
Alessa duduk dengan mata yang sudah tertutup oleh kain juga tangan yang terikat kuat membuatnya sulit bergerak.
Di sepanjang perjalanan alessa hanya menjadi pendengar dari percakapan yang terjadi di dalam mobil yang berjalan.
"Kemana kalian akan membawaku?" alessa bersuara bertanya kepada semua orang.
"Kemana kalian akan membawaku?" ucap alessa mengulang pertanyaan.
"Kumohon lepaskan aku"
"Aku akan memberikan berapapun uang yang kalian inginkan" alessa mencoba membuat kesepakatan namun tidak mendapatkan tanggapan apapun.
"Kalian tidak mendengarku?"
"Kumohon" ucap alessa lirih, menyerah dan kembali terdiam.
...*****...
Mobil yang membawa alessa berhenti, beberapa saat kemudian seseorang membuka pengikat pada tangan dan juga menutup matanya membuat alessa merasa lega.
"Dimana ini?" alessa melihat sekitar yang sudah gelap.
"Silahkan nona" ucap bodyguard mempersilahkan alessa.
"Nona, silahkan" ucap sang bodyguard kembali meminta alessa segera turun.
Alessa keluar dari mobil dengan pakaian dan juga keadaannya yang terlihat sangat berantakan.
Enam orang pelayan berjajar rapih melihat alessa dengan heran namun tetap menunduk memberikan hormat.
"Selamat datang nona" ucap salah satu pelayan menyambut.
"Silahkan" ucap pelayan lain mempersilahkan alessa untuk memasuki rumah yang bergaya mediterania.
Dengan ragu alessa melangkah memasuki rumah dengan pelayan yang setia mengikuti dan memberikan arahan kepadanya.
Alessa di arahkan langsung menunju ke sebuah kamar di lantai dua rumah, salah satu pelayan membuka pintu kamar dan mempersilahkan alessa.
"Silahkan" ucap pelayan mempersilahkan.
Alessa melangkah memasuki kamar dengan pelayan yang mengikutinya di belakang.
"Nona, kami akan membantu anda untuk membersihkan diri anda"
"Kami sudah menyiapkan semuanya" ucap pelayan memberitahu.
"Baiklah" jawab alessa menanggapi.
"Tapi-"
"Kalian tidak perlu membantuku, pergilah tinggalkan aku sendiri" ucap alessa mengusir para pelayan dari kamar itu.
Para pelayan itu saling berpandangan, bagaimanapun melayani alessa adalah perintah langsung yang di berikan kepada mereka.
"Tapi nona, tuan-"
"Aku akan bertanggung jawab jika tuanmu marah" jawab alessa memotong lebih dulu.
"Baiklah, kami permisi" ucap pelayan mengalah lalu pergi meninggalkan alessa sendiri di kamar itu.
Alessa melihat-lihat seisi kamar dengan perasaan asing karena suasana kamar yang jauh berbeda dengan biasanya.
Alessa bergerak menuju bathroom untuk membersihkan diri, dia sudah tidak nyaman jika harus terus seperti itu lebih lama lagi.
____
Setelah selesai membersihkan diri alessa bersalin mengambil asal pakaian yang tersedia di walk in closet.
alessa berjalan ke arah ranjang dan mengistirahatkan dirinya disana, sangat nyaman. Rasanya dudah lama sekali sejak terkurung di penjara bawah tanah dia sangat merindukan kenyamanan ini.
Air mata alessa menetes, dia menangis memikirkan kedua orangtuanya yang mungkin sedang mencarinya sekarang.
"Dad hiks-" alessa berucap lirih menatap langit-langit kamar.
____
Sepanjang malam alessa terjaga tidak tidur hingga pagi, sinar matahari yang terlihat dari jendela kamar menjadi penanda bergantian untuk alessa tidur di saat waktu yang seharusnya untuk terbangun.
Sementara alessa sudah berada di alam mimpi seseorang datang memperhatikan alessa yang sedang terlelap.
"Alessa-" gumam leonardo menatap alessa dingin.
"Kupastikan Sergio Aamodt tidak akan pernah mendapatkan putrinya kembali!"
"Tidak-akan-pernah!" ucap leonardo menekan setiap kata penuh dendam.
Setelah mengatakan itu di hadapan alessa yang sedang tertidur leonardo pergi meninggalkan kamar dengan amarah yang kembali mencuat dalam dirinya.
____
13.00 pm
"ehhmm" alessa mengeluh memegang lehernya yang terasa sedikit pegal.
Mata alessa melihat ke arah luar jendela kamar yang mengarah langsung pada hutan di luar sana.
Suara ketukan membuat alessa menoleh melihat ke arah pintu, beberapa saat kemudian seorang terlihat dari balik pintu.
"Nona" pelayan itu menunduk memberi hormat kepada alessa yang masih belum beranjak dari ranjang.
"Kami di perintahkan untuk membantu anda bersiap" ucap pelayan itu membuat alessa tidak mengerti.
"Bersiap?" jawab alessa mengulang tidak mengerti.
"Ya nona" balas pelayan itu kembali.
"Tuan memerintahkan kami untuk membantu anda bersiap" ucap pelayan itu mengulang.
"Tidak, tidak perlu" jawab alessa menolak.
"Tapi nona-"
"Aku akan segera bersiap kau tidak perlu membantuku, pergilah" potong alessa kembali mengusir pelayan seperti yang di lakukannya semalam.
"Baiklah, permisi" jawab pelayan itu ragu namun tetap pergi meninggalkan kamar.
Setelah kepergian pelayan alessa tidak langsung membersihkan diri dia justru berjalan menuju balkon.
Alessa baru menyadari balkon kamar di desain menyambung dengan balkon lain sehingga terlihat seperti lorong panjang.
