keyakinan dia mengarahkan kayu kepada leonardo yang sigap menepis kayu yang di arahkan kepadanya.
Posisi berganti sekarang alessa yang mendapatkan ancaman dari pistol yang di arahkan leonardo kepadanya.
Samar mata alessa yang berkaca dapat terlihat bersamaan dengan kondisi yang semakin berantakan dengan pakaiannya kotor.
"Tuan" beberapa bodyguard datang dari arah belakang.
"Nico, bawa gadis ini ketempat yang sudah ku katakan" ucap leonardo tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari alessa.
"Jangan biarkan dia meninggalkan tempat itu, walau hanya selangkah!" ucap leonardo penuh penekanan.
Setelah mendengar leonardo kedua bodyguard yang datang bersama nico langsung membawa alessa setelah mendapat kode nico.
"Lepaskan aku!"
"Kumohon!"
"Leonardo!"
"Brengsek, lepaskan aku!"
"Keparat lepaskan tangan kalian!"
"Tuhan akan menghukum bajingan seperti kalian semua!"
"Pendosa!"
"Kalian semua adalah pendosa!"
"LEPASKAN AKU!"
Sumpah serapah yang di lontarkan oleh alessa tidak berhasil membuatnya lolos dari kedua bodyguard yang membawanya dan justru semakin menambah amarah leonardo mendengar kata-kata umpatan alessa.
...----------------...
.
.
.
⬆️semua gambar yang di sertakan dalam penulisan by pinterest.
.
.
.
.
.
.
.
to be continue