
00.01 Am
Suara keluhan alessa terdengar di tengah-tengah ruangan dengan pencahayaan minim, dia berusaha menyandarkan tubuhnya namun sakit pada kepala juga leher membuat alessa tidak tahan.
"Ahh ssst-" tangan menopang kepalanya.
"Dimana ini?" ucap alessa sadar ketika melihat sekeliling ruangan yang tampak berbeda dari kamarnya.
Perlahan alessa mulai menurunkan kaki dari ranjang lalu berdiri mencoba berjalan mancari tau.
Kamar bernuansa hitam dengan lampu ruangan yang hanya menyala di bagian tertentu membuat kamar itu terlihat maskulin dan misterius.
Alessa berjalan ke arah pintu dan berniat ingin membukanya.
"Kau ingin keluar?" suara seseorang tiba-tiba menghentikan alessa yang sudah mendekati pintu.
Alessa menoleh mencari tau, tapi tidak berhasil melihat siapapun karena gelap yang menutup jarak pandangannya, hingga sosok itu muncul menampakkan diri dengan menghidupkan lampu lain di dekatnya.
"Kau?" ucap alessa terkejut.
"Ya" balas leonardo santai masih bersandar pada sofa dan memegang gelas wine di tangannya.
Alessa yang masih terkejut seketika mengingat kembali semua yang terjadi, saat leonardo tiba-tiba datang di kediaman Aamodt dan menculiknya.
"Apa yang kau lakukan!"
"Kau menculikku" ucap alessa marah.
Leonardo yang mendengar hanya tersenyum evil meremahkan.
Alessa yang terpancing amarah berusaha membuka pintu namun usahanya sia-sia karena pintu terkunci rapat.
"Aku ingin pulang, cepat buka pintu itu!" ucap alessa memerintah.
Sementara leonardo tidak sedikitpun menanggapi alessa. Merasa di abaikan alessa kembali mencoba membuka pintu secara paksa.
Namun tetap saja pintu tidak terbuka sekeras apapun alessa menarik, alessa yang kesal meraih vas bunga di atas namas samping pintu lalu memukul pintu itu menggunakan vas membuat vas pecah bereserakan.
"Prangggg" suara pecahan terdengar jelas membuat leonardo yang senilai abai mulai terpancing.
"APA YANG KAU LAKUKAN!" leonardo marah.
"Seperti yang kau lihat" jawab alessa tanpa rasa takut.
"Cepat buka pintu itu, atau-"
"Atau apa?" leonardo memotong ucapan alessa dan menantangnya.
"Kau pikir siapa dirimu!" leonardo mendorong dan menghimpit tubuh alessa pada tembok dengan kasar membuat alessa terintimidasi.
"Dengar, ini bukanlah istanamu sehingga kau bebas melakukan apapun!" ucap leonardo sarkas.
"Le-paskan aku" balas alessa terbata.
"Aku hanya ingin pulang" ucap alessa melanjutkan.
"Kau ingin pulang?" leonardo tersenyum evil mendengar ucapan alessa yang menurutnya sangat lucu.
"Kau tidak akan pergi kemanapun, kau akan tetap di sini!" ucap leonardo.
"Apa maksudmu?" jawab alessa takut.
"Seperti yang kau dengar, seperti itulah yang harus kau lakukan" balas leonardo.
"Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku!" ucap alessa marah.
"Aku bisa!"
"Aku bisa melakukan apapun!" jawab leonardo mendesis tajam.
Setelah mengatakan itu leonardo melepas lalu berbalik meninggalkan alessa yang terdiam.
"Aku ingin pulang" ucap alessa lirih membuat leonardo menghentikan langkah.
Tanpa memperdulikan alessa yang meminta pulang , leonardo justru melakukan hal lain yang tidak alessa ketahui.
"Kirim pelayan untuk membersihkan kamar" ucap leonardo pada alat yang fungsinya menyerupai intercom.
"Cepat buka pintu itu!"
"Atau aku akan berteriak" ucap alessa mencoba mengancam leonardo yang sedang berbicara melalui alat itu, namun lagi-lagi leonardo mengabaikan alessa.
"Aku akan benar-benar berteriak jika kau tidak membuka pintu!" ucap alessa berhasil membuat leonardo menoleh melihat ke arahnya.
"Masuklah" tidak menjawab alessa leonardo justru berbicara kepada seseorang melalui earphone.
Beberapa saat setelahnya terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan seseorang dari arah belakang.
"Tuan" sapa pria berpakaian serba hitam menunduk hormat kepada leonardo.
"Apakah anda terluka?" pria berpakaian serba hitam itu menanyakan keadaan leonardo setelah melihat pecahan vas yang berserakan di lantai.
"Tidak, cepat bersihkan" ucap leonardo memerintah.
Pria berpakaian serba hitam itu langsung memberikan kode kepada kedua pelayan yang datang bersamanya untuk segera membersihkan pecahan vas yang berserakan di lantai.
Mengerti dengan kode tersebut kedua pelayan langsung bergegas membersihkan pecahan vas.
