The Forbidden Love

The Forbidden Love
Alessa Leonora Aamodt



London,


Kicauan burung sayup terdengar menjadi irama pagi yang indah, hembusan angin membuat tirai jendela terayun-ayun menambah kesejukan bersamaan dengan matahari yang mulai bersinar menjadi perpaduan suasana yang pas.


Sinar mentari menerobos masuk melewati jendela menyinari wajah seorang gadis yang masih tertidur pulas.


**tok tok tok


Suara kentukan pintu terdengar, namun suara ketukan itu tidak cukup kuat untuk membuat gadis yang berada di dalam kamar terbangun.


Tak kunjung mendapat tanggapan pintu kamar terbuka memperlihatkan dua orang pelayan memasuki kamar, salah satu dari mereka langsung bergegas membangunkan sang nona rumah yang masih tertidur pulas tanpa terusik sedikitpun dengan kehadiran mereka.


"Nona" salah satu pelayan membangunkan gadis itu.


"Nona, anda harus segera bangun karena hari ini adalah hari spesial untuk anda" ucap pelayan itu kembali berusaha membangunkan sang nona yang masih pulas tertidur.


"Nona-"


"Uuggh, hm baiklah" gadis itu akhirnya menyaut.


Perlahan kelopak mata gadis itu terbuka memperlihatkan kornea matanya yang hijau, sinar matahari yang mengenai wajahnya semakin memperjelas keindahan mata yang di milikinya.


Gadis itu tersenyum lalu perlahan bangun dengan senyum sumringah menghiasi wajahnya mengingat hari ini adalah hari yang sangat dia tunggu-tunggu.


"Kalian tau hari ini Alessa leonora Aamodt akan resmi menjadi seorang dokter, aarrrgghh-" gadis itu berucap dengan penuh semangat berteriak girang memberitahu kedua pelayan di hadapannya.


"Ya nona alessa, selamat untuk gelar anda" ucap salah satu pelayan memberikan selamat.


"Tuan Aamodt mengirim bunga ini untuk anda" ucap pelayan lainnya menyerahkan buket bunga lili.



"Terimakasih" ucap alessa menanggapi dan meraih buket bunga lili.


"Nona alessa tuan dan nyonya Aamodt sudah menunggu anda" pelayan itu memberitahu alessa yang masih sibuk menikmati keindahan bunga lili di tangannya.


"Ya, baiklah" jawab alessa.


"Kami akan membantu anda untuk bersiap-"


"Tidak, tidak" jawab alessa cepat memotong ucapan pelayan.


"Tidak perlu, aku akan bersiap sendiri" ucap alessa memperjelas penolakannya.


"Baiklah, kami permisi" ucap salah satu pelayan lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar alessa.


Kedua pelayan pergi meninggalkan kamar dan hanya menyisakan alessa seorang sendiri yang masih mencium aroma buket bunga lili pemberian sang ayah.


"Oh ya tuhan, aku harus segera bersiap!" ucap alessa tersadar lalu menyimpan buket bunga lili di atas nakas setelah mengingat kedua orangtuanya yang sudah menunggu.


...*****...


Sementara di lantai satu mansion tuan dan nyonya Aamodt sudah siap dan sedang menunggu putri mereka yang masih bersiap-siap di kamarnya.


"Dimana alessa?" nyonya Letizia Aamodt bertanya karena tak kunjung melihat kedatangan sang putri.


"Ini sudah 30 menit dan alessa masih belum turun" celoteh sang nyonya membuat kedua pelayan yang seharusnya membantu alessa gusar.


"Aku di sini mom" saut alessa menjawab membuat semua orang menoleh melihat ke arahnya.


"Lihatlah bukankah putriku sangat cantik" ucap sang ayah tuan Sergio Aamodt membanggakan alessa.


"Ya tentu saja" ucap sang istri menanggapi jengah.


Alessa tersenyum mendengar percakapan kedua orangtuanya, dia berjalan ke arah sang ayah yang sudah bersiap menyambut untuk memeluknya.


"Bunga liliku" ucap sang ayah memeluk dan mencium alessa dengan penuh kasih sayang.


"Ayo kita harus segera berangkat" ucap sang istri membuat ayah dan anak itu harus saling melepaskan pelukan mereka.


