
Alessa berjalan keluar meninggalkan klinik setelah menyelesaikan semua urusannya di sana.
"Hufft" keluh alessa setelah melewati pintu klinik.
Alessa akan kembali menuju katedral tempat dimana semua keluarganya berada, dia berjalan seorang diri di tengah panas matahari yang menyengat membuat alessa harus mengangkat tangan untuk menghalangi sinar matahari tetapi pergerakannya kalah cepat dengan seseorang yang sudah lebih dulu menghalangi sinar itu untuknya.
Seorang pria berdiri tepat di sampingnya membuat alessa menghentikan langkah melihat ke arah pria itu.
"Kau?" alessa terkejut.
Pria itu tidak menjawab hanya menatap dan memperhatikan alessa.
"Kau baik-baik saja, apa lukamu terasa sakit?" ucap alessa bertanya.
Pria itu hanya tersenyum evil mendengar pertanyaan alessa.
"Aku akan mengantarmu!" ucap pria itu tidak menjawab pertanyaan alessa lalu kembali melangkah.
"Tidak perlu" jawab alessa menolak.
"Sepertinya keindahan tempat ini berhasil membuatmu terkecoh" ucap pria itu membuat alessa mengerutkan kening tidak mengerti.
"Tidak perlu mengantarku, aku masih mengingat benar jalan yang harus ku lalui" ucap alessa kembali menolak.
"Kota ini tidak seindah yang terlihat setiap jalan yang kau lalui adalah bahaya yang mengintai"
"Dan satu lagi, aku tidak suka berhutang budi kepada siapapun" ucap pria itu dingin menatap alessa tajam.
Alessa hanya menghela nafas berat mendengar pria itu yang menurutnya sangat arogan, saat akan melanjutkan langkah mata alessa melihat dua orang pria asing yang sedang memperhatikan di belakang sana membuatnya langsung mempercepat langkah mengikuti pria itu yang sudah lebih dulu berjalan di depan.
Mereka berjalan berdampingan tanpa ada percakapan, tangan alessa bersilang mengusap kedua lengannya merasa panas namun juga dingin karena angin laut yang berubah-ubah arah menerpa tubuhnya yang hanya menggunakan gaun yang terbuka.
Alessa menoleh ketika tiba-tiba dia merasakan seseorang memberikan dan mengenakan jas kepada alessa, membuatnya berhenti dan berkata.
"Tidak perlu" ucap alessa menolak berusaha melepaskan jas pria itu dari tubuhnya.
Pria itu tidak memperdulikan alessa yang menolak jas miliknya dia terus berjalan dengan telapak tangan yang berada di dalam saku celana dan sesekali memegang earphone untuk berkomunikasi.
"Siapa namamu?" alessa bertanya kepada pria itu.
"Mengapa lenganmu bisa terluka?" alessa kembali bertanya.
"Ada peluru di lenganmu dan kau tidak mengeluh sakit sedikitpun" ucap alessa melihat pria di sampingnya.
Tidak ada satupun pertanyaan terjawab membuat alessa berhenti dan enggan untuk kembali bertanya.
Alessa memperhatikan pergerakan pria di sampingnya yang sedang berkomunikasi melalui earphone, samar-samar alessa dapat mendengar pria itu berbicara serius dengan lawan bicaranya.
Tanpa sadar alessa tersenyum tipis menikmati ketampanan pria itu, dia menunduk malu merasa konyol dengan sikapnya yang diam-diam mengagumi ketampanan pria itu. Sungguh alessa merasa sangat kanak-kanakan.
"Alessa!"
Satu suara panggilan membuat alessa yang semula sibuk tersipu malu langsung mengangkat wajahnya terkejut. Di depan sana sang ayah dan beberapa bodyguard sudah berdiri melihat ke arahnya.
Tanpa alessa sadari pria itu juga sudah membalik tubuhnya membelakangi sang ayah dan membuat mereka saling berhadapan, ketika hendak melangkah pria itu berhenti di samping alessa membuat mereka berdampingan dengan arah pandang yang berbeda.
"Leonardo"
"Jangan lupakan nama itu!" ucap pria itu menoleh melihat ke arah alessa yang juga sedang menoleh ke arahnya.
"Berhati-hatilah, ketampananku bisa menghancurkanmu kapanpun" ucap pria itu dengan ejekan lalu pergi meninggalkan alessa dengan masalah besar karena harus berhadapan dengan sang ayah.
