The Forbidden Love

The Forbidden Love
Pria misterius



Satu bulan kemudian,


Hari ini adalah hari pernikahan marcello dan luciella, pernikahan di langsungkan di italia sesuai keinginan tuan sergio sang ayah.


Mereka semua sudah berada di italia sejak satu minggu yang lalu begitupun dengan keluarga luciella yang turut hadir untuk mendampingi putri mereka yang akan menikah.


Semua keluarga sudah berkumpul untuk menyaksikan sumpah pernikahan marcello dan luciella yang akan segera berlangsung di sebuah katedral tua yang tampak sangat artistik.



Marcello sudah berdiri gagah menyambut kedatangan luciella dengan menggunakan tuxedo hitam yang membuatnya berkali-kali lipat terlihat tampan hari ini, dia tampak berbeda.


Di ujung sana luciella mulai berjalan menuju altar di dampingi sang ayah yang menemaninya menuju altar untuk melakukan sumpah pernikahan dengan marcello.


Semua tamu berdiri melihat kedatangan luciella yang terlihat begitu cantik dengan gaun putih membuatnya tampak sangat anggun dan menawan, raut wajah luciella memancarkan kebahagiaan yang terlihat sangat jelas membuat auranya semakin bersinar.


Luciella tidak berhenti tersenyum karena rasa bahagianya sebentar lagi dia akan menjadi nyonya marcello Aamodt istri dari pria yang sangat dia cintai.


Sementara itu, di sisi tamu terlihat seorang gadis ikut tersenyum melihat luciella, gadis itu adalah alessa yang terlihat sangat menawan dengan gaun putih yang dia kenakan.


Melihat luciella yang terlihat begitu bahagia membuat alessa berpikir bagaimana rasanya menjadi luciella, tiba-tiba saja alessa teringat akan ucapan carlina yang pernah mengatakan 'akan sangat menyenangkan ketika kau jatuh cinta kepada seseorang dan kau berhasil menikah dengannya'.


"Apakah jatuh cinta itu indah dan menyenangkan seperti yang carlina katakan?" ucap alessa begumam tersenyum konyol dengan pertanyaannya sendiri.


Terlalu sibuk dengan dirinya sendiri alessa baru menyadari luciella sudah berdiri berdampingan dengan marcello di depan altar dan akan segera melangsungkan sumpah pernikahan mereka.


Sumpah pernikahan akan segera di lakukan, luciella dan marcello sudah bersiap untuk melakukannya hingga terdengar sumpah yang sedang di ucapkan.


Alessa tiba-tiba merasa asing tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya, rasa asing yang sangat tidak nyaman hingga membuatnya sedikit sesak dan kesulitan bernafas.


Tepat setelah sumpah pernikahan selesai di lakukan alessa langsung berjalan keluar meninggalkan katedral dia sangat membutuhkan udara segar untuk memulihkan rasa sesak yang tiba-tiba datang.


Alessa berjalan keluar melangkah menjauh dengan sesekali menengok melihat kembali ke arah katedral, apa yang di lakukan alessa membuatnya tidak memperhatikan jalan dengan benar hingga menabrak seseorang yang berjalan dari arah yang berlawanan.


Tabrakan yang cukup keras membuat alessa kehilangan keseimbangan dan hampir membuatnya terjatuh jika saja pria itu tidak sigap menahan tubuhnya.


Alessa terkejut, mereka saling menatap. Dapat alessa deskripsikan pria itu memiliki wajah tampan yang melebihi standar ketampanan pada umumnya, matanya yang biru semakin membuat alessa terlena.


"Maafkan aku" alessa tersadar lalu menjauh dari pria itu.


"Terimakasih, sekali lagi maafkan aku" ucap alessa merasa bersalah.


Pria di hadapannya tidak menjawab dan hanya menatap dingin membuat alessa tidak mengerti apa yang harus dia lakukan karena tak kunjung mendapat tanggapan dari pria di hadapannya.


"Maa-" belum selesai alessa menyelesaikan ucapannya pria itu sudah lebih dulu memotong.


"Berhati-hatilah nona" ucapnya dingin mengintimidasi lalu pergi meninggalkan alessa yang masih terdiam.


Alessa terpaku dan hanya menatap heran pada punggung pria itu yang sudah berjalan menjauh darinya. Tatapan heran alessa berubah menjadi terkejut ketika melihat pinggang belakang pria itu yang terselip sebuah pistol di balik jas hitam yang tersingkap oleh tangannya sehingga memperlihatkan senjata yang berada di balik jas.


