The Forbidden Love

The Forbidden Love
Bertemu Charlotte



.


.


.


Ruang makan,


Tiga hari berlalu, selama tiga hari ini alessa tidak lagi bertemu ataupun melihat leonardo, kebersamaan mereka tiga hari lalu menjadi hari terakhir alessa melihat leo.


Alessa menuju ruang makan untuk breakfast, hari ini dia begitu mandiri datang ke ruang makan tidak seperti hari-hari sebelumnya yang harus di antarkan ke kamar. Makan seorang diri dikamar setiap hari membuat alessa merasa bosan dan hari ini dia memutuskan untuk ke ruang makan.


"Selamat datang nona, silahkan" sapa pelayan menyambut alessa.


"Terimakasih" balas alessa ramah.


Alessa duduk di kursi tempat dia biasa duduki dengan beberapa menu mulai di hidangkan oleh para pelayan.


"Boleh aku bergabung?" suara wanita berhasil menghentikan alessa yang hendak menyantap makanannya.


Alessa menoleh melihat kearah sumber suara. Ya, suara itu adalah suara charlotte yang berdiri dengan senyum diwajahnya.


"Charlotte?" ucap alessa terkejut.


"Y-ya tentu saja" balas alessa gugup.


Mendapatkan persetujuan tanpa ragu charlotte bergegas menempati kursi yang berhadapan langsung alessa. Sekarang alessa dan charlotte sedang menikmati breakfast mereka dengan saling duduk berhadapan satu sama lain.


"Kau disini alessa?" ucap charlotte tanpa melihat alessa masih mengunyang dan memotong steak miliknya.


Alessa yang mendengar pertanyaan itu langsung menghentikan kegiatan mengangkat wajahnya lalu melihat kearah charlotte yang masih sibuk memotong steak di piringnya.


"Seperti yang kau lihat, aku disini" jawab alessa.


"Bukankah kau begitu ingin keluar" ucap charlotte menatap alessa yang terdiam heran.


"Hm lupakan" lanjut charlotte menyadari sesuatu.


"Kalian disini?" suara leonardo terdengar membuat alessa mengalihkan pandangannya dari charlotte.


Melihat kedatangan leonardo seketika membuat alessa seketika berubah senang.


"Kau sudah kembali?" ucap charlotte bertanya kepada leonardo.


"Ya" jawab leo singkat.


"Kau ingin aku menyiapkan aroma terapi?"


"Aku bisa menyiapkannya di kamar kita" ucapan charlotte berhasil membuat alessa menoleh melihat kearahnya heran.


"Tidak" jawab leonardo menolak.


Sementara itu alesa masih terdiam mencoba memahami ucapan charlotte yang baru saja dia dengar.


"A-ku permisi" alessa berpamitan untuk pergi dari ruang makan meninggalkan leonardo dan charlotte.


_____


Kamar,


Setibanya di kamar alessa langsung menuju balkon dan mendudukan dirinya di sofa dengan menyenderkan kepala.


"Jadi mereka tinggal di kamar yang sama" ucap alessa kecewa.


"Ada apa denganku!"


"Mengapa aku merasa tidak menyukai hal ini"


"Itu bukanlah urusanmu alessa!"


"Berhenti memikirkan mereka" ucap alessa kesal kepada dirinya sendiri.


Alessa memegang kepalanya yang terasa ingin pecah, dia tidak pernah menduga hal ini akan sangat mempengaruhi dirinya.


*Tok *tok *tok


Suara ketukan pintu terdengar segera alessa berjalan menuju pintu untuk membukanya.


"Nona, maaf mengganggumu" ucap pelayan kepada alessa setelah pintu terbuka.


"Tuan memerintahkan anda untuk ke ruang kerja sekarang" ucap pelayan itu kepada alessa.


"Baiklah" jawab alessa langsung walaupun sebenarnya dia sangat terheran dan bertanya-tanya.


_____


Alessa bergegas menuju ruang kerja sesuai perintah leonardo. Setibanya di depan pintu ruang kerja alessa mengetuk pintu itu tak lama setelahnya pintu terbuka memperlihatkan bodyguard yang menyambut.


Alessa berjalan memasuki ruangan itu dengan sedikit gugup, setelah melewati pintu alessa dapat melihat leonardo yang bersandar dengan angkuh pada kursi kebesarannya di balik meja yang menjadi penghalang antara mereka tidak lupa juga tatapan dingin berhasil membuat alessa menciut.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun leonardo hanya memberikan isyarat kepada alessa. Mengerti dengan isyarat dari leo alessa langsung menduduki kursi yang berada di dekatnya.


Setelah duduk alessa hanya memperhatikan leonardo yang memberikan isyarat kepada bodyguard yang berada disana, entah untuk apa alessa tidak mengerti.


