The Forbidden Love

The Forbidden Love
Melarikan diri



"Sudah cukup alessa, menangis tidak akan bisa merubah kondisi" alessa menghapus kasar air matanya.


"Kau harus bertindak!"


Alessa berjalan ke arah balkon dan melihat hutan belantara yang justru membuatnya takut kembali melarikan diri.


"Jangan takut alessa" ucapnya menyakinkan dirinya walau ragu.


"Kau adalah gadis pemberani"


"Tidak akan sulit untuk pergi dari tempat terkutuk ini!" alessa mencoba terus meyakinkan diri untuk berani bertindak.


"Apakah aku harus melompat?" ucap alessa melihat kebawah yang terdapat jurang membuatnya bergidik.


...*****...


Tidak melihat adanya jalan, alessa memutuskan keluar dari kamar dan terang-terangan keluar melalui pintu utama melewati leonardo dan nico yang sedang duduk bersama membicarakan sesuatu.


Sedikit lagi alessa akan melewati pintu leonardo sudah lebih dulu menghentikannya.


"Alessa!"


"Aku sudah mengatakan untuk kembali ke kamarmu!" leonardo mengingatkan alessa.


Tidak peduli dengan ucapan leonardo alessa tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh dan melihat ke belakang.


"ALESSA!"


"Ku peringatkan sekali lagi, kembali ke kamarmu!" alessa menghentikan langkahnya lalu menoleh melihat ke arah leonardo yang sudah berdiri melihat ke arahnya.


"Kau pikir siapa dirimu?!" ucap alessa menantang.


"Aku akan pergi kemanapun aku ingin pergi"


"Kemanapun aku akan pergi itu bukan urusanmu!".


"Simpan saja perintahmu untuk para pelayanmu!" ucap alessa berbalik kembali melangkah dengan angkuh dan percaya diri setelah berani mengatakan semua itu kepada leonardo.


**Dor


Suara tembakan yang begitu keras seketika berhasil membuat alessa menghentikan terkejut.


Lagi dan lagi suara tembakan kembali terdengar dan selalu berhasil menjadi suara yang mengecilkan keberanian alessa.


"Selangkah saja-" ucap leonardo menjeda.


"Selangkah saja kakimu bergerak alessa, pelayan itu akan menggantikanmu untuk menerima hukuman" ucap leonardo membuat alessa terkejut melihat seorang pelayan yang sudah menangis ketakutan karena pistol yang sudah mengarah dikepalanya.


"Kau spikopat gila!" ucap alessa takut dengan mata berkaca-kaca serta tubuh yang gemetar.


"Kau tidak bisa berbuat seperti itu kepada sem-"


"Apakah kau tidak melihat?" ucap leonardo memotong.


"Aku bisa melakukan apapun!" lanjut leonardo kembali.


"Apapun yang terjadi padanya bukanlah tanggung jawabku" ucap alessa mencoba egois.


"Kau yakin?!"


"Kau tidak bisa mengancamku seperti ini" jawab alessa.


"Tidak" alessa mempertegas ucapannya lalu berbalik melanjutkan langkah namun kembali di hentikan.


**Dor


"Arrghh" teriak pelayan itu bersamaan dengan alessa yang juga reflek menutup telinganya terkejut semakin menambah rasa takut.


"Selangkah saja-" ucap leonard.


"Pelayan itu akan benar-benar menanggung sikap keras kepalamu!" ucap leonardo menyudutkan alessa.


Alessa melihat pelayan yang di jadikan leonardo sandera untuk mengancamnya. Tatapan memohon dari pelayan itu membuat alessa merasa bersalah.


Dia ingin bersikap egois dengan tidak peduli tetapi hati kecilnya sangat berat dan tersiksa melihat pelayan itu yang terlihat tidak berdaya.


"Aless-" belum selesai leonardo mengancam, alessa sudah berlari untuk kembali ke kamar dengan air mata yang semakin deras mengalir membasahi pipinya.


Leonardo melihat alessa yang berlari dengan senyum evil merasa puas.


"Ya itu adalah pilihan yang tepat" gumam leonardo.


"Kau terlalu naif alessa" ucap leonardo kembali duduk di sofa dengan angkuh.


...*****...