"Apakah dia penjahat?" ucap alessa bergumam.


"Apakah penjahat akan berkeliaran di siang hari?"


"Tidak mungkin" ucap alesa tidak yakin.


Tak mau memikirkan hal yang bukan menjadi urusannya, alessa langsung mengalihkan pandangannya ke arah laut yang terlihat begitu cantik dia berjalan ke arah bangku taman dan memutuskan duduk di sana untuk menikmati suasana pantai.


"Alessa!"


Baru saja alessa menikmati suasana suara seseorang yang sangat di kenalnya memanggil. Di sana sang ibu sudah berdiri melihat ke arahnya dengan tatapan kesal.


"Mommy mencarimu sejak tadi" ucap sang ibu penuh kekhawatiran.


"Mom, kau disini?" balas alessa menjawab.


"Dengar alessa, ini bukanlah tempatmu kau tidak bisa bebas pergi sesuka hatimu" ucap sang ibu kesal dan khawatir.


"Aku tidak pergi kemanapun, aku hanya datang kemari untuk menikmati pantai" jawab alessa membuat sang ibu jengah.


"Aku sudah dewasa, jika aku tersesat aku akan menghubungi kalian semua untuk menjemputku" ucap alessa membela diri.


"Alessa, ayo kita harus berkumpul dengan yang lainnya" ucap sang ibu mengajak alessa untuk ikut dengannya.


"Mom, pergilah lebih dulu aku akan bergabung dengan kalian nanti" balas alessa kepada sang ibu mencoba menolak.


"Alessa!" panggil sang ibu mencoba menggertak alessa.


"Mom, ku mohon biarkan aku sebentar saja di sini aku akan baik-baik saja" ucap alessa jengah melihat sang ibu yang terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Baiklah, segeralah bergabung" balas sang ibu menyerah dan alessa hanya mengangguk ringan sebagai tanggapan.


Alessa melihat sang ibu berjalan menjauh meninggalkannya sendiri lalu mengalihkan matanya untuk kembali menikmati pantai, dia sangat menyukai tempat ini menawarkan pemandangan yang membuatnya nyaman.


**Dor dor


Alessa yang sedang menikmati keindahan laut terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara tembakan yang berpadu dengan suara deru ombak membuatnya menoleh mencari sumber suara.


"Apakah itu suara tembakan?" ucap alessa bertanya kepada dirinya sendiri tidak yakin.


Suara ombak kembali menarik perhatian alessa untuk melihat ke arah laut dan melupakan suara tembakan yang tadi terdengar, namun kepekaan alessa kembali membuatnya reflek terbangun dari duduk setelah sekali lagi dia mendengar dengan jelas suara tembakan.


**dor dor dor


Alessa mendengar suara tembakan itu lebih dari satu kali dan juga lebih jelas dari sebelumnya, rasa ingin tau alessa membuatnya melangkah mencari sumber suara.


Kaki alessa masih melangkah dengan sangat berhati-hati, sebenarnya dia merasa sangat takut namun rasa ingin tau yang besar menutup rasa takutnya.


Menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar di antara bangunan-bangunan tua, langkah kaki alessa terhenti ketika matanya melihat tubuh seorang pria yang tergeletak dengan bersimbah darah di sekitar tubuhnya di dekat tubuh pria ituter terdapat dua orang pria lain yang alessa yakini sebagai pelaku penembakan.


Alessa yang masih terlihat syok bertambah terkejut ketika kedua pria itu menyadari keberadaan alessa di sana, perlahan kaki alessa melangkah mundur untuk menjauh dari sana.


Setelah di rasa cukup alessa tidak dpaat lagi menahan dirinya untuk tidak berlari meninggalkan tempat itu secepat yang dia bisa, sesekali alessa meloleh untuk memastikan kedua pria tidak mengejarnya namun perkiraan alessa salah, dia justru tidak mendapati kedua pria itu di belakang dan artinya kedua pria itu tidak mengerjar.


Alessa berhenti berlari dan kembali menoleh kebelakang dan benar tidak terdapat siapapun disana.


Dengan nafas yang tersengal-sengal alessa berjalan mundur untuk tetap memastikan dan waspada, namun kewaspadaan alessa justru membuatnya kembali menabrak seseorang hingga membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan, alessa beruntung tangan seseorang sigap menahan tubuhnya hingga tidak membuatnya sampai terjatuh.