Alessa masih dengan sabar memperhatikan bodyguard itu yang sedang melaksanakan tugasnya dari leo. Setelah selesai bodyguard itu memberikan sebuah remote berukuran sangat kecil kepada leo.


Alessa masih belum mengerti apa yang sebenarnya ingin leo tunjukan, sampai sebuah video berputar di layar di sampingnya menunjukkan pandangan yang seketika itu juga membuat alessa begitu terkejut.


"APA YANG KAU LAKUKAN!" ucap alessa marah berdiri dari kursi dan bertanya kepada leonardo.


Sementara itu leonardo hanya memberikan senyum evil melihat reaksi alessa yang begitu terkejut.


"KAU-" alessa kehilangan kata-katanya.


"Mudah alessa" ucap leonardo menjeda.


"Kau hanya perlu menanda tangani surat ini dan mereka akan baik-baik saja" ucap leonardo melempar beberapa kertas di hadapan alessa.


Ternyata leonardo sedang memaksa alessa membuat kesepakatan dengan mengancam.


Alessa meraih kertas-kertas di hadapannya dan membaca setiap kata tanpa terlewatkan sedikitpun.


"BRENGSEK!" ucap alessa melempar kasar kertas-kertas itu tepat di wajah leonardo.


Sontak saja hal itu membuat leonardo terpancing. Leonardo menatap dingin alessa dengan kepalanya yang bergerak memberikan isyarat kepada bodyguard.


Setelah mendapat isyarat perintah dari leonardo sang tuan bodyguard itu langsung melaksanakan tugasnya.


"Lakukan!" ucap sang bodyguard melalui earphone yang dia kenakan.


^^^"Ah tidak kumohon"^^^


^^^"Tidak jangan"^^^


^^^"Ku mohon jangan"^^^


Suara luciella sang kakak ipar yang memohon terdengar begitu lirih melalui layar yang memperlihatkan dirinya sedang di permalukan oleh beberapa pria yang sedang berusaha melecehkannya.


"Lu-cie" ucap alessa gemetar melihat hal yang terjadi.


"Sedikit saja kau terlambat, kau akan menyesal" ucap leonardo mencoba mendesak.


^^^"Ku mohon jangan hiks"^^^


Suara tangisan luciella semakin lirih membuat alessa bertambah gemetar ditambah dengan keadaannya yang sudah begitu buruk.


"Kau brengsek!" ucap alessa menatap leonardo yang menunggu keputusannya.


"Kau pikir aku akan mengikuti keinginanmu"


"Tidak-akan-pernah!" ucap alessa penuh penekanan.


^^^"Ah, kumohon tidak hiks"^^^


^^^"Tidak-"^^^


^^^"Tidak, Jangan"^^^


Suara luciella yang semakin menjadi membuat alessa tidak lagi bisa melawan leonardo.


"Baiklah, hentikan" ucap alessa menatap leonardo marah.


"Tanda tangani" ucap leonardo mendorong berkas itu kepada alessa untuk di tanda tangani.


"Lepaskan luciella" ucap alessa menatap leonardo pasrah.


Sementara itu sedikit isyarat dari leonardo beberapa pria yang sedang melecehkan luciella langsung menjauhkan diri mereka, setelahnya selembar kain di lempar ke arah lucie untuk menutupi tubuhnya karena pakaiannya sudah koyak tak berbentuk.


Leonardo mematikan layar menggunakan remote di tangannya, setelah itu dia memberikan isyarat kepada sang bodyguard untuk meninggalkan ruangan.


Sekarang di ruangan itu hanya tersisa alessa dan leonardo. Leonardo beranjak meninggalkan kursi kebesarannya menghampiri alessa yang masih menatap dengan kemarahan.


Perlahan gerakan leonardo menghimpit mengurungnya dengan kedua tangan di kanan dan kiri tubuh alessa.


*cup


Kecupan tiba-tiba leonardo kembali membuat alessa terkejut, kecupan yang berubah intens dan semakin menuntut dari leonardo seketika membuat alessa kesulitan bernapas. Menyadari hal itu leonardo menarik diri dan memperhatikan bibir alessa dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


Tanpa aba-aba leonardo mengangkat tubuh alessa berjalan menuju sebuah ruangan yang masih terkoneksi dengan ruang kerja.


Sebuah kamar bernuansa hitam dan merah menyambut mereka. Leonardo mendorong tubuh alessa untuk terlentang di atas ranjang dan melancarkan aksinya pada alessa.


Sementara itu air mata alessa menetes namun dia juga tidak melawan apapun yang di lakukan oleh leonardo kepadanya.


...-----...


.


.


.


.


.


.


.


to be continue