Sementara itu alessa hanya terdiam tidak tau harus berbuat apa, sesekali dia memperhatikan kedua pelayan yang sibuk membersihkan pecahan vas lalu begantian melihat leonardo yang sibuk berbicara dengan sang bodyguard.
Memanfaatkan adanya celah alessa memanfaatkan kesempatan untuk mengambil langkah berjalan menuju pintu tanpa di sadari oleh semua orang.
Ketika berada tepat di depan pintu alessa langsung meraih gagang pintu dan membukanya, benar saja seperti yang diperkirakan pintu tidak terkunci sehingga menjadi kesempatan untuk keluar dari kamar itu.
"Syukurlah" ucap alessa setelah berhasil keluar dari kamar itu.
"Ke arah mana aku harus pergi?" alessa terlihat bingung melihat lorong yang berada di dua sisi.
Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi alessa langsung berjalan cepat ke arah lorong yang menurutnya benar.
Sesekali alessa menengok kebelakang untuk memastikan leonardo tidak menyadarinya. Alessa terus mempercepat langkah untuk mencari jalan keluar dari rumah besar itu.
"Dimana pintu keluarnya?" alessa mulai panik karena tak kunjung melihat pintu.
Saat langkah kaki alessa mulai terburu-buru di saat yang tepat mata alessa seperti menjadi penolong setelah berhasil menemukan tangga yang menuju ke lantai bawah.
Alessa menuruni tangga, tiba di anak tangga terakhir dari kejauhan pintu rumah yang terbuka terlihat menambah semangat alessa untuk langsung melangkahkan kaki ke arah pintu.
"Sedikit lagi" ucap alessa semangat.
"ALESSA!" suara seseorang membuat alessa terkejut dan berusaha mempercepat langkahnya untuk berlari melewati pintu.
"BERHENTI ALESSA!" leonardo memperingatkannya untuk berhenti.
Tanpa memperdulikan leonardo, alessa semakin mempercepat langkah kakinya berlari secepat yang dia bisa.
"ALESSA dor-" suara panggilan dan tembakan terdengar bersamaan membuat alessa seketika menghentikan langkah.
Rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti membuatnya gemetar mendengar suara tembakan yang seperti mengarah kepadanya.
Mata alessa berkaca-kaca dengan tubuh gemetar serta rambut panjang yang tidak lagi rapih tak lupa juga dengan telapak kaki yang tergores akibat pecahan vas karena tidak menggunakan alas kaki.
Alessa terdiam menangis berdiri membelakangi leonardo yang sudah terlihat sangat marah di belakang sana.
"Kembalilah ke kamar terakhir kau berada!" ucap leonardo memerintah.
Alessa masih menghiraukan leonardo yang memerintahnya untuk kembali.
"Alessa!" leonardo sekali lagi memperingatkan bersamaan dengan alessa yang juga menyaut melawan leonardo.
"KAU PIKIR SIAPA DIRIMU!" teriak alessa menoleh menatap marah leonardo.
"AKAN PULANG KE RUMAHKU!"
"KAU TIDAK MEMILIKI HAK UNTUK MENAHANKU DI SINI!"
"TUNGGU SAJA!"
"AKU AKAN MELAPORKANMU"
"KAU AKAN SANGAT MENYESAL SUDAH MENGANGGU PUTRI SERGIO AAMODT" ucap alessa berteriak mengeluarkan amarahnya pada leonardo.
"Bajingan seperti ayahmu tidak akan pernah membuatku takut!" balas leonardo dingin.
"Aku peringatkan sekali lagi, kembali ke kamar itu!" ucap leonardo memerintah.
"TIDAK!" jawab alessa menolak.
"Akan lebih baik untukmu menuruti ucapanku!" ucap leonardo dingin disertai tatapannya yang tajam.
"TIDAK.AKAN.PERNAH!" tolak alessa dengan penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.
"AKU TIDAK AKAN KEMBALI KE TEMPAT ITU!" ucap alessa lantang semakin memprovokasi amarah leonardo yang semula tertahan.
"Baiklah" jawab leonardo dingin dan memberikan isyarat kepada kedua bodyguard untuk membawa alessa.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah!" ucap leonardo membuat alessa terkejut mendengarnya.
"Ti-dak!" tolak alessa panik dengan mencoba berjalan mundur ingin berlari tetapi pergerakan alessa kalah cepat dengan bodyguard yang sudah lebih dulu menangkapnya.
"Apa yang kau lakukan!" ucap alessa memberontak saat kedua bodyguard memegang kedua tangannya.
"TIDAK, LEPASKAN AKU!"
"KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI KEPADAKU!" alessa terus memberontak.
Sementara itu leonardo hanya melihat alessa yang memberontak di tangan kedua bodyguard yang menyeretnya.
"Lepaskan aku, kumohon" alessa memohon saat melewati pintu dan menghilang dari pandangan leonardo.
"Aku sudah cukup bersabar, kau sendiri yang memilih tempat itu!" ucap leonardo yang ditujukan untuk alessa namun hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.
...----------------...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
to be continue