Alessa yang terkejut reflek memegang lengan seseorang itu untuk menahan tubuhnya yang hampir terjatuh, mata tajam itu menatap alessa dingin membuatnya tidak fokus. Tatapan itu berlangsung beberapa menit hingga telapak tangan alesaa merasakan dingin dan terkejut ketika tiba-tiba darah mengalir di antara sela-sela jarinya.


"Darah?" alessa terkejut melihat tangannya di penuhi darah.


"Lenganmu terluka" ucap alessa.


Alessa juga menyadari pria yang terluka itu adalah pria yang sama yang sudah menolongnya beberapa waktu yang lalu.


"Lenganmu terluka" ucap alessa gugup karena mendapat tatapan tajam dan dingin dari pria di hadapannya.


"Kau harus segera mengobatinya, ada klinik terdekat dari sini ikuti jalan itu setelah beberapa meter di depan sana kau akan melihat klinik, cepatlah sepertinya lukamu cukup dalam jika tidak segera di tangani kau akan kehilangan banyak darah" ucap alessa panjang kepada pria di hadapannya.


Pria itu hanya tersenyum evil melihat alessa yang berbicara panjang lebar memberitahunya.


"Aku tidak tau letak klinik yang kau maksud nona" jawab pria itu tersenyum evil menatap alessa penuh makna.


"Kau bisa ikuti jalan ini, setelah melewati beberapa bangunan kau akan menemui klinik setelahnya" alessa berusaha menjelaskan kembali.


"Jika kau sangat tau letak klinik itu, mengapa kau tidak mengantarku?" ucap pria itu menatap mata alessa di barengi dengan senyum evil.


"B-baiklah, aku akan mengantarmu" balas alessa gugup menyetujui pria itu.


Alessa berjalan lebih dulu sebagai pemandu jalan menuju klinik sebagai tujuan mereka, alessa yang berada di depan tidak menyadari pria di belakangnya sedang tersenyum evil memperhatikan punggungnya.


Kaki jenjang alessa melangkah menggunakan heels yang membuat tampak anggun dan sexy di waktu yang bersamaan.


Dalam perjalan menuju klinik alessa terus melihat tangannya yang masih terdapat darah, dia merasa sangat risih beruntung wastafel umum berada di jalan yang mereka lalui hingga dia bisa menghentikan langkahnya untuk mencuci tangannya disana. Sementara pria itu hanya memperhatikan setiap pergerakan yang di lakukan oleh alessa tanpa bersuara sedikitpun.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju klinik dengan alessa yang masih berjalan di depan untuk memandu. Setelah klik terlihat alessa menoleh melihat pria yang berjalan di belakangnya.


"Kita sudah sampai" ucap alessa memberitahu pria itu.


Pria itu hanya menatap dingin bangunan klinik yang menjadi bagian dari bangunan tua lain di sekitarnya. Tanpa menjawab alessa pria itu melangkah memasuki klinik di ikuti oleh alessa.


Tiba di dalam klinik seorang resepsionis menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" resepsionis bertanya kepada mereka.


Setelah mendengar resepsionis alessa langsung menjawab dengan cepat.


"Lengannya terluka dan harus segera di obati" ucap alessa.


"Seperti apa jenis lukanya" ucap resepsionis bertanya membuat alessa jengkel mendengarnya.


"Untuk apa kau membuang waktu dengan bertanya hal yang tidak penting!"


"Dia terluka dan harus segera di obati!" ucap alessa kesal.


Alesaa merasa resepsionis itu hanya membuang waktu dengan menanyakan hal yang sangat tidak penting menurutnya.


"Nona maafkan saya, tapi saya harus bertanya untuk mengetahui apakah jenis lukanya dapat di tangani oleh perawat magang kami atau tidak karena dokter utama kami sedang di bertugas di tempat lain" jawab resepsionis menjelaskan.


"Tidak semua luka bisa di tangani oleh perawat magang mereka hanya dapat menangani luka ringan dan tidak untuk luka yang serius" resepsionis itu kembali memberikan penjelasan kepada alessa.


"Aku rasa tidak masalah mereka bisa melakukan ini, perawat hanya perlu membalut lukanya" balas alessa.


Mendengar jawaban alessa resepsionis langsung bersiap untuk memberi informasi kepada perawat untuk segera bersiap mengobati pasien mereka. Tetapi aktivitas resepsionis itu terhenti oleh suara yang tiba-tiba menginterupsi.