Dapat alessa rasakan sang ayah sedang marah, terlihat jelas dari tatapan matanya yang sangat dingin dan tajam.
Langkah sang ayah yang mendekat semakin menambah rasa takut dalam diri alessa, tatapan tajamnya jelas mengisyaratkan kemarahan yang tak terbendung.
"Dad-" alessa tidak bisa berucap lebih dari kata itu karena rasa takutnya.
"Kau dari mana saja alessa!" ucap sang ayah mendesis menahan marah.
"Dad- "
"Darah?" ucap sang ayah terkejut saat melihat darah di gaunnya.
Mendengar sang ayah menyebut 'darah' membuat alessa mengikuti arah pandang sang ayah yang melihat gaun ya g sedang dia kenakan, benar saja terdapat darah yang sudah mengering di sana dan alessa tidak menyadari hal itu.
"Bagaimana bisa ada darah di gaunmu alessa?!" ucap sang ayah membuat alessa gelagap untuk menjawab.
"Dad, aku menolong seseorang dia-" belum sempat alessa menyelesaikan ucapannya sang ayah sudah lebih dulu memotong dan berkata.
"Apakah semua orang yang terluka di dunia ini menjadi urusanmu!" potong sang ayah tajam.
"Dad, aku hanya mencoba menolong-" jawab alessa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Alessa" terdengar suara sang ibu memanggil di balik bodyguard yang berdiri menghalangi.
"Mom" jawab alessa menanggapi sang ibu.
Sang ibu seperti datang di saat yang tepat membuat suasana yang sedikit memojokkan alessa dapat segera berlalu.
"Kau darimana saja, kami semua mencarimu" ucap sang ibu bertanya.
"Aku hanya berjalan-jalan sebentar" jawab alessa berbohong.
"Apa kau tau kami semua mencarimu, kami semua mengkhawatirkanmu di sini" ucap sang ibu khawatir.
"Ya mom, maafkan aku" balas alessa merasa bersalah.
"Baiklah, ayo kita harus segera kembali" ajak letizia kepada sang putri untuk ikut dengannya.
Saat hendak beranjak pergi membawa sang putri, letizia terhenti ketika sang suami sergio Aamodt kembali berucap.
"Letizia, awasi putrimu!" ucap sang suami dingin.
Mendengar ucapan sang ayah membuat alessa semakin resah, dia mengerti bahwa sang ayah sangat marah kepadanya.
"Ya" jawab letizia lirih dapat di dengar oleh semua orang di sana.
"Ayo alessa!" ucap sang ibu mengajak alessa untuk pergi dari tempat itu.
Alessa berjalan mengikuti sang ibu yang berjalan lebih dulu di depan, dia merasa sangat bersalah dan tidak tau harus berbuat apa.
Alessa hanya bisa diam mengikuti sang ibu hingga mereka tiba di depan mobil yang bersiap berjejer rapih menunggu kedatangan mereka.
"Mom, dimana marcello dan luciella?" tanya alessa kepada sang ibu.
"Apakah daddy tidak ikut dengan kita?" alessa lanjut bertanya.
"Daddymu memerintahkan mereka untuk ke asolo" jawab sang ibu.
"Asolo?" tanya alessa heran.
"Ya asolo, mereka akan menetap di sana untuk enam bulan kedepan" jawab sang ibu memberitahu.
"Mereka akan menempati rumah keluarga Aamodt untuk sementara waktu" ucap sang ibu kembali memberitahu alessa.
"Apakah kita juga akan ke asolo?" ucap alessa bertanya.
"Tidak alessa, kita tidak akan asolo" jawab sang ibu.
Setelah mendapat jawaban alessa kembali diam dan tidak berniat untuk bertanya lagi.
Di sepanjang perjalanan alessa hanya memperhatikan pemandangan dari balik kaca mobil yang berjalan membuatnya merasa sangat bosan.
...*****...
"Alessa" suara sayup terdengar oleh alessa yang tertidur.
Guncangan kecil berhasil mengusik alessa yang tertidur hingga membuatnya terbangun.
"Kita sudah sampai" ucap sang mengisyaratkan alessa untuk bangun dan segera bangun.
Alessa keluar dari mobil mengikuti sang ibu sang sudah lebih dulu keluar.