Alessa menangis berbaring di ranjang dan mengunci pintu dari dalam hingga tidak bisa membuat siapapun masuk, dia sangat marah tetapi tidak bisa meluapkan kemarahannya dan hanya berakhir dengan menangis seorang diri.


"Apa yang harus kulakukan?" gumam alessa lirih.


**tok tok


Suara ketukan silih berganti terdengar sejak alessa kembali dan mengunci pintu.


Jam sudah menunjuk di angka 21.00 pm dan alessa masih belum juga keluar atau membuka pintu kamarnya.


"ALESSA!" suara leonardo semakin keras mulai tidak sabar.


Alessa tetap tidak peduli dengan leonardo yang terus memanggil, hingga tidak lagi mendengar suara leonardo yang memanggil.


Alessa yang hendak menunju bathroom tiba-tiba di kejutkan oleh pintu kamar yang terbuka dengan kasar memperlihatkan leonardo dan menatap tajam menahan amarah.


"Le-o" gumam alesaa terbata terkejut.


"Alessa"


"Aku pikir kau adalah gadis yang pintar"


"Aku mengira kau mengerti bahwa perintah adalah keharusan!"


"Tapi sepertinya kau terlalu meremehkanku" leonardo menatap alessa tajam menusuk membuat alessa takut.


"Aku sudah cukup bersabar!" langkah kaki leonardo perlahan membawa alessa ikut melangkah mundur.


"Tapi sepertinya kau tidak juga mengerti!"


"Aku bukanlah seseorang yang bisa kau permainkan!" leonardo mendesis mengintimidasi.


"Le-o" ucap alessa terbata.


"Kau berada di wilayahku"


"Perintahku adalah pertama yang harus kau dengar!"


"Jangan mencoba untuk membantah"


"Karena aku tidak menyukai segala bentuk bantahan" desis leonardo penuh penekanan tepat di telinga alessa yang sudah terhimpit antara dinding dan leonardo.


"Atau kau akan sangat menyesalinya!" ucap leonardo tajam.


Setelah mengatakan itu semua leonardo berbalik pergi meninggalkan kamar dengan alessa yang masih terdiam dan syok.


"hiks-" alessa menangis tangannya terkepal kuat menahan marah yang tidak bisa dia luapkan.


"Kau bodoh alessa!"


"Kau terlalu pengecut!"


"Kau tidak berguna bahkan untuk dirimu sendiri!" alessa terus mengumpati dirinya.


"Sudah cukup!" alessa menghapus kasar air matanya.


"Bagaimanapun caranya, detik ini juga aku harus pergi dari tempat ini" ucap alessa penuh keyakinan.


Alessa berjalan ke arah pintu dan kembali menguncinya dari dalam, setelah selesai dia berjalan ke arah balkon mencari cara untuk keluar.


"Apa yang harus aku lakukan?" alessa kesulitan mencari cara untuk keluar dari tempat itu mengingat kamar berada tempat di samping jurang yang menghadap langsung pada hutan belantara.


"ku mohon, ku mohon" ucap alessa berjalan mondar mandir di balkon terus memikirkan cara.


"Tidak ada cara lain, aku harus menunggu hingga tengah malam" ucap alessa mendapat ide.


Alessa kembali masuk ke dalam kamar dan mendudukkan dirinya menunggu hingga tengah malam ketika semua orang sudah mulai terlelap.


...*****...


00.59 am


Alessa berjalan ke arah pintu lalu membukanya dan melihat keadaan sekitar yang terlihat sangat sunyi.


Setelah memastikan tidak ada siapapun alessa keluar dari kamar berjalan dengan was-was dan setenang mungkin supaya tidak menimbulkan suara.


Tanpa alessa sadari seseorang melihat kegiatannya dari kejauhan, dan hanya tersenyum evil tanpa berniat menegurnya.


"Alessa kau benar-benar gadis pemberani dan pembangkang" ucap veru tersenyum evil melihat alessa.


"Baiklah aku akan sedikit membantumu"


"Sepertinya ini akan sangat menyenangkan" ucap veru tersenyum licik merencanakan sesuatu.


Veru tersenyum membayangkan hal-hal yang akan di lakukan oleh leonardo kepada alessa jika dia mengadukan apa yang di lihatnya.


...----------------...


.


.


.


.


.


.


.


to be continue