"Baiklah, ayo" jawab tuan sergio menanggapi sang istri dan merangkul alessa bersamanya.


Mereka bergegas meninggalkan ruang tengah menuju pintu utama di depan mansion, di sana mobil yang akan mengantar mereka sudah menunggu sejak tadi.


"Silahkan tuan" ucap sang bodyguard mempersilahkan.


Mereka menaiki mobil yang akan mengantar ke universitas alessa sebagai tujuan. Perjalanan membutuhkan waktu 30 menit untuk tiba di sana.


Di sepanjang perjalanan alessa bercerita kepada kedua orangtuanya tentang rencana juga cita-citanya yang akan menolong banyak orang setelah dia resmi mendapatkan gelarnya sebagai seorang dokter.


Terlalu asik mendengarkan alessa mereka tidak menyadari 30 menit telah berlalu. Mobil yang membawa mereka bahkan sudah memasuki area universitas dan membuat alessa harus menyudahi bicara.


Mobil berhenti tepat di depan gedung utama universitas, mereka turun dari mobil dan memasakuki gedung bergantian dengan tamu lain yang berdatangan.


Mereka berpisah di jalur masuk yang berbeda, dua jalur yang memisahkan jalan khusus tamu dan jalan yang mengarah langsung ke ballrom khusus seluruh mahasiswa yang akan resmi mendapatkan gelar hari ini.


"Baiklah kita berpisah di sini" ucap alessa memberitahu kedua orangtuanya.


"Tersenyumlah yang manis nanti, daddy akan memotretmu" ucap sang ayah menggoda alessa.


"Tentu saja" balas alessa bergurau. Lalu berjalan menuju ballroom, namun suara seseorang yang sangat dia kenal memanggil membuat alessa menghentikan langkah dan menoleh untuk melihat.


"Alessa!"


"Hai Carlina" jawab alessa menyapa sahabatnya.


"Alessa lihat dirimu, kau terlihat sangat menakjubkan" ucap carlina memuji.


"Ayolah carlina, kau juga sangat menakjubkan" balas alessa juga menyanjung sahabatnya.


"Ya, tapi kau tau sejak dulu aku sangat iri dengan kecantikanmu" ucap carlina bergurau.


"Ya baiklah, apakah kita akan terus berdiri dan mengobrol disini?" ucap alessa bertanya.


"Tentu saja tidak, ayo cepat kita harus menjemput gelar kita" carlina menarik tangan alessa bersemangat untuk segera menuju ballroom.


Alessa dan carlina sedikit berlari untuk sampai di ballroom yang sudah terlihat penuh. Mereka langsung menuju kursi mereka di barisan terdepan, barisan yang hanya dapat di isi oleh lulusan terbaik.


Baru saja alessa dan carlina menduduki kursi mereka suara pemberitahuan terdengar, semua orang mulai tertib dan mendengarkan informasi yang di sampaikan oleh sang pembawa acara.


...*****...


Susunan-susunan acara berjalan lancar, semua orang bersuka cita begitupun dengan alessa dan carlina yang saling berpelukan di depan gedung universitas setelah resmi mendapatkan gelar mereka beberapa waktu yang lalu.


Ya, sekarang mereka resmi menjadi seorang dokter dan menjadi lulusan terbaik di salah satu universitas ternama dunia bukanlah hal yang mudah untuk di raih.


"Selamat untukmu dokter alessa" ucap carlina menjulurkan tangan memberi selamat kepada alessa.


"Selamat untukmu juga dokter carlina" balas alessa dengan senyum sumringah di wajah cantiknya menanggapi carlina.


Alessa dan carlina tertawa dengan kekonyolan mereka, mereka tidak mengira bahwa waktu cepat sekali berlalu sejak pertemuan mereka beberapa tahun yang lalu.


"Alessa kita akan berpisah dan aku tidak tau kapan kita akan kembali bertemu" ucap carlina serius menghentikan senyum alessa.


"Sejauh apapun jarak kita nanti, kuharap aku masih tetap menjadi sahabatmu" ucap carlina kembali.


"Carlina apa maksudmu, tentu saja kau sahabatku hingga kapanpun!" jawab alessa memeluk carlina.