"Selamat datang nyonya" ucap pelayan menyambut sang nyonya.
Sang ibu tersenyum menanggapi pelayan yang menyapanya, lalu mereka berjalan memasuki rumah dengan para pelayan yang sudah berdiri rapih menyambut kedatangan mereka.
"Mom, rumah siapa ini?" ucap alessa bertanya.
"Rumah keluarga Aamodt" jawab sang ibu memberitahu.
"Nyonya, silahkan" ucap pelayan mengarahkan.
"Mom aku sangat lelah, aku ingin istirahat" ucap alessa mengadu kepada sang ibu.
"Tolong antarkan alessa ke kamarnya" letizia memerintah kepada salah satu pelayan di sana untuk mengantar sang putri.
Salah satu dari pelayan langsung bergegas mengarahkan alessa menuju ke kamarnya sesuai perintah dari nyonya Aamodt.
"Silakan nona" pelayan mengarahkan alessa dan mempersilahkannya untuk berjalan lebih dulu darinya.
Alessa dan pelayan itu berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas rumah, tidak membutuhkan waktu yang lama alessa dan pelayan tiba di depan pintu sebuah kamar.
"Silahkan" pelayan itu dengan ramah mempersilahkan alessa untuk masuk ke dalam kamar.
Alessa berjalan memasuki kamar itu diikuti oleh pelayan yang ikut masuk ke dalam untuk menjelasan kepada alessa letak barang yang mungkin akan alessa butuhkan.
"Nona anda bisa memanggil saya jika anda memerlukan sesuatu" ucap pelayan kepada alessa.
"Terimakasih" balas alessa.
"Aku permisi nona" pelayan itu pamit keluar meninggalkan alessa sendiri di kamar.
Pintu sudah tertutup rapat oleh pelayan yang baru saja keluar. Alessa berjalan ke arah tirai tinggi yang menutup jendela besar di baliknya, dari balik jendela silau pantulan sinar bulan di air danau di bawah sana membuat alessa takjub akan keindahannya.
"Wow" ucap alessa takjub.
Alessa terkesima melihat keindahan pantulan cahaya bulan manariknya untuk melangkah mencari jalan keluar.
"Aku tidak tau keluargaku memiliki rumah dengan view seindah ini" ucap alessa tersenyum menikmati keindahan cahaya bulan serta sejuk malam yang membuatnya merasa nyaman.
"Alessa" suara sang ibu tiba-tiba memecah keheningan membuat alessa berbalik melihat sang ibu yang sudah berdiri melihat ke arahnya.
"Mom, kau di sini?" ucap alessa melihat sang ibu yang berdiri melihat ke arahnya.
"Kau mengatakan ingin beristirahat, mom harus datang untuk memastikan ucapanmu" balas sang ibu menjawab dan alessa hanya tersenyum mendengarnya.
Letizia berjalan mendekat bergabung dengan alessa yang sedang menikmati cahaya bulan yang terlihat begitu indah malam ini.
"Keindahan cahaya bulan menghilangkan semua rasa lelahku" ucap alessa tersenyum.
"Mom, mengapa kalian baru mengajakku kesini?" ucap alessa bertanya.
"Aku bahkan baru mengetahui kita memiliki rumah dengan view sedindah ini " ucap alessa menambah memperlihatkan rasa takjub akan keindahan, bahkan gelapnya malam tidak berhasil menutup keindahan tempat itu.
Alessa terus bertanya kepada sang ibu dengan mata yang tak berhenti menikmati keindahan cahaya bulan hingga tidak menyadari tatapan sang ibu yang memperhatikannya dengan serius.
"Tempat ini memang indah alessa, tetapi juga sangat buruk" jawab sang ibu membuat alessa seketika menoleh.
"Apa ada banyak buaya di danau itu?" ucap alessa bertanya.
"Lebih dari itu"
"Tempat indah ini menyimpan hal yang lebih buruk dari buaya" jawab sang ibu membuat alessa semakin tidak mengerti.
"Mom, apa maksudmu?" tanya alessa tidak mengerti.
"Bersihkan dirimu, setelah itu turunlah kita akan makan malam bersama" ucap sang ibu mengabaikan pertanyaan alessa lalu berbalik meninggalkannya.
"Baiklah" jawab alessa lirih masih memikirkan perkataan sang ibu yang membuatnya penasaran.
...----------------...
.
.
.
.
to be continue