"Tidak perlu" pria itu bersuara menghentikan sang resepsionis yang sedang menjalankan tugasnya.


"Apa maksudmu?" ucap alessa bertanya heran mendengar pria itu yang menghentikan resepsionis.


"Perawat itu tidak akan bisa mengobati lukaku" ucap pria itu menatap alessa dingin.


"Dia petugas medis tentu saja dia bisa, membalut luka bukanlah hal yang berat" jelas alessa kepada pria di sampingnya.


"Apakah perawat itu juga bisa mengeluarkan peluru?" tanya pria itu santai.


"Apa!" alessa terkejut mendengar ucapan pria itu.


"Luka itu-"


"Peluru?"


"Kau tertembak?"


"Oh ya tuhan, bagaimana bisa kau sesantai ini saat ada peluru di lenganmu" ucap alessa tak habis pikir.


"Cepat obati dia, lengannya tertembak" ucap alessa panik kepada resepsionis.


"Nona, luka tembakan adalah luka serius itu adalah tugas seorang dokter bukan seorang perawat" balas resepsionis menjelaskan.


"Kalau begitu baiklah biarkan aku melakukannya, aku seorang dokter" ucap alessa serius.


"Jangan menunda lagi, dia bisa kehilangan banyak darah" ucap alessa panik.


"Tapi nona itu menyalahi prosedur klinik, kau bukanlah dokter yang bertugas di sini" jawab resepsionis.


"Kau bisa membuat surat pernyataan karena aku melanggar prosedur klinik, aku akan bertanggung jawab untuk itu" jawab alessa serius.


"Tapi untuk sekarang siapkan ruang bedah" ucap alessa kembali dengan tegas.


"Baiklah" jawab resepsionis ragu namun tetap menjalankan tugasnya.


____


Setelah menunggu beberapa saat, resepsionis kembali datang dan mempersilahkan alessa untuk menggunakan ruang bedah.


"Nona silahkan" ucap resepsionis mempersilahkan.


"Ayo ,cepat" ucap alessa kepada pria itu.


Alessa dan pria itu berjalan menuju ruang bedah, mereka tiba di ruangan yang tidak terlalu luas namun cukup untuk melakukan bedah darurat.


Pria itu melepas jas dan juga kemejanya tanpa di perintah, setelah semua terlepas alessa dapat melihat luka pada lengan pria itu yang ternyata cukup dalam.


Alessa melihat pria di hadapannya dengan heran, bagaimana bisa dia dapat setenang itu dan tidak mengeluh sakit sedikitpun saat ada peluru di tubuhnya.


"Kita tidak memiliki obat bius, ini mungkin akan sedikit sakit" alessa memberitahu namun ucapannya tidak mendapatkan tanggapan apapun dari pria di hadapannya.


Tangan alessa mulai bergerak perlahan untuk mengeluarkan peluru dari lengan pria itu.


Bedah cukup memakan waktu mengingat alessa tidak bisa gegabah mengingat tidak ada obat bius yang di gunakan dalam bedah, alessa takut tindakannya dapat membuat pria itu merasakan sakit jika dia terburu-buru.


Selama bedah berlangsung pria itu hanya diam tidak mengeluhkan sakit sedikitpun, dia memperhatikan setiap pergerakan alessa.


"Sedikit lagi" ucap alessa masih membalut perban di lengan pria di hadapannya.


Pria itu masih terdiam tidak bersuara dan hanya memperhatikan alessa yang berada sangat dekat dengannya.


"Sudah selesai" ucap sambil memperlihatkan senyum.


Alessa terkejut ketika pandangan mereka saling bertemu. Mata biru pria itu seperti menenggelamkannya ke dasar laut, tatapan dingin itu seperti mengisyaratkan banyak makna yang tidak di mengerti oleh alessa.


"ehm- sudah selesai" ucap alessa gugup lalu menjauh.


Mendengar alessa pria itu kembali mengenakan kemeja dan jas miliknya, bergerak lincah seperti tidak sedang terluka lalu bergerak meninggalkan ruang bedah.


Alessa yang semula hanya diam melihat kepergian pria itu memutuskan untuk ikut keluar. Di depan resepsionis beberapa pria berpakaian hitam berdiri bersama pria itu sedang berbicara kepada sang resepsionis.


Setelah selesai mereka semua berjalan keluar meninggalkan klinik tanpa memperdulikan alessa berdiri memperhatikan.


...----------------...


.


.


.


.


.


.


.


to be continue