Alessa dan carlina saling berpelukan mereka larut dalam kesenangan dan juga kesedihan hingga kedatangan kedua orangtua alessa membuat mereka harus saling melepaskan pelukan.


"Carlina, bagaimana kabarmu" letizia bertanya kepada sahabat sang putri.


"Aku baik bibi" jawab carlina menanggapi memperlihatkan senyum di wajahnya.


"Alessa mengatakan kau akan kembali ke norwegia setelah kelulusanmu" ucap tuan sergio ikut bertanya.


"Ya paman aku akan kembali ke norwegia, ibuku sendiri di sana dan aku tidak ingin membuatnya merasa kesepian untuk lebih lama lagi" balas carlina menjelaskan.


"Kapan kau akan kembali?" letizia kembali bertanya.


"Hari ini bibi, aku sudah mendapatkan jadwal penerbanganku" jawab carlina membuat alessa terkejut.


"Apa!"


"Apa maksudmu carlina, mengapa kau tidak memberitahuku?" ucap alessa terkejut tak terima mendengar ucapan sahabatnya.


"Jika aku memberitahumu, kau akan menghentikanku" jawab carlina santai.


"Mengapa kau melakukan ini padaku?" ucap alessa bersedih.


"Kau harus menunda kepulanganmu beberapa hari dan menginap di rumahku terlebih dahulu sebelum kembali ke norwegia" balas alessa.


"Ya carlina, alessa benar" ucap letizia mencoba membantu sang putri.


"Aku sangat ingin bibi, tapi ibuku sudah menunggu" carlina menolak dengan alasan yang sangat pas.


"Baiklah, persiapkan semua barang milikmu Aamodt air akan mengantarmu ke norwegia" ucap tuan sergio kepada sahabat sang putri.


"Paman, tidak per-"


"Kau mengatakan ingin cepat bertemu dengan ibumu" tuan sergio mencoba membuat carlina menerima.


"Kau hanya perlu duduk diam, apakah itu sangat sulit" ucap alessa mencoba menekan carlina untuk setuju.


"Baiklah" jawab carlina mengalah.


"Kalau begitu cancel tiketmu dan persiapkan semuanya, seseorang akan menjemputmu nanti" ucap tuan sergio kepada carlina.


"Baiklah, paman bibi terimakasih" ucap carlina kepada orang tua alessa.


"Akan lebih baik jika kau ikut dengan kami, kita bisa makan bersama anggap saja sebagai tanda perpisahan" ucap letizia mencoba meyakinkan carlina untuk ikut dengan mereka.


"Maafkan aku bibi, sebagian barang-barangku belum terkemas dan aku berniat untuk segera pulang untuk mengemasi barang-barangku" ucap carlina kembali menolak.


"Baiklah" jawab nyonya letizia memaklumi.


"Hubungi kami jika kau butuh sesuatu" ucap tuan sergio menimpali.


"Ya paman, terimakasih" jawab carlina.


"Baiklah, sepertinya kami harus pulang kau juga segeralah pulang dan kemas barang-barangmu" letizia memberikan senyum lembut kepada carlina.


"Carlina" alessa tiba-tiba memeluk carlina dan menangis.


"Alessa, sejak kapan kau menjadi gadis cengeng?" ucap carlina mengejek.


"Kau sangat menyebalkan" jawab alessa kesal.


"Seseorang yang menyebalkan ini akan sangat kau rindukan nanti" ucap carlina bergurau membuat mereka semua tertawa.


"Baiklah, hubungi aku nanti" ucap alessa melepas carlina.


"Ya baiklah dokter alessa" jawab carlina kembali bergurau.


"Bye carlina" ucap alessa sebelum menaiki mobil yang sudah menunggu.


___


Alessa dan kedua orangtuanya menaiki mobil, terlihat mobil bergerak berjalan perlahan meninggalkan carlina yang masih setia melihat kepergian mereka.


"Bye alessa" gumam carlina lirih terselip kesedihan di dalam ucapannya.


Carlina tiba-tiba merasakan kesepian dan kesedihan yang tidak bisa dia tahan, mata yang berkaca-kaca membuat penglihatannya blur, sekali kedip air mata carlina yang coba di tahan sejak tadi menetes membasahi pipinya.