Kaki alessa terus melangkah mengikuti lorong hingga membawanya tiba pada bagian lain rumah.
"Hutan" ucap alessa mengeluh tidak menemukan jalan keluar hanya melihat hutan belantara di sekeliling rumah dan juga jurang di sepanjang balkon lorong samping.
"Ya, hutan" saut seseorang membuat alessa terkejut.
"Jadi jangan mencoba untuk melarikan diri" ucap leonardo menatap alessa dingin.
"Lupakan niatmu untuk melarikan diri dari tempat ini!" ucap leonardo mengingatkan.
"Waktumu hanya 20 menit untuk bersiap, lalu turun ke ruang makan"
Alessa yang mendengar leonardo hanya terdiam tidak menjawab dan memutuskan kembali ke kamar yang di tempati olehnya.
...*****...
Alessa sudah selesai membersihkan dirinya dan sedang berada di walk in closet dia sedang memilih pakaian yang akan dia kenakan.
"Banyak sekali pakaian wanita disini?" ucap alessa heran.
"Sebenarnya siapa pemilik kamar ini?"
"Siapapun kau, maafkan aku karena memakai pakaian milikmu tanpa izin" ucap alessa mengambil salah satu dress.
"Apakah aku harus turun?" alessa bertanya kepada pantulan dirinya sendiri melalui cermin di hadapannya.
Entah bagaimana alessa akhirnya memutuskan untuk turun menuju ruang makan seperti perintah leonardo.
____
Alessa menuruni tangga, di bawah sana terlihat beberapa pelayan yang sedang berkumpul seperti sedang membicarakan sesuatu.
Setelah menyadari kedatangan alessa mereka menghentikan obrolan menghadap alessa dan memberinya hormat.
"Nona, tuan leonardo sudah menunggu anda di ruang makan" ucap salah satu pelayan.
Alessa berjalan bersama salah satu pelayan yang memberikan arahan untuk menuju ke ruang makan.
Dari kejauhan alessa melihat leonardo yang sudah duduk di kursi utama meja makan.
Tatapan dingin leonardo membuat debaran jantung alessa tiba-tiba menjadi tidak beraturan seketika menjadi membuatnya gugup.
"Nona, silahkan" ucap salah satu pelayan lain menyiapkan kursi alessa.
"Terimakasih" balas alessa tersenyum.
Semua pelayan sibuk menyiapkan dan menyajikan makanan untuk leonardo dan alessa.
Sejak beberapa hari, ini adalah pertama kalinya alessa kembali makan dengan normal seperti biasa.
"Apakah menu makanan di rumah ini sangat lezat, hingga kau makan begitu lahap?" ucap seseorang tiba-tiba membuat alessa menoleh ke arah sumber suara.
"Ve-ru?" alessa terkejut melihat keberadaan veru yang sedang berdiri melihat ke arahnya.
"Kau, disini?" ucap alessa tidak mengerti.
"Hai, bagaimana kabarmu?" jawab veru lalu duduk di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan alessa, tidak lupa dengan senyum sumringahn yang dia buat-buat.
"Bagaimana bisa-" ucap alessa terpotong oleh leonardo yang juga bertanya kepada veru.
"Mengapa kau tidak mengabariku terlebih dahulu" leonardo bertanya dan menghentikan kegiatannya yang sedang makan.
"Aku tidak sempat membuang waktu dengan memberi kabar terlebih dahulu" balas veru menjawab leonardo.
"Memberi kabar lebih dulu atau tidak, aku akan tetap datang"
"Aku sangat tidak sabar ingin datang dan memberi kabar ini langsung kepadamu" ucap veru antusias.
"Leo kau harus tau keluarga Aamodt sedang kacau sekarang"
"Apakah kau tau sergio terlihat seperti pecundang, haha" veru tertawa terlihat sangat puas mengatakan hal itu kepada leonardo yang menampilkan ekspresi dingin sementara alessa semakin di buat terkejut mendengarnya.
"Veru kau-"
"Alessa pergilah ke kamarmu" leonardo memerintah alessa yang sedang bertanya kepada veru.
"Veru apa maksudmu!" alessa masih bertanya mengabaikan perintah leonardo yang menyuruhnya kembali ke kamar.
"Ada apa alessa?" jawab veru melihat ke arahnya.
"Oh tidak tidak"
"Ada apa nona alessa, kau membutuhkan sesuatu?!" ucap veru mengolok-olok alessa.
"Alessa kembali ke kamarmu!" leonardo kembali memerintah.
"TIDAK!" jawab alessa marah bersamaan dengan suara decit kursi yang terdorong ke belakang akibat gerakan tiba-tiba alesa yang berdiri dari duduknya.
"Wah, lihatlah nona alessa mulai marah" ucap veru mengejek dengan kedua tangan bersilang di depan dada seakan-akan menantang alessa.
"Mengapa kau melakukan ini kepadaku?" ucap alessa tidak menyangka.
"Alessa ku peringat-" ucapan leonardo terpotong oleh alessa yang sudah lebih dulu menolak perintahnya.
"TIDAK!"
"AKU TIDAK AKAN PERGI KEMANAPUN!"
"SEBELUM KALIAN-"
"PLAKK-" kepala alessa tertoleh ke samping akibat tamparan keras yang di lakukan oleh leonardo kepadanya.
"KEMBALI KE KAMARMU!" ucap leonardo marah.
Mata alessa berkaca-kaca akibat rasa sakit dan rasa malu yang dia rasakan bersamaan.
Sebelum pergi alessa melihat veru yang menatapnya dengan senyum puas penuh kebencian lalu berlari meninggalkan ruang makan dengan air mata yang terus menetes.
...----------------...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
to be continue