"Carlina!" suara seseorang memanggil membuat carlina yang semula tertunduk menangis mengangkat wajahnya dan melihat alessa yang sudah berdiri jauh di depan sana entah sejak kapan dan hal itu seketika membuat carlina kembali tertawa dengan air mata yang masih setia mengalir di pipi.


Alessa melangkah berjalan ke arah carlina begitupun dengan carlina yang juga melangkah tidak menunggu, mereka saling berjalan menghampiri hingga mereka kembali saling berhadapan.


"Aku tau kau juga bersedih carlina" ucap alessa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Tapi kenapa kau sangat malu untuk mengakui bahkan kau juga sangat menyebalkan di saat kita akan berpisah" ucap alessa sementara carlina hanya mendengarkan dan tersenyum mendengar ucapan sahabatnya dengan air mata yang masih mengalir.


"Jadi siapa gadis cengeng itu sekarang?"


"Aku atau kau?" ucap alessa mengejek.


"Katakan padaku bukankah sangat menyedihkan berada jauh dariku" ucap alessa kembali mengejek carlina.


"Alessa" carlina hanya menyebutkan nama alessa dan langsung memeluk sahabatnya.


Bukan hal yang berlebihan, selama berada jauh dari ibunya keluarga alessa selalu mendampingi carlina dalam hal apapun selama dia berada di sini hal itu pula yang membuat carlina menjadi sangat dekat dengan alessa dan keluarganya.


"Ayo, aku akan menemanimu untuk berkemas" ucap alessa membuat carlina bersemangat.


"Benarkah, apakah putri kesayangan tuan sergio bisa berkemas?" ucap carlina mengejek alessa.


"Carlina!"


"Ya ya baiklah, ayo" ucap carlina mengajak alessa.


Mereka kembali ke apartemen sederhana milik carlina menggunakan taxi. Alessa tidak memprotes apapun kendaraan yang mereka naiki, sebenarnya di balik kemewahan alessa juga masih memiliki sedikit sifat sederhana.


...*****...


Apartemen,


Mereka tiba di apartemen carlina, saat membuka pintu mereka di sambut oleh barang-barang yang masih terlihat berantakan dan juga beberapa koper yang sudah carlina kemas.


"Kau mengemas ini semua seorang diri?" ucap alessa tercengang.


"Ya, tentu saja sejak kapan apartemen ini memiliki pelayan" jawab carlina menanggapi santai.


"Tenang saja, pelayanmu sudah datang" ucap alessa bergurau.


"Ayolah alessa jangan katakan itu atau tuan Aamodt akan membuat hidupku tidak tenang" jawab carlina menanggapi candaan alessa.


Carlina dan alessa mulai berkemas, kegiatan itu cukup membuat lelah untuk alessa yang tidak pernah berkemas barang sebanyak itu seorang diri.


Barang yang mereka kemas hanya sisa dari barang yang belum sempat terkemas dan alessa sudah ingin menyerah membantu carlina mengemasi semua sisa barang.


___


"Hah, akhirnya!" ucap alessa mengeluh setelah berhasil mengemas koper terakhir.


"Sepertinya tuan putri alessa sangat lelah"


"Apakah paman sergio akan memarahiku karena sudah membuat putri kesayanganya kelelahan?" ucap carlina tertawa mengejek.


"Sudah cukup carlina, cepat ambilkan aku minum aku sangat haus" ucap alessa kesal.


"Ya baiklah, kau harus bersabar ini bukan mansion keluarga Aamodt, tidak ada pelayan di sini" jawab carlina berjalan mengambil minum untuk mereka berdua.


Tak berselang lama setelahnya carlina kembali dengan dua botol minum di tangannya, mereka meneguk habis air itu hingga tandas tak tersisa karena kehausan.


**bunyi suara bel


"Siapa yang datang?" ucap alessa bertanya heran.


"Entahlah, aku akan melihat" jawab carlina lalu berjalan ke arah pintu.


Carlina membuka pintu dan melihat dua orang pria berpakaian serba hitam berdiri di hadapannya.


"Selamat sore nona" sapa salah satu dari kedua pria itu kepada carlina yang masih terheran.


"Selamat sore, siapa kalian?" jawab carlina bertanya.


"Tuan Aamodt mengirim kami untuk mengantar anda ke airport" ucap salah pria itu menjelaskan.


Carlina ragu dengan pengakuan kedua pria itu karena dia tidak pernah melihat mereka di mansion keluarga Aamodt sebelumnya.


Hingga suara alessa memecah keraguannya ketika mengatakan dia mengenal kedua pria itu.


"Kalian sudah datang" alessa bersuara di balik carlina.


"Semua sudah siap" ucap alessa kembali menginterupsi membuat carlina menoleh.


"Aku mengenal mereka" alessa meyakinkan carlina setelah menyadari kekhawatiran di wajah carlina.


"Masuklah" ucap alessa mempersilahkan.


Tanpa banyak perintah kedua bodyguard itu seperti sudah mengerti akan tugas mereka dan langsung mengambil koper-koper milik carlina yang sudah terkemas rapih.


"Carlina segeralah bersiap ini sudah waktunya" ucap alessa kepada carlina.


"Baiklah" carlina bergegas untuk membersihkan dirinya.


Alessa berdiri melihat ke arah luar jendela, dia teringat kembali beberapa tahun lalu tempat ini menjadi tempat favoritnya bersama carlina untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka akan saling mengobrol sepanjang malam di tempat ini dan sebentar lagi mereka akan berpisah.


"Alessa"


Suara carlina yang memanggil membuat alessa menoleh melihat ke arah sahabatnya yang sudah siap, tangan alessa bergerak memegang kalung yang dia kenakan dan memakaikan kalung itu kepada carlina.


"Alessa apa yang kau lakukan" ucap carlina terkejut.


"Jika kau merindukanku, kau bisa mengingatku dengan kalung ini kau ingat kalung ini adalah pilihanmu saat kita berlibur dan aku selalu mengenakannya sekarang bergantian kau yang harus selalu mengenakan kalung ini" ucap alessa, carlina tidak menjawab dan hanya menangis memeluk alessa.


"Permisi nona, kita harus segera berangkat semua sudah siap" ucap bodyguard menginformasikan.


"Pergilah, aku tidak bisa mengantarmu hingga ke airport" ucap alessa.


"Ambil ini" carlina memberikan kunci akses apartemennya kepada alessa.


"Kau bisa datang kapanpun kau ingin" alessa hanya mengangguk sedih.


"Sampaikan salamku kepada bibi carllote, entah kapan aku akan berkunjung menemuinya" ucap alessa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tentu saja, kami akan menunggumu" balas carlina.


Carlina berbalik berjalan ke arah pintu bersama dua orang bodyguard serta alessa yang menemaninya hingga sampai di depan pintu.


"Bye alessa" ucap carlina berat.


"Pergilah" balas alessa tersenyum pahit.


Alessa melihat punggung carlina yang mulai berjalan menjauh, sesekali carlina menoleh melihat ke arah alessa yang memberikan senyum kepadanya.


Alessa kembali masuk dan menutup pintu setelah tidak lagi melihat punggung carlina yang sudah berbelok di lorong untuk menuju lift yang membawanya ke lantai satu apartemen.


Alessa berjalan menuju kamar menidurkan dirinya di ranjang yang berada tepat di dekat jendela. Dari jendela kamar alessa dapat melihat keberadaan mobil keluarganya sedang menunggu carlina di bawah sana.


Beberapa saat kemudian terlihat carlina yang baru tiba, dia melihat ke arah jendela melambaikan tangan lalu tersenyum ke arah alessa yang juga melihat ke arahnya.


Carlina menaikin mobil di ikuti oleh bodyguard yang menggunakan mobil yang berbeda dengannya. Perlahan mobil bergerak meninggalkan area apartemen dan membuat alessa sekali lagi kembali merasa sedih.


Sejak dulu hanya carlina satu-satunya sahabat yang di miliki oleh alessa, dan hari ini carlina akan berada jauh darinya.


Alessa masih setia berbaring menikmati kesedihan dan kesendiriannya dengan melihat suasana di luar yang sedang hujan ringan.


Terlalu lama menikmati keheningan membuat alessa merasa nyaman dan mengantuk hingga tidak sadar membuatnya tertidur.


...----------------...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


to be continue